Minggu, 30 Agustus 2026

 

Tinggal di Gang Sempit Rumah Tetap Estetik

Savero Aristia Wienanto :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  29 Agustus 2026

 

 

 

·      W House dibangun di gang sempit dengan memanfaatkan lahan seluas 45 meter persegi.

 

·      Kedekatan dengan stasiun Yogyakarta menjadi alasan pemilik Omah Manyar membangun rumah di gang.

 

·      Rumah di gang menjadi pilihan bagi mereka yang ingin tetap tinggal di tengah kota.

 

DI sebuah gang sempit di kawasan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sebuah rumah terlihat berbeda dengan hunian di sekitarnya. Rumah tiga lantai yang dinamai W House itu di bangun secara vertikal di atas lahan selebar 3 meter dan sepanjang 15 meter. Warna putih dan abu-abu mendominasi fasadnya yang minimalis.

 

Butuh waktu sekitar 5 menit berjalan kaki dari jalan raya ke arah selatan untuk mencapai W House, melewati gang meliuk yang lebarnya sekitar 1 meter. Hanya sepeda motor yang bisa melewati tiap tikungan yang bertebaran di permukiman ini.

 

Meski berada di permukiman padat, rumah milik seorang penata busana ini mendapat pencahayaan yang cukup dan sirkulasi udara yang lancar. Di lantai paling atas, tak jauh dari kamar utama, terdapat rooftop menjadi ruang terbuka tambahan.

 

W House merupakan bangunan yang dirancang Scala Design. Perancangnya ialah arsitek Mazharulhaq Mattugengkeng, Siti Nurhasanah, Hans Ramadiyansyah, dan Dimas Rendi Putranto. Mazharulhaq mengatakan rumah tersebut dibangun pada 2021, ketika pandemi Covid-19 masih merebak. Proses desain dimulai sebelum pandemi, tapi rencana pembangunan pernah ditunda. “Pembangunannya delapan bulan sampai setahun,” kata Mazharulhaq kepada Tempo pada Jumat, 28 Agustus 2026.

 

Bangunan itu berdiri di atas lahan bekas rumah satu lantai yang dibongkar total. Pertimbangan dalam merancang tampilan bangunan ialah tetap modern tanpa terlalu menonjol di tengah permukiman. “Rumah itu kami desain enggak mau terlalu mencolok, makanya warnanya abu-abu aja. Lalu bentuknya juga kayak rumah monokrom,” ujar Mazharulhaq.

 

Keterbatasan lahan menjadi tantangan utama. Pemilik rumah hanya membutuhkan ruang keluarga, dapur, area kerja, kamar utama, dan kamar tamu. Karena itu, Mazharulhaq memilih konsep open layout dengan sekat seminimal mungkin.

 

Lantai pertama menjadi area publik dengan ruang keluarga di bagian depan dan dapur di belakang. Area kerja sekaligus workshop untuk aktivitas fashion berada di lantai dua bersama kamar tamu. Lantai ketiga digunakan sebagai kamar utama dan rooftop.

 

Massa bangunan dibagi menjadi bagian depan dan belakang. Bagian belakang dibuat dengan konsep split level. Di antara keduanya terdapat tangga spiral yang sekaligus berfungsi sebagai atrium untuk memasukkan cahaya dan mengalirkan udara ke bagian tengah rumah.

 

Menurut Mazharulhaq, lubang di tengah bangunan diperlukan karena bentuk rumah yang memanjang membuat pencahayaan dan sirkulasi udara tidak cukup hanya mengandalkan bagian depan dan samping.

 

Desain tersebut membuat hampir semua ruangan memiliki akses terhadap cahaya dan udara alami. Mazharulhaq sengaja mengurangi ketergantungan pada pendingin udara dengan memastikan terjadinya ventilasi silang dan memanfaatkan bukaan di berbagai sisi bangunan. “Kami ingin menghadirkan desain dengan standar kenyamanan untuk udara dan pencahayaan alami,” tuturnya.

 

Menurut Mazharulhaq, tantangan terbesar pembangunan rumah di gang sempit adalah akses material. Lebar jalan membatasi kendaraan yang bisa masuk sehingga material harus dikirim menggunakan kendaraan kecil dan dipindahkan secara bertahap ke lokasi.

 

“Aksesnya kecil gitu. Jadi harga bangunnya lebih besar karena memang waktunya lebih panjang. Masukin material ke sini aja udah menantang banget,” ucapnya.

 

Peran Media Sosial

 

Rumah di dalam gang menjadi pilihan bagi sebagian warga yang ingin tetap tinggal di tengah kota. Hunian ini menawarkan kemudahan akses untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kedekatan dengan tempat kerja, transportasi publik, pusat belanja, sekolah, hingga tempat makan membuat waktu tempuh menjadi pertimbangan penting.

 

Survei JakPat terhadap 1.194 responden generasi Z pada 2023 menunjukkan 79 persen mempertimbangkan lokasi dan akses ketika memilih properti, termasuk kedekatan dengan pusat kota dan fasilitas publik. Rumah di gang sempit menjadi semacam kompromi: lahan yang didapat mungkin terbatas, tapi penghuninya tetap dekat dengan pusat aktivitas harian.

 

W House hanya satu dari banyak rumah cantik yang nyempil di gang. Belakangan unggahan tentang rumah-rumah mungil nan estetik di gang sempit kian ramai berseliweran di Instagram, TikTok, dan YouTube. Video house tour yang memperlihatkan lorong sempit sebelum membuka pintu ke ruang tamu yang rapi dan bergaya menarik perhatian karena menghadirkan kontras yang tak terduga.

 

Ketika harga tanah dan hunian di Jakarta kian meroket, juga ketika hunian di daerah pinggiran memberi tantangan kemacetan dan waktu tempuh, rumah di dalam gang menjadi salah satu alternatif yang kian dilirik.

 

Keterbatasan lahan kemudian disiasati melalui desain yang efisien dan perhatian pada detail. Dengan bantuan arsitek atau referensi dari platform visual seperti Pinterest, rumah mungil di dalam gang dapat diolah menjadi hunian yang nyaman sekaligus menarik secara estetika. Ruang yang terbatas mendorong pemilik memaksimalkan setiap sudut, sementara permainan cahaya, material, warna, dan tata letak membuat rumah yang berada di gang sempit tidak lagi identik dengan hunian seadanya.

 

Media sosial turut mengubah cara rumah-rumah semacam ini dipandang. Konten renovasi, dekorasi, dan house tour memperlihatkan proses mengubah lahan terbatas menjadi hunian yang memiliki karakter. Video yang dimulai dari lorong sempit lalu berakhir pada interior yang tertata apik menciptakan kejutan sekaligus inspirasi.

 

Keunikan Omah Manyar

 

Fenomena rumah estetik di gang juga bermunculan di daerah. Di Yogyakarta, misalnya, rumah seperti ini salah satunya bisa ditemui di Tegalrejo, Yogyakarta. Omah Manyar namanya. Bangunan tersebut memanfaatkan material bekas, mengutamakan ventilasi alami, serta menyisakan ruang terbuka di antara dua massa bangunan.

 

Pemilik Omah Manyar, Yus Ardhiansyah, mengatakan lokasi rumah itu dipilih salah satunya karena dekat dengan stasiun. Saat masih tinggal di Jakarta, ia kerap bolak-balik ke Yogyakarta pada akhir pekan. “Jadi pertimbangan lokasinya lebih ke soal itu, akses terhadap stasiun gitu, ya,” kata Yus kepada Tempo.

 

Arsitek Omah Manyar ialah Titik Puji Lestari, istri Yus. Rumah itu mulai dibangun pada 2019 di atas lahan yang sebelumnya ditempati rumah limasan kayu. Bangunan lama tersebut kemudian dibongkar, sementara bagian tertentu, seperti pagar dan genteng, dimanfaatkan kembali. Pembangunan sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 terjadi dan pembatasan aktivitas berlangsung.

 

Yus mengatakan keluarganya mulai menempati lantai bawah pada Agustus 2020, meski lantai dua belum sepenuhnya selesai. Pemasangan pintu dan jendela dilakukan secara bertahap hingga beberapa ruangan dapat digunakan.

 

Omah Manyar terdiri atas dua massa bangunan yang dipisahkan taman. Di dalamnya terdapat dua kamar, ruang kerja, ruang keluarga, dapur, serta beberapa area servis.

 

Menurut Yus, ruang terbuka yang luasnya relatif seimbang dengan ruang terbangun menjadi salah satu karakter utama rumah tersebut. Keberadaan taman juga berfungsi sebagai bagian dari sistem sirkulasi udara. “Sejak awal saya memang request, kalau bisa, banyak area hijau-hijauan, area taman gitu, ya,” ujarnya.

 

Omah Manyar tidak menggunakan penyejuk udara. Yus mengatakan desain rumah mengandalkan ventilasi silang dengan memanfaatkan banyak bukaan pada pintu dan jendela. Kamar mandi juga dirancang menjadi bagian dari sistem pertukaran udara. Pada bagian kamar tamu, sejumlah panel pintu dan kisi-kisi juga dibuat agar pertukaran udara berlangsung lebih lancar.

 

Lebih lanjut, Yus mengatakan ingin tanaman lebih menonjol dibanding bangunan karena rumah berada di tengah kampung. “Kami tidak ingin menonjol,” tuturnya. “Keberadaan pohon itu juga menjadi sangat signifikan, terutama di cuaca yang panas,” ia mengimbuhkan.

 

Omah Manyar juga menggunakan sekitar 90 persen pintu dan jendela bekas. Yus menyebutkan sebagian pintu dan jendela bahkan sudah dimiliki sebelum gambar rumah dibuat. Material tersebut kemudian disesuaikan dengan rancangan bangunan.

 

Menurut Yus, konsep rumah itu dipengaruhi tiga pendekatan: arsitektur tropis, Jepang, dan brutalisme. Arsitektur tropis diterapkan melalui naungan dan ventilasi. Pengaruh Jepang terlihat antara lain pada jendela bundar yang terinspirasi oleh Nakagin Capsule Tower di Tokyo serta penyimpanan sandal di dekat pintu.

 

Sementara itu, brutalisme terlihat dari keputusan menampilkan material mentah. Posisi tangga di luar bangunan juga menjadi salah satu elemen yang terinspirasi oleh pendekatan tersebut.

 

Namun pembangunan rumah di dalam gang menghadirkan tantangan sendiri. Yus mengatakan persoalan utama terletak pada suplai material karena kendaraan besar tidak dapat masuk ke gang. “Suplai material itu kan enggak bisa pakai kendaraan-kendaraan besar. Jadi memang pakai mobil-mobil kecil,” tuturnya. ●

 

Klik links Lampiran “Tinggal di Gang Sempit Rumah Tetap Estetik” berikut :

https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919886/919886_1200.jpg

https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919887/919887_1200.jpg

https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919862/919862_1200.jpg

https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919853/919853_1200.jpg

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/teroka/rumah-estetik-di-gang-permukiman-padat-2284365

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar