Jumat, 06 Oktober 2006

Merintis Tradisi Baru Merayakan Idul Kurban

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, beberapa waktu lalu umat Islam merayakan Idul Adha dengan melaksanakan shalat berjamaah dan kemudian melakukan ritual penyembelihan hewan kurban, yang sebagian dagingnya dibagikan kepada mereka yang meminta (mu’tar) dan yang menerima tetapi tidak meminta (qanaah). Melihat peningkatan jumlah hewan kurban yang disembelih dari tahun ke tahun pada umumnya kita mensyukurinya karena itu merupakan pertanda meningkatnya kesadaran umat Islam untuk melakukan ibadah kurban.

Sore harinya, seorang anak saya yang telah berstatus mahasiswa bertanya kepada saya “Mengapa setiap tahun kita harus menyembelih sekian banyak hewan kurban hanya untuk membuktikan bahwa kita taat kepada perintah Allah SWT?  Bahkan penyembelihan hewan kurban juga seringkali dinyatakan sebagai amal ibadah yang perlu dipertontonkan kepada orang lain.  Mudah-mudahan penyembelihan hewan kurban tersebut tidak dipertontonkan juga kepada anak-anak SD dan balita yang oleh gurunya telah diajari untuk menyayangi binatang. Melihat kenyataan tersebut, saya khawatir istilah ‘berkurban’ dalam Islam akan dipersepsikan orang sebagai ‘menyembelih atau membunuh binatang’ daripada ‘memberikan pengurbanan (sebagian rizki, nikmat, tenaga dan pikiran) kita kepada kaum dhuafa dan mereka yang membutuhkannya’.” 

Simbol dan Substansi Ibadah Kurban

Mendengar gugatan anak saya yang bersemangat tersebut saya hanya tersenyum. Protes anak saya tersebut mengingatkan saya pada perdebatan antar umat Islam tentang ibadah simbolik dan ibadah substantif. Yang dimaksud ibadah simbolik adalah  gerakan ritual, cara, jumlah, waktu, dan tempat yang harus dilakukan dalam setiap ibadah.  Sedangkan ibadah substantif pada hakekatnya merupakan tujuan yang ingin dicapai di balik gerakan ritual tersebut.  Sebagai contoh, ibadah simbolik shalat adalah melakukan gerakan badan disertai ucapan sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam ketika melakukan shalat. Sedangkan substansinya adalah mendekatkan diri kepada Allah supaya kita terhindar dari perbuatan mungkar. Ibadah simbolik puasa adalah menahan lapar dan dahaga mulai matahari terbit hingga matahari terbenam, sedangkan substansinya adalah melatih diri untuk meningkatkan derajat takwa kita.  Demikian pula,  ibadah simbolik kurban adalah menyembelih hewan kurban, tetapi substansinya adalah membunuh nafsu kebinatangan kita (untuk memiliki/menguasai) dengan cara memupuk jiwa pengurbanan kita (untuk memberi).

Sikap menggugat anak saya tersebut di atas barangkali mewakili sikap sebagian anak muda lainnya yang tidak rela masyarakat kita hanya memuja simbol dan mengabaikan substansi yang tersembunyi dibalik simbol tersebut. Mereka kelihatannya juga belum cukup puas dengan penjelasan bahwa menyembelih hewan kurban adalah merupakan perintah Allah yang wajib kita tunaikan. Mereka lebih suka menafsirkan perintah Allah tersebut sebagai menyembelih nafsu binatang yang ada pada jiwa manusia.  Mereka melihat masalah sosial seperti korupsi dan kemiskinan yang melilit negeri ini bukan karena  manusia tidak taat untuk menyembelih hewan-hewan kurban, melainkan karena manusia tidak mau mengurbankan egonya untuk memperkaya diri sendiri dan tidak mau memberikan sebagian kekayaannya untuk kepentingan ekonomi para kaum dhuafa di negeri ini. 

Tentu saja pada prinsipnya saya juga mengamini sebagian besar yang telah mereka sampaikan.  Bahkan, sejauh yang saya amati melalui beberapa tulisan dan sejumlah khutbah yang disampaikan dalam rangka memperingati Idul Adha, sebagian besar ulama kita juga menyampaikan kepedulian yang kurang lebih sama dengan kepedulian yang telah mereka kemukakan. Pada umumnya, para ulama juga menginginkan agar ibadah kurban tidak identik dengan penyembelihan makhluk hidup atau hewan-hewan kurban secara massal.  Semestinya, menurut mereka, penekanan ibadah kurban adalah pada “pengurbanan diri secara ikhlas, untuk kepentingan diri sendiri (dalam rangka memelihara hubungan dekatnya dengan Allah) dan juga untuk kepentingan orang lain (dalam rangka memelihara hubungan/ kepedulian sosialnya dengan sesama manusia)”.

Namun, ada beberapa hal yang mendorong saya berpendapat bahwa keinginan tersebut tidak mudah untuk diwujudkan.  Pertama, karena banyak di antara kita sendiri yang menghendaki supaya ritual penyembelihan hewan kurban secara massal, sebagaimana yang selama ini dilakukan, tetap dipertahankan atau bahkan kalau bisa skalanya semakin diperluas. Banyak di antara kita yang merasa belum dekat dengan Allah apabila kita tidak melakukan ritual penyembelihan hewan kurban. Kedua, setiap upaya untuk membatasimengubah ritual pengurbanan (penyembelihan) hewan menjadi ritual pengurbanan lainnya (misalnya pengurbanan uang, barang atau jasa) mungkin akan berhadapan dengan resistensi dari sebagian umat Islam yang menghendaki ditegakkannya kemurnian ajaran Islam. Mereka yang mencoba menafsirkan kembali ayat-ayat Al-Quran yang terkait dengan penyembelihan hewan kurban harus siap menerima predikat sebagai penyebar ajaran sesat.  Ketiga, berbagai himbauan para ulama supaya dalam rangka melaksanakan ibadah kurban masyarakat tidak hanya sibuk menyembelih hewan-hewan kurban, membagi-bagikan dagingnya dan kemudian mengadakan pesta sate nampaknya juga tidak akan mampu banyak mengubah  pemahaman dan keyakinan sebagian masyarakat bahwa ibadah kurban identik dengan penyembelihan hewan-hewan kurban. 

Merintis Tradisi Baru Merayakan Idul Kurban

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah pandangan sebagian masyarakat yang percaya bahwa ibadah kurban identik dengan penyembelihan hewan kurban secara massal?

Hal pertama yang perlu kita sadari adalah bahwa mengubah pandangan masyarakat bukanlah  pekerjaan yang mudah.  Kedua, yang kita lakukan tentu saja bukanlah menghapus ritual penyembelihan hewan kurban, melainkan membatasi fokus kegiatan masyarakat yang berlebihan pada ritual penyembelihan hewan kurban dengan cara menciptakan tradisi pengurbanan baru yang lebih mendekatkan kita pada tujuan dibalik kegiatan ritual tersebut.

Kegiatan-kegiatan yang bersifat pengurbanan seperti memberikan bantuan (uang, barang, tenaga, empati ataupun pikiran) kepada keluarga miskin dan panti asuhan saya kira sudah semestinya untuk kita pertimbangkan sebagai alternatif tradisi baru yang perlu dirintis dalam rangka merayakan Idul Kurban.

Ke Arah Pola Pikir Berkurban yang Lebih Rasional

Ketiga, kita perlu mengubah pola pikir berkurban masyarakat dari pola pikir tradisional ke arah pola pikir yang lebih rasional.  Minimal ada dua hal yang mendorong motivasi masyarakat tradisional untuk berkurban, yakni supaya di akhirat nanti mereka bisa masuk surga dan supaya Allah tidak marah sehingga menghukum umat manusia dengan bencana.

Dalam kaitannya dengan motivasi pertama bagi masyarakat tradisional untuk berkurban, menurut mereka, ibadah kurban merupakan kendaraan yang bisa digunakan untuk mengantar mereka menuju pintu surga. Masalahnya, ibadah kurban semacam ini dalam praktek lebih mengedepankan kepentingan individual daripada kepentingan sosial. Ibadah kurban yang mereka lakukan dalam konteks untuk merebut surga menjadi miliknya, dan sama sekali tidak dalam konteks untuk mengubah dunia menjadi surga bagi semua umat manusia.  Untuk mengikis sifat egonya yang berlebihan, dan sekaligus juga mengalihkan fokus perhatiannya pada penyembelihan hewan kurban,  menurut saya mereka perlu diingatkan bahwa masih banyak jenis ibadah lain di luar ibadah kurban yang menjanjikan peluang lebih besar kepada mereka untuk menjadi penghuni surga.  Contohnya, sebagaimana sering dikhutbahkan oleh para ulama, adalah mendidik anak-anak kita menjadi anak yang saleh sehingga di kemudian hari mereka selalu mendoakan yang terbaik (surga) bagi orangtuanya. Contoh lainnya, memberikan sedekah untuk pembangunan sarana ibadah atau sarana umum lainnya yang memberikan manfaat jangka panjang bagi para penggunanya.  Satu hal yang ingin saya tekankan di sini, walaupun nilai uang sedekah yang kita berikan lebih kecil daripada nilai uang seekor sapi yang dikurbankan, namun pahala yang akan kita terima dan juga manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat bukan tidak mungkin akan jauh lebih besar.

Motivasi lain masyarakat tradisional untuk berkurban adalah supaya Allah tidak marah dan menghukum umat manusia dengan bencana. Cara-cara primitif berkurban yang mengurbankan hewan atau bahkan manusia, supaya Alam atau Allah tidak marah, telah kita ketahui melalui berbagai buku sejarah.  Dalam sejarah, kita tahu bahwa ritual manusia sebagai kurban (ingat kisah gadis perawan yang dikurbankan supaya air di sungai Nil tidak menyusut) telah banyak menuai protes karena pada prinsipnya nyawa manusia terlalu berharga untuk dikurbankan demi keselamatan manusia lainnya.  Lalu, ritual kurban manusia pun digantikan dengan ritual kurban hewan, mulai sapi hingga kambing dan ayam.  Bahkan telor ayam, roti dan pisang pun seringkali kita lihat diletakkan di sebuah sudut rumah sebagai sesaji (baca: kurban) yang dipersembahkan kepada Sang Bahurekso (penguasa ghaib setempat) demi keselamatan semua anggota keluarga penghuni rumah.

Berbeda dengan masyarakat tradisional, masyarakat modern yang rasional cenderung melihat bencana yang menimpa manusia disebabkan oleh ketidakmampuan manusia itu sendiri.  Oleh karena itu, upaya untuk mencegah atau meminimalisir dampak buruk bencana bukan dengan cara melakukan ritual kurban hewan supaya Allah tidak marah, melainkan dengan cara bekerja keras dan melakukan cara-cara inovatif dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada.  Dengan kata lain, pola pikir berkurban secara rasional menuntut manusia untuk selalu mengurbankan tenaga dan pikirannya dalam upaya mencegah dan mengatasi bencana, yang menimpa dirinya dan juga manusia lainnya. 

Sekali lagi, saya sangat mendukung perubahan pola pikir berkurban dari pola pikir yang tradisional ke arah pola pikir yang rasional.  Walaupun sejujurnya harus saya akui bahwa ketika kita sama sekali tidak berdaya menghadapi suatu bencana alam yang maha dahsyat seperti bencana tsunami di Aceh beberapa tahun lalu, saya melihat bencana tersebut sebagai tanda kebesaran Allah dan sekaligus juga tanda keterbatasan kemampuan kita sebagai manusia. Meskipun demikian, saya tidak ingin berhenti untuk selalu menyeru terutama kepada masyarakat tradisional untuk mengadopsi pola pikir berkurban yang lebih rasional. Tidak perlu mengadopsinya secara drastis.  Seperti yang sering diucapkan oleh Aa Gym, berkurbanlah mulai dari yang kecil-kecil. Misalnya “telor ayam”, lalu “ayam”, dan berikutnya “kambing”. 
    
Sekali lagi, mengubah pandangan dan kepercayaan suatu masyarakat tidaklah mudah. Diperlukan kesabaran dan juga kewaspadaan yang terus menerus agar ibadah kurban tidak direduksi sekadar menjadi kendaraan pribadi menuju surga.  Lebih celaka lagi kalau ia digunakan untuk menutupi aib-diri atau sekadar mencari popularitas. Bila itu terjadi, barangkali kita perlu menyimak kembali puisi Sutardji Calzoum Bachri berikut ini.

PARA MUNAFIK ISMAIL

para ismail yang munafik
bergegas menyodorkan leher
- sembelihlah kami!

Ibrahim yang hanif bilang
- tak, kalian tak boleh mati!
agar menjadi pertanda biar umat waspada


Senin, 03 Juli 2006

Pelangi Dalam Bencana


Tulisan Riswandha Imawan di harian ini “Itu Pun Saya Pikirkan” (Kompas, 2 Juni 2006) sungguh luar biasa.  Lihatlah beberapa cuplikan dari tulisannya tentang musibah gempa di Yogya dan sekitarnya.  “..koordinasi penanganan korban..kacau balau…Kehadiran banyak pejabat negara seolah hanya rombongan manusia yang memberi hiburan, bukan solusi terhadap penderitaan warga…Warga Yogyakarta..disuguhi politik "Tebar Pesona" dengan janji-janji ala kampanye..keputusan pemerintah menyediakan jatah hidup 60 kg beras dan uang tunai Rp 1 juta per bulan untuk tiap kepala keluarga korban bencana…berbaur dengan korban sambil berdendang..hanya mengingatkan rakyat pada legenda Kaisar Nero yang memainkan biola sambil melihat Roma dibakar…mengapa Presiden berkantor di Yogyakarta?..Manfaatnya..dipertanyakan..Kecuali menjaga citra popularitas pribadi juga untuk kepentingan menjaga kekuasaan politik”.

Nampak jelas sekali isi tulisan Riswandha tersebut memperlihatkan kekecewaan yang luar biasa kepada pemerintah, terutama kepada Presiden SBY. Kekecewaan yang luar biasa tersebut menyiratkan keyakinannya bahwa semestinya penderitaan warga Yogya dapat jauh lebih diringankan apabila Presiden memahami dan melakukan sejumlah langkah tanggap darurat sebagaimana yang seharusnya dilakukan dalam menangani bencana.

Namun sayang sekali kekecewaan tersebut juga dinyatakan dalam suatu ungkapan politis, yang memandang semua bantuan dan perhatian yang diberikan oleh Presiden dan Pemerintah hanyalah untuk tujuan politis (baca: citra dan kekuasaan) dan bukan untuk tujuan kemanusiaan. Barangkali cara pandang politis inilah yang menyebabkan kekecewaan Riswandha juga diungkapkan dalam gaya teatrikal Romawi, dan pandangannya secara keseluruhan pada pelaksanaan penanganan bencana gempa di Yogya bernada sangat pesimistis.   

Perbedaan Gaya dan Cara Pandang

Yang menarik adalah kita juga mencatat adanya pendapat dengan nada dan gaya yang berbeda dari Riswandha, sebagaimana telah dikemukakan oleh Baskara T Wardaya dalam “Solidaritas di Tengah Bencana” (Kompas, 29 Mei 2006).  Di tengah bencana gempa yang terjadi di Yogya, Baskara menyaksikan betapa besar solidaritas dari berbagai pihak dalam menangani korban gempa, tanpa melihat pandangan politik dan agama yang dianut oleh warga yang mengalami bencana.  Bahkan ia juga memuji Presiden SBY yang pada hari terjadinya gempa bersedia datang menjenguk para korban dan rela tidur di tenda seperti mereka.       

Keseriusan pemerintah dalam upaya mengatasi bencana gempa di Yogya juga dikemukakan oleh St Sunardi (“Dari Mana Bangkit?”, Kompas 3 Juni 2006), “Kalau melihat derasnya bantuan, ketersediaan manusia, dan banyaknya lembaga, serta keseriusan pemerintah, penderitaan masyarakat di Yogyakarta dan sekitarnya bisa akan lekas teratasi”.  Selain itu, ia juga menambahkan bahwa “lambatnya bantuan ke tangan korban bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga lembaga-lembaga yang sudah sanggup menjadi penyalur bantuan”.

Tentu saja bukan hanya Riswandha yang kecewa terhadap negara.  Afnan Malay, aktivis mahasiswa tahun 1980-an, bahkan tidak habis pikir mengapa bantuan pemerintah tak kunjung datang, padahal Bantul dan Klaten hanya “beberapa senti” saja dari pusat kekuasaan yang sudah pindah di Gedung Agung, dan menurutnya “medannya tanpa rintangan sama sekali, tidak ada yang terisolasi” (Kompas 4 Juni 2006).  Kenyataan yang pahit tersebut membuat Afnan cemas hal tersebut akan berujung pada robohnya Rumah Kita (baca: Republik Indonesia).

Kalau Afnan Malay tidak habis pikir mengapa bantuan pemerintah lamban, Imam Prasodjo yang dikenal sebagai sosiolog merasa yakin bahwa masalah utama pemerintah adalah karena penanganan bencana yang diatur dalam Perpres No.83/2005 tidak diserahkan kepada mereka yang ahli di bidangnya seperti Tim SAR atau anggota TNI yang sudah berpengalaman dalam penanganan bencana (Kompas 4 Juni 2006).

Modal Sosial dan Bantuan yang Tidak Merata

Imam Prasodjo benar bahwa penanganan bencana harus diserahkan kepada ahlinya.  Untuk penanganan bencana tersebut diperlukan beberapa kelompok tim ahli dan petugas lapangan, antara lain untuk melakukan pendataan korban dan lokasi bencana, mengevakuasi korban tewas atau luka, mendistribusikan bantuan makanan dan obat-obatan, merawat korban yang luka berat dan luka ringan, dan melaksanakan pembangunan kembali infrastruktur publik dan  rumah-rumah penduduk yang tertimpa bencana. Sarana dan peralatan yang memadai dan kerjasama antar tim ahli dan petugas di lapangan sangat diperlukan, khususnya pada saat pelaksanaan operasi tanggap darurat. Selain itu, semangat solidaritas masyarakat yang notabene sebagian besar tidak memiliki keahlian khusus juga telah terbukti merupakan modal sosial yang tak ternilai dan dapat kita banggakan dalam menangani berbagai peristiwa bencana yang terjadi di negeri ini.

Pengalaman peristiwa tsunami di Aceh dan gempa di Yogya telah memperlihatkan kepada kita bahwa masa tanggap darurat adalah masa yang sangat kritis, lebih banyak diperlukan respon bantuan yang spontan, dan rawan terhadap konflik kepentingan. Masalah bantuan yang tak kunjung tiba sudah merupakan hal biasa yang terjadi di hampir setiap peristiwa bencana alam yang sangat besar.

Hal lain yang perlu dicatat bahwa solidaritas masyarakat di sekitar lokasi bencana yang sangat besar dan bantuan yang mengalir deras dari berbagai pihak belum tentu dapat menjamin terlaksananya distribusi bantuan ke seluruh titik lokasi korban dalam waktu yang relatif singkat.  Situasi panik dan kondisi yang serba darurat seringkali memaksa kita untuk mengabaikan kenyataan bahwa target korban atau lokasi korban yang kita beri bantuan sebenarnya telah menerima bantuan dari pihak lain.  Akibatnya, seringkali kita dengar  korban di sejumlah lokasi telah menerima bantuan yang berlimpah.  Sementara itu, pada saat yang sama kita juga menemukan sejumlah korban di lokasi lain yang hanya menerima bantuan yang sangat minim atau bahkan mungkin belum menerimanya sama sekali.
Peran Media

Satu hal yang perlu kita ingatkan di sini adalah belum dilibatkannya secara penuh peran media cetak dan elektronik dalam membantu penyampaian informasi kepada masyarakat dan para relawan yang sedang melaksanakan tugas di lapangan.  Dalam hal ini kerjasama antara media cetak dan elektronik dengan pemerintah dan semua posko-posko bantuan dari berbagai kelompok masyarakat sebenarnya dapat dirintis dan dimanfaatkan agar informasi yang akurat dapat diterima oleh masyarakat. Pendistribusian media cetak khusus informasi tentang bencana secara gratis kepada masyarakat dan para relawan di sekitar lokasi bencana akan membantu kelancaran proses penanganan bencana secara keseluruhan.

Melihat penanganan bencana gempa di Yogya dan berbagai peristiwa bencana nasional sebelumnya, peran media sebagai sumber data dan informasi tentang peta lokasi dan korban gempa, terutama yang belum terjangkau oleh bantuan masyarakat maupun pemerintah, masih sangat minim.  Sebagian besar peran media kita masih sebatas sebagai pengumpul sumbangan dari berbagai kelompok masyarakat.  Bahkan yang lebih menyedihkan, beberapa media telah memberikan informasi yang bukan saja tidak akurat, tetapi justru dapat membingungkan dan menyesatkan masyarakat di sekitar Yogya yang sedang membutuhkan bantuan dan mencari perlindungan.

Belajar Dari Bencana

Terlepas dari duka mendalam yang dialami oleh para korban dan rasa kecewa kita pada upaya penanganan bencana, kita masih bisa memperoleh beberapa pelajaran penting dari peristiwa bencana gempa di Yogya dan sekitarnya yang seharusnya membuat kita semakin bijak dan dewasa dalam menghadapi peristiwa-peristiwa bencana yang pasti akan terjadi di masa mendatang.

Pertama, solidaritas berbagai kelompok masyarakat yang sangat besar dalam membantu para korban bencana gempa tanpa memandang suku, agama dan pandangan politiknya merupakan modal sosial yang tak ternilai yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi permasalahan kemiskinan dan pengangguran yang sangat memprihatinkan di negeri ini.   Kedua, pemerintah harus belajar dari pengalaman penanganan bencana selama ini dan harus mampu mengatasi semua kelemahan dalam masalah koordinasi penanganan bencana secara keseluruhan dan masalah distribusi bantuan pemerintah kepada para korban bencana yang membutuhkannya, khususnya pada hari-hari pertama terjadinya bencana.  Ketiga, kita tidak perlu berdebat lagi  tentang apakah peristiwa bencana tersebut merupakan hukuman, peringatan atau ujian dari Tuhan yang Maha Kuasa.  Karena apapun niat Tuhan di balik bencana yang kita alami, kita harus selalu memanfaatkannya sebagai momentum untuk memperbaiki diri dengan tujuan agar hari esok akan lebih baik dari hari ini.

Apabila di suatu saat nanti bangsa kita berhasil mengubah musibah menjadi berkah, seperti halnya Bencana Tsunami menjadi Damai di Aceh, mungkin setiap terjadi bencana di negeri ini nanti, kita akan selalu melihat pelangi di atas langit Indonesia yang mungkin merupakan senyuman Tuhan yang merasa bangga karena manusia ciptaanNya telah berhasil belajar dari berbagai peristiwa bencana sebelumnya, yang notabene merupakan sebagian dari ayat-ayat yang Ia turunkan ke dunia.

Namun, pertanyaan kita adalah mungkinkah itu akan terjadi?