Kamis, 05 November 2026

 

Taktik Janonisme Melawan Dominasi Algoritma dan ”Buzzer”

Irene Sarwindaningrum :  Jurnalis Kompas.

KOMPAS, 04 November 2026

 

 

                                                           

Janonisme mengajarkan cara efektif melawan dominasi algoritma dan ”buzzer” dengan mengabaikan total unggahan lawan, tanpa mengkritik ataupun memblokir.

 

Di Indonesia, sejumlah unggahan media sosial mulai membahas janonisme kultural sebagai cara melawan dominasi buzzer atau pendengung. Taktik ini juga dinilai efektif untuk melawan penyebaran misinformasi dan disinformasi di ruang digital serta merebut kembali ruang bagi suara publik.

 

”Berdasarkan janonisme, cara paling efektif untuk melawan buzzer adalah benar-benar mengabaikannya. Tidak memberikan komentar apa pun meskipun untuk berdebat atau melawan narasi, tidak memblokir, bahkan langsung melewatkan tanpa membaca,” demikian salah satu unggahan yang beredar di linimasa media sosial di Indonesia, Rabu (4/11/2026).

 

Unggahan lain menampilkan buku Mini-Manual of Informational Insurgency (or Janonism). Materi berbahasa Indonesia itu menjelaskan buku itu berisi strategi Pasukan Lula untuk melawan konten lawan dan merebut ruang dalam algoritma media sosial.

 

Janonisme merupakan strategi komunikasi digital yang dikembangkan Andre Janones (42), anggota parlemen Brasil pendukung Presiden Luiz Inacio Lula da Silva. Pada 2023, ia menerbitkam buku berjudul Janonisme Kultural: Penggunaan Media Sosial dan Perjuangan Demokrasi di Brasil.

 

Strategi itu dimaksudkan untuk menandingi dominasi narasi dalam algoritma media sosial melalui mobilisasi unggahan terkoordinasi. ”Saya tidak pernah mengatakan orang-orang harus memblokir akun kelompok ekstrem kanan. Saya mengatakan mereka harus mengabaikan unggahannya!” kata Janones melalui akun X miliknya, dikutip dari media Brasil Politica Real.

 

Menurut Janones, mengabaikan unggahan lawan dapat memberikan sinyal kepada algoritma bahwa konten tersebut tidak menarik. Tanpa interaksi yang dimaksud adalah tanpa membaca, mengomentari, atau bahkan tanpa memblokir. Bantahan dan perdebatan justru berpotensi membuatnya semakin banyak direkomendasikan algoritma.

 

Pengguna dianjurkan tidak memblokir akun lawan karena menurut Janones, pemblokiran membuat konten tidak muncul sejak awal. Akibatnya, algoritma tidak menerima sinyal bahwa konten itu tak menarik.

 

”Ketika sebuah unggahan muncul di linimasa dan Anda mengabaikannya, tidak membaca, menyukai, mengomentari, ataupun berinteraksi dengan cara apa pun, algoritma akan menganggap konten itu tidak relevan karena Anda memilih tidak berinteraksi meskipun unggahan tersebut ditampilkan kepada Anda. Ada perbedaan besar antara memblokir konten dan mengabaikannya!” kata Janones.

 

Ahli periklanan Elsinho Mouco menilai, kemampuan Janones menjelaskan cara kerja algoritma media sosial, mengutamakan konten positif tentang Lula, dan mengabaikan unggahan lawan menjadi faktor penentu.

 

”Dekonstruksi terbesar yang pernah terjadi dalam komunikasi politik Brasil lahir di media sosial,” kata Mouco dikutip dari media Brasil, UOL.

 

Tujuh taktik janonisme

 

Taktik melawan unggahan terkoordinasi merupakan salah satu bagian dari strategi janonisme kultural. Dihimpun dari media-media Brasil, praktik janonisme meliputi tujuh taktik, yaitu jaringan digital manusia, penguatan jangkauan konten sendiri, pengabaian unggahan lawan, pembuatan konten sederhana, hingga pengorganisasian aksi protes.

 

Untuk taktik pertama membangun jaringan digital manusia, bukan bot, sangat penting. Akun bot yang digunakan untuk memanipulasi interaksi kerap dinilai tidak otentik oleh pelantar media sosial. Untuk itu, Janones membuat kanal Whatsapp bernama Pasukan Lula. Kanal yang dibuka pada April 2026 itu mencapai 10,8 juta pengikut manusia pada 25 Oktober.

 

Taktik kedua, membagikan misi digital dengan target jelas, sederhana, dan sesuai kebutuhan warga setempat. Ketiga, memperbesar jangkauan konten sendiri. Janones mengarahkan pendukung untuk menyukai, mengomentari, membagikan, dan meneruskan unggahan melalui berbagai platform, tanpa mengunggah ulang atau mengkritik narasi lawan.

 

Dengan cara itu, aksi jalanan berhasil digalang. Pada 16 Oktober 2026, Janones mengorganisasi aksi membunyikan panci dari rumah-rumah warga di puluhan kota Brasil. Aksi ini untuk memprotes calon presiden Flavio Bolsonaro.

 

Tiga hari kemudian, ratusan orang berunjuk rasa di depan kantor Meta di Sao Paulo, memprotes dugaan pembatasan konten pendukung Lula. Aksi ini diselenggarakan sejumlah organisasi masyarakat sipil.

 

Sebelumnya, pada 7 Oktober, ribuan mahasiswa berunjuk rasa di Rio de Janeiro menentang Bolsonaro dan kedekatan keluarganya dengan Presiden AS Donald Trump. Pada 11 September, kelompok buruh dan masyarakat sipil juga menggelar demonstrasi di Belo Horizonte untuk memprotes dugaan campur tangan AS dalam politik Brasil.

 

Menjelang pemilu presiden Brasil 2026, kecurigaan bahwa AS menggunakan Meta untuk menekan pendukung Lula sangat kental. Kubu Lula menuduh perusahaan induk Instagram, Facebook, dan Whatsapp itu membatasi jangkauan konten mereka sekaligus menguntungkan kampanye Bolsonaro.

 

Keluarga Bolsonaro memang dikenal dekat dengan Trump. Sementara itu, pendiri Meta, Mark Zuckerberg, juga erat dengan Trump sejak 2024.

 

Tuduhan itu didukung sejumlah ahli independen yang ditunjuk Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada 21 Oktober 2026. Mereka menerima laporan penangguhan akun, pembatasan, dan perlakuan tidak setara. Pembatasan itu juga menimpa ribuan akun dan unggahan, termasuk milik aktivis, jurnalis, dan pembela hak asasi manusia.

 

”Kehilangan jangkauan dapat berarti kehilangan suara dalam perdebatan publik dan kemampuan menggerakkan masyarakat,” demikian pernyataan para ahli tersebut.

 

Meta membantah sengaja menguntungkan salah satu kandidat dan menyatakan sejumlah masalah disebabkan gangguan teknis.

 

Sejarah

 

Sebelum digunakan di 2026, janonisme kultural mulai dikenal dalam pemilu presiden Brasil 2022. Ketika itu, Janones, yang berprofesi sebagai pengacara dan anggota parlemen dari Minas Gerais, mengundurkan diri dari pencalonan presiden. Ia lalu membantu Lula menghadapi Jair Bolsonaro, Presiden Brasil periode 2019-2022.

 

Meski tak sempurna, taktik Janones itu efektif. Jair Bolsonaro kalah dalam pemilu 2022 dan dijatuhi hukuman 27 tahun 3 bulan penjara atas keterlibatannya dalam upaya kudeta. Pada pemilu 2026, janonisme diakui kubu Lula membantu membalikkan kekalahan menjadi kemenangan. Kalah pemilu, Flavio Bolsonaro kabur ke AS.

 

Metode Janones mulai ditiru aktivis politik di sejumlah negara. Di Perancis, aktivis La France Insoumise mengadopsi janonisme untuk mengorganisasi pendukung secara digital. Dikutip dari media Perancis Le Monde, mereka juga menyerukan mobilisasi massa dan pertemuan besar di lapangan.

 

Di Spanyol, pendukung Perdana Menteri Pedro Sanchez menggunakan kanal Whatsapp La Fuerza de la Gente untuk memperkuat penyebaran pesan politik. Dikutip dari CNN Brasil, kanal tersebut memiliki sekitar 43.000 pengikut pada 30 Oktober 2026.

 

Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa dominasi narasi dalam algoritma media sosial dapat ditandingi melalui strategi yang jelas, kekompakan, dan mobilisasi aksi di jalan. Janonisme memperlihatkan bagaimana jutaan suara publik dapat mengubah peta komunikasi digital yang didominasi penguasa dan pasukan pendengungnya. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/taktik-janonisme-melawan-dominasi-algoritma-dan-buzzer?open_from=Internasional_Page   

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar