Minggu, 30 November 2014

Kayak Pernah Hidup di Zaman Belanda Saja

             Kayak Pernah Hidup di Zaman Belanda Saja

Khaerudin  ;   Wartawan Kompas
KOMPAS,  30 November 2014

                                                                                                                       


Gubernur Riau nonaktif Annas Maamun mungkin terinspirasi apa yang dilakukan tokoh Andy Dufresne di film The Shawshank Redemption ketika dia menyimpan ”buku” tebal berjudul A Journey to the memory of Old Greece. Sebenarnya ini bukan buku. Hanya tampilan luarnya yang mirip buku. Di dalamnya ternyata sebuah brankas kecil, lengkap dengan kuncinya.

Namun, jelas Annas tak sekreatif tokoh Andy di The Shawshank Redemption yang melubangi bagian dalam Alkitab untuk menyimpan martil kecil. Martil ini yang digunakan Andy untuk mengorek tembok tebal penjara Shawshank.

”Buku” A Journey to the memory of Old Greece ini hanya brankas kecil yang dibungkus benda mirip buku. Dari luar, tepian halamannya juga terlihat seperti buku biasa. Tebalnya sekitar 10 sentimeter. Jika sampul halamannya tak dibuka, tak akan tampak brankas kecil di dalamnya.

 ”Buku” semacam ini bisa dibeli dengan mudah. Entah dengan maksud apa Annas membelinya dan membawa ke dalam selnya di Rumah Tahanan KPK yang terletak di Kompleks Pomdam Jaya Guntur, Jakarta Selatan. Tak diketahui pula apa yang hendak disimpan Annas di dalam brankas kecil berbentuk buku itu. Namun, jelas dia ingin mengecoh petugas Rutan KPK.

Teman sekamar Annas di sel nomor 6 Rutan KPK, yakni Bupati Karawang nonaktif Ade Swara, punya cara lain untuk mengecoh petugas Rutan KPK. Tahu bahwa membawa uang ke dalam sel dilarang, Ade mengakalinya dengan menyimpan uang tersebut di dalam rongga tiang penyangga rak plastik. Ini rak plastik yang biasa digunakan untuk menyimpan barang seperti buku atau benda kecil lain.

Setiap tingkatan rak biasa disangga dengan tiang di empat sudutnya. Biasanya tiang penyangga ini berlubang untuk memudahkan pemiliknya memasang atau mencopot rak. Di dalam rongga tiang penyangga rak ini Ade kedapatan menyimpan uang Rp 2,4 juta.

Ponsel dibungkus plastic

Masih di Guntur, KPK juga mendapati ponsel pintar milik Ade yang dibungkus plastik dikubur di taman dekat area olahraga. Sementara penghuni Rutan Guntur lainnya, tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan simulator berkendara Budi Susanto, buru-buru membuang ponsel miliknya di saluran pembuangan air karena takut kedapatan menyimpan barang terlarang di dalam sel.

Bukan cuma Ade yang kedapatan menyimpan ponsel saat ditahan di Guntur. Tercatat ada tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten Chaeri Wardana dan tersangka kasus korupsi dermaga Sabang Heru Sulaksono. Heru bahkan tidak hanya menyimpan satu jenis ponsel. Selain Blackberry, ia juga menyimpan ponsel merek Samsung. Ada juga power bank yang dikubur di taman. Entah milik siapa.

Para tahanan ini kedapatan menyimpan barang-barang yang masuk kategori terlarang disimpan di sel setelah KPK menggelar inspeksi mendadak pada 8, 9, 10, dan 15 Oktober.

Tidak hanya di Rutan Guntur, pelanggaran juga dilakukan para tahanan di rutan yang berada di gedung KPK. Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kedapatan menyembunyikan Blackberry dan dua baterainya di plafon kamar mandi. Di rutan ini pula KPK mendapati mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar menyimpan modem Wi-Fi. Sementara tersangka kasus korupsi pembangunan proyek tanggul laut di Biak Teddy Renyut yang ketahuan menyembunyikan ponsel saat sidak tanggal 8 Oktober, dua hari berikutnya juga ketahuan menyimpan ponsel merek Nokia.

Dengan semua pelanggaran tersebut, menurut Juru Bicara KPK Johan Budi SP, tahanan yang kedapatan melanggar aturan rutan, sesuai Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, dihukum larangan dijenguk oleh kerabatnya selama satu bulan. Namun, mereka masih boleh dijenguk oleh pengacaranya.

Belum lagi hukuman tersebut kelar, enam tahanan di rutan yang berada di gedung KPK, Anas, Akil, Teddy, Mamak, Kwee Cahyadi Kumala, dan Gulat ME Manurung, menandatangani surat berisi keberatan kepada Kepala Rutan KPK dengan tembusan antara lain ke pimpinan KPK, Komisi III, serta Menteri Hukum dan HAM.

Dalam surat keberatan itu dinyatakan, sejumlah larangan KPK terhadap tahanan ini lebih buruk daripada pengelolaan tahanan di zaman penjajahan Belanda.

Bahkan, pengacara Anas, Adnan Buyung Nasution, menyatakan, perlakuan KPK terhadap tahanan melanggar hak asasi manusia. Buyung mengatakan, larangan-larangan yang diberlakukan KPK terhadap tahanannya, seperti tak boleh membaca koran dan buku, lebih kejam daripada tindakan pemerintah Orde Baru terhadap tahanan politik sekalipun. Dia kembali mengatakan, KPK sebaiknya dibubarkan.

Namun, Johan membantah bahwa KPK melarang tahanan membaca buku dan koran. Dia menunjukkan foto bahwa di dalam sel tahanan ada koran yang bisa dibaca. Soal buku, memang tahanan hanya diberi kesempatan membawa lima buku ke dalam sel. Ini karena ada tindakan manipulatif, seperti membawa buku, tetapi sebenarnya brankas kecil.

Dengan semua pelanggaran yang ditemukan ini, Johan yang disinggung isi surat keberatan tahanan hanya mengatakan, ”Kayak pernah hidup di zaman Belanda saja mengatakan perlakuan KPK lebih buruk daripada Belanda terhadap tahanannya.” ●

Berbahan Murah, tetapi Tidak Murahan…

                Berbahan Murah, tetapi Tidak Murahan…

Aryo Wisanggeni G  ;   Wartawan Kompas
KOMPAS,  30 November 2014

                                                                                                                       


PASAR Seni ITB sudah ”membajak” Minggu untuk kesebelas kalinya di Bandung. Ratusan warga, mahasiswa, dan wisatawan tumpah ruah ke tiap sudut kampus. Selama 42 tahun, pasar seni itu masih tetap ramah dan terus membumikan seni rupa. Minggu (23/11) pukul 08.35, Pasar Seni ITB belum resmi dibuka. Namun, para ”penyusup” berhasil masuk ke ”galeri” dadakan yang digelar di lapangan basket kampus Institut Teknologi Bandung.

Di salah satu ”lapak” pameran, enam patung serial ”Anjing Geladak” karya pematung kenamaan Nyoman Nuarta mencuri mata. Sang penjaga, Resi Sofanti (38), semringah melihat antusiasme para ”penyusup” memadati lorong-lorong lapak yang menjual karya para perupa kondang Bandung. ”Sudah ada empat orang yang membeli karya Pak Nyoman Nuarta,” ujar Resi tersenyum.

Enam patung anjing berbahan resin itu diolah sedemikian rupa sehingga terkesan berbahan tembaga dan tiap- tiapnya dicetak hanya 15 kali. Garapannya memang khas, segera mengingatkan publik kepada karya-karya monumental Nyoman Nuarta. Harganya sungguh menggoda. Dengan merogoh uang Rp 10 juta, publik sudah bisa membawa pulang patung anjing tersebut lengkap dengan sertifikat yang menerangkan keaslian karya Nyoman Nuarta itu.

Para ”penyusup” rela menerobos puluhan ribu peserta car free day di Jalan Juanda, Bandung, tergopoh-gopoh mencari lapak para perupa. ”Pasar Seni ITB selalu spesial, baik bagi Pak Nyoman yang menyiapkan karya khusus bagi pasar seni ini maupun bagi pengunjungnya,” ujar Resi.

Di pasar seni empat tahunan itu, ”serangan fajar” memang menentukan hasil akhir perburuan. Reinaldi Tamin (36) merasakan sendiri risiko ”kalah pagi”. Arsitek alumnus ITB yang bermukim di Bandung itu sudah memulai perburuannya ketika lapak Serambi Pirous pelukis AD Pirous dan Erna Pirous yang masih ditutupi bentangan kain putih, tetapi lukisan yang paling ia sukai justru dilabeli tanda booked.

”Ini yang booked jadi membeli tidak ya?” Reinaldi bertanya kepada penjaga sambil menunjuk sebuah lukisan kecil berjudul ”Pemandangan”. Sebagai karya AD Pirous, lukisan itu sangat khas, menghadirkan komposisi warna-warna cerah yang abstrak, lalu diimbuhi secarik garis keperakan yang serupa huruf pertama aksara Arab, ”Alif”. ”Kalau yang booked batal, saya yang ambil lukisan ini ya?” rayu Reinaldi.

Sejak lama Reinaldi mengoleksi repro karya AD Pirous dan mengoleksi sejumlah grafis karya sang perupa. ”Sejak lama saya mengagumi lukisan kaligrafi karya AD Pirous, tetapi belum pernah memiliki lukisannya,” kata Reinaldi tertawa.

Membumi

Sejak digelar pertama kali tahun 1972, Pasar Seni ITB memang istimewa, baik bagi para perupa, kolektor, maupun ”orang biasa” seperti Reinaldi. Riwayat Pasar Seni ITB berawal dari Rochester, singgah di Paris, lalu mendarat di Bandung. AD Pirous, sang perintis, masih mengingat musim gugur tahun 1970 ketika ia berkuliah di Rochester Institute of Technology, New York, Amerika Serikat.

Ketika itu, ia bahkan tidak tahu apa itu ”pasar seni”. ”Saya diajak kawan, datang dengan membawa karya yang saya lukis di studio, empat buah tongkat dan beberapa utas tali. Saya terkejut, karya saya dibeli orang. Saya segera tahu, saya harus bikin pasar seni serupa di Indonesia,” kata Pirous.

Tahun 1971, ia merampungkan studinya, lalu singgah ke Paris untuk menjemput istrinya, Erna Pirous, yang bersekolah di sana. Di ibu kota Perancis itu, ia keluar masuk galeri para maestro seni rupa, termasuk mengunjungi galeri perupa Sonia Delaunay.

”Di jalanan saya terpana melihat gadis Paris memakai syal bermotif lukisan karya Sonia Delaunay. Saya tersadar, di Paris karya seni berkualitas abadi dalam museum diterjemahkan dalam desain produk menjadi komoditas ekonomi. Tahun 1971 saya kembali ke ITB dan tahun 1972 saya menggelar Pasar Seni ITB di pinggir Jalan Ganeca, Bandung. Seperti di Rochester, pasar seni ini bukan tempat menjual karya seni dengan harga mahal, melainkan membumikan seni rupa ke kehidupan rakyatnya,” katanya.

Biarpun menawarkan ”harga kelas dua”, Pasar Seni ITB tidak lantas menawarkan ”karya kelas dua”. Karya-karya para perupa memiliki mutu estetika tinggi, tetapi ”dibangun” dengan beragam materi ”murah” tanpa menjadi murahan.

Tisna Sanjaya yang biasanya menghadirkan karya instalatif yang dibangun lewat performance art kini menghadirkan 42 drawing dalam lapaknya. Bagi Tisna, Pasar Seni ITB adalah interupsi terhadap art fair lain yang selalu dipenuhi para galeri dan kolektor.

”Pasar Seni ITB itu tak ubahnya pasar tradisional kita, pasar yang mempertemukan manusia dengan manusia. Ada mahasiswi datang, mengapresiasi karya, tetapi tanpa cukup uang. Saya persilakan ia membeli semampunya karena saya tahu ia mengapresiasi karya saya,” kata Tisna.

Evy Syaifullah, dosen grafis Universitas Padjadjaran, Bandung, menjadikan Pasar Seni ITB interupsi bagi diri sendiri. ”Saya hanya menjual satu karya, poster suasana Pasar Seni ITB yang hanya dicetak 100 buah dengan teknik digital printing. Antara mencari uang dan bereuni dengan banyak kawan sama-sama jadi motif ke pasar seni,” ujar alumnus jurusan grafis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB angkatan 1987 itu.

Reuni bahkan menjadi tujuan utama para seniman Kandura. Studio keramik itu didirikan Fauzy, Nuri, Ghia, dan Tisa di Bandung pada 2005. ”Kami alumni ITB dan sejak 2006 ikut setiap Pasar Seni ITB. Di situ kami menghadirkan beragam produk keramik dengan potongan harga 20 persen dan melihat respons pengunjung,” kata Fauzy tertawa.

Selama 42 tahun, lewat sebelas kali penyelenggaraan, Pasar Seni ITB telah berkembang menyerupai sebuah festival seni. Tak hanya mempertemukan para perupa dengan warga, pasar ini sudah menjadi perhelatan yang lengkap dengan beragam seni pertunjukan, diramaikan puluhan anjungan kuliner lezat, juga puluhan stan kerajinan.

Tak kurang dari AD Pirous sendiri berkelakar. ”Pasar Seni ITB kali ini gagal karena terlalu sukses. Terlalu banyak orang datang,” kata Pirous bangga. ●