|
Pengangguran Sarjana: Ada Apa dengan Negeri Ini? Odemus Bei
Witono : Direktur Perkumpulan Strada,
Mahasiswa Doktoral Filsafat STF Driyarkara Jakarta. |
KUMPARAN, 21 Agustus 2026
|
Satu juta sarjana
menganggur. Bayangkan jika mereka semua bekerja. Berapa besar energi ekonomi
yang sedang kita biarkan mengendap? Setiap tahun perguruan
tinggi meluluskan manusia-manusia terdidik dari berbagai disiplin ilmu.
Mereka membawa ijazah, pengetahuan, keterampilan, dan harapan untuk memasuki
kehidupan produktif. Wisuda semestinya menjadi pintu menuju dunia kerja. Namun, bagi sebagian
lulusan, wisuda justru menjadi awal masa tunggu: mengirim lamaran, mengikuti
seleksi, menunggu panggilan, dan menghadapi penolakan. Sebagian lainnya
bekerja, tetapi tidak sesuai dengan pendidikan dan kompetensinya. Di sinilah pertanyaan
penting perlu diajukan: ada apa dengan negeri ini ketika pendidikan tinggi
tidak selalu berujung pada produktivitas? Bayangkan, sebagai
ilustrasi, ada satu juta sarjana yang belum bekerja. Jika setiap sarjana yang
bekerja hanya menghasilkan nilai ekonomi Rp2.000 per hari, satu juta orang
itu berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi Rp2 miliar setiap hari. Dalam
sebulan sekitar Rp60 miliar, dan setahun mencapai Rp730 miliar. Angka Rp2.000 tentu
sangat kecil dan hanya ilustrasi. Produktivitas seorang sarjana sesungguhnya
jauh lebih besar dan tidak selalu dapat dihitung dengan uang. Seorang guru
membentuk manusia, insinyur merancang teknologi, dokter menyelamatkan
kehidupan, programmer membangun sistem, peneliti menghasilkan pengetahuan,
dan wirausahawan menciptakan usaha sekaligus lapangan kerja. Karena itu, pengangguran
sarjana bukan sekadar persoalan individu. Ia adalah potensi produktif bangsa
yang belum bergerak. Ketika Satu Juta Sarjana
Bekerja Bayangkan keadaan
sebaliknya. Satu juta sarjana itu bekerja sebagai guru, tenaga kesehatan,
insinyur, pekerja industri, profesional digital, pelaku ekonomi kreatif,
petani modern, pengusaha, peneliti, dan berbagai profesi lainnya. Mereka memperoleh
pendapatan. Pendapatan itu digunakan untuk membeli makanan, membayar
transportasi, menggunakan jasa, membiayai pendidikan, menabung, dan
berinvestasi. Warung mendapatkan pembeli, produsen mendapatkan pasar,
perusahaan meningkatkan produksi, pengusaha membutuhkan pekerja baru, dan
investasi bergerak. Satu orang bekerja tidak
hanya menghidupi dirinya sendiri. Ia menghidupkan aktivitas ekonomi di
sekitarnya. Inilah yang sering luput
ketika pengangguran hanya dibicarakan sebagai angka statistik. Pengangguran
adalah persoalan ekonomi sekaligus pendidikan. Negara tidak cukup hanya
mencetak sarjana. Negara perlu menciptakan ekosistem yang memungkinkan
manusia terdidik menjadi produktif. Paradigma “kuliah agar mudah mendapatkan
pekerjaan” perlu diperbarui menjadi: pendidikan agar manusia mampu menjadi
produktif, baik sebagai pekerja maupun pencipta pekerjaan. Membenahi Faktor
Eksternal Pengangguran sarjana
memiliki dua sisi yang harus ditangani bersamaan: eksternal dan internal. Dari sisi eksternal,
negara dan dilengkapi masyarakat harus menciptakan lapangan kerja.
Pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka makroekonomi, tetapi
sungguh terasa dalam bentuk kesempatan kerja. Investasi harus menghasilkan
kegiatan ekonomi, industri bertumbuh, dunia usaha membutuhkan kepastian, dan
infrastruktur diharapkan mendukung produktivitas. Tidak kalah penting,
yakni daya beli masyarakat. Ketika masyarakat memiliki kemampuan membeli,
permintaan meningkat. Dunia usaha meningkatkan produksi, dan produksi
membutuhkan tenaga kerja. Karena itu, memperkuat daya beli dapat menjadi
salah satu pintu masuk penciptaan lapangan kerja. Negara juga perlu
mendorong sektor yang menyerap tenaga kerja sekaligus membuka ruang bagi
tenaga terdidik: manufaktur, pangan, kesehatan, pariwisata, ekonomi kreatif,
teknologi digital, energi, dan industri berbasis pengetahuan. Namun demikian, persoalan
tidak seluruhnya berada di luar diri para sarjana. Gelar sarjana tidak
otomatis membuat seseorang siap bekerja. Dunia kerja membutuhkan kemampuan
berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, memecahkan masalah,
beradaptasi, menggunakan teknologi, belajar sepanjang hayat, dan memiliki
integritas. Perguruan tinggi tidak
boleh hanya bertanya berapa banyak mahasiswa yang lulus. Pertanyaan yang
lebih penting adalah: apa yang dapat dilakukan lulusan setelah mereka lulus? Apakah mereka mampu
bekerja? Menciptakan sesuatu? Menyelesaikan persoalan? Beradaptasi ketika
teknologi berubah? Bahkan membuat lapangan kerja baru? Budaya kerja juga perlu
dibangun sejak dini. Anak muda perlu dibiasakan memiliki disiplin, tanggung
jawab, ketekunan, kemandirian, kreativitas, dan keberanian mengambil
inisiatif. Pendidikan tidak boleh
hanya menghasilkan manusia yang pandai mencari pekerjaan. Pendidikan harus
menghasilkan manusia yang mampu menciptakan nilai. Dari Pencari Kerja
Menjadi Pencipta Kerja Di sinilah pendidikan
kewirausahaan penting. Kewirausahaan bukan sekadar menjual produk atau
membuka toko. Ia adalah kemampuan melihat persoalan sebagai peluang,
menemukan solusi, mengambil inisiatif, menciptakan nilai, dan berani
menghadapi risiko. Seorang sarjana tidak
harus selalu menunggu lowongan. Ia dapat membuat usaha, mengembangkan
teknologi, membuka jasa profesional, mengolah potensi desa, membangun ekonomi
kreatif, mengembangkan pertanian berbasis teknologi, atau menciptakan bentuk
pekerjaan baru. Namun, tidak semua
sarjana mesti menjadi pengusaha. Masyarakat tetap membutuhkan guru, peneliti,
perawat, teknisi, pekerja industri, dan berbagai profesi lainnya. Yang kita perlukan adalah
manusia yang produktif dan adaptif. Pendidikan Harus Kembali
kepada Manusia Pada titik ini,
pendidikan humanistik menjadi penting. Pendidikan bukan hanya soal
mendapatkan pekerjaan, tetapi membentuk manusia agar mampu mengembangkan
dirinya dan memberikan sumbangan bagi kehidupan bersama. Kompetensi dan karakter
tidak boleh dipisahkan. Sarjana yang cerdas tanpa integritas dapat menjadi
persoalan. Sarjana yang terampil tanpa tanggung jawab sosial juga berbahaya.
Sebaliknya, karakter tanpa kompetensi sulit menjawab kompleksitas dunia
kerja. Kita membutuhkan manusia
yang kompeten sekaligus berkarakter. Terlebih pada era
kecerdasan buatan. Teknologi akan semakin mengambil alih pekerjaan rutin.
Pendidikan justru harus semakin kuat mengembangkan kualitas manusia yang
sulit digantikan mesin: kreativitas, empati, penilaian etis, kemampuan
berkolaborasi, tanggung jawab, dan kemampuan menemukan makna. Jangan Biarkan Potensi
Menjadi Angka Pengangguran sarjana
tidak dapat diselesaikan dengan menunjuk satu pihak sebagai kambing hitam.
Pemerintah dan masyarakat mapan diharapkan mampu berkolaborasi menciptakan
lapangan pekerjaan. Dunia usaha membuka ruang bagi tenaga muda. Perguruan
tinggi memperkuat relevansi pendidikan. Para sarjana terus mengembangkan
kompetensi, karakter, dan keberanian menciptakan peluang. Solusinya bergerak dari
dua arah. Dari luar: ciptakan
lapangan pekerjaan, dorong investasi, perkuat industri, dan tingkatkan daya
beli. Dari dalam: bangun budaya
kerja, kuatkan karakter, tingkatkan keterampilan, tumbuhkan kreativitas, dan
kembangkan kemampuan beradaptasi. Sebab, persoalannya bukan
semata-mata berapa banyak sarjana yang menganggur. Persoalan yang lebih besar
adalah berapa banyak potensi manusia yang gagal kita ubah menjadi kekuatan
produktif bangsa. Bayangkan jika satu juta
sarjana benar-benar bekerja. Mereka tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi
dirinya sendiri, tetapi menggerakkan konsumsi, produksi, jasa, investasi,
inovasi, dan lapangan kerja baru. Roda ekonomi akan
berputar lebih cepat. Karena itu, pertanyaan
kita bukan hanya, “Kapan sarjana mendapatkan pekerjaan?” Pertanyaan yang lebih
mendasar adalah: “Kapan negeri ini mampu
mengubah manusia-manusia terdidiknya menjadi kekuatan produktif bagi bangsa?” Sebab, sarjana yang
menganggur bukan hanya kehilangan pekerjaan. Bangsa sedang kehilangan
kesempatan untuk bergerak lebih cepat. ● Sumber : https://kumparan.com/beiwitono/pengangguran-sarjana-ada-apa-dengan-negeri-ini-281n91Gkvwx/full |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar