|
Rampas Aset Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 29 Agustus 2026
Saya kagum pada
siapa pun yang berhasil membuat demo UU Perampasan Aset itu berakhir jauh
sebelum matahari tenggelam. Saya pun memaklumi kalau banyak yang kecewa: kok
demonya berakhir begitu saja.
Dari situ saya
melihat kematangan Mas Botok, tokoh sentral demo yang dari Pati, Jateng itu. Ia
teguh pada tujuan: agar UU Perampasan Aset disahkan oleh DPR. Tidak mau ada
tuntutan yang melebar ke mana-mana. Ketika tujuan pokoknya sudah tercapai ia
mengajak masa dari Pati untuk bubar. Pulang.
Mas Botok tidak
peduli meski ia dimaki-maki banyak orang. Terutama oleh mereka yang merasa
sudah berkorban menyokong demo itu lewat dana, air botol, roti, dan simpati.
Lebih terutama lagi oleh para sutradara yang ingin demo berlanjut sampai
matahari tenggelam: setelah gelap para sutradara itu bisa memainkan para
stuntman untuk beraksi dalam kegelapan. Lalu bisa rusuh. Setelah rusuh terserah
mereka: endingnya mau dibawa ke mana pun bisa. Kalau perlu sampai menyasar
istana. Atau samping-samping istana.
DPR sebenarnya
sudah mencoba meredam tuntutan Pati itu dua hari sebelum jadwal demo. Yakni
dengan cara mengundang tokoh muda Pati ke DPR: Lukman Hakim. Didengarlah
pendapatnya di DPR. Hasilnya? Justru bikin marah publik. Itu karena publik tahu
Lukman Hakim bukanlah siapa-siapa di mata kelompok Mas Botok. Bahkan dianggap
di seberang mereka.
Cara lain untuk
mengurungkan demo juga sudah dilakukan: lewat ”pembekuan” rekening Mas Botok di
Bank Mandiri. Itulah rekening penampungan dana dari simpatisan untuk mendukung
perjalanan pendemo ke Jakarta. Maksudnya, mungkin, agar mereka tidak punya biaya
untuk ke Jakarta. Bahkan siapa tahu bisa membuat orang takut mengirim donasi ke
kelompok Mas Botok: kan bisa dicari-cari unsur pidananya.
Hasilnya?
Anda sudah
tahu: justru blunder besar. Justru kian besar saja simpati untuk Pati. Kian
besar pula dukungan untuk demo itu. Kian terbakar hati mereka yang sudah
membara.
Yang terbakar
paling nyata adalah Bank Mandiri. Kemarahan publik kepada bank itu sudah sampai
level yang sangat mengkhawatirkan. Terutama bagi bank milik negara itu sendiri.
Ia jadi korban keputusan yang tidak dirancang dengan matang.
Publik justru
emosi ketika pemblokiran itu ditutupi dengan alasan ”untuk melindungi pengirim
uang maupun pemilik rekening”. Alasan seperti itu dengan mudah bisa dibaca:
alasan yang dicari-cari secara tergopoh-gopoh.
Akhirnya
disadari: sendi-sendi Bank Mandiri bisa goyah. Lalu keluarlah putusan
pemblokiran itu dicabut. Goresan sudah melukai Bank Mandiri.
Sampailah
datang waktu senja tanggal 26 Agustus 2026. Matahari tenggelam seperti lebih
bergegas. Bulan purnama pun mulai menampakkan menornya di langit timur Jakarta.
Kian gelap medsos kian riuh: demo Pati di Jakarta pasti terjadi. Kian malam
kian panas. Puncak panas itu terjadi ketika Mas Botok diajak masuk ke mobil
polisi. Atau sengaja dimasukkan. Mobil itu dihadang massa. Dikepung. Dipepet.
Mas Botok harus dikeluarkan dari mobil. Mereka sangat mengkhawatirkan akan
dibawa ke mana tokoh demo mereka. Polisi memenuhi permintaan itu. Selesai.
Pukul 02.30
--sudah tanggal 27 Agustus-- saya bangun. Biasa. Langsung buka HP. Muncul
notifikasi: live channel. Kamera mengarah ke jalan raya depan DPR di Senayan.
Beberapa orang terlihat duduk menunggu pagi. Seperti juga menunggu siapa lagi
yang mau datang ke lokasi demo.
Narasi live itu
tidak provokatif. Narasinya sangat simpatik. Pun terhadap komentar yang nadanya
anti demo. Tidak reaktif. Tetap dingin. Tetap simpatik.
Ternyata sedini
itu sudah banyak yang live lewat channel masing-masing. Saya pindah-pindah.
Ketegangan sedikit muncul ketika narasi di situ menyebut mulai kesulitan
sinyal. "Kami sudah tidak bisa menggunakan Indosat sama sekali," ujar
salah satu narasi. Kesannya: pihak keamanan mulai membatasi gerak medsos.
Mungkin agar tidak terjadi seperti di Nepal: pemerintah terguling akibat demo
yang digerakkan oleh medsos. Rasanya Indosat tidak ada kepentingan apa-apa.
Indosat sudah milik Ooredoo, Qatar.
Narasi lainnya
memberi peringatan: "Kalau nanti kami tidak bisa live di channel ini Anda
bisa pindah ke FB," katanya. Seolah semua jaringan selular terancam akan
ditutup. Lalu bermunculan pertanyaan di layar HP: akun FB nya yang mana.
Sampai pukul
05.00 saya terus mengikuti live dari sarang demo di Jakarta. Untung ada
Dismorning. Tiap jam lima pagi. Saya tinggalkan live itu untuk live sendiri di
Dismorning. Saya bilang ke Sasa, host Dismorning: "Mungkin pagi ini tidak
ada orang yang menyaksikan kita di Dismorning. Semua orang akan memilih
menyaksikan live situasi Jakarta menjelang demo," ujar saya kepada Sasa.
"Orang pingin mengukur suhu politik Jakarta. Aman atau tidak aman,"
kata saya lagi.
Selesai
Dismorning saya harus berangkat olahraga. Di jalan saya ikuti lagi live. Belum
banyak perkembangan. Setelah itu kesibukan lain susul-menyusul. Siangnya baru
live lagi: begitu banyak yang mendukung demo. Terutama dari pengemudi ojek
online.
Tengah hari
saya balik ke live: demo tidak seberapa besar. Setidaknya tidak sebesar yang
dikhawatirkan. Sekitar 3000 orang.
Tapi itu juga
sudah besar. Dan akan benar-benar besar kalau tidak segera ada jalan keluar.
Mereka bisa bermalam di jalan raya depan DPR. Simpati bisa kian besar. Bisa
meluas. Bisa ditunggangi. Bisa rusuh. Apalagi kalau sampai senja digantikan
gelap.
Bahaya itulah
yang dibaca para politisi di DPR. Khususnya oleh Wakil Ketua DPR Don Dasco.
Maka Mas Botok dan tim intinya diajak masuk ruang sidang DPR. Diajak bicara.
Lalu keluarlah jaminan dari Don Dasco yang sangat terkenal itu: Kalau sampai 15 Desember UU Perampasan Aset tidak disahkan,
ia akan mengundurkan diri. Pun para wakil ketua DPR lainnya: Cucun Ahmad
Syamsurijal, Saan Mustopa, dan Sari Yuliati. Tidak
jelas mengapa Ketua DPR Puan Maharani tidak melibatkan diri dalam penjaminan
itu.
Demo pun
berakhir. Jakarta selamat dari kerusuhan. Letupan kecil tetap terjadi di
sana-sini. Tapi bisa diatasi. Rupanya skenario ”rusuh malam” kehilangan
momentum. Kelihatannya tetap ada yang ingin memaksakannya. Sejumlah peristiwa
terjadi di kegelapan. Tapi timing-nya sudah layu sebelum berkembang.
Don Dasco
pantas dapat Piala Citra untuk kategori penyutradaraan terbaik di festival film
mendatang. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/965442/rampas-aset
Tidak ada komentar:
Posting Komentar