|
SURGA YANG TERLUKA DI PAPUA -
Pengantar Buku SATUPENA Papua Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 28 September 2026
|
Seorang
ayah duduk di tepi rawa sambil memegang jaring tua. Anaknya menggenggam
busur. Keduanya terdiam. Rawa tempat keluarga itu mencari makan perlahan
menghilang. Di
kejauhan, mesin bekerja. Tanah ditimbun. Jalan dibangun. Sang ayah bertanya
pelan kepada anaknya: jika rawa lenyap, di manakah mereka akan menjaring
ikan? Anaknya
tak menjawab. Busur masih berada di tangannya, tetapi hutan tempat ia berburu
menyusut. Jaring masih berada di pangkuan ayahnya, tetapi air menjauh. Hari
itu, sebuah keluarga memahami tragedi yang lebih dalam daripada kemiskinan:
manusia dapat tetap memiliki rumah, tetapi kehilangan dunia yang membuat
rumah itu berarti. Adegan
itu saya bayangkan dari cerpen Gorry dan Rawa yang Hilang dalam antologi ini.
Sejak halaman itu, saya tahu buku ini
tidak sedang bercerita tentang Papua dari kejauhan. -000- Buku yang Membuat Papua Terasa Saya
membaca antologi ini bukan sebagai laporan mengenai sebuah wilayah. Saya
membacanya sebagai sekumpulan manusia yang sedang mempertahankan hak untuk
menceritakan rumahnya sendiri. Judulnya
segera menciptakan tegangan: Papua, Surga yang Terluka: Sebuah Antologi
tentang Tanah, Manusia, Luka, dan Harapan. Terbit pada 2026, buku ini
menghimpun lima belas penulis. Nama-namanya
beragam, dari Wilhelmus Kolyaan, C. Sarivah, Frengki Ilintamon, Gunawansa,
Yudhi Kaiway, hingga Simon Peter Sarkol, Muhammad Afgan, Yohanes Apoka, Franz
Aliknoe, dan Gerd Maury. Di
antara mereka terdapat dosen antropologi, musisi sekaligus pendidik,
rohaniwan, penyair, serta pencerita yang mengenal Papua bukan semata sebagai
tema, tetapi sebagai ruang kehidupan. Keragaman
manusia itu menjelaskan keragaman bentuk
bukunya. Ada empat cerita, enam belas puisi, enam puisi esai, empat
cerpen, dan lima opini. Papua berbicara melalui banyak pintu. Buku
ini karena itu bukan paduan suara yang dilatih agar seragam. Beberapa suara
keras. Beberapa lirih. Beberapa argumentatif. Beberapa menggugat. Semuanya
meminta didengar. Justru
ketidakseragaman itulah kekuatannya. Papua tidak dipaksa menjadi satu
kalimat. Ia dibiarkan menjadi percakapan tentang tanah, identitas,
pembangunan, pendidikan, kebudayaan, konflik, dan harapan. Membaca
halaman demi halaman, terasa bahwa buku ini sedang melakukan sesuatu yang
bersahaja tetapi penting. Ia menggeser Papua dari objek pembicaraan menjadi
subjek yang berbicara. -000- Lama
saya merenungkan buku ini dan menemukan tiga mutiara, tiga keistimewaan. Keistimewaan Pertama: Tanah Menjadi Biografi Ada
satu kesadaran yang berkali-kali muncul: tanah bagi masyarakat adat tidak
selesai dijelaskan oleh koordinat, sertifikat, harga pasar, ataupun jumlah
hektare yang tercatat dalam dokumen. Tanah
menyimpan kebun, pangan, makam leluhur, sungai, sejarah, pengetahuan, dan
hubungan antargenerasi. Maka ketika tanah berubah, cara sebuah komunitas
mengenali dirinya dapat ikut berubah. Inilah
keistimewaan pertama antologi ini. Ia mengubah tanah dari kata benda menjadi
biografi. Tanah bukan sekadar tempat manusia berdiri. Tanah ikut menjelaskan
siapa manusia itu. Bagi
spreadsheet pembangunan, seribu hektare hanyalah angka. Bagi keluarga yang
leluhurnya dimakamkan di sana, seribu hektare dapat menjadi seribu halaman
dari sejarah keluarga. Kehilangan
tanah pun mempunyai dimensi yang tidak selalu tertangkap laporan ekonomi.
Manusia mungkin menerima kompensasi, tetapi uang tidak selalu mampu membeli
kembali geografi ingatan. Frengki
Ilintamon merumuskannya tajam. Ketika tanah adat terluka, ingatan dan
identitas masyarakat adat dapat ikut terluka karena hutan menyimpan cerita,
batas adat, dan pengetahuan antargenerasi. Saya
berhenti cukup lama pada gagasan itu. Dunia modern terbiasa mengukur sesuatu
berdasarkan harga. Padahal sebagian hal terpenting dalam kehidupan justru
tidak mempunyai harga pengganti. Makam
seorang ayah tidak mempunyai harga pasar. Bahasa ibu tidak mempunyai harga pasar.
Ingatan masa kecil juga tidak. Namun kehilangan semuanya dapat memiskinkan
jiwa manusia. Di
sinilah pembangunan membutuhkan kecerdasan tambahan: kemampuan
memperhitungkan sesuatu yang sulit dimasukkan ke tabel, tetapi justru
menentukan martabat dan keberlanjutan kehidupan sebuah komunitas. -000- Keistimewaan Kedua: Papua Tidak Diterangkan,
Papua Dialami Simon
Peter Sarkol memilih jalan berbeda. Ia membawa pembaca menyusuri kali dengan
perahu, mendengar dayung menyentuh air, memetik buah dalam perjalanan, lalu
mendengar lagu di antara pepohonan. Pada
malam lain, pelita menyala. Tifa terdengar dari kejauhan. Di sebuah rumah
tergantung salib. Ingatannya kemudian kembali kepada seorang lelaki yang
berdiri di depan pohon sagu. Lelaki
itu membuat tanda salib sebelum menebangnya. Ia kemudian berbicara kepada
pohon tersebut dalam bahasa setempat. Sarkol menyaksikannya, tetapi memilih
tidak menafsirkan apa yang tidak ia pahami. Di
situlah etika penulisan memperoleh bentuk yang indah. Tidak semua yang asing
harus segera kita terjemahkan. Kadang penghormatan dimulai dengan keberanian
mengakui keterbatasan pemahaman sendiri. Dari
pesawat, hutan hanyalah warna hijau. Setelah berjalan di dalamnya, hijau
memiliki bunyi dayung, rasa buah, cahaya pelita, nyanyian manusia, doa, dan
pohon sagu. Pesan
tak tertulisnya jelas: jangan memahami Papua hanya dari ketinggian. Turunlah.
Berjalanlah. Dengarkanlah. Peta dapat menunjukkan lokasi, tetapi belum tentu
mampu menjelaskan makna sebuah tempat. Di
sini sastra melakukan sesuatu yang statistik tidak mampu kerjakan sendirian.
Statistik memberikan skala persoalan. Menurut BPS, Indeks Pembangunan Manusia
Papua Pegunungan pada 2025 hanya 54,91, terendah di Indonesia, jauh di bawah
Jakarta yang mencapai 85,05. Pada
Maret 2025, sekitar tiga dari sepuluh penduduk provinsi itu hidup di bawah
garis kemiskinan. Angka itu memberi skala. Sastra memberikan wajah, napas,
ketakutan, kesunyian, dan rasa kehilangan. Kebijakan
tanpa cerita mudah berubah menjadi angka. Sebaliknya, cerita tanpa fakta
mudah tergelincir menjadi romantisisme.
Buku ini paling kuat ketika pengalaman manusia dan fakta saling
menerangi. -000- Keistimewaan Ketiga: Luka Tidak Dijadikan Takdir Bagian
yang paling menarik bagi saya muncul ketika
buku berhenti bertanya tentang apa yang tersimpan di bawah tanah
Papua, lalu mulai bertanya tentang manusia yang hidup di atasnya. Salah
satu esainya menggeser pusat percakapan. Jangan hanya menghitung emas. Hitung
pula berapa banyak anak Papua menjadi ahli pertambangan, pengusaha perikanan,
ahli kehutanan, dan pembuat keputusan. Pergeseran
ini fundamental. Luka tidak lagi hanya dicatat sebagai keluhan. Ia diubah
menjadi daftar kerja: siapa yang harus dididik, keahlian apa yang harus
dikuasai, kursi mana yang harus diisi. Sebuah
masyarakat tidak otomatis berdaya atas kekayaannya hanya karena kekayaan
tersebut berada di wilayahnya. Pengetahuan diperlukan untuk mengelola dan
menegosiasikannya. Di
sinilah pendidikan menjadi jembatan antara martabat dan masa depan. Bukan pendidikan
untuk sekadar memperoleh ijazah, melainkan untuk membaca kontrak, hukum,
teknologi, ekonomi, dan perubahan dunia. Namun
pengetahuan modern tidak harus menggantikan pengetahuan leluhur. Keduanya
justru dapat bertemu: teknologi dengan kearifan lokal, pendidikan dengan
budaya, tata kelola modern dengan tanah adat. Modernisasi
terbaik bukan mesin penghapus ingatan. Modernisasi terbaik memperluas
kemungkinan hidup tanpa meminta manusia membayar kemajuan dengan kehilangan
sebagian dari dirinya sendiri. Kisah
Yudhi Kaiway memberi gambaran yang lebih lembut. Sewaktu kecil, seorang guru
mengajarinya lagu Papua. Pengalaman kecil itu ternyata menetap jauh lebih
lama daripada ruang kelas. Bertahun-tahun
kemudian, anak itu tumbuh menjadi musisi dan pendidik. Kini dialah yang
berdiri di hadapan mahasiswa dan anak-anak, mengajarkan kembali musik Papua
kepada generasi berikutnya. Saya
menyukai lingkaran kecil itu. Di tengah seluruh perdebatan besar mengenai
kekuasaan dan pembangunan, peradaban ternyata dapat bertahan karena seseorang
pernah mengajarkan sebuah lagu kepada seorang anak. Seorang
guru. Sebuah lagu. Seorang anak. Puluhan tahun kemudian, anak itu
mengajarkannya kepada anak lain. Kebudayaan kadang bertahan bukan melalui
monumen, tetapi melalui ingatan. -000- Dua
buku di bawah ini membantu kita memahami isu Papua. Buku Pertama: Peta untuk Membaca Luka Papua
Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the
Future, disunting Muridan S. Widjojo dan ditulis bersama Adriana Elisabeth,
Amirudin Al Rahab, Cahyo Pamungkas, serta Rosita Dewi. Buku
ini penting karena menolak penjelasan tunggal mengenai Papua. Persoalannya
dikelompokkan ke dalam empat rumpun yang saling berkelindan dan tidak mungkin
diselesaikan secara terpisah. Pertama,
marginalisasi serta diskriminasi terhadap orang asli Papua. Kedua, kegagalan
pembangunan, terutama pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat. Ketiga,
perbedaan konstruksi sejarah dan identitas politik. Keempat
adalah persoalan kekerasan negara masa lalu dan pertanggungjawabannya.
Kerangka ini menunjukkan mengapa persoalan Papua tidak cukup dijawab hanya
dengan anggaran dan pembangunan fisik. Jalan
penting. Sekolah penting. Rumah sakit penting. Namun rekognisi, kepercayaan,
dialog, keadilan, dan ingatan sejarah juga penting. Pembangunan fisik tidak
otomatis menyembuhkan luka relasional. Kekuatan
intelektual buku ini terletak pada kompleksitas tersebut. Papua tidak
direduksi menjadi masalah ekonomi, keamanan, sejarah, atau identitas semata.
Lapisan-lapisan itu dibaca secara bersamaan. Bagi
pembaca antologi SATUPENA Papua, buku ini menyediakan peta analitis. Antologi
memberikan suara manusia. Papua Road Map membantu memahami struktur tempat
suara-suara tersebut bergema. -000- Buku Kedua: Memahami Manusia Sebelum Kekayaan The
Amungme of West New Guinea, karya Kal Muller, membawa pembaca mendekati
masyarakat Amungme, kebudayaan dataran tinggi Papua, serta perubahan besar
yang terjadi dalam kehidupan mereka. Buku
ini membicarakan asal-usul, bahasa, struktur kekerabatan, organisasi sosial,
kepemimpinan, perburuan, pertanian, kehidupan spiritual, serta perubahan yang
datang bersama perjumpaan dengan dunia luar. Relevansinya
sangat kuat. Sebagian wilayah kehidupan Amungme mengalami perubahan besar
bersama berkembangnya kompleks pertambangan Freeport di sekitar Ertsberg dan
kemudian Grasberg. Pembaca
juga perlu tahu bahwa sebagian karya Muller tentang Amungme sebelumnya terbit
bersama lembaga yang berkaitan dengan Freeport. Hal itu tidak menghapus nilai
etnografisnya, tetapi mengingatkan kita untuk membaca setiap sumber dengan
kesadaran akan posisinya. Istilah
“masyarakat adat” karenanya bukan kategori abstrak. Di belakangnya terdapat
kosmologi, hubungan sosial, pengetahuan ekologis, sejarah, sistem makna,
serta cara tertentu memahami manusia dan alam. Pelajarannya
terang. Sebelum bertanya berapa nilai mineral sebuah gunung, kita perlu
memahami lebih dahulu apa arti gunung tersebut bagi manusia yang selama
bergenerasi hidup bersamanya. Ekonomi
menghitung apa yang dapat diekstraksi. Antropologi bertanya apa yang mungkin
ikut hilang. Kebijakan yang matang membutuhkan kedua mata itu agar kemajuan
tidak menjadi rabun. Dua buku akademis itu memberi kita kompas dan
peta geopolitik, tetapi antologi SATUPENA ini memberi kita jantung yang
berdetak; peta menuntun langkah, namun nuranilah yang menentukan arah
perjalanan. -000- Sebuah Kontra-Argumen yang Harus Didengar Tentu
ada keberatan yang sah. Bukankah terlalu menekankan luka membuat Papua seolah
hanya berisi penderitaan, sementara jalan, sekolah, investasi, teknologi,
pekerjaan, dan pertumbuhan ekonomi juga diperlukan? Keberatan
itu penting. Papua tidak boleh diromantisasi menjadi museum kebudayaan.
Masyarakatnya mempunyai hak yang sama untuk menikmati universitas, internet,
rumah sakit, industri, teknologi, dan kemakmuran modern. Bahkan
Muhammad Afgan dalam antologi ini mengakuinya. Pertanyaannya bukan apakah
Papua membutuhkan pembangunan, melainkan pembangunan seperti apa yang hendak
diwariskan kepada generasi berikutnya. Itulah
jalan tengah yang lebih produktif. Pilihannya tidak harus pembangunan atau
adat. Tidak harus modernitas atau identitas. Tidak harus investasi atau
kepentingan masyarakat lokal. Pertanyaan
sesungguhnya ialah apakah pembangunan mampu menghasilkan kemakmuran sekaligus
memperbesar kemampuan masyarakat setempat untuk menentukan, memiliki,
mengelola, mengawasi, dan menikmati manfaat perubahan tersebut. Ada
alasan lain untuk menjaga jarak kritis. Antologi ini tidak selalu berbicara
dengan nada moderat. Beberapa tulisan menggunakan tuduhan, metafora politik,
dan kesimpulan yang sangat keras. Klaim-klaim
seperti itu sebaiknya dipahami sebagai suara dan posisi penulisnya. Sebuah
antologi memang menyediakan ruang kesaksian, tetapi kesaksian tidak dengan
sendirinya menjadi konsensus akademik. Empati
tidak menghapus kebutuhan verifikasi. Kritik membutuhkan disiplin bukti.
Sebaliknya, ketelitian akademik juga tidak boleh menjadi alasan untuk menutup
telinga terhadap pengalaman manusia yang tidak nyaman. Sikap
kritis justru menghormati buku ini. Sebuah antologi tidak harus menjadi kitab kebenaran untuk menjadi dokumen
kemanusiaan yang penting dan menggerakkan percakapan yang lebih dewasa. -000- Rumah yang Tidak Boleh Kehilangan Penghuninya Ada
satu cerpen yang terus mengganggu pikiran setelah buku ditutup, yaitu Gorry
dan Rawa yang Hilang. Tokohnya mengenal alam dengan pengetahuan yang tidak
diajarkan sekolah. Gorry
mampu membaca arah angin, jejak binatang, air, lumpur, dan hutan. Pengetahuan
itu diwariskan ayahnya, diperoleh melalui kehidupan, bukan melalui ruang
kelas atau sertifikat. Namun
ketika Gorry melamar pekerjaan, dunia baru bertanya tentang ijazah dan
pengalaman kerja formal. Ia hanya berijazah sekolah dasar. Pengetahuan
hutannya tidak masuk kolom formulir. Di
sanalah tragedi modernisasi memperoleh bentuk paling halus. Seseorang dapat
sangat terampil dalam dunianya, lalu dianggap tidak terampil setelah dunia di
sekelilingnya berubah. Pengetahuan
membaca rawa kehilangan nilai ketika rawa menghilang. Keahlian berburu
kehilangan ruang ketika hutan menyusut. Manusia dipaksa beradaptasi terhadap
perubahan yang tidak sepenuhnya ia tentukan. Namun
jalan keluarnya bukan membekukan Papua dalam masa lalu. Itu sama kelirunya.
Anak Papua berhak memasuki universitas, laboratorium, perusahaan, dunia
digital, bahkan pusat inovasi kecerdasan buatan. Yang
diperlukan adalah jembatan. Pengetahuan lama jangan dihina. Pengetahuan baru
jangan ditakuti. Anak yang mampu membaca hutan harus memperoleh kesempatan
pula untuk membaca algoritma dan kontrak. Pada
titik itulah buku ini terasa sangat personal bagi saya. Sepanjang hidup, saya
selalu tertarik pada satu pertanyaan: apa yang terjadi ketika zaman berubah
lebih cepat daripada manusia? Teknologi
datang. Institusi berubah. Cara bekerja berubah. Mereka yang tidak memperoleh
kesempatan belajar mudah menjadi penonton, bahkan ketika perubahan besar
berlangsung tepat di halaman rumahnya sendiri. Kisah
Gorry pun melampaui Papua. Ia berbicara mengenai tantangan universal manusia:
bagaimana memasuki masa depan tanpa harus membuang seluruh pengetahuan yang
membawa kita sampai hari ini. Saya
membayangkan Papua terbaik lahir dari perjumpaan tersebut. Anak adat memasuki
dunia modern tanpa meninggalkan dirinya di depan pintu. Kemajuan memperbesar
dirinya, bukan menghapusnya. -000- Dari Luka Menuju Martabat Pada
akhirnya, buku ini bukan terutama mengenai surga. Bukan pula terutama
mengenai luka. Ia mengenai pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah yang
menjadi subjek perubahan? Sebuah
daerah belum sungguh maju hanya karena jalannya bertambah panjang. Kemajuan
menjadi manusiawi ketika orang yang hidup di sana bertambah sehat, terdidik,
berdaya, dan bermartabat. Ukuran
masa depan Papua bukan hanya berapa banyak kekayaan yang dikeluarkan dari
bumi, tetapi berapa banyak manusia yang ikut tumbuh bersama perubahan
tersebut. Antologi
ini menyebut dirinya ruang perjumpaan antara pengalaman dan harapan. Ia juga
mengingatkan bahwa sebuah daerah tidak seharusnya selamanya diceritakan hanya
oleh mereka yang datang dari luar. Epilognya
menyebut buku ini sebagai “monumen
dari ingatan-ingatan yang menolak untuk dikubur.” Ungkapan itu menjelaskan
mengapa sastra tetap diperlukan di tengah statistik, regulasi, dan kebijakan. Angka
memberi tahu berapa hektare berubah. Peta menunjukkan batas wilayah. Anggaran
menunjukkan biaya. Tetapi manusia mengatakan bagaimana rasanya ketika sebuah
tempat perlahan kehilangan maknanya. -000- Karena
itu, membaca buku ini sebaiknya tidak berakhir dengan kemarahan. Jangan pula
berakhir dengan rasa kasihan. Keduanya terlalu kecil untuk sebuah persoalan
sebesar Papua. Biarlah
pembacaan berakhir dengan kesediaan mendengar. Mendengar pemerintah dan
pengkritiknya. Mendengar masyarakat adat dan pendatang. Mendengar mama, guru,
gereja, pengusaha, seniman, dan generasi muda. Masa
depan Papua tidak memerlukan satu suara yang membungkam suara lainnya. Ia
memerlukan ruang tempat perbedaan bertemu, dan tempat luka disembuhkan
bersama dengan pengetahuan, keadilan, dan dialog. Sebab
surga bukanlah tanah yang tak pernah terluka, melainkan tanah tempat
anak-anaknya tetap dapat pulang, mengenali dirinya, dan berkata dengan
bermartabat: ini rumah kami. ● REFERENSI 1.
Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the
Future Muridan S. Widjojo (ed.), Adriana
Elisabeth, Amirudin Al Rahab, Cahyo Pamungkas, dan Rosita Dewi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia,
LIPI, dan ISEAS, 2010. 2.
The Amungme of West New Guinea Kal
Muller. Galda
Verlag, 2023. 3.
Badan Pusat Statistik. Indeks Pembangunan Manusia 2025 dan Profil Kemiskinan
Provinsi Papua Pegunungan Maret 2025. Jakarta: BPS, 2025. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar