Senin, 30 Agustus 2021

 

Jangan Mengatur Barang Orang Lain

Impian Nopitasari ;  Penulis, Tinggal di Solo

DETIKNEWS, 29 Agustus 2021

 

 

                                                           

Ketika sedang iseng melihat-lihat story WhatsApp --aktivitas yang sebenarnya jarang saya lakukan-- saya menemukan story teman yang membuat saya membalasnya. Di story-nya tersebut, dia mem-posting tangkapan layar sebuah status dari teman Facebook yang saya kenal. Seorang penulis yang membagikan percakapan pribadinya dengan seseorang. Dalam percakapan tersebut ada orang yang memintanya untuk menyumbangkan koleksi bukunya. Tentu saja permintaan tersebut dia tolak.

 

"Ya ampun, aku kok sering ya bernasib sama seperti beliau, dipaksa orang untuk mendonasikan buku koleksi," saya membalas story WhatsApp teman saya tersebut.

 

Saya sepakat dengan mas penulis yang tersinggung ketika diminta untuk menyumbangkan koleksi bukunya. Ya, bayangkan itu adalah harta yang ia kumpulkan bertahun-tahun. Ada yang perjuangan mendapatkannya dengan menabung, mencari di tempat yang susah karena bukunya langka, atau ada yang berupa hadiah atau pemberian orang lain, sesuatu yang sentimentil dan tidak bisa dinilai dengan uang.

 

Bisa juga itu tabungan masa depan untuk anak-anaknya. Lalu tiba-tiba ada yang seenaknya ngomong, "Mbok disumbangkan saja bukunya."

 

Saya sendiri juga sering mendapat komentar seperti itu ketika mengunggah foto tumpukan buku saya yang sebenarnya tidak beraturan. Komentar seperti, "Mbak, nggak ada niatan buat hibahin bukunya?" selalu saya jawab dengan satu kata, "Nggak!" Dalam hati sih nggerundel, "Lah siapa elu minta-minta, enak wae!"

 

Orang-orang ini kok pada percaya diri sekali ya berkomentar seperti itu. Mereka tidak paham sekali sejarahnya mendapatkan buku-buku tersebut. Kalau memang takjub dengan koleksi buku-buku saya yang katanya banyak itu ya dari dulu kumpulkan sendiri. Jangan paksa orang lain untuk menyumbangkan koleksinya. Lucunya, komentar tersebut tidak hanya berasal dari orang-orang yang kita anggap tidak mengerti hal seperti ini.

 

Saya pernah bertengkar dengan salah satu guru saya di sekolah dulu karena tidak mengembalikan buku yang dia pinjam dari saya. Malah bilang kalau buku ya sudah seharusnya disumbangkan. Ya kenapa bukan buku dia sendiri? Setelah dewasa ini saya baru paham, ya mau disumbangkan apanya wong dia sendiri tidak punya koleksi buku.

 

Minta donasi itu ada caranya, yang sopan. Banyak kok orang-orang yang memang bergerak di bidang donasi buku. Hubungi saja mereka. Ada tautan yang bisa diklik untuk prosedurnya. Tanya teman yang lebih paham juga bisa. Daripada meminta orang untuk menyumbangkan koleksi bukunya. Saya yakin orang-orang yang dipaksa menyumbangkan bukunya ini sudah punya waktu sendiri untuk berdonasi.

 

Berdonasi dengan diumumkan itu bagus kalau tujuannya memang membuat orang-orang tergerak melakukannya. Tapi tidak semua kegiatan donasi harus dipublikasikan. Mungkin kita yang tidak tahu.

 

Kemarin saya juga menemukan komen senada di sebuah grup klub baca di Telegram. Ada seorang anggota grup yang menawarkan buku-bukunya untuk dijual. Herannya, ada beberapa komentar yang ajaib sekali. Yang pertama, ada yang mengejek jenis buku yang ditawarkan tersebut, yang kedua ada yang komentar dengan tanpa bersalah, "Kak, apa tidak disumbangkan saja bukunya?"

 

Yang punya lapak menjawab, "Hehe sedang butuh uang, Kak."

 

Meski bukan saya yang sedang menawarkan buku, kok saya yang malah tersinggung. Lepas dari boleh-tidaknya berjualan di grup tersebut, rasanya tidak sopan ketika ada yang berjualan tapi malah disuruh menyumbangkan barangnya. Orang menjual barangnya itu ya karena butuh uang, atau ya memang niatnya untuk dijual, bukan untuk disumbangkan. Hal seperti ini kok ya tidak peka. Kenapa kalau koleksi buku itu tabu sekali untuk dijual? Kenapa koleksi buku harus selalu disumbangkan?

 

Saya pun membalas komentar tersebut dengan panjang kali lebar kali tinggi alias meluas ke mana-mana. Orang seperti ini memang harus selalu digertak biar tidak tuman. Sebenarnya ini berlaku untuk semua barang, bukan terbatas buku saja. Ketika kita melihat teman kita menjual barangnya apapun itu, artinya dia butuh uang. Kalau kita tidak mau membeli atau menyebarkan, cukup dengan tidak berkata sesuatu yang menyinggung perasaannya. Selama jualannya sopan dan tidak mengganggu kita, ya sudah biarkan mereka berjualan.

 

Saya sendiri malas kalau diceramahi tentang sumbang menyumbang. Kalau hanya donasi buku ya sering. Tidak semua saya publikasikan karena saya tipenya mudah riya, sombong, dan takut membuat orang lain minder ha-ha-ha. Soalnya buku yang saya sumbangkan tidak pernah jelek. Buku bagus semua baik isi maupun kemasan. Banyak yang anyar gres masih segelan. Kalau bekas pun buku bekas yang bagus. Saya mendonasikannya sesuai kebutuhan target donasi. Menyortir itu juga butuh waktu.

 

Tidak hanya donasi dalam jumlah besar, kadang saya hanya ingin seru-seruan membuat giveaway buku untuk teman-teman di media sosial. Tentu saja buku-buku bagus yang saya bagi-bagikan. Saya itu pada dasarnya nyah-nyoh orangnya alias gampang memberi, tapi kalau dengan orang yang njalukan atau minta-minta, saya malah malas. Apalagi tidak terlalu kenal dan tidak dengan cara yang sopan.

 

Dulu awal-awal menerbitkan buku juga begitu. Saya masih menemui orang-orang yang minta buku gratisan. Iki karepe piye sih wong saya bikin buku butuh modal kok malah diminta-minta. Kalau memang mengaku teman ya malah seharusnya didukung dong dengan membeli bukunya. Kecuali memang kita sendiri yang diberi hadiah, itu lain cerita. Sesungguhnya kata "selamat" dari teman yang sesungguhnya itu adalah dengan membeli bukunya, bukan hanya dengan kata-kata. Haha.

 

Tapi jangan salah paham, ini bukan berarti saya memaksa orang harus suka dan membeli buku saya, bukan itu. Saya juga tidak membeli semua buku orang yang saya kenal, tapi setidaknya kita tahu diri, jangan meminta buku gratis atau memaksa orang untuk mendonasikan bukunya dengan tidak sopan.

 

Buku koleksi saya itu harta saya. Saya kumpulkan dari dulu. Ada yang belinya setelah menabung dan puasa, ada yang diberi orang sebagai kenang-kenangan. Saya orangnya sentimentil dan suka sesuatu yang berbau kenangan bersejarah. Kalau saya ingin mengurangi buku saya, pasti saya kurangi. Dan kalau ada yang mau saya jual, ya memang itu mau saya jual, bukan untuk disumbangkan.

 

Saya sering diceramahi karena katanya tidak menerapkan metode minimalis Marie Kondo. Tapi orang yang menceramahi itu tidak sadar bahwa pikiran mereka yang sebenarnya tidak minimalis. Terbukti dari cerewetnya mengatur barang orang lain. Mungkin secara fisik mereka tidak sumpek karena tidak kebanyakan barang, tapi komentarnya membuat orang lain sumpek saking "minimalisnya".

 

Sumber :  https://news.detik.com/kolom/d-5700841/jangan-mengatur-barang-orang-lain

 

 

Otong Kace

Dahlan Iskan ;  Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 29 Agustus 2021

 

 

                                                           

"Selamat ya. Anda wartawan pertama yang menemukan identitas lengkap siapa Muhammad Kace," tulis saya kepada Deni Mithun kemarin. Saya juga memuji pimpinan harian Radar Pangandaran yang memuat tulisan Deni dengan karya jurnalistik yang cukup baik.

 

Sudah seminggu saya mencari siapa sebenarnya Muhammad Kace yang menghebohkan itu (Disway: Miris Ngeri). Gagal. Saya hubungi banyak aktivis Islam. Tidak ada yang kenal. Saya hubungi banyak teman saya yang Kristen. Juga tidak tahu.

 

Saya benar-benar penasaran: siapa Muhammad Kace. Ternyata Deni-lah wartawan pertama yang menemukan identitas lengkapnya.

 

Deni beruntung. Jumat dua hari lalu ia ditelepon Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pangandaran H Otong Aminudin. Sang ulama baru saja nonton TV. Setelah salat Jumat. Ia melihat ada berita ditangkapnya Muhammad Kace oleh polisi. Ia lihat wajah Kace di layar TV. Langsung saja Otong menelepon Deni.

 

"Orang itu penduduk tetangga desa kita," ujar Otong kepada Deni.

 

Lalu Otong menceritakan bagaimana ia kenal Kace. Otong bersama warga desa sekitar itu pernah ''mengusir'' Kace dari desa itu.

 

"Tahun berapa?" tanya saya pada Otong. Saya sendiri ikut menelepon Otong kemarin.

 

"Tahun 1997 atau 1998. Sebelum moneter-moneter itu," ujar Otong. Maksudnya, sebelum krisis moneter 1998.

 

"Mengapa bapak ''usir'' Kace dari desa itu," tanya saya.

 

"Ia bikin masalah terus," ujar Otong.

 

Yang ia sebut ''bikin masalah'' ternyata mulai banyak warga desa itu yang pindah agama. "Sudah ada sekitar 25 orang," ujar Otong.

 

Waktu itu Pangandaran belum menjadi kabupaten. Masih kecamatan. Masih jadi bagian dari Kabupaten Ciamis. Baru tahun 2012, daerah di pantai Selatan Jawa Barat itu menjadi kabupaten. Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti berasal dari sini. Markas besar Susi Air di sini. Di sebuah landasan pinggir laut yang wujudnya hamparan rumput yang bisa didarati pesawat.

 

Kalau Kabupaten ini maju, kelak, pantainya ibarat Ipanema dan Copacabana di Rio de Janeiro, Brasil. Di lengkung timurnya bisa melihat matahari terbit. Di lengkung baratnya bisa melihat matahari tenggelam.

 

Sekarang pantai itu masih kumuh –untuk ukuran daerah wisata modern. Rumah-rumah dan pedagang kaki lima masih terlalu dekat ke pantai. Pangandaran juga masih jauh dari mana pun. Kelak, kalau sudah ada jalan tol jalur selatan, Pangandaran akan lebih menarik. Tapi ketika saat itu nanti tiba, mungkin, Pangandaran sudah kian sulit dibenahi.

 

Kini ada tiga gereja di seluruh Kabupaten Pangandaran. Satu gereja Katolik, dua gereja Kristen. Yakni Gereja Maranatha (Kerasulan Baru) dan gereja GPdI Parapat. Ke gereja yang dekat perbatasan Cilacap inilah warga desa yang dikristenkan Kace itu melakukan kebaktian di hari Minggu.

 

Nama desa kelahiran Kace itu adalah Limusgede. Masuk Kecamatan Cimerak. Tidak sulit Deni menemukan desa itu. Deni orang Pangandaran. Istrinya juga asli sana.

 

Dari Pangandaran, Deni naik motor ke arah barat. Sekitar 10 km. Lalu belok ke utara, menyusuri jalan desa, juga sekitar 10 km.

 

Deni saya minta balik lagi ke desa itu, kemarin. Alumnus informatika Universitas Siliwangi Tasikmalaya itu harus bertemu adik Kace yang masih tinggal di situ.

 

Universitas Siliwangi itulah yang sering dipelesetkan sebagai UGM –Universitas Gambar Macan, karena logonya yang berupa kepala harimau.

 

Deni juga harus bertemu teman sekolah Kace.

 

"Saya teman sekolah Kosman," ujar Asep Saipudin kepada Deni. Kosman adalah nama asli Kace di desa itu. "Sampai SMP saya masih bersamanya," ujarnya.

 

Ayah Kosman adalah kepala dusun di situ. Juga punya kebun kopi. Kosman sudah dibelikan sepeda motor ketika SMP. Ia satu-satunya murid SMP itu yang punya motor.

 

"Kelas 2 SMP Kosman berhenti sekolah. Saya tidak tahu penyebabnya," ujar Asep. Sejak itu Kosman pindah ke Pondok Pesantren Nurul Huda. Yang letaknya sekitar 10 Km dari desa itu.

 

Deni juga mendatangi Nurul Huda. Benar. Kosman pernah mondok di situ. Belajar agama. Juga belajar membaca kitab kuning, seperti kitab Jurumiyah.

 

Kosman hanya setahun di Nurul Huda. Kebiasaan yang ia suka di pesantren itu adalah salawatan –pujian kepada nabi yang dilagukan.

 

Tidak lama setelah keluar dari Nurul Huda, Kace kawin dengan gadis yang juga mantan santriwati Nurul Huda. Perkawinan itu terjadi sekitar 1986.

 

Belum jelas apa pekerjaan Kace setelah kawin itu. Yang jelas ia segera punya dua anak. Setelah itu sang istri menjadi TKW ke Arab Saudi. Berarti masa-masa ditinggal istri inilah Kace menjadi misionaris. Yang lantas jadi sorotan pemuka agama Islam di sana. Lalu Kosman diminta meninggalkan desa itu.

 

Kosman pindah ke kota Banjar, yang dulu juga masuk Kabupaten Ciamis, kini jadi kota sendiri.

 

Dari Banjar ia pindah ke Bekasi. Lalu ke Jakarta.

 

Dalam sebuah publikasi online KRISTIANI.NEWS disebutkan, Kosman menjadi Kristen karena ayahnya disembuhkan oleh doa seorang pendeta. Tapi tidak disebutkan itu terjadi kapan.

 

Yang jelas penasaran saya kini sudah terjawab oleh liputan Deni Mithun, wartawan Radar Pangandaran itu.

 

"Nama saya Deni Nurdiansah. Bukan Deni Mithun. Mithun itu nama pemberian teman-teman," ujar Deni.

 

Kata mereka, Deni itu mirip bintang film Bollywood Mithun Chakraborty. (Dahlan Iskan)  

 

Sumber :  https://www.disway.id/r/1782/otong-kace