|
Negeri Para Bocil Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 26 Agustus 2026
|
Hampir 450
ribu bocil tinggal di Kabupaten Bogor. Angka itu membuat saya teringat empat
cucu: Asma, Nadira, Gaza, dan Gazi. Tapi di balik kelucuan mereka ada
pertanyaan serius tentang masa depan. Angka statistik boleh jadi lebih
pandai bercerita dari manusia. Ia tidak punya pipi tembem, tidak bisa
merengek minta digendong, apalagi tertawa tanpa alasan. Namun begitu membaca
angka itu, wajah cucu saya langsung muncul di kepala. Empat dari kedelapan cucu --Asma,
Nadira, serta si kembar Gaza dan Gazi-- tinggal di Kabupaten Bogor, kota
hujan di Jawa Barat. Sisanya di Solo dan Depok. Jika mereka sedang berkumpul di
Jakarta, rumah mendadak seperti taman bermain tanpa tombol jeda. Banyak
barang pindah dari tempatnya. Mereka berlari, berebut hal sepele, dan
melepaskan energi yang entah dari mana asalnya. Sebagai kakek, saya menikmati
kekacauan kecil itu. Anak-anak memang mahir mengubah rumah menjadi
laboratorium kehidupan. Mereka belum mengenal teori ekonomi, tetapi sudah
fasih mempraktikkan hukum permintaan. Begitu satu cucu memegang mainan,
lainnya mendadak butuh. Ketika melihat data kependudukan BPS
2026 pagi ini, saya tak lagi melihat sekadar angka. Saya melihat wajah cucu.
Mereka rupanya bagian dari kerumunan raksasa di Bogor: 449.696 anak usia 0–4
tahun. Angka itu menjadikan wilayah ini, dengan sedikit kelakar, sebagai
salah satu “negeri bocil” terbesar di Indonesia. Statistik nasional menunjukkan
Indonesia memiliki 22,63 juta anak usia 0–4 tahun, atau 7,88 persen dari
total 287,2 juta jiwa penduduk. Kelompok ini bahkan menjadi yang terbesar
dari 16 rentang usia yang dipetakan BPS. Jadi, saat ini kita sesungguhnya berada
di tengah 22 juta manusia kecil yang baru mengenal dunia. Mereka belum bisa memilih presiden.
Bahkan belum tentu bisa memilih antara bubur atau nasi goreng. Namun dua
puluh tahun lagi, merekalah yang memilih pemimpin, mengisi pabrik, rumah
sakit, universitas, kantor pemerintahan, pesantren, hingga kursi-kursi yang
sekarang kita duduki. Demografi menegaskan satu hal: tidak
ada generasi yang selamanya memegang panggung utama. Anak-anak ini tidak
tersebar merata. Dari sepuluh daerah dengan anak balita terbanyak, seluruhnya
ada di Jawa. Kabupaten Bogor memimpin dengan 449.696 anak, disusul Kabupaten
Bandung (289.476), Kabupaten Tangerang (258.924), dan Kabupaten Bekasi
(254.970). Di sepuluh kabupaten/kota saja
bermukim 2,54 juta anak—sekitar 11,2 persen dari total nasional. Di sinilah
statistik bergeser menjadi urusan kebijakan publik. Bayangkan, hampir
setengah juta anak di satu kabupaten berarti setengah juta kebutuhan mendesak
yang hadir bersamaan. Mereka butuh imunisasi, gizi, air
bersih, sanitasi, ruang bermain, hingga sekolah PAUD. Kebutuhan ini terus
merambat naik. Hari ini mereka bocil, lima tahun lagi menjadi anak sekolah,
dan dua dekade mendatang memasuki usia produktif. Data balita ini adalah
cuplikan awal dari film demografi masa depan. Kita sering mengelu-elukan bonus
demografi seolah ia paket dari surga yang otomatis menjadikan Indonesia
negara maju. Istilah kerennya, Indonesia emas. Padahal bonus demografi
hanyalah bahan mentah. Bahan itu harus diolah menjadi manusia sehat,
terdidik, terampil, dan produktif. Jika kita gagal menyiapkan mereka,
lonjakan penduduk usia kerja justru berbalik menjadi beban sosial-ekonomi.
Anak yang hari ini kekurangan gizi atau luput dari pendidikan layak bukan
sekadar persoalan hari ini, melainkan ancaman bagi mutu tenaga kerja bangsa
di masa depan. Pemerintah Kabupaten Bogor dan
pemerintah pusat mestinya melihat jauh melampaui kalender anggaran tahunan.
Pertanyaannya bukan cuma berapa PAUD yang ada sekarang, melainkan berapa
sekolah, guru, puskesmas, dan lapangan kerja yang harus disiapkan saat 449.696
bocil ini beranjak dewasa. Dalam publikasi Kabupaten Bogor Dalam
Angka 2024, pencatatan balita usia 0–5 tahun berkisar di angka 234.795 jiwa.
Apapun perbedaan definisi dan metodologinya, satu hal tetap terang: basis
penduduk usia dini di wilayah ini amat besar. Sayangnya, ada paradoks yang
kasatmata. Kita sering mengeluh anak-anak terlalu banyak bermain gawai, namun
daerah kita sendiri makin minim menyediakan ruang bermain di dunia nyata.
Kita sibuk bicara kota pintar, sementara anak-anak butuh trotoar aman yang bebas
dari parkir liar. Kita selalu bangga pada gedung
bertingkat, padahal ruang terbuka hijau sering dihitung sebagai sisa lahan
belakangan. Kita fasih merancang transformasi digital, padahal sebagian anak
masih bergulat dengan gizi buruk dan sanitasi dasar. Teknologi memang penting, tapi seorang
bocil tidak bisa diberi cloud computing sebagai pengganti makanan bergizi.
Kita terlalu bernafsu meresmikan barang mati, tetapi kerap alpa menata
kualitas manusia yang sedang tumbuh. Keputusan para pejabat yang menyusun
APBD, perencana tata ruang, pembangun perumahan, hingga pembuat kebijakan
hari ini —disadari atau tidak— sedang menuliskan jalan hidup ratusan ribu
bocil tersebut. Karena itu, data kependudukan jangan cuma mengendap menjadi
berita sesaat atau dokumen tebal di lemari birokrasi. Pemerintah mestinya punya peta tumbuh
anak yang terbuka: di mana konsentrasi balita terbesar, bagaimana capaian
gizi, berapa kapasitas sekolah dasar, hingga bagaimana proyeksi lapangan
kerjanya kelak. Transparansi data ini penting agar kita bisa mengukur jujur
apa kebijakan publik benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat. Pada akhirnya, angka hampir setengah
juta itu bukan sekadar data statistik mati. Ia mewakili nyawa dan jalan hidup
yang berbeda. Ada anak yang tumbuh di rumah bergelimang buku, ada yang tidur
berdesakan, ada yang setiap pagi diantar ke PAUD, ada yang belum pernah ke
dokter gigi, dan ada yang bermain di pinggir jalan raya. Membaca demografi secara jernih tidak
dimulai dari pertanyaan berapa banyak anak yang kita miliki, melainkan
manusia seperti apa yang sedang kita bentuk. Indonesia punya 22,63 juta anak
yang sedang tumbuh, dan Kabupaten Bogor menampung hampir 450 ribu di
antaranya. Saya pribadi punya empat alasan kecil
untuk tidak pernah menganggap sepele data ini: Asma, Nadira, Gaza, dan Gazi.
Mereka mungkin saat ini hanya sibuk berlari, tertawa, dan membuat kakeknya
kewalahan. Namun diam-diam, di pundak kecil mereka, masa depan bangsa ini
sedang dititipkan. Tugas kebijakan negara adalah
memastikan keadilan itu hadir, merawat mereka menjadi manusia bermartabat. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar