Jumat, 31 Agustus 2018

Meiliana dan 55 Kultwit Investigasi Rusuh Tanjung Balai

Meiliana dan
55 Kultwit Investigasi Rusuh Tanjung Balai
Iswandi Syahputra  ;  Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
                                                   REPUBLIKA, 27 Agustus 2018



                                                           
Seperti mendadak--kasus Meiliana yang divonis 1,5 tahun oleh PN Medan karena diputuskan melakukan penistaan terhadap agama (Islam)--tiba-tiba menjadi viral. Telisik singkat menunjukkan viralitas tersebut berasal dari satu cluster netizen.

Saya kemudian diminta banyak pihak untuk menyampaikan pandangan soal itu karena, seminggu setelah kerusuhan pembakaran delapan vihara di Tanjung Balai karena tersulut oleh sikap Meiliana, saya langsung terjun ke lokasi untuk riset lapangan. Hasilnya berupa artikel, Insya Allah minggu depan publish di jurnal terakreditasi nasional.

Mengingat cepat dan liarnya laju isu Meiliana ini, kemarin (25/8) saya membuat kuliah twitter (kultwit) untuk menyampaikan apa yang saya lakukan dan temukan dalam riset lapangan tersebut. Semoga berkenan membacanya:

1) Bismillahirrohmanirrohim: Banyak pihak yang japri dan mention saya di media sosial. Mereka bertanya soal bagaimana sebenarnya kasus Meiliana dalam kerusuhan di Tanjung Balai? Mereka ingin tau hasil riset yang saya lakukan terkait kerusuhan tersebut #TanjungBalai #Meiliana

2) Saya memang melakukan riset lapangan terkait kerusuhan yang terjadi tanggal 29 Juli 2016 tersebut. Seminggu setelah kerusuhan, saya tiba di Tanjung Balai, Sumatera Utara untuk melakukan riset lapangan. #TanjungBalai #Meiliana

3).  Sebagai peneliti media dengan minat Media Sosial dan Gerakan Sosial, saya tertarik meneliti kerusuhan tersebut karena Kapolri @DivHumas_Polri Bpk. Tito langsung turun ke lapangan dan menyatakan kerusuhan dipicu oleh media sosial. Lihat https://t.co/fsBLY3L4dI

#TanjungBalai

4). Sebelum terjun ke lapangan untuk meneliti, saya lakukan tahap pra-riset dengan mencari calon narasumber yang kompeten dan mendisain rumusan awal masalah yang akan diteliti sbb: Bagaimana penggunaan medsos dapat memicu kerusuhan rasial di Tanjung Balai? lihat: #Meiliana

5). Untuk menyegarkan ingatan, sedikit dan ringkas saya review kerusuhan di Tanjung Balai tersebut:

a. Meiliana keberatan dengan suara azan di mesjid depan rumahnya.

b.Takmir mesjid meminta klarifikasi.

c. Aparat memediasi.

d. Warga berkerumun

e. Mediasi buntu.

f. Warga marah.

g. Rusuh.

6). Saya termasuk yang tidak mudah percaya hanya karena #Meiliana keberatan dengan suara azan kemudian ratusan atau ribuan warga berkerumun marah dan meluapkan kemarahannya dengan membakar 8 vihara di #TanjungBalai Apa yang sebenarnya sedang terjadi hingga warga mudah tersulut?

7). Seminggu setelah kerusuhan di #TanjungBalai saya tiba di lokasi dan mencari akses untuk dapat mewawancarai #Meiliana Tapi gagal karena menurut informan saya di kepolisian, selain masih shock, Meiliana sementara diamankan di tempat yang dirahasiakan.

8). Di lapangan, data penelitian saya peroleh dengan wawancara mendalam terhadap sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi. Di antarnya adalah Kapolres #TanjungBalai saat itu Bpk. AKBP Ayep Wahyu G https://t.co/uFTVEpobvo

9). Selain Kapolres #TanjungBalai saya juga melakukan wawancara dengan Ketua MUI Tanjung Balai, aktivis, pemuda,  seniman, dosen, politisi dan penggiat media sosial di Tanjung Balai. Secara umum informasi yang saya peroleh dari informan tersebut sangat mengagetkan. ADA KONFLIK LATEN.

10). Karena wawancara terpisah, satu informasi dari informan akan saya konfrontir dengan informan lain. Itu dimaksudkan untuk mendapatkan data lapangan yang otentik. Data otentik kembali saya cek silang dengan sejumlah literatur terkait. Misalnya, seorang informan menyebut #TanjungBalai

11). TanjungBalai sebagai kota religius. Saya cek data BPS 2015 terdapat 54 mesjid, 98 musholla, 26 gereja & 9 vihara di Tanjung Balai. Berbagai literatur yang saya rujuk juga menjelaskan posisi #TanjungBalai sebagai kota Kesultanan Melayu, Asahan yang sejak lama dikelola dengan nuansa religi.

12). Dari semua proses tersebut saya menemukan benang merah sebagai petunjuk awal untuk dianalisis, kerusuhan terkait dengan:

a. Politik Pilkada karena keberpihakan kekuasaan pada kelompok etnik tertentu.

b. Kontroversi penggunaan lahan kompleks vihara hasil reklamasi sungai.

13). c. Keberadaan patung Buddha di atas vihara, secara imajiner segaris dengan arah kiblat. Ada perasaan warga muslim saat sholat seperti menyembah patung.

d. Sikap arogansi #Meiliana saat dikonfirmasi soal keberatanya terhadap suara azan.

e. Ada dukungan moril karena sebelumnya Wapres @Pak_JK

14). .... pernah keberatan dengan suara dari speaker mesjid

https://t.co/91W2fCgFbT

e. Sebagai etnis Tionghoa, #Meiliana dinilai warga bersikap arogan karena adanya pengaruh Ahok @basuki_btp yang saat itu sudah mulai menjadi kontroversi.

15). Dari informasi sebagai petunjuk awal tersebut, sejak awal saya menduga 'ada sesuatu' dibalik kasus #Meiliana yang menimbulkan kerusuhan di #TanjungBalai Sementara aktivitas di media sosial hanya medium untuk mencurahkan 'sesuatu' tersebut.

 16). Saya akan ulas sedikit beberapa hal laten yang saya sebut sebagai 'sesuatu'. Informasi saya olah dari informan saya.

Pertama, terkait lahan komplek vihara tempat patung Buddha berdiri. Lahan tersebut hasil reklamasi sungai Asahan yang awalnya untuk tempat wisata. Tapi...

17). .... dijadikan kompleks ibadah. Padahal tidak jauh dari situ ada situs 'Balai' semacam rumah panggung besar sebagai titik kumpul warga saat Sultan sejumlah Kerajaan Melayu melintasi sungai pada masa lalu. Ada nilai historis, religi dan budaya di titik tsb.

18). Warga #TanjungBalai menilai pembangunan kompleks vihara tersebut bermasalah tapi dapat berjalan karena mendapat dukungan dari incumbent yang akan maju dan terpilih kembali sebagai Walikota.

19). Namun demikian, awalnya warga #TanjungBalai juga tidak perduli dengan pembangunana vihara tersebut hingga berdiri patung Buddha yang secara imajiner segaris dengan arah kiblat. Posisi patung ini meresahkan karena dianggap mengganggu ibadah warga muslim.

20). Menurut riset Irwansyah (2013) yang saya rujuk, sedikitnya ada 12 kali masyarakat berkirim surat pada Pemda yang meminta agar patung Buddha tersebut diubah posisinya (bukan diturunkan apalagi dirobohkan). Pada sisi lain baik Pemda atau pemuka agama Buddha mungkin...

21). .... kurang dapat menjelaskan atau tidak dapat menjelaskan mengapa patung Buddha tersebut berada pada posisi tersebut. Sikap ini menjadi masalah laten bagi warga yang seharusnya tidak terjadi jika dari awal antar umat beragama diajak kordinasi oleh pemerintah setempat.

22). Demikian seterusnya kekecewaan warga tersimpan jauh di dalam dasar perasaan terdalam, semua diam. Hingga beberapa tahun kemudian muncul kasus #Meiliana yang keberatan dengan suara #azan dari mesjid yang berada di depan rumahnya @lukmansaifuddin


23). Semua informan saya dalam riset ini menjelaskan hal yang sama tentang sikap arogan #Meiliana saat Takmir Mesjid mendatangi baik-baik rumahnya untuk meminta penjelasan mengapa dirinya keberatan dengan suara azan. Langkah itu dilakukan karema Takmir Mesjid memahami dengan... https://t.co/vmHj5u8ErM

24). .... dengan baik suasana kebatinan umat muslim di #TanjungBalai sebagai umat mayoritas yang dalam kasus pembangunan vihara dan patung Buddha memilih banyak diam saat berhadapan dengan #Meiliana yang dinilai dari kelompok minoritas tapi arogan.

25). Bagaimana bentuk sikap arogan #Meiliana tersebut? Dari sejumlah informan yang saya wawancarai menjelaskan mulai bahasa tubuh hingga lisan yang tidak mungkin saya sampaikan disini. Suami Meiliana termasuk yang ikut meredakan sikap arogan isterinya.

26). Saat itu saya sempat terlintas fikiran, apakah #Meiliana lagi stress, depresi atau mengalami gangguan jiwa/psikis lainnya hingga berani sekali melakukan hal itu di depan kerumunan massa? Hingga saat ini saya tidak dapat mengkonfirmasi dugaan tersebut karena....

27). ..... saya tidak diberi akses oleh aparat untuk mewawancarainya. Padahal saat itu saya sudah meyakinkan aparat bahwa saya peneliti. Hasil penelitian kasus ini akan sangat membantu @Kemenag_RI @lukmansaifuddin dalam mendisain hubungan antar umat beragama yang harmonis/toleran.

28). Karena itu saya perlu perspektif dari #Meiliana Sebab pada posisi berbeda, saya pribadi juga merasa terganggu dengan suara keras apa saja di ruang publik di luar aturan. Seperti suara:

1. Orkes tunggal

2. Knalpot bising

3. Mercon

4. Sirine pengawal

5. Mercon

6. Pentas musik

dll

29). Mengapa #Meiliana keberatan dengan suara #Azan dari pengeras suara mesjid? Bagaimana aturan pengeras suara saat azan di sejumlah negara? Inilah yang saya sebut sebagai antropologi azan, cultural sound, acoustic artefact, atau soundscape.

30). Bagaimana menjelaskan antropologi azan tersebut? Simak kulwit saya selanjutnya siang jelang sore nanti. Saya harus berhenti dulu mau pergi kondangan mantenan anak almarhum maha guru saya Prof. Kuntowijoyo di Prambanan, Yogya. @muhammadiyah

31). Saya lanjutkan kultwit tenyang Azan dan #Meiliana dalam kerusuhan #TanjungBalai Saat itu, beberapa temuan awal tersebut tidak sabar ingin saya ungkap agar publik memahami apa yang sebenarnya terjadi. Saya tulis artikel tentang kerusuhan itu dan dimuat oleh @MNCkoranSINDO https://t.co/3vtxbO62dZ

32). Dari perspektif penggunaan media sosial, harusnya kasus kerusuhan #TanjungBalai menjadi pelajaran betapa mudahnya netizen saling menstimulasi untuk aksi dan berbuat anarki karena simptum religius dan rasa kehormatan mereka sebagai warga asli terusik.

33). Dari perspektif ini, semua pihak terutama pemerintah harus tunduk pada hukum umum toleransi: "Mayoritas melindungi minoritas. Minoritas menghormati mayoritas." Jangan bermain politik pada isu toleransi. Dalam kasus #TanjungBalai saya melihatnya seperti itu.

34). Dengan alasan toleransi, menjelang Pilkada ijin mendirikan kompleks vihara mengabaikan aspirasi umat muslim mayoritas di #TanjungBalai Beberapa aksi masyarakat tentang legalitas lahan dan agar patung Buddha dipindah, diabaikan Pemda. Ini berlangsung cukup lama...

35). Dalam suasana kebatinan sosial demikian, muncul protes #Meiliana terhadap suara azan yang sudah berabad lamanya berkumandang di #TanjungBalai Sebagai masyarakat pesisir, warga #TanjungBalai sebenarnya sangat terbuka dan toleran terhadap semua etnis pendatang.

36). Informan saya menyebutkan, bukan soal menolak suara azan tetapi faktor cara #Meiliana melakukan protes terhadap suara azan itu yang menyakiti batin umat muslim #TanjungBalai Tanpa jawaban lisan, saya merasakan sendiri kegeraman mereka juga dipengaruhi oleh...

37). ... berbagai kondisi umat muslim Indonesia yang agak terpojok terutama di media sosial oleh narasi yang dimainkan netizen misalnya:

- Narasi tentang bulan Ramadan orang yang berpuasa hormati yang tidak berpuasa.

- Larangan takbir keliling.

- Tekanan larangan berpoltik di mesjid.

- dll

38). Narasi itu tersimpan dalam memori dan kognisi sosial masyarakat di #TanjungBalai Berkat media sosial, mereka juga tidak terlalu sulit memahami siapa aktor atau pada siapa atau pada etnis apa arah narasi tersebut dapat dipersonifikasi. Sampai sini persoalan semakin pelik.

39). Jadi mohon jangan disimplifikasi atau disederhanakan ini hanya persoalan linier: Ada azan--ada minoritas yang protes--mayoritas marah--minoritas dihukum=Tegakkan Toleransi.

Akar masalahnya bukan soal toleransi tapi praktik politik kepentingan yang menyimpang.

40). Kalau hanya suara azan, dengan jumlah tercatat 54 mesjid 98 musholla di #TanjungBalai sudah dikepung suara azan 5 waktu sehari/semalam selama ratusan tahun tidak pernah ada masalah. Saya kemudian mencari literatur untuk temukan bagaimana antropologi azan di sejumlah negara.


41). Pertama, artikel Fannes (2012) berjudul Sounds in Changing Context The Muslim Call to Prayer in Vienna. Fannes menilai azan sebagai cultural sounds, sama dengan lonceng gereja di Wina. Karena itu suara azan memiliki kehormatan dan harus dilindungi.

42).  Azan juga miliki konteks sosial religius. Riset Schafer (2003) sebut istilah soundscape. Dengan mendengar suara lonceng gereja, bahkan dengan mata tertutup, kita segera tau secara sosial ada saudara kita dari umat Kristiani di sana. Seharusnya dengan suara saja sudah cukup alasan bikin kita bersaudara dalam perbedaan.

43). Oleh sebab itu, menurut Bender (2006), Howes (2006), dan Thomas (1996), azan (seperti halnya lonceng gereja) bersifat PUBLIK bukam PRIVAT. Maaf Pak @lukmansaifuddin ini sangat penting untuk diketahui. Karen itu dalam pandangan saya...

44) Azan sebagai soundscape atau acoustic artefact (sama halnya dengan lonceng gereja) yang bersifat PUBLIK tidak boleh dihentikan karena alasan PRIVAT. @Kemenag_RI @detikcom @kompascom @hariankompas @RILISonline @tribunnews @merdekadotcom @SINDOnews

45). Namun karena itu pula kedudukan azan menjadi sangat antropologis. Mengacu pada Watt (1992) pada abad 7-8 saat Andalusia (Spanyol) dikuasi Islam azan beraifat PUBLIK. Namun saat ini azan menjadi urusan PRIVAT.

46). Bull (2000) berpendapat lain, dikatakannya suara tidak mengenal sifat. Asal suara terdengar di ruang publik, dia menjadi urusan publik. Suara azan dalam pandangan ini sama dengan suara:

- Sirene

- Knalpot

- Mercon

- Orkes tunggal

- dll.

47). Mungkin karena menggunakan pandangan Bull tersebut, pemerintah Jerman membolehkan azan menggunakan pengeras suara (Allievi, 2010). Hanya saja Pengawas Gereja Protestan di Jerman berpendapat panggilan azan bertentangan dengan keimanan Trinitas. Menarik didiskusikan ya...

48). Karena keberatan tersebut, umat muslim di Jerman sebagai minoritas memilih menghormati umat Kristiani yang mayoritas dengan kumandang #Azan tanpa pengeras suara. Hal serupa terjadi di Belanda. Walau umat muslim punya hak hukum sama dengam gereja untuk...

49). .... kumandangkan azan gunakan pengeras suara, namun memilih tidak menggunakan pengeras suara karena alasan menghormati umat Kristiani yang mayoritas. Sementara umat Kriatiani melalui sistem pemerintah memberi keleluasaan penggunaan pengeras suara saat #Azan

50). Dalam konteks azan, umat muslim minoritas di Eropa sangat toleran. Mereka paham dengan baik kapan FIQH MAYORITAS dipakai, dimana FIQH MINORITAS diterapkan. Relasi penganut agama mayoritas dan minoritas itu yang saya sebut hukum umum toleransi:

51). MAYORITAS LINDUNGI MINORITAS, MINORITAS HORMATI MAYORITAS. Jadi hukum toleransi tidak buta dan membabibuta, sama rasa sama rata. Di sinilah seharusnya kaum cerdik pandai memberi pencerahan dan pemerintah berpihak pada keadilan dan kebenaran pengetahuan, bukan kekuasaan.

52). Sementara di Swedia pemerintah membolehkan #Azan dengan pengeras suara tapi dibatasi hanya 2 KM. Sedangkan di Malaysia, kendati azan dibolehkan gunakan pengeras suara namun, mengacu pada riser Mohad, dkk (2015), ada sebanyak 5,1% umat Kristiani yang terganggu dengan suara #Azan

53). Di Indonesia sendiri penolakan suara #Azan sudah lama terjadi. Menurut catatan Buya Hamka (1982) pemberontakan terhadap penjajahan Belanda oleh Haji Wasith di Cilegon, Banten tahun 1888 bukan karena penjajahan tapi karena larangan sholawat dan kamamdang #Azan

54). Jauh sebelum itu, pada abad 15  Kesultanan Demak pernah keberatan dengan suara #Azan yang muncul secara aneh dari mesjid Gala, di Bukit Jabalkat, Bayat, Klaten (Imansyah, 2013). Mesjid kramat itu kemudian dipindah

55). Jadi sebelum kasus #Meiliana sudah sejak lama ada kasus terkait #Azan Di Aceh seorang warga juga nyaris dikroyok massa karena keberatan dengan suara azan dari pengeras suara. Keberatan, protes, dan menghina #Azan menjadi hal penting lain yang harus dipahami.

56). Dalam kasus #Meiliana berdasarkan informasi dari narasumber yang saya wawancarai awalnya memang keberatan dengan suara #Azan tapi saat dikonfirmasi justru menunjukkan arogansi. Arogansi ini yang dinilai warga merupakan 'penghinaan' terhadap #Azan https://t.co/wo3NigFX6K

57). Aparat kepolisian @HumasTjBalai sendiri sangat sigap dalam mengantisipasi situasi saat itu. Karena lokasi rumah #Meiliana dan mesjid tidak jauh dari pusat keramaian kota #TanjungBalai  warga dengan sangat mudah berkerumun. Seandainya saat itu ketika aparat berinisiatif...

58). memediasi antara Takmir Mesjid dan #Meiliana bersikap sedikit lembut, saya yakin aparat mampu meyakinkan takmir agar dapat menyesuaikan suara #Azan Sikap arogan dalam sekam terpendam warga mayoritas yang suaranya diabaikan dalam pembangunam rumah ibadah dan patung Budhha....

59). pada kultur siber di media sosial yang liar tak terkendali berakumulasi saling menstimulasi menjadi kerusuhan rasial. Saya bersyukur Kapolri @DivHumas_Polri cepat bertindak langsung ke TKP dan mengerahkan pengamanan hingga situasi dapat cepat dikendalikan.

60). Saat ini setelah 2 tahun berlalu, #Meiliana sudah divonis hukuman 1,5 tahun. Kehidupan masyarakat #TanjungBalai juga sudah normal dan membaik. Adil atau tidak hukuman tsb, saya berharap, jika #Meiliana merasa tidak adil tempuhlah jalur hukum.

61). Sementara bagi warga lainnya yang merasa hukuman itu tidak adil dan ancaman bagi toleransi, jangan memperjuangkan tegaknya toleransi dengan cara intoleran. Caranya: Pahami situasi dan konteksnya dengan meneliti dan kembangkan dengan membandingkannya pada literatur. Setiap kasus pasti spesifik sesuai konteks.

62). Dengan demikian kehidupan sosial religius kita dapat berjalan normal dalam bingkai NKRI yang saling menghormati dan menghargai. Pemerintah juga sebaiknya bertindak bijak sebagai regulator kerukunan kehidupan keagamaan kita. Sudah #Azan Maghrib.

SELESAI.  ●

Ancaman Modernitas

Ancaman Modernitas
Trisno S Sutanto  ;  Periset Independen di PARITAS Institute
                                                      KOMPAS, 30 Agustus 2018



                                                           
Apa itu modern? Pertanyaan itu tidak lahir dari mahasiswa filsafat atau sosiologi. Pertanyaan itu terlahir dari pergulatan eksistensial yang amat konkret.

Halim baru saja disunat dan dengan itu ia jadi ”orang Bajau dewasa yang modern”. Namun, bagi Andar, ayahnya, peristiwa itu justru menghadirkan persoalan yang pelik. Sebab, ia sadar, dunia modern yang akan dimasuki Halim sesungguhnya menantang seluruh cara berada maupun perikehidupan suku Bajau yang selama ini dijalani.

Itulah alasannya mengapa Andar menanyakan pertanyaan tadi: apa itu modern? Bagi Andar, dunia modern hadir dengan membawa batasan-batasan imajiner yang sesungguhnya tidak ada, tetapi dipercayai oleh banyak orang.

Mulanya batasan yang sangat konkret: teritori yang memisahkan wilayah kedaulatan satu negara dengan negara lain. Batasan itu jelas imajiner, tak kasatmata, tetapi sekaligus sangat riil. Orang tidak dapat menyeberangi batasan yang ada tanpa segala macam surat atau dokumen lain yang diperlukan. Di atas batas-batas teritorial negara-bangsa itulah, seperti kita tahu sejak Perjanjian Westphalia, perikehidupan dunia modern didirikan.

Namun, seperti dikatakan Andar, batasan-batasan yang dibawa dunia modern itu makin abstrak. Itulah batasan-batasan yang memisahkan ”agama dengan tradisi”, ”leluhur dengan keturunan”, dan ”masyarakat dengan lingkungan”. Dunia modern membawa pembatasan dan pemisahan itu, yang mengancam eksistensi orang Bajau. Karena itu, kata Andar berharap, jika batasan-batasan ini merupakan ”roh kepercayaan modern, aku berharap anakku memilih kepercayaan Bajau”.

Domestikasi Bajau

Harapan yang diucapkan Andar merupakan adegan yang menutup film Our Land is the Sea, sebuah film dokumenter etnografis memukau yang digarap oleh Kelli Swazey dan Matt Colaciello, hasil kerja sama CRCS-UGM, CSEAS Hawaii, dan The Global Workshop. Film berdurasi kurang dari setengah jam itu tak saja menyajikan pengambilan gambar yang ciamik, yang membuat orang mengenal ”air tanah” Bajau, tetapi sekaligus pergulatan dan ambiguitas kehidupan mereka.

Soal harapan Andar tadi, misalnya. Apakah harapan itu bisa dipenuhi bahwa Halim akan tetap memilih kepercayaan Bajau di tengah terpaan angin modernitas? Itu juga yang diharapkan Saipa, istri Andar. Ia berharap Halim akan menempuh pendidikan tinggi dan sukses, lalu kembali ke Sampela dan ”percaya pada Sandro”, si ahli waris dan penjaga tradisi turun- temurun dari nenek moyang orang Bajau.

Baik Andar maupun Saipa sadar bahwa harapan mereka terlalu naif. Perikehidupan orang Bajau, yang menganggap laut lepas tanpa batas merupakan wilayah ”kerajaan” mereka—setidaknya itulah anggapan Andar—akan makin hilang digangsir oleh dunia modern yang hadir melalui banyak perangkat. Salah satunya lewat institusi sekolah, yang tentu saja harus berdiri di daratan dengan seluruh kultur dan nilai-nilai yang kerap kali bertentangan dengan perikehidupan Bajau.

”Pertarungan” itu berlangsung di dalam keluarga Andar dan Saipa. Lisa, ibu Saipa, merasa sedih karena tidak mewarisi tradisi ayah-ibunya sehingga tidak bisa mengajarkan tradisi itu kepada anak-anaknya yang sudah mengecap bangku sekolah. Soal yang sama berulang pada generasi berikutnya. Salma, putri Andar dan Saipa, misalnya. Ia sudah bersekolah di daratan dan belajar agama Islam. Karena itu, ia ”tidak percaya Sandro”. Begitu juga Tarsan, adik Saipa, yang sudah belajar sampai perguruan tinggi. Ia malah menuduh orang-orang di desanya yang masih berpegang pada cerita-cerita lama sebagai ”belum move on”.

Akan tetapi, sesungguhnya, kehidupan komunitas Bajau, paling tidak mereka yang tinggal di Sampela—daerah sekitar Taman Nasional Waikatobi yang dipotret Kelli dan Matt— sudah lama mengalami domestikasi oleh negara. Jauh sebelum konsep negara-bangsa ada, komunitas ini merupakan pengembara yang hidup nomaden, sebagai pengelana laut yang hidup dan menyusuri laut lepas di sekitar kepulauan barat daya Filipina, Sulawesi, Timor Leste, Papua, dan Salomon.

Lautan lepas itulah ”kerajaan” mereka. Di situ, mereka tinggal dan hidup mengikuti irama laut, bergantung sepenuhnya pada sumber daya
laut yang melimpah bagi kehidupan mereka. Laut pula yang menjadi landasan keberadaan mereka.

Perikehidupan nomaden seperti itu sama sekali bertentangan dengan konsep negara- bangsa yang punya batas-batas teritori yang jelas. Sejak Indonesia merdeka, orang Bajau yang berada di wilayah Indonesia dipaksa harus menetap pada suatu wilayah tertentu demi tertib administrasi sebagai ”warga negara”. Dan, perlahan-lahan, perikehidupan mereka pun berubah.

Cerita orang kalah

Film dokumenter ini, yang dipersiapkan untuk Konferensi Internasional Our Ocean di Bali, Oktober nanti, berhasil memotret pergulatan yang kompleks tersebut dengan nada lirih. Juga melankolis.

Sebab, yang disajikan sesungguhnya adalah cerita tentang orang-orang yang kalah, rekaman tentang perikehidupan yang suatu waktu akan lenyap disapu arus modernitas. Andar sadar itu. Dalam 14 tahun terakhir hidupnya, ia menyaksikan perubahan yang begitu dahsyat. Apalagi kini laut tak lagi mampu menghidupi orang- orang Bajau. Untuk mencari ikan, mereka harus pergi ke wilayah yang lebih jauh. Begitu juga karang-karang yang kini hancur dan ancaman perubahan iklim yang makin mendekat.

Pada suatu titik, mungkin mereka harus sama sekali meninggalkan laut, mencari kerja di daratan yang dirasa lebih menjanjikan. Namun, hal itu juga berarti kepunahan tradisi Bajau dengan seluruh kekayaannya, termasuk ”pengetahuan rahasia” yang diturunkan oleh nenek moyang mereka.

Dalam banyak hal, cerita tentang keluarga Andar ini mencerminkan cerita kita sebagai bangsa yang tertatih-tatih berhadapan dengan ancaman modernitas. Cerita mereka patut dikenang di tengah perayaan gegap gempita Proklamasi Kemerdekaan negara ini. ●