Rabu, 01 Oktober 2014

Mencegah Korupsi

Mencegah Korupsi

Ahmad Taufik  ;   Wartawan,
Kandidat Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi 2014
KORAN TEMPO,  30 September 2014

                                                                                                                       


Ada dua pendekatan penting dalam menghambat berkembangnya korupsi, yakni mencegah dan memberantas.

Orang medis mengatakan mencegah lebih baik daripada mengobati. Jokowi menyebutnya Revolusi Mental, seraya menganjurkan gerakan rakyat untuk tidak memberi suap dan hadiah (gratifikasi). Dari sini, diharapkan frekuensi penyalahgunaan wewenang yang mengharapkan suap akan berkurang.

Sedangkan dalam memberantas, melihat karakternya yang punitive alias menghukum, atau membikin jera, tak dapat kita menggunakan gerakan rakyat. Tidak bisa tidak, kita hanya dapat mengandalkan negara untuk memberantas.

Dalam UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001, ada 13 pasal yang memberi definisi korupsi, semuanya dirumuskan dalam 30 bentuk/jenis tindak pidana. Dari 30 jenis itu, bisa dikelompokkan menjadi tujuh, yaitu kerugian negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, serta gratifikasi.

Lalu, dari mana kita mulai untuk menangani kasus korupsi? Saya termasuk yang tidak percaya, bahwa korupsi adalah budaya. Korupsi bisa diminimalkan. Seperti yang disebut di atas, bisa dimulai dari mencegah, dan itu datang dari diri kita sendiri, lingkungan, dan dengan cara mengorganisasi sebuah gerakan bersama. Bukankah seorang sahabat Nabi berkata, kejahatan yang terorganisasi bisa mengalahkan kebaikan yang tak terorganisasi?

Selama ini, memang kartel dan mafia yang mengorganisasi kejahatan untuk menguasai bidang-bidang yang menguntungkan. Namun, jika gerakan rakyat bisa mengorganisasi diri dengan baik untuk mencegah korupsi, nantinya orang-orang "jahat" saja yang bertahan melakukannya. Meski, kita harus berhati-hati membedakan sanksi terhadap orang yang lalai (culpa) dan yang sengaja (dobus).

Di mana pun, gerakan rakyat dapat menjadi instrumen efektif untuk mematahkan suatu kebiasaan buruk di antara para pejabat atau pegawai negeri, atau sekadar menghabisi lawan politik. Karena itulah, agar tak disalahgunakan untuk kepentingan tertentu, kontrol di atas menjadi penting.

Agar senantiasa bersih dari kepentingan politik, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang selama ini memainkan peran sentral dalam memerangi korupsi, juga harus sering melakukan kontrol diri. Bukankah untuk membersihkan ruangan, dibutuhkan sapu yang bersih pula. Apalagi, khusus untuk KPK, pada saat yang sama dia juga harus mempertajam kemampuannya "bersahabat dengan koruptor" dalam bentuk yang kita kenal sebagai justice collaborator atau whistle blower.

Karena korupsi juga merupakan tindakan kolektif, seorang koruptor yang ditangkap diharapkan dapat mengaku dan menunjukkan pelaku lain yang lebih besar. "Getok tular" ini dinilai cukup berhasil, namun jika tak dikelola dengan baik. Akhirnya, sang justice collaborator bisa menjadi mesin ATM atau bahkan korban tebang pilih.

Walhasil, dengan mencegah dan memberantas korupsi serta mengembalikan kekayaan nasional kepada yang berhak, pemerintah tak perlu membebani rakyat dengan berbagai kenaikan biaya hidup. Ayolah berbuat, kita semua bekerja bersama-sama untuk kepentingan rakyat. ●

Kereta Api

Kereta Api

Iwel Sastra  ;   Komedian
KORAN TEMPO,  30 September 2014

                                                                                                                       


Sambil sarapan, seorang profesor ahli kereta api berbincang santai dengan seorang profesor ahli pesawat terbang. Perbincangan tersebut mengarah pada perdebatan, karena profesor ahli kereta api berpendapat suatu saat kecepatan kereta api bisa mengalahkan kecepatan pesawat terbang.

Profesor ahli pesawat terbang mengatakan, sampai kapan pun kecepatan pesawat terbang tak akan bisa ditandingi oleh kereta api. Lalu dia menanyakan apa alasan koleganya itu sehingga begitu yakin kecepatan kereta api bisa mengalahkan kecepatan pesawat terbang. Dengan santai, profesor ahli kereta api menjawab, "Saya akui sekarang pesawat terbang lebih cepat karena kereta api baru bisa merangkak. Saya yakin, kalau nanti kereta api sudah bisa berdiri dan berlari, pasti lebih cepat daripada pesawat."

Anekdot di atas menggambarkan, pada zaman serba sibuk seperti sekarang ini, salah satu alasan orang memilih suatu jenis transportasi adalah karena kecepatannya. Di kota besar seperti Jakarta, banyak orang beralih naik kereta api karena, selain memiliki cepat, juga terhindar dari kemacetan. Sewaktu SMA, saya punya teman yang tinggal dekat rel kereta api. Setiap hari, suara kereta api yang bising terdengar sangat kencang di rumahnya. Ini juga yang membuat dia jadi terbawa berbicara dengan volume kencang di sekolah. Kepada teman ini, saya pernah mengusulkan supaya kereta api yang lewat dekat rumahnya itu tidak ngebut, dan sebaiknya diberi polisi tidur atau tulisan "pelan-pelan banyak anak-anak".

Dalam bahasa Inggris, kereta api disebut train. Di Indonesia disebut kereta api karena teknologi awal yang menggerakkan kereta api adalah ketel uap yang dipanaskan dengan api. Meskipun sekarang teknologinya sudah berubah, nama kereta api masih melekat dan setiap 28 September diperingati sebagai Hari Kereta Api. Saking melekatnya penyebutan nama kereta api, lagu anak-anak yang berjudul Naik Kereta Api hingga sekarang belum ada yang berani merevisi menjadi naik kereta rel listrik atau naik Commuter Line.

Belasan tahun lalu, saat masih kuliah di Universitas Indonesia kampus Depok, saya terpaksa menjadi pelanggan setia kereta api. Saya memilih naik kereta supaya bisa sampai di kampus tepat waktu. Kenyataannya, saya sering terlambat masuk kuliah karena terlalu lama menunggu kereta yang datang terlambat. Begitu datang, keadaan kereta sangat penuh sesak. Penumpang harus punya strategi masing-masing supaya bisa dapat tempat untuk berdiri. Strategi saya mendapatkan tempat untuk berdiri adalah dengan menggunakan jurus bangau, yaitu berdiri dengan satu kaki. Selain di dalam gerbong, banyak penumpang yang duduk di atas gerbong. Biasanya yang memilih duduk di atas gerbong adalah penumpang berusia muda. Sepertinya mereka salah memaknai istilah "young on top".

Permasalahan kereta api dari dulu hingga sekarang masih berputar di tempat yang sama, yaitu kurangnya angkutan dan gangguan sinyal. Kedua hal ini menjadi faktor utama keterlambatan kereta. Perawatan kereta api dan fasilitasnya harus selalu mendapat perhatian serius. Jangan sampai ada kereta api yang mogok di jalan. Bus mogok di jalan, penumpang biasanya turun membantu kondektur mendorong bus. Kalau kereta api mogok di jalan, penumpang bingung. Bagaimana cara mendorongnya? ●