|
Bisakah
Kata Teknik Diganti Rekayasa Joko Priyono
: Fisikawan partikelir, menulis buku Sekadar
Mengamati: Tentang Anak, Bacaan, dan Keilmuan (2022) dan Bersandar pada Sains
(2022) |
TEMPO MINGGUAN, 23 Agustus 2026
|
· Perubahan penamaan program studi teknik
menjadi rekayasa ramai dibahas warganet. · Perbincangan yang menguar tak lepas
dari rasa kurang sreg atas perubahan teknik menjadi rekayasa. · Lema teknik dalam sejarah menjadi
penanda penting pada abad ke-20, saat di Hindia Belanda didirikan sekolah
tinggi teknik pertama. MESKI
tidak wajib, perubahan penamaan program studi teknik menjadi rekayasa menarik
ditelaah secara linguistik. Perubahan itu berdasarkan Keputusan Direktur
Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 96/B/KPT/2025 tentang Nama Program Studi
pada Jenis Pendidikan Akademik dan Pendidikan Profesi. Lema
teknik dalam sejarah menjadi penanda penting pada abad ke-20, saat di Hindia
Belanda didirikan sekolah tinggi teknik pertama, Technische Hoogeschool te
Bandung, pada 13 Juli 1920—yang kemudian hari dikenal sebagai Institut
Teknologi Bandung. Meski
demikian, pembabaran teknik di masa kolonial cukup pelik. Istilah itu memuat
keterhubungan ilmu dan teknologi (iltek), yang memang baru berkembang pada
dekade awal abad ke-20. Ini juga ditopang dengan pengembangan sekolah
kejuruan ataupun kursus teknik, seperti pengerjaan kayu, logam, mekanik
otomotif, dan listrik. Jérôme Samuel menjelaskan secara detail lewat esai
“Penerjemahan Ilmu dan Teknologi di Indonesia” dalam bunga rampai berjudul
Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia (2009). Ia
menegaskan, secara kuantitatif, jumlah terjemahan teks ilmu dan teknologi di
dunia Melayu sedikit dibanding negara lain di Asia. “Memang usaha-usaha awal
penerjemahan iltek Barat dalam bahasa-bahasa besar di Asia dan Timur Tengah
dimulai pada abad ke-17, sedangkan di dunia Melayu arus masuk teks iltek
dengan spesialisasi yang setara terjadi 100 sampai 150 tahun kemudian atau
lebih,” Samuel menerangkan. Di tanah
jajahan, Belanda menganggap urusan teknik itu penting. Pengaruh bahasa
Belanda sangatlah lekat dalam sejarah bahasa Indonesia. Para linguis
Indonesia pada 1942 membentuk komisi istilah di bawah pimpinan Sutan Takdir
Alisjahbana. Salah satu kerja tersebut membuahkan kamus ilmu teknik pertama
dalam bahasa Indonesia berupa Kamoes Istilah sejumlah dua jilid. Dalam kamus
tersebut, kita bisa menemukan lema techniek diartikan sebagai téknik. W.J.S.
Poerwadarminta menerbitkan Kamus Umum Bahasa Indonesia pada 1952. Sebagai
batang tubuh perkembangan bahasa Indonesia, lema téknik dimasukkan
Poerwadarminta dengan keterangan: (1) hal mengerdjakan (mengatur dsb) segala
sesuatu jg perlu untuk membuat sesuatu (hasil kesenian dsb), (2) peladjaran
dan pengetahuan tt aturan (hukum dsb) jg berkenaan dng kesenian (spt karang
mengarang, lukis-melukis dsb), dan (3) kepandaian membuat sesuatu jg
berkenaan dng hasil keradjinan (membuat bangun-bangunan dsb). Tak jauh
dari itu, beberapa kalangan partikelir yang bekerja di perusahaan kereta api
menyusun Kamus Istilah Teknik, masing-masing Bahasa Belanda-Bahasa Indonesia
(1950) dan Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia (1952). Kamus itu memuat beragam
istilah dalam keilmuan teknik yang berguna di bidang pendidikan dan industri.
Itu sekaligus menegaskan upaya perjuangan bahasa Indonesia menuju arah bahasa
keilmuan. Bagaimana
keterhubungannya dengan rekayasa? Lema itu memang sudah lama mendekam dalam
kamus, misalnya dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994) yang disusun Sutan
Mohammad Zain dan J.S. Badudu. Dalam kamus, mereka mengartikan rekayasa
sebagai “penerapan kaidah-kaidah ilmu (terutama ilmu teknik) dl pelaksanaan
pekerjaan mulai dr perencanaan, pembuatan konstruksi bangunan, peralatannya,
dll”. Ada
semacam persaingan antara lema teknik dan rekayasa, meski jika ditilik dalam
sejarah sejak zaman kolonialisme, kita akan merasa bahwa keduanya tak bisa
disamakan. Lema rekayasa yang diajukan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains,
dan Teknologi agaknya tak lepas dari perubahan di abad ke-21. Ini mengingat
rekayasa adalah serapan dari bahasa Inggris, engineering. Pengarusutamaan
lema rekayasa kelihatannya juga tak lepas dari gagasan STEM (Science,
Technology, Engineering, and Mathematics) yang diajukan Presiden Qualcomm Inc
Harvey White, yang kemudian pada 2007, di Amerika Serikat, secara perundangan
disahkan Presiden George W. Bush. Butuh keterlibatan ilmu kemanusiaan dan
kesenian. Kemudian STEM diubah menjadi STEAM (Science, Technology,
Engineering, Arts, and Mathematics). Beberapa
kalangan di Indonesia memadankannya dengan TRIMS (Teknologi, Rekayasa, Ilmu
Pengetahuan, Matematika, dan Seni). Meski begitu, masih banyak pula yang
kenes menggunakan STEM, walaupun gagasan itu sejatinya sudah direvisi menjadi
STEAM. Persaingan
antara lema teknik dan rekayasa kemudian bertransformasi menggantikannya. Itu
juga diperkuat gagasan pengembangan program studi pada relevansi industri.
Naga-naganya memang lema teknik kelak akan lenyap ditelan zaman dan mungkin
diikuti sejarah penting yang pernah tertulis. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/perubahan-teknik-menjadi-rekayasa-2283341
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar