Senin, 30 Agustus 2021

 

Miris Ngeri

Dahlan Iskan ;  Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 28 Agustus 2021

 

 

                                                           

Awalnya saya tidak tertarik mengikuti berita H. Muhammad Kace ini. Apa manfaatnya.

 

Tapi begitu ia ditangkap polisi barulah saya ingin tahu: mengapa?

 

Oh... klasik: penghinaan agama.

 

Saya pun kembali malas mengikuti berita itu.

 

Ups... Ada yang aneh. Kok kali ini jalur ''NU garis lurus'', tumben, ikut bersuara. Kenceng pula. Bahkan ikut melapor ke polisi. Biasanya NU garis lurus toleran dengan yang seperti itu. Apalagi NU yang garis lucu.

 

Rupanya Kace sering menyebut kitab kuning. Yang ia anggap menyesatkan umat Islam. Ajaran yang tidak ada dalam Alquran pun diada-adakan di kitab kuning.

 

Kitab kuning adalah istilah untuk buku-buku pelajaran agama dengan tulisan Arab tanpa tanda baca. Hanya yang pinter bahasa Arab yang bisa membacanya secara benar. Buku-buku tersebut begitu lamanya sampai warnanya sudah kuning. Maka buku sejenis itu, biar pun masih baru, disebut juga kitab kuning.

 

Misalnya soal keharusan khitan dalam Islam (memotong kulit yang menutup bagian ujung kemaluan laki-laki sepanjang sekitar 10 cm). Menurut Kace, khitan itu tidak diajarkan di dalam Quran maupun Hadis.

 

Ia menantang siapa pun untuk menunjukkan ayat mana yang mengharuskan khitan. Pun tidak ada satu Hadis yang mengharuskan khitan.

 

Saya pun teringat pelajaran di pesantren dulu: hadis adalah segala kata-kata yang pernah diucapkan Nabi Muhammad dan tindakan apa saja yang pernah dilakukan Rasul Allah itu.

 

Saya pun mencoba mendengarkan sendiri seperti apa kalimat utuh yang diucapkan Kace. Maka saya membuka YouTube.

 

Ya ampuuuuun. Banyak sekali Kace tampil di YouTube. Bukan sekali atau dua kali. Puluhan. Ratusan.

 

Berarti ini tidak sama dengan kasus BTP dulu, yang bersumber hanya satu penggal ayat di Quran. Yang begitu multitafsir pula.

 

Yang dilakukan Kace ini bukan salah ucap dan bukan pula salah tafsir. Juga tidak ada kepentingan politik sempit di baliknya. Entahlah kalau politik yang lebih luas.

 

Berarti Kace itu sudah YouTuber! Ia sengaja membuka channel di YouTube untuk mempersoalkan isi ayat-ayat Quran, menurut versinya. Hanya saja gayanya memang sangat menarik perhatian: pakai baju batik, kopiah hitam, dan lambang Garuda dengan ukuran cukup mencolok di kiri depan kopiah itu.

 

Ucapan pertamanya langsung menohok: Assalamu'alaikum WarahmatuYesus Wabarokatuh.

 

Kalimat keduanya masih mirip itu: AlhamdulilYesus....

 

Pengucapan bahasa Arabnya sangat fasih. Saya kalah fasih. Terlihat Kace pernah lama sekolah di pesantren. Ia sendiri mengaku sudah beberapa kali naik haji. Kini ia penganut Kristen. Dengan KTP tetap menggunakan nama lama: H. Muhammad Kosman.

 

Rupanya Muhammad Kace itu nama di YouTube saja. Jangan-jangan ia sengaja memakai nama panggilan Kace karena pernah diejek dengan kata itu.

 

Di Sunda –konon ia berasal dari Jawa Barat– tidak biasa orang pakai nama Kace. Tapi istilah ''kace'' sering dijadikan  bahan ejekan: kafir celaka.

 

Di YouTube-nya itu Kace juga menantang siapa pun untuk ikut muncul di forum live itu. Ia minta ditunjukkan ayat Quran yang mana yang menyebutkan orang Islam itu dijamin masuk surga.

 

Kace pun mengutip banyak ayat Quran dengan bacaan yang sangat fasih. "Yang oleh Quran dijamin masuk surga itu bukan orang Islam, tapi orang yang beriman dan beramal saleh", katanya.

 

Sebetulnya penilaian seperti itu tidak baru. Tapi tetap bikin penasaran.

 

Kami, di lingkungan aktivis Islam intelektual, sebenarnya juga sering mendiskusikan ayat-ayat Quran seperti itu. Biasa saja. Bahkan lebih sensitif dari itu: Tuhan itu ada atau tidak sih? Apakah orang yang bukan Islam, menurut doktrin Islam, bisa masuk surga? Di universitas seperti UIN –khususnya jurusan filsafat– mendiskusikan yang seperti itu makanan sehari-hari. Bisa sepanjang malam. Bisa mengalahkan drama Korea.

 

Bedanya, Kace menyelenggarakan itu di YouTube. Isi YouTube-nya itu  bukan ceramah. Bukan monolog. Kace sengaja membuka channel YouTube yang mirip Zoom. Live. Siapa saja bisa bergabung di channel itu. Untuk bicara bebas sesuai dengan tema hari itu.

 

Hanya saja Kace yang memegang ''mikrofon''. Ia bisa mematikan mikrofon siapa saja. Termasuk mikrofon  pembicara lain. Dengan cara ia mute.

 

Jangan harap yang bicaranya emosi tanpa dasar dibiarkan terus bicara. Langsung di-mute oleh Kace.

 

Saya pernah mengikuti rekaman YouTube-nya yang seperti itu. Tiga jam. Belum juga selesai. Begitu banyak WA dan email terabaikan. Padahal tidak melihat HP 30 menit saja,  WA yang harus dijawab begitu banyak. Saya begitu keasyikan menonton acara Kace itu –ingat pelajaran masa-masa di sekolah dulu.

 

Di forum itu, Kace juga memberikan pelayanan Quran online. Setiap ada yang mengutip ayat Quran ia tampilkan ayat dimaksud. Lengkap dengan terjemahannya. Lalu ia baca ayat itu dengan fasihnya. Ia baca pula terjemahannya. Tafsir Quran apa saja ia sediakan. "Kalau tidak puas dengan ini, buka saja Tafsir Jalalain. Atau tafsir Ibnu Katsir, atau Quraish Shihab...," kata Kace.

 

Saya melihat ada juga orang Islam yang gabung ke channel itu. Saya lupa namanya. Tapi kelihatannya ia intelektual. Mungkin hafal Quran. Orangnya sabar. Kalem. Banyak tersenyum. Sesekali tertawa bersama. Tidak pernah emosi. Termasuk ketika Kace begitu sinis padanya.

 

Banyak ayat Quran  didiskusikan di channel itu. Ada soal Mariam (Islam) atau Maria (Kristen). Yakni soal jenis roh yang ditiupkan ke perawan Maria. Yang dalam Kristen digunakan sebagai alasan untuk menyebut Yesus itu Tuhan.

 

Ada juga diskusi soal mengapa orang Islam mati-matian membela Tuhannya. Sampai bunuh-bunuhan. Seolah Tuhan itu tidak berkuasa membela diri Tuhan sendiri –seperti juga sering diucapkan Gus Dur dulu. Begitu banyak topik di banyak acara YouTube itu.

 

Cara Kace ini rupanya menginspirasi kelompok Kristen yang lain. Saya lihat, ada juga channel tantang-menantang di YouTube seperti itu. Bukan Muhammad Kace pemiliknya. Kace hanya tamu di situ.

 

Yang dipersoalkan, misalnya, ''siapa yang lebih dulu menghina agama lain''. Saya lihat ada juga orang Islam yang masuk ke channel itu, melayani tantangan itu.

 

Di layar itu juga ditampilkan ayat Quran. Dari surah Al Bayyinah ayat 6: orang-orang kafir dan musyrik akan masuk neraka jahanam selama-lamanya. Mereka itu seburuk-buruk makhluk.

 

"Bunyi ayat seperti itu  menghina atau tidak," tanya yang dari Kristen.

 

"Itu tidak ada hubungan dengan menghina atau menghargai. Itu doktrin Islam," jawab yang Islam.

 

"Itu kami anggap menghina, karena diucapkan di depan umum. Kalau diucapkan di dalam masjid itu tidak kami anggap menghina," kata yang Kristen. Saya lupa mencatat namanya. Tapi saya ingat yang dari Islam itu bernama Nasution.

 

"Di depan umum" yang dimaksud ternyata adalah di Toa. Semula saya sulit menangkap apa itu Toa. Saya pun ingat: di Indonesia Timur semua jenis pengeras suara  disebut Toa –apa pun mereknya.

 

"Kalau Toa itu hanya di dalam masjid tidak apa-apa. Tapi kan dipasang di atas masjid, kedengaran siapa saja," kata yang Kristen. Apalagi kalau masjid itu di kampung yang penduduknya multiagama.

 

Setelah lebih dari empat jam mengikuti channel seperti itu saya mblenger. Ketakutan. Ngeri. Jenuh. Kapok.

 

Sejak tadi malam saya tidak mau lagi membuka channel seperti itu. Miris. Hati saya menjadi tidak damai. Padahal saya ini tidak boleh lupa bahagia –hampir saja saya lupa.

 

Saya juga merenung: apa untungnya membuka channel seperti itu. Apa untungnya melihatnya. Apa manfaatnya bagi bangsa.

 

Saya saksikan di situ, sulit sekali bisa bersepakat. Tidak ada pendapat yang bisa bertemu. Saling klaim. Saling benar. Saling mau menang.

 

Saya miris. Ngeri.

 

Tapi di negeri seperti Amerika yang seperti itu biasa saja. Tidak sensitif.

 

Jangan-jangan ada baiknya juga yang seperti itu mulai dibuka di Indonesia. Asal tidak berantem. Biar mulai terbiasa. Toh yang seperti ini tidak bisa juga terlalu dibendung. Siapa pun bisa bikin channel seperti itu. Kalau tidak bisa dari Indonesia bisa dari negara mana saja, dengan bahasa Indonesia.

 

Tapi saya ngeri. Miris.

 

Mungkin perasaan saya saja. (Dahlan Iskan)  

 

Sumber :  https://www.disway.id/r/1758/miris-ngeri

 

 

 

 

 

 

 

Pertumbuhan Ekonomi: Prediksi Pejabat vs Dukun Gelatik

Erros Djarot ;  Budayawan

WATYUTINK, 27 Agustus 2021

 

 

                                                           

Badan Pusat Statistik (BPS), secara meyakinkan telah melaporkan bahwa Pertumbuhan ekonomi Indonesia, di kuartal II-2021, telah berhasil melejit hingga menembus angka lebih dari 7% (7,07%). Menteri keuangan dunia terbaik versi lembaga penilai Internasional, Sri Mulyani, yang kebetulan adalah Menkeu kebanggaan Pemerintahan Jokowi, secara meyakinkan turut pula memperkuat kebenaran atas angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sangat fantastis ini. Bahkan Presiden Jokowi pun, walau bukan seorang ekonom, menjadi begitu sangat fasih menjelaskan kepada rakyat bahwa angka pertumbuhan ekonomi 7,07%, bukanlah suatu rekayasa atau khayalan, tapi sudah menjadi kenyataan. Presiden secara meyakinkan menyampaikan hal ini kepada seluruh rakyat Indonesia.

Nah, dengan pemahaman bahwa angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi dari Vietnam (the rising star country in Asia), juga Korea selatan (5,9%), rakyat awam pun kontan berkomentar; kita pasti bakal lebih hebat dan makmur dari Vietnam dan Korea Selatan! Apalagi berita segar ini datang ketika suasana batin rakyat tengah begitu haus merindukan terjadinya kebangkitan ekonomi yang dapat mengangkat kualitas hidup mereka yang sekarang ini terpuruk, menjadi lebih baik. Akan menjadi bumerang bagi pemerintah ketika dalam realita hidup kesehariannya rakyat berada dalam kondisi yang sangat jauh dari harapan.

Kekhawatiran saya muncul ketika suara sumbang yang menganggap bahwa angka pertumbuhan ekonomi 7,07% hanyalah sebuah ilusi, dilontarkan oleh sejumlah pengamat maupun para aktivis yang dekat dengan rakyat. Sejumlah pendapat menyatakan bahwa angka 7,07% sengaja digelontorkan pemerintah, di masa pandemik yang telah menyengsarakan rakyat kebanyakan ini, agar rakyat tergiring untuk meyakini masih adanya harapan bahwa secara ekonomi kehidupan ke depan akan lebih baik. 

Situasi pro kontra pun terjadi dan terasa kian meruncing. Tarik menarik pendapat para pengamat sosial ekonomi yang saling berseberangan secara tajam ini, telah menyeret pikiran saya sebagai awam ekonomi ke sebuah peristiwa masa lalu yang serupa walau tak sepenuhnya sama. Persisnya di saat-saat Indonesia berada dalam situasi menjelang kejatuhan rezim Orde Baru.

Masih hangat dalam ingatan saya bagaimana saat itu para ekonom pro pemerintah Orde Baru sibuk menangkis serangan para ekonom di barisan oposisi yang menganggap ekonomi Indonesia tengah berada dalam kondisi lampu kuning. Bahkan sejumlah ekonom oposan secara ekstrim menegaskan bahwa telah terjadi salah kelola yang mendasar yang dilakukan oleh rezim Orde Baru. Setidaknya seorang ekonom pro rakyat, Doktor Sritua Arif, secara sangat aktif mengontak dan meyakinkan saya sebagai pemimpin redaksi tabloid DeTik bahwa perekonomian nasional menuju jurang kehancuran karena berjalan jauh dari relnya amanat UUD’45. 

Menangkis serangan aktif yang dilakukan Sritua Arif ini, para ekonom pemerintah Orde Baru pun menggunakan mulut Harmoko sebagai Menteri Penerangan dan Pak Harto yang setiap ucapannya merupakan ‘sabdo pandito ratu’ bagi rakyat kebanyakan saat itu. Ucapan penangkal serangan para oposan yang sangat efektif dilontarkan oleh Pak Harto saat itu adalah rangkaian tiga kalimat sakti…."Perekonomian kita berada di jalan yang benar; Fundamental ekonomi kita sangat kuat; Segalanya aman terkendali..!’’

Tentunya tiga kalimat sakti dari Pak Harto ini langsung dicarikan legitimasi akademisnya oleh sejumlah besar ekonom dan para guru besar pro Orde Baru. Intensitas para pakar ekonomi pro Orde Baru yang penyebaran suaranya didukung oleh media yang saat itu hampir semuanya berada dalam kontrol penguasa, dengan sendirinya menjelma menjadi pemahaman yang diterima umum sebagai kebenaran. Sementara saya yang sudah sangat merasa lebih dekat dengan amatan seorang Sritua Arif dan Kwik Kian Gie cs, menjadi gamang dan memutuskan untuk berakhir pekan sebentar mengistirahatkan kerja otak dengan mengunjungi Kota Gudeg untuk rileks mengendorkan ketegangan.

Saat tengah bersantai bersama sejumlah kawan di kawasan Malioboro, saya tertarik oleh kerumunan orang yang tengah menyaksikan sesuatu. Ternyata mereka tengah menyaksikan aksi seorang dukun ramal yang menggunakan seekor burung gelatik sebagai medium. Tugas sang burung atas perintah dukun peramal mengambil satu lipatan dari sekian jumlah lipatan kertas yang tersusun rapih dalam sebuah kotak kecil. Ketika sebuah lipatan dipilih, dijepit dalam gigitan patuknya, kertas lipatan yang menyerupai amplop kecil itu pun diberikan gelatik kepada sang dukun. Sang dukun pun mulai membacakan tulisan yang terdapat dalam kertas kepada seseorang yang ingin mengetahui apa ramalan sang dukun terhadap masalah yang dihadapinya.  

Saya yang menjadi penasaran ingin tahu bagaimana sang dukun melakukan praktiknya, sengaja memilih tempat lesehan tak jauh dari tempat sang dukun gelatik melakukan aksinya. Jelang tengah malam saat sang dukun baru berkemas untuk mengahiri prakteknya, saya pun segera menghampirinya. Kepadanya dengan jahil saya sengaja ajukan pertanyaan konyol; bagaimana kondisi ekonomi Indonesia ke depan?

Sang dukun pun  tidak langsung menjawab, tapi malah bertanya kepada saya apakah saya intel atau orang pemerintah. Ketika saya yakinkan dia bahwa saya hanya seorang pedagang-pengusaha, barulah ia memulai aksinya.

Burung gelatik pun disuruhnya untuk mengambil salah satu lipatan kertas, dan ‘cluk’ satu kertas di patuk dan langsung diberikan kepada sang dukun. Dengan penuh penasaran saya menunggu ramalan apa yang akan dibacakan. Setelah menarik napas panjang sambil geleng-geleng kepala ia meminta saya mendekat agar dapat membisikkan sesuatu ke telinga saya. Sesaat kemudian ramalan pun meluncur dari mulutnya…"Mas, sampeyan harus hati-hati…usaha sampeyan bakal mengalami bangkrut. Bukan hanya sampeyan yang mengalami kebangkrutan, banyak yang lain. Pokoknya untuk usaha, tahun ini (1998 awal) nggak baik…bakal kacau..!”

Ajaibnya, beberapa bulan kemudian, krisis moneter pun terjadi. Bangunan perekonomian nasional yang konon digembar gemborkan fundamental ekonominya sangat kuat, luluh lantak seketika dihantam badai krisis moneter yang melanda Asia. Kemenangan pertarungan antara ramalan dukun gelatik versus prediksi para pejabat dan ekonom Orde Baru pun, berakhir dengan kemenangan sang dukun juru ramal burung gelatik Malioboro Yogyakarta. Sungguh tragis dan menyedihkan.

Atas kejadian ini, saya sengaja menyempatkan diri bertandang ke rumah begawan ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo yang saya panggil dengan sapaan ‘Om Cum’. Kepada beliau saya ceritakan sebuah keajaiban betapa seorang dukun gelatik prediksinya lebih akurat dibanding seombyokan profesor dan doktor pendukung rezim Orde Baru. Om Cum pun yang sejak tahun 78 tidak lagi menjabat sebagai menteri dalam pemerintahan sang besan (Pak Harto) dengan senyum khasnya nyeletuk singkat…"yah terbukti gelatik lebih pinter dan lebih paham kondisi sosial-ekonomi bangsanya yaaa…!”

Celetukan sang begawan ini, belakangan terngiang kembali ke telinga saya saat pro dan kontra pertumbuhan ekonomi 7.07% semakin marak menyembul ke permukaan kehidupan berbangsa dan bernegara akhir-akhir ini. Pertanyaannya; akankah peristiwa sejarah Malioboro dengan sang dukun gelatiknya bakal terulang? Untuk pertanyaan ini jawaban pastinya sudah ada. Di sepanjang jalan Malioboro hingga ujung pasar Beringharjo, sudah tidak ada lagi praktk sang dukun gelatik.

Jadi, Jeng Sri Mulyani dan Pak Jokowi bisa sedikit tenanglah. Tentunya akan lebih tenang bila pertumbuhan ekonomi 7,07% tercermin secara nyata dalam kehidupan sehari-hari rakyat kebanyakan. Bukan hanya tercermin dalam kehidupan para elite negara, para pemilik modal, dan para pejabat korup belaka! ●

 

Sumber :  https://www.watyutink.com/topik/berpikir-merdeka/Pertumbuhan-Ekonomi-Prediksi-Pejabat-vs-Dukun-Gelatik