|
Tinggal di Gang Sempit Rumah Tetap
Estetik Savero Aristia Wienanto : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 29 Agustus 2026
|
· W House dibangun di gang sempit dengan
memanfaatkan lahan seluas 45 meter persegi. · Kedekatan dengan stasiun Yogyakarta
menjadi alasan pemilik Omah Manyar membangun rumah di gang. · Rumah di gang menjadi pilihan bagi
mereka yang ingin tetap tinggal di tengah kota. DI
sebuah gang sempit di kawasan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan,
sebuah rumah terlihat berbeda dengan hunian di sekitarnya. Rumah tiga lantai
yang dinamai W House itu di bangun secara vertikal di atas lahan selebar 3
meter dan sepanjang 15 meter. Warna putih dan abu-abu mendominasi fasadnya
yang minimalis. Butuh
waktu sekitar 5 menit berjalan kaki dari jalan raya ke arah selatan untuk
mencapai W House, melewati gang meliuk yang lebarnya sekitar 1 meter. Hanya
sepeda motor yang bisa melewati tiap tikungan yang bertebaran di permukiman
ini. Meski
berada di permukiman padat, rumah milik seorang penata busana ini mendapat
pencahayaan yang cukup dan sirkulasi udara yang lancar. Di lantai paling
atas, tak jauh dari kamar utama, terdapat rooftop menjadi ruang terbuka
tambahan. W House
merupakan bangunan yang dirancang Scala Design. Perancangnya ialah arsitek
Mazharulhaq Mattugengkeng, Siti Nurhasanah, Hans Ramadiyansyah, dan Dimas
Rendi Putranto. Mazharulhaq mengatakan rumah tersebut dibangun pada 2021,
ketika pandemi Covid-19 masih merebak. Proses desain dimulai sebelum pandemi,
tapi rencana pembangunan pernah ditunda. “Pembangunannya delapan bulan sampai
setahun,” kata Mazharulhaq kepada Tempo pada Jumat, 28 Agustus 2026. Bangunan
itu berdiri di atas lahan bekas rumah satu lantai yang dibongkar total.
Pertimbangan dalam merancang tampilan bangunan ialah tetap modern tanpa
terlalu menonjol di tengah permukiman. “Rumah itu kami desain enggak mau
terlalu mencolok, makanya warnanya abu-abu aja. Lalu bentuknya juga kayak
rumah monokrom,” ujar Mazharulhaq. Keterbatasan
lahan menjadi tantangan utama. Pemilik rumah hanya membutuhkan ruang
keluarga, dapur, area kerja, kamar utama, dan kamar tamu. Karena itu,
Mazharulhaq memilih konsep open layout dengan sekat seminimal mungkin. Lantai
pertama menjadi area publik dengan ruang keluarga di bagian depan dan dapur
di belakang. Area kerja sekaligus workshop untuk aktivitas fashion berada di
lantai dua bersama kamar tamu. Lantai ketiga digunakan sebagai kamar utama
dan rooftop. Massa
bangunan dibagi menjadi bagian depan dan belakang. Bagian belakang dibuat
dengan konsep split level. Di antara keduanya terdapat tangga spiral yang
sekaligus berfungsi sebagai atrium untuk memasukkan cahaya dan mengalirkan
udara ke bagian tengah rumah. Menurut
Mazharulhaq, lubang di tengah bangunan diperlukan karena bentuk rumah yang
memanjang membuat pencahayaan dan sirkulasi udara tidak cukup hanya
mengandalkan bagian depan dan samping. Desain
tersebut membuat hampir semua ruangan memiliki akses terhadap cahaya dan
udara alami. Mazharulhaq sengaja mengurangi ketergantungan pada pendingin
udara dengan memastikan terjadinya ventilasi silang dan memanfaatkan bukaan
di berbagai sisi bangunan. “Kami ingin menghadirkan desain dengan standar
kenyamanan untuk udara dan pencahayaan alami,” tuturnya. Menurut
Mazharulhaq, tantangan terbesar pembangunan rumah di gang sempit adalah akses
material. Lebar jalan membatasi kendaraan yang bisa masuk sehingga material
harus dikirim menggunakan kendaraan kecil dan dipindahkan secara bertahap ke
lokasi. “Aksesnya
kecil gitu. Jadi harga bangunnya lebih besar karena memang waktunya lebih
panjang. Masukin material ke sini aja udah menantang banget,” ucapnya. Peran
Media Sosial Rumah di
dalam gang menjadi pilihan bagi sebagian warga yang ingin tetap tinggal di
tengah kota. Hunian ini menawarkan kemudahan akses untuk menjalani aktivitas
sehari-hari. Kedekatan dengan tempat kerja, transportasi publik, pusat
belanja, sekolah, hingga tempat makan membuat waktu tempuh menjadi
pertimbangan penting. Survei
JakPat terhadap 1.194 responden generasi Z pada 2023 menunjukkan 79 persen
mempertimbangkan lokasi dan akses ketika memilih properti, termasuk kedekatan
dengan pusat kota dan fasilitas publik. Rumah di gang sempit menjadi semacam
kompromi: lahan yang didapat mungkin terbatas, tapi penghuninya tetap dekat
dengan pusat aktivitas harian. W House
hanya satu dari banyak rumah cantik yang nyempil di gang. Belakangan unggahan
tentang rumah-rumah mungil nan estetik di gang sempit kian ramai berseliweran
di Instagram, TikTok, dan YouTube. Video house tour yang memperlihatkan
lorong sempit sebelum membuka pintu ke ruang tamu yang rapi dan bergaya
menarik perhatian karena menghadirkan kontras yang tak terduga. Ketika
harga tanah dan hunian di Jakarta kian meroket, juga ketika hunian di daerah
