Senin, 24 Agustus 2026

 

Mempertahankan Bahasa Indonesia dari Kepunahan di Australia

Irene Sarwindaningrum :  Wartawan Kompas.

KOMPAS, 23 Agustus 2026

 

 

                                                           

Dari meja diplomasi tingkat tinggi hingga ke ruang kelas, bahasa Indonesia diperjuangkan agar tak punah di Australia.

 

Jameson (17) sudah belajar bahasa Indonesia bertahun-tahun. Ia ingin menjadi jurnalis suatu hari nanti. Lucy (17) bahkan sudah belajar sejak taman kanak-kanak. Ia bercita-cita bekerja di bidang hubungan luar negeri.

 

Ditemui di sekolahnya, Trinity Christian School di Canberra, Australia, Jumat (14/8/2026), kedua remaja berambut blonde itu nyaris sempurna memahami percakapan bahasa Indonesia. Namun, mereka masih sungkan menggunakannya untuk bercakap-cakap.

 

Jameson membayangkan kelak akan banyak meliput Asia Tenggara sebagai salah satu negara tetangga terdekat Australia, termasuk Indonesia. ”Saya merasa masih banyak cerita yang tidak benar-benar diliput, terutama oleh media Barat. Belajar bahasa ini menjadi pintu untuk memahami cerita orang-orang yang tidak banyak terwakili,” katanya.

 

Lucy juga melihat kedekatan Indonesia-Australia begitu penting. Apalagi, ia ingin bekerja di bidang hubungan luar negeri. ”Indonesia adalah salah satu tetangga terdekat kami. Jadi, ada lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan budaya Indonesia,” katanya.

 

Trinity Christian School merupakan salah satu sekolah di Canberra yang masih mengajarkan bahasa Indonesia. Sekolah itu memiliki empat guru bahasa Indonesia.

 

Namun, di banyak sekolah lain, kelas bahasa Indonesia terus menyusut. Laporan Parlemen Australia, Juni 2026, menunjukkan jumlah siswa kelas 12 yang mengambil bahasa Indonesia turun 58 persen, dari 1.160 siswa pada 2010 menjadi hanya 486 siswa pada 2024.

 

Di perguruan tinggi, hanya sekitar 500 dari lebih dari satu juta mahasiswa domestik Australia yang mempelajari bahasa Indonesia. Jumlah perguruan tinggi yang mengajarkan bahasa Indonesia juga menyusut, dari 22 program pada 1992 menjadi 13 universitas pada 2025. Hanya sekitar 10 saja yang masih mempertahankan program penuh.

 

Kondisi paling buruk terjadi di Queensland. Selama 15 tahun terakhir, hanya dua sekolah yang konsisten membuka bahasa Indonesia hingga kelas 12. Pada 2026, hanya empat siswa di seluruh Queensland diproyeksikan mengikuti ujian bahasa Indonesia kelas 12.

 

Parlemen Australia menyebut pengajaran bahasa Indonesia di Queensland sudah mengalami ”kepunahan fungsional”. Sejumlah ahli memperingatkan, tanpa intervensi, pengajaran bahasa Indonesia di Australia bisa mengalami ”kepunahan fungsional” secara nasional pada 2031.

 

Mei Turnip (47), salah satu dari empat guru Bahasa Indonesia di Trinity Christian School, merasakan langsung penyusutan itu. Perempuan kelahiran Lampung tersebut mengajar Bahasa Indonesia di Australia sejak 2013, tujuh tahun di Adelaide sebelum pindah ke Canberra pada 2021. ”Banyak sekolah di sekitar sini yang tak punya kelas Bahasa Indonesia lagi,” katanya

 

Saat ini, bahasa Asia yang populer di sekolah-sekolah Australia adalah bahasa Jepang, Mandarin, dan Korea. Bahasa Hindi juga mulai masuk ke sekolah, bahkan muncul permintaan terhadap bahasa lain seperti Punjabi seiring besarnya komunitas penuturnya di Australia.

 

Padahal, bahasa Indonesia pernah sangat populer di Australia. Pada 2001, bahasa Indonesia merupakan bahasa asing ketiga yang paling banyak dipelajari di sekolah Australia setelah Jepang dan Italia. Sebanyak 316.877 siswa di 1.768 sekolah mempelajarinya.

 

Kemerosotan bahasa Indonesia di Australia terjadi setelah Bom Bali 2002. Dari 202 korban tewas dalam serangan itu, 88 di antaranya merupakan warga Australia. Banyak kelas bahasa Indonesia kemudian ditutup. Kejadian itu menorehkan luka mendalam bagi kedua negara.

 

”Setelah kejadian Bom Bali itu memang luar biasa. Dampaknya signifikan, termasuk pada tutupnya kelas bahasa Indonesia. Itu titik balik kita kehilangan bahasa Indonesia besar-besaran,” kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra Yuli Rahmawati.

 

Konsul Jenderal RI di Sydney Pendekar Muda Leonard Sondakh mengatakan, perwakilan Indonesia terus berupaya memulihkan luka akibat Bom Bali. Salah satunya dengan menjelaskan bahwa serangan itu merupakan tindakan kelompok teroris, bukan cerminan sikap masyarakat Indonesia terhadap Australia.

 

Pendekar juga rutin menghadiri peringatan Bom Bali di Coogee Beach, Sydney, dan Newcastle. Dalam peringatan itu, ia bertemu keluarga korban. ”Kami selalu bertemu keluarga korban supaya mereka tahu bahwa kami sangat, sangat sedih dengan kejadian ini. Ini harus dilakukan sedikit demi sedikit,” kata Pendekar.

 

Setelah 24 tahun berlalu, generasi muda Australia tidak lagi memiliki ingatan langsung terhadap Bom Bali. Namun, bahasa Indonesia tetap sulit bangkit. Hal ini karena kelas bahasa Indonesia telanjur hilang dari kelas-kelas di Australia.

 

Tantangan semakin berat karena dukungan Australia terhadap pengajaran bahasa Asia tidak lagi sekuat sebelumnya. Menurut Mei, bahasa Indonesia dulu berkembang karena menjadi salah satu prioritas Pemerintah Australia dan mendapat dukungan pendanaan.

 

Kini, dukungan itu berkurang. ”Dulu Pemerintah Australia yang mendorong. Sekarang tergantung negara masing-masing bagaimana mereka mempromosikan pendidikan bahasa mereka di Australia,” katanya.

 

Di sisi lain, terdapat kekurangan guru. Laporan Parlemen Australia 2026 mencatat kekurangan guru ikut mendorong sekolah menghentikan program bahasa, yang kemudian semakin mengurangi jumlah siswa.

 

Siaran

 

Di luar sekolah dan perguruan tinggi, bahasa Indonesia dihadirkan di layanan publik Australia. Jaringan layanan audio milik SBS, lembaga penyiaran publik Australia menyiarkan Program Bahasa Indonesia empat kali sepekan, setiap Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu, masing-masing selama satu jam.

 

Saat ditemui di kantor SBS di Sydney, Kamis (6/8/2026), Executive Producer Program Bahasa Indonesia SBS Audio Tia Ardha tengah mewawancarai seorang tamu asal Indonesia. Wawancara dengan warga Indonesia yang berprestasi di Australia menjadi salah satu isi program.

 

Tia mengatakan programnya kerap mengangkat kiprah diaspora Indonesia, seperti akademisi, peneliti, mahasiswa, dan warga yang menonjol di bidang masing-masing. Kisah-kisah semacam itu belum tentu mendapat ruang di media arus utama Australia.

 

”Banyak profesor, doktor Indonesia di sini yang memiliki posisi atau peran penting. Itu cerita yang menurut kami layak disampaikan,” kata perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur itu. Menurut dia, keberadaan Program Bahasa Indonesia juga menunjukkan komunitas Indonesia diakui sebagai bagian dari masyarakat multikultural Australia.

 

Saat ini, SBS Audio melayani 63 bahasa yang digunakan berbagai komunitas di Australia. Program ini memperoleh dukungan pendanaan dari Pemerintah Australia. Pada tahun anggaran 2026-2027, Pemerintah Australia menambah pendanaan 10 juta dollar Australia per tahun untuk layanan bahasa SBS.

 

Perhatian

 

Di awal 2026, merosotnya pembelajaran bahasa Indonesia di Australia menjadi sorotan Canberra. Hal ini seiring kerja sama kedua negara yang meningkat.

 

”Di level pemerintah ke pemerintah, hubungan itu sudah bagus banget. Trust itu ada,” kata Duta Besar RI untuk Australia Siswo Pramono saat ditemui di Canberra, Senin (10/8/2026).

 

Dalam kondisi itu, kemampuan memahami Indonesia pun semakin dibutuhkan Australia. ”Di garis depan, bahasa adalah pintu masuk untuk memahami budaya. Kalau mau masuk Asia, itu harus punya Asian capability. Kalau mau masuk Indonesia, itu harus punya Indonesian capability, sebaliknya Indonesia juga perlu memahami Australia,” kata Siswo.

 

Untuk itu, pada anggaran 2026-2027, Pemerintah Australia mengalokasikan 33,2 juta dollar Australia untuk memperkuat hubungan dengan Indonesia. Sebanyak 11,4 juta dolar Australia dialokasikan ke Australia-Indonesia Institute, antara lain untuk memperkuat pengetahuan tentang Indonesia dan pembelajaran bahasa.

 

Siswo menilai jumlah dana itu masih bisa diperbesar. Apalagi, mahasiswa Indonesia juga memberikan pemasukan tak sedikit bagi sektor pendidikan Australia. Data Departemen Pendidikan Australia mencatat mahasiswa Indonesia menyumbang 1,7 miliar dolar Australia pada 2025.

 

Di 2026, dengan jumlah seluruh mahasiswa Indonesia di Australia sekitar 25.000 orang, Siswo memperkirakan dana pendidikan yang mengalir dari Indonesia mencapai sekitar 600 juta dolar Australia per tahun. ”Ambil sebagian saja untuk mendanai pelajaran bahasa Indonesia,” katanya.

 

Beragam upaya juga dilakukan Indonesia untuk menghidupkan bahasa di Australia, baik dari meja diplomasi maupun ke ruang kelas. KBRI Canberra, misalnya, melakukan negosiasi langsung dengan sejumlah perguruan tinggi agar program bahasa Indonesia tidak ditutup.

 

Salah satunya berhasil dilakukan di University of Tasmania. Awalnya, program bahasa Indonesia di universitas itu akan ditutup karena kekurangan dana. Lewat negosiasi, KBRI sepakat mendorong mahasiswa dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ke kampus tersebut. Saat ini terdapat setidaknya 4 mahasiswa LPDP di sana dan akan ditambah menjadi 8 ke depan. Program bahasa Indonesia akhirnya tidak jadi ditutup.

 

Di tingkat sekolah, salah satu upaya adalah program Indonesia Goes to School. Di program ini, perwakilan Indonesia mendatangi sekolah dengan mengenalkan bahasa, tari, batik, gamelan, angklung, wayang, dan makanan Indonesia.

 

KBRI juga mendatangi dinas pendidikan di negara-negara bagian Australia untuk mencari dukungan, seperti pendanaan guru bantu dan penyediaan bahan ajar. ”Saya keliling ke dinas pendidikan karena mereka sebenarnya punya pendanaan. Selain itu, mereka juga punya kegiatan yang bisa disinergikan dengan kita,” kata Yuli.

 

Sementara itu, KJRI Sydney menjalankan konsep living classroom. Program ini membawa siswa Australia ke Indonesia untuk mengenal langsung masyarakat dan kehidupan Indonesia. Harapannya, mereka mengenal Indonesia dan menumbuhkan kedekatan.

 

Dua negara bertetangga, seharusnya tak saling asing. Perjuangan menghidupi bahasa Indonesia pun menjadi bagian penting diplomasi. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/mempertahankan-bahasa-indonesia-dari-kepunahan-di-australia?open_from=Internasional_Page  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar