|
Mempertahankan Bahasa Indonesia dari
Kepunahan di Australia Irene
Sarwindaningrum : Wartawan Kompas. |
KOMPAS, 23 Agustus 2026
|
Dari meja diplomasi tingkat tinggi hingga ke ruang kelas, bahasa
Indonesia diperjuangkan agar tak punah di Australia. Jameson (17) sudah belajar bahasa Indonesia bertahun-tahun. Ia
ingin menjadi jurnalis suatu hari nanti. Lucy (17) bahkan sudah belajar sejak
taman kanak-kanak. Ia bercita-cita bekerja di bidang hubungan luar negeri. Ditemui di sekolahnya, Trinity Christian School di Canberra,
Australia, Jumat (14/8/2026), kedua remaja berambut blonde itu nyaris
sempurna memahami percakapan bahasa Indonesia. Namun, mereka masih sungkan
menggunakannya untuk bercakap-cakap. Jameson membayangkan kelak akan banyak meliput Asia Tenggara
sebagai salah satu negara tetangga terdekat Australia, termasuk Indonesia.
”Saya merasa masih banyak cerita yang tidak benar-benar diliput, terutama
oleh media Barat. Belajar bahasa ini menjadi pintu untuk memahami cerita
orang-orang yang tidak banyak terwakili,” katanya. Lucy juga melihat kedekatan Indonesia-Australia begitu penting.
Apalagi, ia ingin bekerja di bidang hubungan luar negeri. ”Indonesia adalah
salah satu tetangga terdekat kami. Jadi, ada lebih banyak kesempatan untuk
berinteraksi dengan budaya Indonesia,” katanya. Trinity Christian School merupakan salah satu sekolah di Canberra
yang masih mengajarkan bahasa Indonesia. Sekolah itu memiliki empat guru
bahasa Indonesia. Namun, di banyak sekolah lain, kelas bahasa Indonesia terus
menyusut. Laporan Parlemen Australia, Juni 2026, menunjukkan jumlah siswa
kelas 12 yang mengambil bahasa Indonesia turun 58 persen, dari 1.160 siswa
pada 2010 menjadi hanya 486 siswa pada 2024. Di perguruan tinggi, hanya sekitar 500 dari lebih dari satu juta
mahasiswa domestik Australia yang mempelajari bahasa Indonesia. Jumlah
perguruan tinggi yang mengajarkan bahasa Indonesia juga menyusut, dari 22
program pada 1992 menjadi 13 universitas pada 2025. Hanya sekitar 10 saja
yang masih mempertahankan program penuh. Kondisi paling buruk terjadi di Queensland. Selama 15 tahun
terakhir, hanya dua sekolah yang konsisten membuka bahasa Indonesia hingga
kelas 12. Pada 2026, hanya empat siswa di seluruh Queensland diproyeksikan
mengikuti ujian bahasa Indonesia kelas 12. Parlemen Australia menyebut pengajaran bahasa Indonesia di
Queensland sudah mengalami ”kepunahan fungsional”. Sejumlah ahli
memperingatkan, tanpa intervensi, pengajaran bahasa Indonesia di Australia
bisa mengalami ”kepunahan fungsional” secara nasional pada 2031. Mei Turnip (47), salah satu dari empat guru Bahasa Indonesia di
Trinity Christian School, merasakan langsung penyusutan itu. Perempuan
kelahiran Lampung tersebut mengajar Bahasa Indonesia di Australia sejak 2013,
tujuh tahun di Adelaide sebelum pindah ke Canberra pada 2021. ”Banyak sekolah
di sekitar sini yang tak punya kelas Bahasa Indonesia lagi,” katanya Saat ini, bahasa Asia yang populer di sekolah-sekolah Australia
adalah bahasa Jepang, Mandarin, dan Korea. Bahasa Hindi juga mulai masuk ke
sekolah, bahkan muncul permintaan terhadap bahasa lain seperti Punjabi
seiring besarnya komunitas penuturnya di Australia. Padahal, bahasa Indonesia pernah sangat populer di Australia.
Pada 2001, bahasa Indonesia merupakan bahasa asing ketiga yang paling banyak
dipelajari di sekolah Australia setelah Jepang dan Italia. Sebanyak 316.877
siswa di 1.768 sekolah mempelajarinya. Kemerosotan bahasa Indonesia di Australia terjadi setelah Bom
Bali 2002. Dari 202 korban tewas dalam serangan itu, 88 di antaranya
merupakan warga Australia. Banyak kelas bahasa Indonesia kemudian ditutup.
Kejadian itu menorehkan luka mendalam bagi kedua negara. ”Setelah kejadian Bom Bali itu memang luar biasa. Dampaknya
signifikan, termasuk pada tutupnya kelas bahasa Indonesia. Itu titik balik
kita kehilangan bahasa Indonesia besar-besaran,” kata Atase Pendidikan dan
Kebudayaan KBRI Canberra Yuli Rahmawati. Konsul Jenderal RI di Sydney Pendekar Muda Leonard Sondakh
mengatakan, perwakilan Indonesia terus berupaya memulihkan luka akibat Bom
Bali. Salah satunya dengan menjelaskan bahwa serangan itu merupakan tindakan
kelompok teroris, bukan cerminan sikap masyarakat Indonesia terhadap
Australia. Pendekar juga rutin menghadiri peringatan Bom Bali di Coogee
Beach, Sydney, dan Newcastle. Dalam peringatan itu, ia bertemu keluarga
korban. ”Kami selalu bertemu keluarga korban supaya mereka tahu bahwa kami
sangat, sangat sedih dengan kejadian ini. Ini harus dilakukan sedikit demi
sedikit,” kata Pendekar. Setelah 24 tahun berlalu, generasi muda Australia tidak lagi
memiliki ingatan langsung terhadap Bom Bali. Namun, bahasa Indonesia tetap
sulit bangkit. Hal ini karena kelas bahasa Indonesia telanjur hilang dari
kelas-kelas di Australia. Tantangan semakin berat karena dukungan Australia terhadap
pengajaran bahasa Asia tidak lagi sekuat sebelumnya. Menurut Mei, bahasa
Indonesia dulu berkembang karena menjadi salah satu prioritas Pemerintah
Australia dan mendapat dukungan pendanaan. Kini, dukungan itu berkurang. ”Dulu Pemerintah Australia yang
mendorong. Sekarang tergantung negara masing-masing bagaimana mereka
mempromosikan pendidikan bahasa mereka di Australia,” katanya. Di sisi lain, terdapat kekurangan guru. Laporan Parlemen
Australia 2026 mencatat kekurangan guru ikut mendorong sekolah menghentikan
program bahasa, yang kemudian semakin mengurangi jumlah siswa. Siaran Di luar sekolah dan perguruan tinggi, bahasa Indonesia dihadirkan
di layanan publik Australia. Jaringan layanan audio milik SBS, lembaga
penyiaran publik Australia menyiarkan Program Bahasa Indonesia empat kali
sepekan, setiap Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu, masing-masing selama satu
jam. Saat ditemui di kantor SBS di Sydney, Kamis (6/8/2026), Executive
Producer Program Bahasa Indonesia SBS Audio Tia Ardha tengah mewawancarai
seorang tamu asal Indonesia. Wawancara dengan warga Indonesia yang
berprestasi di Australia menjadi salah satu isi program. Tia mengatakan programnya kerap mengangkat kiprah diaspora
Indonesia, seperti akademisi, peneliti, mahasiswa, dan warga yang menonjol di
bidang masing-masing. Kisah-kisah semacam itu belum tentu mendapat ruang di
media arus utama Australia. ”Banyak profesor, doktor Indonesia di sini yang memiliki posisi
atau peran penting. Itu cerita yang menurut kami layak disampaikan,” kata
perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur itu. Menurut dia, keberadaan Program
Bahasa Indonesia juga menunjukkan komunitas Indonesia diakui sebagai bagian
dari masyarakat multikultural Australia. Saat ini, SBS Audio melayani 63 bahasa yang digunakan berbagai
komunitas di Australia. Program ini memperoleh dukungan pendanaan dari
Pemerintah Australia. Pada tahun anggaran 2026-2027, Pemerintah Australia
menambah pendanaan 10 juta dollar Australia per tahun untuk layanan bahasa
SBS. Perhatian Di awal 2026, merosotnya pembelajaran bahasa Indonesia di
Australia menjadi sorotan Canberra. Hal ini seiring kerja sama kedua negara
yang meningkat. ”Di level pemerintah ke pemerintah, hubungan itu sudah bagus
banget. Trust itu ada,” kata Duta Besar RI untuk Australia Siswo Pramono saat
ditemui di Canberra, Senin (10/8/2026). Dalam kondisi itu, kemampuan memahami Indonesia pun semakin
dibutuhkan Australia. ”Di garis depan, bahasa adalah pintu masuk untuk
memahami budaya. Kalau mau masuk Asia, itu harus punya Asian capability.
Kalau mau masuk Indonesia, itu harus punya Indonesian capability, sebaliknya
Indonesia juga perlu memahami Australia,” kata Siswo. Untuk itu, pada anggaran 2026-2027, Pemerintah Australia
mengalokasikan 33,2 juta dollar Australia untuk memperkuat hubungan dengan
Indonesia. Sebanyak 11,4 juta dolar Australia dialokasikan ke
Australia-Indonesia Institute, antara lain untuk memperkuat pengetahuan
tentang Indonesia dan pembelajaran bahasa. Siswo menilai jumlah dana itu masih bisa diperbesar. Apalagi,
mahasiswa Indonesia juga memberikan pemasukan tak sedikit bagi sektor
pendidikan Australia. Data Departemen Pendidikan Australia mencatat mahasiswa
Indonesia menyumbang 1,7 miliar dolar Australia pada 2025. Di 2026, dengan jumlah seluruh mahasiswa Indonesia di Australia
sekitar 25.000 orang, Siswo memperkirakan dana pendidikan yang mengalir dari
Indonesia mencapai sekitar 600 juta dolar Australia per tahun. ”Ambil
sebagian saja untuk mendanai pelajaran bahasa Indonesia,” katanya. Beragam upaya juga dilakukan Indonesia untuk menghidupkan bahasa
di Australia, baik dari meja diplomasi maupun ke ruang kelas. KBRI Canberra,
misalnya, melakukan negosiasi langsung dengan sejumlah perguruan tinggi agar
program bahasa Indonesia tidak ditutup. Salah satunya berhasil dilakukan di University of Tasmania.
Awalnya, program bahasa Indonesia di universitas itu akan ditutup karena
kekurangan dana. Lewat negosiasi, KBRI sepakat mendorong mahasiswa dengan
beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ke kampus tersebut. Saat
ini terdapat setidaknya 4 mahasiswa LPDP di sana dan akan ditambah menjadi 8
ke depan. Program bahasa Indonesia akhirnya tidak jadi ditutup. Di tingkat sekolah, salah satu upaya adalah program Indonesia
Goes to School. Di program ini, perwakilan Indonesia mendatangi sekolah
dengan mengenalkan bahasa, tari, batik, gamelan, angklung, wayang, dan
makanan Indonesia. KBRI juga mendatangi dinas pendidikan di negara-negara bagian
Australia untuk mencari dukungan, seperti pendanaan guru bantu dan penyediaan
bahan ajar. ”Saya keliling ke dinas pendidikan karena mereka sebenarnya punya
pendanaan. Selain itu, mereka juga punya kegiatan yang bisa disinergikan
dengan kita,” kata Yuli. Sementara itu, KJRI Sydney menjalankan konsep living classroom.
Program ini membawa siswa Australia ke Indonesia untuk mengenal langsung
masyarakat dan kehidupan Indonesia. Harapannya, mereka mengenal Indonesia dan
menumbuhkan kedekatan. Dua negara bertetangga, seharusnya tak saling asing. Perjuangan
menghidupi bahasa Indonesia pun menjadi bagian penting diplomasi. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar