|
Kiri
tanpa Sosialisme, 'Sosial-isme' tanpa Kiri Robertus Robet : Sosiolog
Universitas Negeri Jakarta. Ia salah satu anggota tim evaluator editorial
Tempo. |
TEMPO MINGGUAN, 27 September 2026
|
· Sosialisme pernah mengisi posisi
penting dalam imajinasi politik pascakemerdekaan. · Kekerasan politik pada 1965-1966
menghancurkan seluruh ekologi politik kiri. · Kiri masa kini lebih merupakan sebuah
posisi moral dan kultural ketimbang sebuah proyek politik massa. KIRI di
Indonesia tidak selamanya ada di pinggiran. Dalam dekade-dekade setelah
kemerdekaan, sosialisme dan berbagai varian egalitarianisme mengisi posisi
penting dalam imajinasi politik pascakemerdekaan. Esai
Kevin Fogg dalam Third World Quarterly menyajikan bahwa, antara 1945 dan
1965, hampir semua partai politik mengklaim memiliki pertautan—entah
semuanya, entah sebagian—dengan sosialisme. Ekspresi sosialis di Indonesia
yang paling kuat tentu saja datang dari Partai Komunis Indonesia (PKI), yang
dibangun dengan basis kelompok sosial luas seperti buruh, petani, serta
organisasi afiliasi lain. Selain itu, ada Partai Sosialis Indonesia, yang
dibubarkan Sukarno. Kekerasan
politik pada 1965-1966, yang diikuti dengan politik antikomunis sistematis,
tak hanya memusnahkan organisasi-organisasi komunis, tapi juga menghancurkan
basis institusional dan kultural dari seluruh imajinasi sosialis. Sebagaimana
dikemukakan oleh Vedi Hadiz, kekalahan politik kiri pada 1960-an telah
sedemikian rupa membentuk karakter ideologi politik Indonesia ketika memori keburukan
komunisme diinkorporasikan ke dalam legitimasi politik Orde Baru. Dengan
kata lain, penghancuran politik kiri pasca-1966 tidak hanya menghapus PKI. Ia
juga menghancurkan seluruh ekologi politik kiri. Orde Baru tidak sekadar
melarang kiri. Lebih dari itu, mereka membuat kiri historically
unintelligible. Sosialisme dibuat identik dengan komunisme dan komunisme
identik dengan pengkhianatan. Jatuhnya
pemerintahan rezim Soeharto pada 1998 membuka kembali ruang politik.
Partai-partai politik baru didirikan, organisasi-organisasi masyarakat sipil
tumbuh subur. Gerakan mahasiswa mendapatkan tempat serta pengakuan. Gerakan
buruh dan agraria juga tampil dan menguat secara institusional. Diskursus
intelektual radikal mengemuka dan mendapatkan jalan untuk tampil kembali. Namun
kekuatan kiri yang terorganisasi tetap tak kunjung muncul. Ed Aspinall
menangkap kondisi ini dan menyatakan bahwa jatuhnya Soeharto telah
memproduksi ledakan aktivisme, tapi tidak berhasil merekonstruksi
tradisi-tradisi organisasi yang eksis sebelum 1965. Pasca-1998, concern
intelektual kiri tumbuh, tapi kekuatan sayap kiri tetap absen. Buruh
diorganisasikan dan dimobilisasi, tapi tanpa konstruksi organisasi sosialis.
Sejumlah lembaga swadaya masyarakat membela berbagai kaum pinggiran dengan
pemberdayaan, tapi tanpa basis teori transformasi kelas. Aktivis-aktivis hak
asasi manusia menentang kekerasan negara, tapi tentangan mereka tidak
mempertanyakan struktur akumulasi kapitalis yang bekerja di belakang
kekerasan negara. Aktivis lingkungan berjuang mendampingi korban
pertambangan, tapi tetap berada di luar proyek sosialis. Ringkasnya:
Reformasi 1998 telah merekonstruksi ruang politik perlawanan, tapi ia tidak
merekonstruksi kembali infrastruktur politik sosialis. Jadi
apakah ada orang kiri di Indonesia kini? Tentu ada! Namun kiri Indonesia
kontemporer harus dibedakan dengan kiri Indonesia klasik/lama. Kiri lama
bukan sekadar sekelompok orang dengan ide progresif, melainkan juga sebuah
proyek politik yang terorganisasi. Mereka memiliki teori dan analisis
masyarakat yang jelas. Mereka hidup di dalam massa, terdisiplin secara
organisasional, dan memiliki visi tatanan sosial alternatif. Kiri
masa kini adalah fragmen dari sebagian elemen lama ini: kiri sebagai “gaya
politik”. Di Indonesia masa kini, leftisme lebih merupakan sebuah posisi
moral dan kultural ketimbang sebuah proyek politik massa. Sebagai gaya
intelektual tentu tetap bagus dan bermanfaat, tapi dari sini jangan
dibayangkan hadirnya sebuah proyek politik. Inilah
kiri tanpa sosialisme: fragmen tanpa totalitas sosialis. Karya Marx, Lenin,
dan Gramsci tetap dibaca, tapi tak ada organisasi yang dibangun dengan basis
itu. Kelas didiskusikan, tapi organisasi buruhnya terus lemah. Kapitalisme
selalu dikritik sebagai biang kerok, tapi tak pernah ada kesepakatan mengenai
modus kehidupan apa yang hendak dibangun sebagai gantinya. Oligarki dikutuk,
tapi pertanyaan tentang model solidaritas apa yang hendak dibangun tetap tak
pernah diajukan. Persis sebagaimana diajukan oleh Ed Aspinall: disiplin dan
keketatan intelektual kiri lama melemah, tapi vokabulari populisnya bertahan
dan merebak kembali pasca-1998. Barangkali
inilah pangkal menguatnya “moralisasi kiri” di kalangan segelintir kiri
Indonesia kontemporer. Tatkala ideal politik tumbuh tanpa basis proyek
politik terorganisasi, perbedaan internal dimoralisasi menjadi kompetisi
“mana yang lebih kiri? siapa yang lebih radikal/merakyat?”. Otentisitas
politik menggantikan ideologi. Sementara dulu orang bertanya bagaimana kita
mengorganisasi yang tertindas, kini yang ditanya: “bagaimana saya lebih murni
secara teori/politik dibanding yang lain?”. Persis
dalam psikologi dan kekosongan inilah retorika “kiri” Prabowo Subianto
kemudian muncul dan mengambil tempat. Di Indonesia, boleh dibilang, tiap kali
menjelang pemilihan umum, hampir semua calon presiden dan wakil presiden
mendadak menjadi kiri. Retorika kiri, populisme, dan anti-elitisme adalah
menu tetap politik elektoral. Namun,
dalam hal Prabowo, retorika kirinya bergerak sedikit lebih jauh. Dalam
peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei, di depan pimpinan serikat dan
buruh, ia ikut menyanyikan lagu gerakan sosialis internasional,
“Internasionale”, yang pada zaman Soeharto bisa bikin orang dipenjara. Ia
secara determinan menekankan kebijakan makan bergizi gratis (MBG) dan
koperasi desa merah putih (KDMP) sebagai flagship pemerintahannya. Pemerintah
menetapkan MBG dan KDMP dalam kerangka redistribusi kesejahteraan dan
pembangunan ekonomi rakyat. Pada Mei 2026, pemerintah mempresentasikan MBG
dan KDMP sebagai mekanisme sirkulasi sumber daya ekonomi melalui desa dan
penguatan ekonomi rakyat. Di titik
inilah kita kemudian menghadapi suatu pembalikan yang membingungkan dan
mengecoh: sebuah pemerintahan yang sangat menekankan peran militer dan jelas
berada di luar argumen historis kiri tampil di depan kita dengan
kebijakan-kebijakan yang secara sepintas dapat diinterpretasikan berasosiasi
kiri: redistribusi, provisi sosial, koperasi, subsidi, pendidikan gratis, dan
intervensi negara atas pasar. Kita tentu saja tidak dapat menyederhanakan
kebijakan-kebijakan ini sekadar sebagai propaganda, mengingat keseriusan
dalam pengerahan sumber daya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang
demikian besar. Namun menyebut ini sebagai hadirnya pemerintahan sosialis
juga terasa ganjil. Sementara
sosialisme secara sederhana didefinisikan sebagai state provision of social
goods, MBG dapat secara mudah disebut sosialis. Namun definisi ini jelas
terlalu longgar. Pendidikan gratis eksis di banyak negara kapitalis. Demikian
pula rumah sakit gratis, makanan bersubsidi, bahkan social security,
tunjangan anak dan keluarga. Redistribusi
tidak serta-merta berarti sosialisme. Sebuah negara kapitalis dapat melakukan
redistribusi sembari mempertahankan struktur pemilikan yang timpang. Demikian
pula koperasi, tak selamanya sosialistis. Koperasi banyak tumbuh di negara
kapitalis dan dapat menjadi sangat birokratis serta berfungsi sebagai
perpanjangan, baik elite atas maupun lokal, ketimbang memberdayakan rakyat. Di sini
pula kita mesti berhati-hati: redistribusi dapat diadopsi oleh klaim
nasionalisme. Koperasi dapat diadopsi oleh developmentalisme. Kebijakan
sosial dapat diklaim oleh populisme dan intervensi negara lebih sering
dilakukan rezim-rezim otoritarian. Secara
historis, kaum kiri mengklaim merepresentasikan kelas pekerja, petani, dan
kaum miskin, tapi kaum populis-nasionalis kontemporer dapat mengklaim hal
yang sama secara lebih artikulatif dan licin. Di sini tibalah kita pada paradoks:
ide dan kebijakan dalam retorika sosialis berbunyi justru di luar sejarah
gerakannya sendiri. Kiri tanpa sosialisme, “sosial-isme” tanpa ideologi kiri.
Persis seperti yang dikatakan Aspinall: In Indonesia, it sometimes seems
that the left is everywhere yet nowhere. Di dunia
sekarang, praktis hanya ada dua negara dengan papan nama sosialis, yakni Cina
dan Kuba. Kuba sengsara. Cina dipimpin partai tunggal dengan presiden seumur
hidup. Indonesia tidak dapat meniru keduanya karena sejarah politik, struktur
sosial, dan ekonomi kita jauh berbeda. Kalau
mau sedikit sosialis, sebaiknya Indonesia melakukannya dengan strategi
perluasan hak. Strategi ini jauh lebih pas untuk gaya kiri yang sekarang
tersisa karena mendorong mereka bisa bekerja sama dengan kalangan civil
society yang lebih luas. Selain itu, perluasan hak bisa lebih diterima dalam
kosakata umum politik di Indonesia. Adagiumnya jelas: intervensi negara tanpa
didahului perluasan hak tak lain adalah represi. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/sosialisme-komunisme-soeharto-orde-baru-2294318 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar