|
Komunikasi Xi Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 29 September 2026
Cara
berkomunikasi orang Amerika, Inggris, dan Tiongkok begitu berbedanya. Itu
tecermin dari penampilan Donald Trump dari Amerika, McCarney dari Kanada, dan
Xi Jinping dari Tiongkok.
Orang Amerika
tidak suka yang kaku dan formal. Apalagi di tangan Trump. Ia baru saja menabrak
protokoler: menjemput sendiri kedatangan Xi Jinping di depan tangga pesawat.
Bersama istri pula: Melania –karena presiden Tiongkok itu datang ke Washington
DC disertai istrinya yang penyanyi, Peng Liyuan.
Dalam ilmu lama
diplomasi cara Trump itu bisa ditafsirkan sangat jelas: Trump ingin mengambil
hati terdalam Xi Jinping. Untuk apa? Bukankah selama ini Trump menganggap Xi
adalah penyebab utama melemahnya ekonomi Amerika? Bukankah Trump selalu
menghukum Tiongkok sangat berat sebagai wujud kejengkelannya? Bisakah itu
ditafsirkan sebagai rasa penyesalan Trump akan perang dagangnya dengan Xi
selama ini –yang nyatanya hukuman itu lebih banyak berdampak negatif pada
ekonomi warga Amerika sendiri?
Itu tafsir
normal. Orang yang tidak normal tidak bisa ditafsirkan secara normal. Anda
sudah tahu: Trump itu biasa pagi tempe sore kedelai.
Yang menarik
justru memperhatikan apa yang disampaikan Xi Jinping kepada Trump. Yakni di
acara makan malam di Gedung Putih untuk menyambut kedatangannya yang istimewa.
Xi mengingatkan peristiwa lama yang menggambarkan betapa indahnya persahabatan
Amerika-Tiongkok. Juga peristiwa yang lebih baru yang intinya betapa hubungan
Amerika dan Tiongkok itu selalu istimewa. Sejak dahulu sampai belakangan.
Maksudnya: baru di zaman Trump ini saja memburuk.
Mengenai
indahnya hubungan puluhan tahun lalu Xi menyebut contoh ini: di perang dunia
kedua begitu banyak rakyat Tiongkok yang meninggal demi menyelamatkan nyawa
puluhan pilot Amerika.
Waktu itu
Amerika mengirim begitu banyak pesawat tempur untuk menyerang Jepang. Banyak
pesawat yang ditembak Jepang. Jatuh di wilayah Tiongkok. Celakanya wilayah
Tiongkok itu masih di bawah kekuasaan penjajah Jepang. Dengan sembunyi-sembunyi
rakyat Tiongkok menyelamatkan nyawa mereka. Pilot-pilot itu disembunyikan di
rumah mereka. Dirawat. Diobati.
Ada juga
pesawat yang nekat: tahu persediaan bahan bakarnya tidak cukup tetap saja
terbang. Setelah menjatuhkan bom mendarat darurat di daratan Tiongkok.
Diselamatkan penduduk.
Banyak penduduk
Tiongkok yang akhirnya dihukum mati Jepang karena tindakan penyelamatan itu.
Ternyata para pilot itu, dibekali secarik 'jimat'. Secuil kertas. Isinya:
tulisan dalam huruf Mandarin yang pilot itu sendiri tidak bisa membacanya.
'Jimat' itu dimasukkan saku dengan harapan rakyat Tiongkok menemukannya,
membacanya dan menolongnya.
Kisah-kisah
penyelamatan pilot itu banyak ditulis oleh para pilot itu sendiri. Bahkan anak
cucu sang pilot ada yang sampai ke Tiongkok mencari anak cucu orang yang
menyelamatkan nyawa leluhur mereka.
Mungkin Trump
sudah lupa peristiwa kemanusiaan yang indah itu. Sudah terlalu lama berlalu.
Maka Xi Jinping
perlu menguraikan peristiwa lain yang lebih baru: 1 September lalu. Tidak kalah
mengharukannya.
Seorang
pensiunan guru di Pennsylvania terbang ke Tiongkok untuk menemui seorang wanita
di pedalaman Mongolia. Itu karena sang guru membaca namanya disebut di medsos.
Isinya: Si wanita sudah lama mencarinya. Untuk apa? Hanya untuk mengucapkan
terima kasih.
Sang guru,
Sakolsky, pernah mengajar di SMA di daerah Laoyang –provinsi Henan. Di zaman
lama kota ini pernah sebentar jadi ibu kota kekaisaran Tiongkok. Letaknya tidak
terlalu jauh dari Xiaolin Tempel yang sudah Anda kenal.
Si wanita
bernama Mrs Yi. Belakangan Mrs Yi menjadi pahlawan di Tiongkok. Namanyi jadi
buah bibir di negara itu: sebagai pahlawan lingkungan. Penghargaan tinggi
diberikan kepadanyi.
Berkat
ketekunannyi berpuluh tahun gurun tandus seluas 400.000 km menjadi ijo
royo-royo.
Ketika Yi
menerima penghargaan dari negara dia ingat jasa guru Amerika itu. Guru itulah
yang memberinyi uang sebagai modal awal pengabdiannyi. Dia ingin mengucapkan
terima kasih kepadanya tapi nomor kontaknya sudah hilang. Sudah 27 tahun
berlalu. Si guru sendiri sudah tua. Sudah pensiun.
Akhirnya medsos
menyambungkan hubungan itu. Si wanita mengundang Pak Guru untuk datang ke
Tiongkok. Untuk melihat sendiri bagaimana gurun yang kerontang itu kini sudah
menjadi hutan.
Akhirnya
keduanya bertemu di pedalaman Monggolia. Sudah sama-sama tua. Mereka berpelukan
lama. Jadi foto human interest yang beredar luas.
Si Guru tetap
merendah. Ia mengatakan uang yang pernah diberikan tidaklah seberapa. Hanya
USD5.000. Itu pun bukan uangnya sendiri. Ia kumpulkan dari teman-temannya di
Amerika. "Wanita sendiri itulah yang sebenar-benarnya pahlawan,"
katanya.
Waktu itu
Sakolsky melihat siaran di TVRI-nya Tiongkok: seorang wanita sedang berusaha
menanam pohon di gurun di kampungnyi. Wanita itu terlihat seperti sebutir pasir
di lautan gurun.
Sang guru
tersentuh. Cari uang. Diserahkan ke wanita itu. Mrs Yi menggunakan uang itu
sepenuhnya untuk membeli bibit pohon. Dapat 50.000 pohon. Tiongkok waktu itu
masih sangat miskin.
Tentu Presiden
Xi tidak bercerita begitu detail di depan Trump. Tapi setelah Xi berpidato
harusnya Trump minta anak buahnya mencari cerita detailnya di Disway hari ini.
Pemerintah Trump boleh memusuhi Tiongkok tapi hubungan rakyat ke rakyat terus
berjalan sesuai dengan prinsip kemanusiaan universal.
Bandingkan
dengan pidato Trump di acara yang sama. Trump lebih menonjolkan kehebatan
dirinya dibanding presiden-presiden Amerika sebelumnya. Trump lebih banyak
menonjolkan ''saya''. Xi menonjolkan ''kita''.
Yang jelas
kunjungan Xi ke Amerika kali ini sekaligus mendemonstrasikan cara dan kemampuan
berkomunikasi. Model komunikasi menunjukkan kelas serta tinggi rendahnya budaya
pribadi-pribadi yang melakukannya.
Ada komunikasi
gaya Rambo, ada pula gaya Panda. Gaya tinju dan gaya taichi. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/970857/komunikasi-xi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar