|
Seni Tempur Kesatria Cahaya Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 23 Agustus 2026
|
Prabowo
pernah menunjukkan kepada publik buku yang paling menginspirasinya.
Menariknya, isi buku itu seperti menyediakan peta untuk membaca perjalanan
politiknya. Kalau seseorang ingin memahami Prabowo
Subianto, mungkin kita tak harus mulai dari pidato politiknya. Bisa jadi kita
justru perlu membuka buku yang pernah ia rekomendasikan dibaca anak-anak
muda. Buku itu The Warrior of the Light
karya Paulo Coelho. Versi Indonesianya, Kitab Suci Kesatria Cahaya, sudah
lama terbit. Judulnya terdengar sangat Prabowo — warrior, cahaya, perjuangan.
Tapi isinya ternyata lebih rumit.
Kesatria Cahaya tidak diajari untuk selalu menyerang. Ia diajari memilih
pertempuran, mendengarkan lawan, dan memanfaatkan kekuatan lawan. Dan, ini yang paling menarik, ia
menghunus pedang hanya jika benar-benar perlu. Dalam suatu wawancara dengan Najwa
Shihab, suatu kali Prabowo menyebut Kitab Suci Kesatria Cahaya sebagai buku
yang paling berpengaruh pada dirinya. Buku itu, katanya, “tidak tebal,
ringkas, namun penuh pelajaran yang membangkitkan semangat.” Ia bahkan
merekomendasikannya kepada anak-anak muda yang ingin maju dan sukses. Pernyataan itu menjadi lebih menarik
karena Prabowo sendiri memberi petunjuk tentang cara membaca dirinya melalui
buku tersebut. Dan satu buku lain tentang dirinya tersedia sebagai pembanding Di buku Kepemimpinan Militer: Catatan
dari Pengalaman Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto terbitan 2021, ia
menyebut Kitab Suci Kesatria Cahaya pada bagian yang membicarakan gambaran
dirinya. Seorang pengulas buku itu bahkan
menempatkannya di halaman 473, setelah uraian panjang tentang sosok pemimpin
yang berani, penuh perhitungan, berani mengambil keputusan tidak populer, dan
merupakan perpaduan a man of action dengan a man of intellect. Maka, membaca Kitab Suci Kesatria
Cahaya bersama pengalaman politik Prabowo bukan sekadar permainan
mencocok-cocokkan kutipan dengan peristiwa. Ada semacam peta yang bisa
disusun. Kita bisa melihat, nilai apa yang
tampaknya ia serap, bagaimana nilai itu muncul dalam sikap politiknya, dan di
mana perilakunya justru masih harus diuji oleh tuntutan menjadi presiden. Sebab, sebuah buku yang berpengaruh
tidak otomatis menjadikan pembacanya sebagai tokoh ideal buku tersebut. Buku
adalah kompas, yang berguna bagi manusia yang kerap bisa salah membaca arah. Mari kita masuk ke poin-poin penting
yang saya ekstrak dari Kitab Suci Kesatria Cahaya, dan memproyeksikannya ke
laku dan tindakan Prabowo. Dengan demikian, buku itu tampak membumi. Pertama: kegagalan bukan alasan untuk
berhenti. Salah satu inti Kitab Suci Kesatria
Cahaya adalah cara memandang kegagalan. Kesatria Cahaya bukan manusia tanpa
luka. Ia justru menjadi kesatria karena pernah takut, pernah keliru, pernah
jatuh, bahkan pernah merasa hidupnya kehilangan makna. Dalam buku itu ditegaskan bahwa para
kesatria cahaya “pernah gagal”, terus bertanya, terus mencari makna, dan
akhirnya menemukannya. Di sinilah kisah politik Prabowo
terasa sangat dekat dengan arketipe Coelho. Ia kalah dalam Pilpres 2014 dan
2019 sebelum akhirnya memenangkan Pilpres 2024. Kekalahan dalam politik Indonesia
bukan perkara kecil. Di dalamnya ada biaya politik, luka pribadi, ejekan,
perpecahan pendukung, dan godaan untuk menyimpulkan bahwa pintu telah
tertutup. Tapi Prabowo tetap kembali ke gelanggang. Bahkan jauh sebelum kemenangan 2024,
ia berkali-kali berbicara tentang kegagalan sebagai bagian dari perjalanan.
Dalam kerangka Kitab Suci Kesatria Cahaya, kegagalan tidak diperlakukan
sebagai identitas. Orang boleh kalah dalam sebuah pertempuran, tapi kekalahan
itu tidak harus menjadi kekalahan seluruh hidup. Itulah mungkin salah satu bagian
paling konkret dari “Kesatria Cahaya” dalam Prabowo, yakni persistensi. Ia tidak membiarkan hasil satu
pertempuran menentukan seluruh arah hidupnya. Yang menarik, sikap itu
akhirnya membawanya bukan sekadar memenangkan pemilu, tapi sampai ke kursi
yang selama bertahun-tahun ia kejar. Tapi di sini ada satu catatan penting.
Dalam filsafat Coelho, ketekunan bukan keras kepala. Kesatria harus mampu
membedakan kapan terus maju dan kapan mengubah cara. Buku Kitab Suci Kesatria Cahaya bahkan
mengajarkan bahwa kegigihan harus dibedakan dari kebekuan. Sungai tetap
menuju laut, tapi ia tidak memaksa menembus batu. Ia mengalir mengitarinya. Prabowo pun mengalami perubahan
strategi. Dari oposisi keras terhadap pemerintahan Jokowi, ia kemudian
memilih rekonsiliasi dan masuk ke pemerintahan sebagai Menteri Pertahanan. Setelah memenangkan Pilpres 2024, ia
melanjutkan politik koalisi yang jauh lebih luas. Dalam perspektif Kitab Suci
Kesatria Cahaya, ini bisa dibaca bukan sebagai menyerah kepada lawan,
melainkan sebagai perubahan medan untuk mencapai tujuan yang dianggap lebih
besar. Kedua: kesatria tidak harus bertempur
setiap kali menemukan lawan. Ini barangkali salah satu bagian
paling menarik jika Kitab Suci Kesatria Cahaya dibaca melalui perjalanan
Prabowo. Judul bukunya memang memakai kata warrior, kesatria. Ada pedang,
pertempuran, musuh, keberanian. Tapi kesatria Coelho bukan orang yang
mabuk perang. Justru sebaliknya. Ketika pertikaian tidak terhindarkan, ia
berbicara kepada lawannya, berusaha memahami mengapa lawannya ingin
bertempur, dan baru bertempur jika benar-benar diperlukan. Kalimat kuncinya sederhana: > “Dia hanya bertempur jika
benar-benar perlu.” Itu penting karena Prabowo berasal
dari dunia yang sangat akrab dengan bahasa kekuatan. Ia mantan perwira
Kopassus, berbicara tentang pertahanan, kedaulatan, strategi, dan kekuatan
militer. Tapi menariknya, dalam buku
Kepemimpinan Militer, ia juga mengagumi tokoh-tokoh yang memilih menghindari
pertempuran ketika kepentingan yang lebih besar dapat dicapai melalui kerja
sama. Ia, misalnya, mengisahkan Zhuge Liang
yang melepaskan musuh yang telah dikalahkannya sampai musuh itu kemudian
berubah menjadi pendukung. Ia juga mengagumi Toyotomi Hideyoshi
dan Tokugawa Ieyasu yang memilih bekerja sama daripada meneruskan perang. Abraham Lincoln bahkan dijadikannya
contoh karena mampu mengangkat rival politik yang pernah menyerangnya menjadi
anggota kabinet ketika kapasitas orang itu dibutuhkan negara. Di sinilah politik rekonsiliasi
Prabowo menjadi lebih menarik dari sekadar istilah “koalisi”. Setelah dua
kali bertarung keras melawan Jokowi, Prabowo justru menjadi Menteri
Pertahanan dalam pemerintahan Jokowi. Setelah itu, hubungan politik mereka
berlanjut sampai Prabowo memenangkan Pilpres 2024 dengan Gibran Rakabuming
Raka sebagai calon wakil presidennya. Proses transisi itu bahkan berlangsung
relatif mulus, dengan sejumlah figur yang dekat dengan pemerintahan Jokowi
ikut berada dalam orbit pemerintahan baru. Kalau dibaca melalui Coelho, logikanya
kira-kira begini. Musuh dalam satu pertempuran tidak harus menjadi musuh
sepanjang hidup. Ini bukan kelembutan yang lemah.
Justru diperlukan kekuatan tertentu untuk berhenti memelihara dendam. Ketiga: ketegasan harus mempunyai
pasangan bernama belas kasihan. Di halaman 47 Kitab Suci Kesatria
Cahaya, Coelho menulis: > “Kesatria cahaya selalu menjaga
keseimbangan antara ketegasan dan belas kasihan.” Bagi saya, ini salah satu kunci
terpenting untuk memahami Prabowo sekaligus mengujinya. Prabowo dikenal sebagai figur yang
tegas. Bahasa politiknya sering menggunakan kata-kata seperti disiplin,
keberanian, kekuatan, kedaulatan, swasembada, ketahanan, dan kepentingan
nasional. Tapi Kitab Suci Kesatria Cahaya
mengingatkan bahwa ketegasan tanpa belas kasihan dapat berubah menjadi
kekerasan. Sebaliknya, belas kasihan tanpa ketegasan dapat berubah menjadi
kelemahan. Menariknya, orientasi sosial-ekonomi
pemerintahan Prabowo dapat dibaca dari sisi ini. Program Makan Bergizi
Gratis, misalnya, ia tidak gambarkan hanya sebagai program pemberian makanan.
Pemerintah menyebutnya sebagai
investasi untuk membangun generasi sehat sekaligus menggerakkan ekonomi desa.
Pada Februari 2026, pemerintah mengakui program itu telah menjangkau lebih
dari 60 juta penerima manfaat. Semoga benar. Pada Juni 2026, pemerintah bahkan
menghubungkan MBG dengan penguatan pendidikan karakter dan tujuh Kebiasaan
Indonesia Hebat. Tapi belakangan, ini tak terdengar gemanya. Terlepas dari perdebatan mengenai
desain, biaya, kualitas pelaksanaan, pengawasan, dan efektivitas program
tersebut, secara gagasan ada sesuatu yang menarik. Prabowo menerjemahkan
kekuatan negara menjadi sesuatu yang masuk ke perut anak-anak. Ini jauh lebih dekat dengan “kesatria”
Coelho ketimbang sekadar parade senjata. Negara yang kuat bukan hanya negara
yang mempunyai tank. Negara yang kuat adalah negara yang mampu membuat anak
miskin makan cukup sebelum belajar matematika. Keempat: kesatria harus mampu
memanfaatkan kekuatan lawannya. Coelho menulis bahwa kesatria tidak
hanya mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia belajar memanfaatkan energi lawan
dan mengubah pukulan lawan menjadi pelajaran. Ini sangat dekat dengan pola pikir
strategis yang tampak dalam Kepemimpinan Militer. Prabowo tidak hanya
menampilkan tokoh yang menang karena keberanian fisik. Ia justru berkali-kali
mengangkat kemampuan membaca situasi, memilih waktu, memahami lawan, dan
menggunakan strategi. Buku Coelho bahkan merumuskan lima
unsur pertempuran: iman, sahabat, waktu, ruang, dan strategi. Tidak seorang pun menang sendirian.
Waktu harus dipilih; medan harus diperhitungkan; dan pertempuran harus
direncanakan. Dalam politik, penerapannya tampak
pada perubahan Prabowo dari seorang kandidat yang sangat mengandalkan
identitas oposisi menjadi seorang pemimpin yang membangun koalisi luas. Ia belajar bahwa setelah memenangkan
pemilu, persoalannya bukan lagi bagaimana mengalahkan lawan, melainkan
bagaimana mengelola negara dengan orang-orang yang sebelumnya berbeda posisi. Dalam bahasa yang lebih sederhana:
berkampanye membutuhkan kemampuan memenangkan suara; memerintah membutuhkan
kemampuan memenangkan kerja sama. Itu dua keterampilan yang berbeda. Kelima: kesatria tahu kapan harus
bicara dan kapan harus diam. Coelho juga menggambarkan kesatria
yang tidak menghamburkan energi untuk menjawab setiap ejekan. Ketika
kekalahan datang, ia memilih bertahan, bersabar, dan tidak membicarakan
kekalahannya. Ada kemiripan dengan perubahan gaya
Prabowo sepanjang perjalanan politiknya. Ia yang dulu sering menjadi pusat
konflik politik kemudian tampil dengan gaya yang lebih cair. Bahkan setelah
memenangkan pemilu, ia berusaha mengubah bahasa kompetisi menjadi bahasa
persatuan. Tetapi prinsip ini sekaligus menjadi
tantangan besar bagi seorang presiden. Diam tidak selalu berarti bijaksana. Dalam pemerintahan demokratis, ada
saatnya pemimpin harus menjelaskan, membuka data, menerima kritik, dan
mempertanggungjawabkan keputusan. Kesatria Cahaya bukan orang yang kebal
terhadap pertanyaan. Justru ia terus bertanya kepada dirinya sendiri apakah
yang dilakukannya merupakan “Pertempuran yang Baik”. Setelah pertempuran
selesai, ia memeriksa hatinya. Jika gagal, ia kembali berlatih. Di sini Kitab Suci Kesatria Cahaya
memberikan ukuran yang lebih tinggi daripada sekadar popularitas: pemimpin
harus sanggup mengoreksi dirinya sendiri. Keenam: kesatria membutuhkan kawan,
bukan hanya pengikut. Pada halaman 128, Coelho mengingatkan
bahwa kesatria tidak masuk ke pertempuran tanpa mengetahui kemampuan
sekutunya. Ia menyambut orang baru dengan baik, tapi tidak gegabah
mempercayainya sebelum mengetahui pula kelemahannya. Ini cocok dengan salah satu gagasan
Prabowo dalam Kepemimpinan Militer. Baginya, pemimpin bukan sekadar orang
yang mempunyai jabatan. Pemimpin harus memberi contoh,
memberikan manfaat kepada pengikut, mampu melakukan apa yang diajarkannya,
berhati-hati dalam bicara, menepati janji, dan memiliki kemampuan
profesional. Karena itu, salah satu ujian terbesar
kepemimpinan Prabowo bukan lagi keberaniannya menghadapi musuh politik. Ia
sudah melewati itu. Ujian berikutnya adalah kemampuannya memilih dan
mengendalikan orang-orang di sekelilingnya. Ini yang kerap kita lihat bermasalah.
Sejumlah orang pilihannya bermasalah, bahkan hingga diduga terlibat korupsi. Menurut Coelho, kesatria yang salah
memilih kawan dapat kalah bukan karena musuhnya hebat, melainkan karena
pasukannya sendiri tidak tahu ke mana harus berjalan. Ketujuh: kemenangan bukan tujuan
terakhir. Coelho mempunyai gagasan yang menarik.
Baginya, kesatria merayakan kemenangan bukan semata-mata karena ia telah
menang, melainkan karena kemenangan memberinya kepercayaan diri untuk
menghadapi pertempuran berikutnya. Maka kemenangan elektoral Prabowo 2024
seharusnya tidak dibaca sebagai akhir dari perjalanan Kitab Suci Kesatria
Cahaya. Justru sebaliknya. Pemilu hanyalah satu pertempuran. Pertempuran yang sesungguhnya adalah
kemiskinan, ketimpangan, pendidikan yang belum merata, kualitas kesehatan,
produktivitas, korupsi, birokrasi, ketergantungan pangan dan energi, serta
posisi Indonesia di tengah persaingan negara-negara besar. Dalam konteks itu, politik luar negeri
Prabowo juga menarik. Pemerintah Indonesia di bawahnya aktif mendorong
penyelesaian damai berbagai konflik. Dalam berbagai forum diplomasi
internasional, Prabowo menyerukan solusi damai untuk Gaza dan konflik
Israel-Iran, termasuk gencatan senjata dan negosiasi. Pada Sidang Majelis Umum PBB September
2025, misalnya, ia kembali menegaskan dukungan Indonesia terhadap solusi dua
negara bagi Palestina dan Israel. Ini menarik karena seorang mantan
prajurit yang sangat memahami perang justru membawa bahasa diplomasi:
negosiasi, perdamaian, gencatan senjata, kerja sama. Barangkali memang ada paradoks di
sini. Orang yang paling memahami harga perang kadang justru lebih tahu
mengapa perang harus menjadi pilihan terakhir. Itulah salah satu paradoks paling
menarik dari Kitab Suci Kesatria Cahaya. Kesatria bukan orang yang selalu
menghunus pedang. Ia adalah orang yang tahu kapan pedang harus tetap berada
di sarungnya. Namun tentu saja, kita tidak boleh
menjadikan buku Paulo Coelho sebagai “kunci rahasia” yang menjelaskan seluruh
Prabowo. Manusia jauh lebih rumit daripada 150 halaman buku motivasional. Prabowo dibentuk oleh keluarga,
pendidikan, militer, sejarah Orde Baru, pengalaman politik, kekalahan,
kemenangan, lingkungan internasional, dan tentu saja oleh kepentingan politik
yang berubah bersama zaman. Bahkan Coelho sendiri membuat Kesatria
Cahaya sebagai sosok yang penuh kontradiksi. Ia bisa takut, ragu, salah,
terluka, bahkan kehilangan arah. Kesatria tidak sempurna. Justru karena
itulah ia terus mencari makna. Karena itu, rekonstruksi paling
menarik tentang Prabowo bukanlah mengatakan, “Inilah Prabowo karena ia
membaca Paulo Coelho.” Itu terlalu sederhana. Rekonstruksi yang lebih masuk akal
adalah: ada sejumlah prinsip dalam buku itu yang dapat membantu kita membaca
pola tertentu dalam perjalanan Prabowo. Kegigihan menghadapi kekalahan tampak
pada perjalanan politiknya. Adaptasi terhadap medan tampak pada perubahan
strategi. Kemampuan berdamai dengan rival tampak pada rekonsiliasi politik. Penggunaan kekuatan untuk tujuan
sosialnya tampak dalam agenda pembangunan manusia seperti MBG. Diplomasi dan
negosiasi tampak dalam sejumlah sikap luar negerinya. Dan gagasan tentang
pemimpin sebagai teladan sudah ia rumuskan sendiri dalam Kepemimpinan Militer. Tapi ada satu bab dari Kitab Suci
Kesatria Cahaya yang justru paling
penting bagi seorang presiden: kemampuan mengoreksi diri. Seorang kesatria tidak hanya bertanya,
“Apakah saya menang?” Ia juga bertanya, “Apakah pertempuran yang saya lakukan
memang benar?” Pertanyaan itu jauh lebih berat.
Karena seorang kandidat cukup memenangkan pemilu. Seorang presiden harus
memenangkan sesuatu yang jauh lebih sulit, yaitu kepercayaan sejarah. Prabowo sudah mendapatkan mandat
rakyat. Sekarang ia menghadapi medan yang berbeda. Ia tidak lagi berhadapan dengan
pasangan calon dalam debat, baliho lawan, atau kampanye lima tahunan. Ia
berhadapan dengan waktu, anggaran negara, birokrasi, kemiskinan,
ketidakadilan, kualitas manusia, dan masa depan 280 juta lebih penduduk. Di situlah Kitab Suci Kesatria Cahaya
berubah dari buku motivasi menjadi semacam cermin politik. Sebab seorang kesatria yang baik bukan
yang paling sering menang. Ia adalah orang yang setelah menang masih mampu
bertanya apakah kemenangan itu membawa cahaya kepada orang lain. Dan mungkin di situlah makna terdalam
pilihan Prabowo terhadap buku Paulo Coelho tersebut. Ia tidak sedang memilih
buku tentang cara menjadi kuat. Ia sedang memilih buku tentang bagaimana
kekuatan seharusnya digunakan. Pedang memang penting bagi seorang
kesatria. Tapi yang lebih penting adalah tangan yang memegangnya. Dan yang lebih penting lagi: alasan
mengapa tangan itu memilih untuk menghunuskannya. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar