|
Life Begins Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 26 Agustus 2026
Di samping ada
Muktamar NU dan seminar kebangsaan oleh paguyuban suku Hakka di Indonesia, hari
ini --26 Agustus-- adalah ulang tahun emas PT Dirgantara Indonesia (PT DI).
Saya ingin merayakan secara khusus ultah ke-50 PT DI itu lewat tulisan hari
ini.
Sebenarnya ada
satu lagi peristiwa hari ini: seorang peserta muktamar Disway kehabisan listrik
di jalan tol Caruban arah Jakarta. Ia derek Denza itu. Hari ini ia harus ke
dilernya: kenapa begitu.
Tentu yang
terpenting dari semua itu adalah HUT PT DI. Bisa jadi ulang tahun kali ini
sebagai penanda kebangkitan PTDI --lewat produk baru kebanggaannya: N219.
Pesawat untuk 19 penumpang itu dibuat sepenuhnya di Bandung. Oleh anak-anak
bangsa sendiri. Mulai desain sampai jadi pesawat.
"Tidak
satu pun ada keterlibatan orang asing," ujar Gita Amperiawan, dirut PTDI
dengan penuh semangat.
Gita adalah
jenderal bintang dua TNI Angkatan Udara. Marsekal Muda. Gita bukan jenderal
biasa. Ia alumnus teknik mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), angkatan 1985.
Di tahun keempatnya di ITB pun Gita sudah dinyatakan lulus tes beasiswa TNI-AU.
Boleh dikata Gita adalah mahasiswa yang sudah "diijon" sebelum lulus.
Maka Gita harus
"cuti" kuliah: satu semester. Gita harus mengikuti pendidikan militer
di Bumimoro, Surabaya. Setelah itu balik lagi ke ITB sampai lulus. Lalu dapat
beasiswa BJ Habibie untuk melanjutkan S-2 di Inggris. Di bidang ilmu material
canggih kedirgantaraan.
Sambil terus
berkarir di TNI-AU Gita mendapatkan beasiswa lanjutan. Juga di Cranfield
University, Inggris. Yakni untuk program doktor teknik mesin pesawat.
Disertasinya tentang pengendalian suhu panas untuk keandalan turbin.
Saya
membuka-buka jurnal ilmiah: begitu banyak karya ilmiah Gita di publikasi di
tingkat internasional. Khususnya di bidang penerbangan, perawatan pesawat
sampai ke marketing dan manajemen industri pesawat. Ia memang punya gelar satu
master lagi: MBA dari ITB.
Sejak menjabat
dirut PT DI di tahun 2022 --waktu itu Prabowo Subianto menjabat menteri
pertahanan-- Gita tahu: selama ini PT DI terlalu bergantung pada pemasok
tertentu. Eropa dan Amerika.
Gita juga tahu
yang paling banyak membeli pesawat Casa adalah negara-negara di Amerika Latin:
negara berbahasa Spanyol, tempat Casa diproduksi: Spanyol. Perawatan pesawat
mereka terganggu. Tidak cukup lagi pasok suku cadangnya.
Gita melihat
itu sebagai peluang besar bagi PT DI. Khususnya di bidang yang amat ia kuasai:
pemeliharaan. PTDI sudah dikenal ahli N-235 yang berbasis Casa.
PT DI,
pikirnya, bisa mendapat banyak bisnis pemeliharaan di Amerika Latin. Bukan
sekadar pemeliharaan: juga menghidupkan banyak yang sudah mati. Termasuk
turbinnya. Sampai pun ke recoatingblade-nya. Dan itu adalah keahlian Gita. Ia
pernah sampai menjabat kepala direktorat pemeliharaan Mabes TNI AU: bertanggung
jawab pada keandalan operasi pesawat-pesawat militer.
"Banyak
Casa yang grounded di sana," ujar Gita.
Suatu saat Gita
dipanggil Presiden Prabowo. Diberi order besar: bikin pesawat N219 sebanyak 80
pesawat. Gita bergegas mengkajinya. Terutama dari mana akan dapat pasok suku
cadang. Ini berarti perlu modal kerja yang besar.
Pemasok di
Eropa dan Amerika pasti tidak mau kirim suku cadang tanpa dibayar. Reputasi
kemampuan bayar PT DI selama ini dikenal tidak terlalu baik.
Tapi mereka
mulai tertarik kembali berhubungan dengan PT DI. Apalagi mereka tahu ada order
resmi dari pemerintah Indonesia.
Gita tahu:
tidak mungkin bisa menyelesaikan 80 pesawat dalam lima tahun. Ia pun beberapa
kali menghadap Presiden Prabowo untuk mendiskusikan soal itu.
Kemampuan PT DI
selama ini hanya membuat pesawat N235 satu pesawat tiap bulan. Antara lain
karena terbatasnya modal kerja dan ketersediaan pasok suku cadang --ini juga
soal modal kerja.
Maka Gita cari
akal untuk mencari pemasok agar lebih banyak pilihan. Masih ada Kanada. Ada
Tiongkok. Ada Brasil. Tergantung mana yang bisa memberi dukungan lebih baik
bagi PT DI.
Tidak hanya
itu. Gita juga mencari pemasok dalam negeri. Ia mendorong swasta nasional untuk
bisa memasok N219 PT DI. Seperti halnya Vela, helikopter listrik buatan PT Vela
Prima Nusantara, Bandung. Karbon kompositnya sudah bisa dipasok dari dalam
negeri (Disway 22 Agustus 2026: Bintang Vela).
"Ternyata
banyak yang bisa dipasok oleh perusahaan dalam negeri. Jangan semuanya
impor," ujar Gita.
Ini juga
persoalan modal kerja.
Gita pun ingat:
orang kepepet sering punya ide baru. Bisa lebih kreatif. Gita tahu, di bidang
lain, banyak mesin yang dijual di Indonesia dengan sistem "sewa
pakai". Mesin apa saja. Mulai dari foto copy sampai mesin MRI: untuk kamar
radiologi rumah sakit besar.
Ada produsen
mesin MRI yang mau mesinnya ditaruh di satu rumah sakit tanpa bayar di depan.
Membayarnya berdasar berapa kali dipakai oleh pasien di rumah sakit itu.
Semacam bagi hasil.
Mungkin memang
belum ada pabrik mesin pesawat yang mau dibeli dengan sistem sewa pakai.
Perintis sistem ini adalah mesin foto copy. Lalu digital printing. Berkembang
tak terkendali. Sampai pun kini ke mesin MRI.
Siapa tahu
mesin pesawat juga bisa dibeli dengan cara itu. Mungkin saja produsen mesin
pesawat dari Tiongkok mau dirayu untuk pakai sistem sewa pakai.
Kalau cara baru
Gita berhasil order 80 buah N219 akan bisa diselesaikan tanpa terlalu
mengganggu APBN. Dari sini PT DI bisa berkembang ke pasar komersial.
"Peru
sudah memesan lima N219," ujar Gita. "Satu perusahaan carter di
Indonesia sendiri sudah order tiga buah," tambahnya.
Gita juga
mengincar pasar penerbangan perintis yang sangat besar di dalam negeri. Apalagi
ada ketentuan: penerbangan perintis harus menggunakan pesawat bermesin ganda.
"N219 sangat cocok. Bukan seperti selama ini, penerbangan perintis pakai
pesawat bermesin tunggal," katanya.
"Dari mana
asal-usul bagian belakang nama Gita Amperiawan? Mana ada nama belakang orang
Sunda Amperiawan?"
"Itu, kata
bapak saya, karena saya lahir di tahun 1966, di saat istilah Ampera sangat
populer," kata Gita.
Waktu itu
pelajar-mahasiswa memang berdemo hampir tiap hari meneriakkan Amanat
Penderitaan Rakyat (Ampera): Tritura. Tiga tuntutan rakyat saat itu: bubarkan
PKI, turunkan harga-harga, bubarkan kabinet. Itu 60 tahun lalu.
Rupanya ulang
tahun ke 50 hari ini, bagi PTDI, bisa berarti ”Life begins at 50”. Dan bagi
Gita sendiri, ”Life begins at 60”. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/964824/life-begins
Tidak ada komentar:
Posting Komentar