pinggiran memberi tantangan kemacetan dan waktu tempuh, rumah di dalam gang
menjadi salah satu alternatif yang kian dilirik. Keterbatasan
lahan kemudian disiasati melalui desain yang efisien dan perhatian pada
detail. Dengan bantuan arsitek atau referensi dari platform visual seperti
Pinterest, rumah mungil di dalam gang dapat diolah menjadi hunian yang nyaman
sekaligus menarik secara estetika. Ruang yang terbatas mendorong pemilik
memaksimalkan setiap sudut, sementara permainan cahaya, material, warna, dan
tata letak membuat rumah yang berada di gang sempit tidak lagi identik dengan
hunian seadanya. Media
sosial turut mengubah cara rumah-rumah semacam ini dipandang. Konten
renovasi, dekorasi, dan house tour memperlihatkan proses mengubah lahan
terbatas menjadi hunian yang memiliki karakter. Video yang dimulai dari
lorong sempit lalu berakhir pada interior yang tertata apik menciptakan
kejutan sekaligus inspirasi. Keunikan
Omah Manyar Fenomena
rumah estetik di gang juga bermunculan di daerah. Di Yogyakarta, misalnya,
rumah seperti ini salah satunya bisa ditemui di Tegalrejo, Yogyakarta. Omah
Manyar namanya. Bangunan tersebut memanfaatkan material bekas, mengutamakan
ventilasi alami, serta menyisakan ruang terbuka di antara dua massa bangunan. Pemilik
Omah Manyar, Yus Ardhiansyah, mengatakan lokasi rumah itu dipilih salah
satunya karena dekat dengan stasiun. Saat masih tinggal di Jakarta, ia kerap
bolak-balik ke Yogyakarta pada akhir pekan. “Jadi pertimbangan lokasinya
lebih ke soal itu, akses terhadap stasiun gitu, ya,” kata Yus kepada Tempo. Arsitek
Omah Manyar ialah Titik Puji Lestari, istri Yus. Rumah itu mulai dibangun
pada 2019 di atas lahan yang sebelumnya ditempati rumah limasan kayu.
Bangunan lama tersebut kemudian dibongkar, sementara bagian tertentu, seperti
pagar dan genteng, dimanfaatkan kembali. Pembangunan sempat terhenti ketika
pandemi Covid-19 terjadi dan pembatasan aktivitas berlangsung. Yus
mengatakan keluarganya mulai menempati lantai bawah pada Agustus 2020, meski
lantai dua belum sepenuhnya selesai. Pemasangan pintu dan jendela dilakukan
secara bertahap hingga beberapa ruangan dapat digunakan. Omah
Manyar terdiri atas dua massa bangunan yang dipisahkan taman. Di dalamnya
terdapat dua kamar, ruang kerja, ruang keluarga, dapur, serta beberapa area
servis. Menurut
Yus, ruang terbuka yang luasnya relatif seimbang dengan ruang terbangun
menjadi salah satu karakter utama rumah tersebut. Keberadaan taman juga
berfungsi sebagai bagian dari sistem sirkulasi udara. “Sejak awal saya memang
request, kalau bisa, banyak area hijau-hijauan, area taman gitu, ya,”
ujarnya. Omah
Manyar tidak menggunakan penyejuk udara. Yus mengatakan desain rumah
mengandalkan ventilasi silang dengan memanfaatkan banyak bukaan pada pintu
dan jendela. Kamar mandi juga dirancang menjadi bagian dari sistem pertukaran
udara. Pada bagian kamar tamu, sejumlah panel pintu dan kisi-kisi juga dibuat
agar pertukaran udara berlangsung lebih lancar. Lebih
lanjut, Yus mengatakan ingin tanaman lebih menonjol dibanding bangunan karena
rumah berada di tengah kampung. “Kami tidak ingin menonjol,” tuturnya.
“Keberadaan pohon itu juga menjadi sangat signifikan, terutama di cuaca yang
panas,” ia mengimbuhkan. Omah
Manyar juga menggunakan sekitar 90 persen pintu dan jendela bekas. Yus
menyebutkan sebagian pintu dan jendela bahkan sudah dimiliki sebelum gambar
rumah dibuat. Material tersebut kemudian disesuaikan dengan rancangan
bangunan. Menurut
Yus, konsep rumah itu dipengaruhi tiga pendekatan: arsitektur tropis, Jepang,
dan brutalisme. Arsitektur tropis diterapkan melalui naungan dan ventilasi.
Pengaruh Jepang terlihat antara lain pada jendela bundar yang terinspirasi
oleh Nakagin Capsule Tower di Tokyo serta penyimpanan sandal di dekat pintu. Sementara
itu, brutalisme terlihat dari keputusan menampilkan material mentah. Posisi
tangga di luar bangunan juga menjadi salah satu elemen yang terinspirasi oleh
pendekatan tersebut. Namun
pembangunan rumah di dalam gang menghadirkan tantangan sendiri. Yus
mengatakan persoalan utama terletak pada suplai material karena kendaraan
besar tidak dapat masuk ke gang. “Suplai material itu kan enggak bisa pakai
kendaraan-kendaraan besar. Jadi memang pakai mobil-mobil kecil,” tuturnya. ● Klik links Lampiran “Tinggal di Gang
Sempit Rumah Tetap Estetik” berikut : https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919886/919886_1200.jpg https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919887/919887_1200.jpg https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919862/919862_1200.jpg https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919853/919853_1200.jpg Sumber : https://www.tempo.co/teroka/rumah-estetik-di-gang-permukiman-padat-2284365 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar