|
Taktik Janonisme Melawan Dominasi Algoritma
dan ”Buzzer” Irene
Sarwindaningrum : Jurnalis Kompas. |
KOMPAS, 04 November 2026
|
Janonisme mengajarkan cara efektif melawan dominasi algoritma dan
”buzzer” dengan mengabaikan total unggahan lawan, tanpa mengkritik ataupun
memblokir. Di Indonesia, sejumlah unggahan media sosial mulai membahas
janonisme kultural sebagai cara melawan dominasi buzzer atau pendengung.
Taktik ini juga dinilai efektif untuk melawan penyebaran misinformasi dan
disinformasi di ruang digital serta merebut kembali ruang bagi suara publik. ”Berdasarkan janonisme, cara paling efektif untuk melawan buzzer
adalah benar-benar mengabaikannya. Tidak memberikan komentar apa pun meskipun
untuk berdebat atau melawan narasi, tidak memblokir, bahkan langsung
melewatkan tanpa membaca,” demikian salah satu unggahan yang beredar di
linimasa media sosial di Indonesia, Rabu (4/11/2026). Unggahan lain menampilkan buku Mini-Manual of Informational
Insurgency (or Janonism). Materi berbahasa Indonesia itu menjelaskan buku itu
berisi strategi Pasukan Lula untuk melawan konten lawan dan merebut ruang
dalam algoritma media sosial. Janonisme merupakan strategi komunikasi digital yang dikembangkan
Andre Janones (42), anggota parlemen Brasil pendukung Presiden Luiz Inacio
Lula da Silva. Pada 2023, ia menerbitkam buku berjudul Janonisme Kultural:
Penggunaan Media Sosial dan Perjuangan Demokrasi di Brasil. Strategi itu dimaksudkan untuk menandingi dominasi narasi dalam
algoritma media sosial melalui mobilisasi unggahan terkoordinasi. ”Saya tidak
pernah mengatakan orang-orang harus memblokir akun kelompok ekstrem kanan.
Saya mengatakan mereka harus mengabaikan unggahannya!” kata Janones melalui
akun X miliknya, dikutip dari media Brasil Politica Real. Menurut Janones, mengabaikan unggahan lawan dapat memberikan
sinyal kepada algoritma bahwa konten tersebut tidak menarik. Tanpa interaksi
yang dimaksud adalah tanpa membaca, mengomentari, atau bahkan tanpa
memblokir. Bantahan dan perdebatan justru berpotensi membuatnya semakin
banyak direkomendasikan algoritma. Pengguna dianjurkan tidak memblokir akun lawan karena menurut
Janones, pemblokiran membuat konten tidak muncul sejak awal. Akibatnya,
algoritma tidak menerima sinyal bahwa konten itu tak menarik. ”Ketika sebuah unggahan muncul di linimasa dan Anda
mengabaikannya, tidak membaca, menyukai, mengomentari, ataupun berinteraksi
dengan cara apa pun, algoritma akan menganggap konten itu tidak relevan
karena Anda memilih tidak berinteraksi meskipun unggahan tersebut ditampilkan
kepada Anda. Ada perbedaan besar antara memblokir konten dan mengabaikannya!”
kata Janones. Ahli periklanan Elsinho Mouco menilai, kemampuan Janones
menjelaskan cara kerja algoritma media sosial, mengutamakan konten positif
tentang Lula, dan mengabaikan unggahan lawan menjadi faktor penentu. ”Dekonstruksi terbesar yang pernah terjadi dalam komunikasi
politik Brasil lahir di media sosial,” kata Mouco dikutip dari media Brasil,
UOL. Tujuh taktik janonisme Taktik melawan unggahan terkoordinasi merupakan salah satu bagian
dari strategi janonisme kultural. Dihimpun dari media-media Brasil, praktik
janonisme meliputi tujuh taktik, yaitu jaringan digital manusia, penguatan
jangkauan konten sendiri, pengabaian unggahan lawan, pembuatan konten
sederhana, hingga pengorganisasian aksi protes. Untuk taktik pertama membangun jaringan digital manusia, bukan
bot, sangat penting. Akun bot yang digunakan untuk memanipulasi interaksi
kerap dinilai tidak otentik oleh pelantar media sosial. Untuk itu, Janones
membuat kanal Whatsapp bernama Pasukan Lula. Kanal yang dibuka pada April
2026 itu mencapai 10,8 juta pengikut manusia pada 25 Oktober. Taktik kedua, membagikan misi digital dengan target jelas,
sederhana, dan sesuai kebutuhan warga setempat. Ketiga, memperbesar jangkauan
konten sendiri. Janones mengarahkan pendukung untuk menyukai, mengomentari,
membagikan, dan meneruskan unggahan melalui berbagai platform, tanpa
mengunggah ulang atau mengkritik narasi lawan. Dengan cara itu, aksi jalanan berhasil digalang. Pada 16 Oktober
2026, Janones mengorganisasi aksi membunyikan panci dari rumah-rumah warga di
puluhan kota Brasil. Aksi ini untuk memprotes calon presiden Flavio
Bolsonaro. Tiga hari kemudian, ratusan orang berunjuk rasa di depan kantor
Meta di Sao Paulo, memprotes dugaan pembatasan konten pendukung Lula. Aksi
ini diselenggarakan sejumlah organisasi masyarakat sipil. Sebelumnya, pada 7 Oktober, ribuan mahasiswa berunjuk rasa di Rio
de Janeiro menentang Bolsonaro dan kedekatan keluarganya dengan Presiden AS
Donald Trump. Pada 11 September, kelompok buruh dan masyarakat sipil juga
menggelar demonstrasi di Belo Horizonte untuk memprotes dugaan campur tangan
AS dalam politik Brasil. Menjelang pemilu presiden Brasil 2026, kecurigaan bahwa AS
menggunakan Meta untuk menekan pendukung Lula sangat kental. Kubu Lula
menuduh perusahaan induk Instagram, Facebook, dan Whatsapp itu membatasi
jangkauan konten mereka sekaligus menguntungkan kampanye Bolsonaro. Keluarga Bolsonaro memang dikenal dekat dengan Trump. Sementara
itu, pendiri Meta, Mark Zuckerberg, juga erat dengan Trump sejak 2024. Tuduhan itu didukung sejumlah ahli independen yang ditunjuk Dewan
Hak Asasi Manusia PBB pada 21 Oktober 2026. Mereka menerima laporan
penangguhan akun, pembatasan, dan perlakuan tidak setara. Pembatasan itu juga
menimpa ribuan akun dan unggahan, termasuk milik aktivis, jurnalis, dan
pembela hak asasi manusia. ”Kehilangan jangkauan dapat berarti kehilangan suara dalam
perdebatan publik dan kemampuan menggerakkan masyarakat,” demikian pernyataan
para ahli tersebut. Meta membantah sengaja menguntungkan salah satu kandidat dan
menyatakan sejumlah masalah disebabkan gangguan teknis. Sejarah Sebelum digunakan di 2026, janonisme kultural mulai dikenal dalam
pemilu presiden Brasil 2022. Ketika itu, Janones, yang berprofesi sebagai
pengacara dan anggota parlemen dari Minas Gerais, mengundurkan diri dari
pencalonan presiden. Ia lalu membantu Lula menghadapi Jair Bolsonaro,
Presiden Brasil periode 2019-2022. Meski tak sempurna, taktik Janones itu efektif. Jair Bolsonaro
kalah dalam pemilu 2022 dan dijatuhi hukuman 27 tahun 3 bulan penjara atas
keterlibatannya dalam upaya kudeta. Pada pemilu 2026, janonisme diakui kubu
Lula membantu membalikkan kekalahan menjadi kemenangan. Kalah pemilu, Flavio
Bolsonaro kabur ke AS. Metode Janones mulai ditiru aktivis politik di sejumlah negara.
Di Perancis, aktivis La France Insoumise mengadopsi janonisme untuk
mengorganisasi pendukung secara digital. Dikutip dari media Perancis Le
Monde, mereka juga menyerukan mobilisasi massa dan pertemuan besar di
lapangan. Di Spanyol, pendukung Perdana Menteri Pedro Sanchez menggunakan
kanal Whatsapp La Fuerza de la Gente untuk memperkuat penyebaran pesan
politik. Dikutip dari CNN Brasil, kanal tersebut memiliki sekitar 43.000
pengikut pada 30 Oktober 2026. Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa dominasi narasi dalam
algoritma media sosial dapat ditandingi melalui strategi yang jelas,
kekompakan, dan mobilisasi aksi di jalan. Janonisme memperlihatkan bagaimana
jutaan suara publik dapat mengubah peta komunikasi digital yang didominasi
penguasa dan pasukan pendengungnya. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar