Rabu, 01 Oktober 2014

Belanja Online

Belanja Online

Nur Haryanto  ;   Wartawan Tempo
KORAN TEMPO,  29 September 2014

                                                                                                                       


Dari akun Facebook saya muncul berita soal pria Tionghoa yang baru saja membuat sejarah sepekan lalu. Kabar itu dikirim oleh teman saya, warga Beijing, Cina, Senin lalu. Pria dalam berita itu bernama Jack Ma.

Jack Ma baru saja sukses menjual saham perdana Alibaba Group melalui initial public offering (IPO) di Bursa Efek New York, Amerika Serikat. Harga saham Alibaba ditutup menguat 38 persen menjadi US$ 93,89 per lembar, Kamis pekan lalu waktu setempat. Jack Ma sontak jadi orang terkaya di Cina dengan pundi-pundi mencapai US$ 25 miliar atau lebih dari Rp 290 triliun.

Saya membaca kabar itu dan memberi tanda jempol. Sedikit komentar basa-basi, tapi intinya salut atas sukses Jack Ma, bisnis online, serta teknologi informasi di Cina yang semakin pesat kemajuannya. Tapi, kalau dipikir-pikir, sukses itu bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah Republik Rakyat Cina. Sebab, sampai kini pemerintah Cina belum membuka akses sejumlah situs Internet, seperti YouTube, Twitter, bahkan Facebook sekalipun. Kalau teman saya ini mempunyai akun Facebook sejak tiga bulan lalu, itu lain cerita.

Soal belanja online di Cina, saya jadi ingat tiga tahun lalu. Saat itu saya bertandang ke kantor teman saya ini di Beijing. Di depan gerbang kantor itu,sekitar pukul 10.00, beberapa pegawai yang kebanyakan wanita bermunculan keluar. Mereka menyambut para kurir yang datang membawa berbagai barang pesanan.

Saya amati, pada boks-boks itu tertulis amazon.com, 360buy.com, ZTO.cn, dan banyak lagi dengan huruf Mandarin yang saya tak pahami. Para kurir itu membawa barang-barang pesanan yang terbungkus kertas warna cokelat. Macam-macam ukurannya, dari yang sebesar kotak sepatu sampai seukuran kotak ponsel.

Menurut teman saya, belanja online di Cina mulai ramai sekitar awal 2008. Barang-barang yang dijual beragam, dari peralatan elektronik, rumah tangga, sampai suku cadang kendaraan. "Memang lebih murah beli barang melalui online," kata teman saya ini.

Hari itu, saya diajak teman saya jalan-jalan di Kota Beijing. Menjelang sore, dia meminta saya mampir ke apartemennya. Rupanya, istrinya sudah menyiapkan sambutan dengan masakan spesial: bebek panggang. Juga berbagai makanan khas Cina lain. "Jangan khawatir, semuanya tidak memakai babi," kata teman saya bercanda.

Bersama keluarganya, saya menyantap makanan di atas satu meja kecil di apartemen seluas 150 meter persegi miliknya. Anak teman saya yang berusia tujuh tahun pun ikut dan terlihat riang. Setelah makan, bocah itu mengajak saya menuju ujung ruangan di dekat jendela. Di sana, dia mengeluarkan hamster dari kandang dan mengulurkan peliharaan kesayangannya itu ke tangan saya. Teman saya mendekat "Kandang hamster itu juga dibeli dari toko online."

Mungkin teman saya ini masuk dalam kategori warga Cina yang dimuat di situs /marketmechina.com/, pekan ini. Media online itu menyebutkan Cina memiliki sekitar 193 juta pembeli online. Dan prediksi Boston Consulting Group, situs ini mengutipnya, adalah konsumen di Cina akan menghabiskan $1.000 per tahun untuk belanja online pada tahun depan-jumlah yang sama dengan di Amerika Serikat dengan 170 juta pembeli online saat ini.

Se-akan tahu jalan pikiran saya, pekan lalu kurir datang membawa barang pesanan ke rumah. Saya buka bungkusnya, tripod kamera buatan Cina: kuat, ringan, dan lebih murah daripada beli di toko. ●

Ramuan Tradisional

Ramuan Tradisional

Heri Priyatmoko  ;   Anggota Tim Pusaka Kota Surakarta
TEMPO.CO,  28 September 2014

                                                                                                                       


"Wong Jawa kuwi sugih tamba." Demikianlah ungkapan leluhur kita yang nyaris tenggelam berbarengan dengan tersingkirnya ramuan klasik Nusantara akibat ekspansi obat-obatan asing. Idiom tersebut pernah membuat antropolog termasyhur Clifford Geertz terkejut sewaktu mengadakan riset di Jawa Timur. Dalam karyanya yang menjadi klasik, Abangan, Santri, Priyayi (1983), Geertz mengungkapkan bahwa dokter-dokter hanya punya dua obat (pil dan suntikan), sementara orang Jawa punya ribuan.

Belum lama ini, di Kota Surakarta, digelar acara Solo Festival Jamu. Acara minum ramuan klasik secara massal dan pameran stan jamu dari berbagai kelurahan itu berupaya membangkitkan kepedulian publik terhadap ramuan tradisional sebagai produk kebudayaan Nuswantara. Setiap kelurahan bebas menampilkan ramuan tradisional kreasi sendiri. Usaha memasyarakatkan ramuan pribumi mendesak dilakukan karena obat-obat dari negeri seberang kini membanjiri Indonesia bak tanggul jebol.

Nenek moyang kita, baik yang berada di lingkungan keraton maupun pedesaan, meninggalkan warisan agung berupa aneka jenis ramuan tradisional disertai bahan yang berlimpah. Sayang bila ramuan yang sejatinya produk intelektual bangsa ini sekarang kerap menjadi bahan cemooh. Pemikiran Barat yang mengedepankan nalar mempengaruhi manusia Indonesia modern untuk tiada lagi mempercayai local genius yang dibungkus gugon tuhon atau mitos, sebuah cara leluhur kita menyembunyikan fakta.

Gugon tuhon dalam dunia pengobatan tradisional sejak periode kerajaan telah menjadi bahan perdebatan, dan diberitakan oleh jurnalis di masa itu. Koran Darmo Kondo edisi 25 Maret 1907 menginformasikan pentingnya orang Jawa percaya gugon tuhon, dan kepercayaan ini diprediksi tak akan hilang ditelan zaman. Dikisahkan, di Surakarta terdapat pohon Gom. Pakubuwono VIII pernah duduk di sekitar pohon itu, dan bersabda bahwa pohon ini sudah ditakdirkan Gusti Allah bisa menyembuhkan orang yang terkena penyakit sariawan. Caranya, tangkainya dipotong dengan sebilah keris atau sabit seraya mengucapkan mantra: "tidak motong doerinja pohoen Gom, tetapi motong penyakit gom".

Ternyata, tangkai itu terbukti mujarab. Akhirnya, banyak warga memakai tangkai pohon Gom untuk ramuan mengobati sariawan. Bahkan mereka juga takut menempati di bekas tempat duduk raja lantaran dianggap wingit. Tafsir kritisnya adalah kewingitan tersebut diciptakan supaya penduduk tidak merusak pohon dan batu. Pesan tersirat raja juga dapat kita tangkap bahwa Tuhan memang menciptakan obat untuk manusia dari berbagai bahan alam yang ada di sekitarnya.

Kala itu, sebenarnya sudah beredar obat atau pil di toko. Akan tetapi, harganya belum tentu terjangkau oleh wong cilik. Seperti yang diberitakan Darmo Kondo edisi 27 Mei 1923, telah muncul iklan Pil Slamet yang dikabarkan bisa mengobati aneka penyakit.

Harus diingat bahwa mayoritas masyarakat Jawa periode kerajaan ialah kaum petani miskin dan buruh. Juga dengan corak pemikirannya yang pramodern dan hunian dekat alam pedesaan-pegunungan, maka mereka memilih memakai ramuan tradisional guna mencegah atau mengusir penyakit yang mendera. Suatu kenyataan historis bahwa di wilayah pedesaan terdapat mantri umum yang bertugas memberi penyuluhan, dan mantri spesialis jenis penyakit. Tapi, mantri ini muncul kala tertentu, saat di mana wabah penyakit merebak yang dinilai merawankan keselamatan orang-orang Eropa di kota. Kaum wong cilik jarang ikut merasakan keahlian mantri, mereka cukup mengandalkan ramuan klasik.

Berbekal ilmu titen dan teknik takaran manual (sejimpit, sejumput, sekilan, sekepel, dan segelas), leluhur kita menjaga kesehatan dengan ramuan kuno seperti jamu. Kemudian, munculnya usaha penerbitan buku cukup membantu membumikan sekaligus melestarikan kekayaan budaya itu. Pengetahuan tentang ramuan berkhasiat yang bersifat lisan ditulis dan dicetak menjadi buku, lalu disebarluaskan. Misalnya, Serat Primbon Jampi Jawi yang tersimpan di perpustakaan Reksopustoko, Mangkunegaran. Dalam naskah tersebut, ada dua jenis pengobatan, yaitu pengobatan tradisional dengan ramuan obat serta pengobatan tradisional spiritual/kebatinan karena atas dasar kepercayaan dan atas dasar agama (membaca Surat Al-Ikhlas dan mantera Sunan Kalijaga).

Dalam pemahaman orang Jawa, kuasa ilahi meresapi seluruh alam raya, termasuk manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda. Mungkin wajar bila pembaca bingung menelaah mentah-mentah isi naskah klasik, apalagi menggunakan kacamata modern. Sistem penyembuhan tradisional yang tersurat dalam serat semestinya ditempatkan pada suatu posisi dalam konstelasi budaya dan masyarakat di mana sistem itu berjalan. Guna menilai sistem ini kudu dikaitkan dengan cara manusia Jawa memandang alam sekitarnya dan dirinya.

Ramuan kuno jangan cepat-cepat dituding musyrik dan klenik. Kita semestinya paham bahwa banyak negara di dunia yang punya sistem medis kuno dan tidak tertulis, termasuk di Indonesia. Masyarakat pendukungnya berhasrat meningkatkan sistem medis asli itu pada status "terpisah tapi sederajat" dengan kedokteran Barat, dilandasi argumen mengenai segi kekunoan pengetahuan medis negara yang bersangkutan atau kemasyhuran efektivitas pengobatan tradisional itu.

Dari paparan historis ini, diketahui bahwa, dari waktu ke waktu, ramuan kuno telah memainkan peran penting dalam dunia kesehatan Indonesia. Juga melambangkan masa silam negeri ini dan tingkat peradaban Nusantara yang tinggi di masa lalu. Ramuan berbahan tumbuhan yang berasal dari alam raya merupakan ilmu pengobatan asli rakyat Indonesia, yang sudah dikenal berabad-abad lamanya. Apakah kita tega membiarkan kearifan lokal ini hilang, dan lebih memilih berkiblat pada obat-obatan Cina dan Barat? Jika demikian adanya, berarti kita adalah bangsa yang tak mandiri dan gagal mengelola pusaka leluhur yang berharga itu. Obat saja harus impor. ●