|
Bukan Sekadar Nikah Dua Sejoli Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 30 Agustus 2026
|
“Ini kayak
pernikahan di keraton,” ujar istri saya melihat susunan panitia pernikahan
Qori dan Zizi. Dua belas halaman berisi deretan kiai, profesor, hingga
pejabat. Namun, perhelatan di Indralaya ini bukanlah keraton batu, melainkan
keraton yang tegak dari jalinan silaturahmi. “Ini kayak pernikahan di keraton.” Istri
saya berkomentar spontan saat membaca buku susunan panitia pernikahan Qori
dan Zizi. Awalnya saya mengira ia berlebihan. Tapi prasangka itu runtuh
ketika saya memeriksa lembar demi lembar dokumen dua belas halaman tersebut. Nama-nama terderet rapi bak silsilah
dinasti kecil. Mereka bertitel guru besar, doktor, kiai, pejabat pemerintah,
akademisi, pengusaha, aktivis, tokoh masyarakat, hingga jajaran sahabat
dekat. Nama saya masuk ke situ dengan polos, tanpa tambahan kata di depan
atau di belakang. Susunan organisasi kepanitiaan
menyerupai tata kelola republik mini. Ada pelindung, penanggung jawab,
penasihat, pengarah, pelaksana, hingga sekretariat. Daftar itu menghimpun
tokoh-tokoh dari Indralaya, Palembang, Sumatera Selatan, Sumatera Utara,
Jakarta, hingga berbagai daerah lain. Sampul buku menampilkan tulisan huruf
emas berlatar hitam: The Wedding of Qori and Zizi. Masyarakat pesantren di
kampung ternyata sudah karib dengan bahasa asing. Pondok Pesantren
Al-Ittifaqiah memang menerapkan bahasa Arab dan Inggris sebagai alat
komunikasi harian santri sejak awal 1990-an. Perhelatan Qori-Zizi berlangsung
Sabtu, 29 Agustus 2026, di Aula KH Ahmad Qori Nuri, Kampus D Pondok Pesantren
Al-Ittifaqiah, Tanjung Lubuk, Indralaya Selatan, Ogan Ilir. Seketika aula di
kampung ini memancarkan aura keraton karena para tamu membawa bobot cerita,
jalinan ikatan, dan sejarah yang panjang. Masyarakat Palembang merawat tradisi
pernikahan yang sarat makna kultural. Adat mengenal tahapan panjang. Dimulai
dari madik, menyenggung, berasan, mutuske kato, nganterke belanjo, akad,
hingga munggah. Prosesi munggah menjadi puncak
perhelatan, menghadirkan rombongan, hantaran, alunan rebana, tuturan pantun,
serta peragaan silat. Munggah berarti naik —seolah mengantar pengantin menuju
tingkatan hidup yang baru. Bisa juga naik ke pelaminan. Tradisi Palembang menghadirkan kilau
kain songket, nuansa keemasan, kehangatan sapaan kerabat, dan perjumpaan
kawan lama. Para tamu menjadikan pesta perkawinan bukan sekadar tempat makan,
melainkan ruang untuk saling bertemu. Di tengah suasana itu, Qori dan Zizi
melangkah penuh senyum. Keduanya melintasi momen krusial untuk meneguhkan
akad nikah, menyatukan dua nama dalam satu alur kehidupan. Pesta walimatul 'ursy memuat makna
pengumuman sosial atas berlangsungnya ikatan suci. Usai pesta berakhir,
mereka akan membangun rumah tangga, mengambil keputusan bersama, membagi
beban, dan memelihara komitmen tanpa panggung dan tanpa panitia. Perkawinan memadukan dua manusia
sekaligus mempertemukan dua keluarga besar. Dua lingkaran kekerabatan yang
semula berjalan sendiri kini saling beririsan. Adat Palembang menekankan
nilai timbang rasa —kemampuan saling mengerti, kapan mesti bersuara dan kapan
memilih teduh. Daya tarik perhelatan ini juga
bersumber dari deretan tamu yang hadir. Bus dan kendaraan pribadi berpelat
nomor luar daerah —seperti Sumatera Utara dan Jakarta— memadati lokasi. Para
tamu rela menempuh perjalanan ratusan kilometer demi menyalami tuan rumah,
mendoakan mempelai, dan merawat persahabatan. Pusat jejaring persahabatan ini
bermuara pada sosok Dr. K.H. Mudrik Qori, M.A. Publik mengenalnya sebagai
"ulama terbang", figur yang terus bergerak seperti pesawat atau
burung terbang, menautkan silaturahmi, dari pesantren ke pesantren, kampus ke
kampus, hingga lintas daerah. Mudrik Qori merupakan alumni Fakultas
Adab, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini
UIN Jakarta), lulusan 1991. Ia menerima Ikaluin Award 2022 atas kiprahnya
memajukan Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah. Sewaktu berkuliah di Jakarta, ia aktif
dalam dunia gerakan mahasiswa dan tercatat sebagai bagian dari tim perumus
AD/ART Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) pada 1985. Ia juga memberi kuliah.
Terakhir, ia juga kuliah hingga memperoleh gelar doktor di bidang yang
jarang: tilawatil Qur'an. Pengalaman masa muda itu menjelaskan
mengapa daftar tamu pernikahan ini menyerupai himpunan alumni lintas profesi:
profesor, kiai, pejabat, birokrat, pendidik, dan tokoh masyarakat. Undangan
pernikahan membuka ruang nostalgia, menautkan kembali ingatan masa lalu
dengan perjumpaan masa kini. Jejaring tersebut kemudian bergerak
menjadi daya dukung yang nyata. Sekembali ke Indralaya, Mudrik Qori
melanjutkan kepemimpinan pesantren warisan ayahnya, K.H. Ahmad Qori Nuri,
sejak 1998. Ia membenahi manajemen, SDM, sarana,
dan program pendidikan. Kini, Al-Ittifaqiah menaungi Universitas Al-Qur'an
Ittifaqiah (UQI), yang berkembang dari STIQI (2000) menjadi institut (2021),
hingga melayani ribuan sivitas akademika dan alumni. Inilah wujud modal sosial yang
berpijak pada rasa percaya. Orang-orang mengalokasikan waktu, tenaga, dan
dukungan karena kepercayaan telah terbangun dan terawat selama puluhan tahun. Maka, susunan panitia yang menyerupai
panitia “keraton” ini tidak menghadirkan takhta atau abdi dalem, melainkan
menghimpun sahabat perjuangan dan merentangkan wilayah silaturahmi. Kyai Mudrik membawa pulang pengalaman
organisasi, gagasan pendidikan, dan jejaring pertemanan dari Jakarta untuk
membangun kampung halaman. Ia memadukan pembaruan tanpa mencabut akar tradisi
pesantren. Hari pernikahan Qori dan Zizi
mempertemukan lintasan sejarah pesantren, generasi mahasiswa, aktivisme, dan
lembaga pendidikan. Usai lampu pesta padam, songket
terlipat, dan piring-piring bersih, Qori dan Zizi melangkah memasuki kamar
berdua saja, sebagai pembuktian akad yang sesungguhnya. Pesta berlangsung
sehari, tapi perkawinan merentang sepanjang usia. Gelar “keraton” pada pernikahan ini
tidak berdiri dari tumpukan batu, melainkan dari kokohnya bangunan
silaturahmi. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar