Sabtu, 29 Agustus 2026

 

”Dear You” Membawa Bahasa Lokal ke Layar Global

Luki Aulia :  Wartawan Kompas.

KOMPAS, 26 Agustus 2026

 

 

                                                           

Film berbahasa daerah semakin mudah menembus batas negara berkat cerita yang dekat dengan pengalaman manusia, teks terjemahan, dan perubahan pola distribusi digital.

 

Ada sesuatu yang tidak biasa dari Dear You. Film China yang sedang ramai dibicarakan itu tidak menggunakan Mandarin sebagai bahasa utama. Sebagian besar dialognya justru memakai bahasa Teochew atau dialek yang digunakan masyarakat di wilayah Shantou, Guangdong.

 

Bahkan, banyak penonton di China tak paham bahasanya sehingga sampai perlu membaca teks terjemahan di layar untuk memahami dialog para pemain.

 

Namun, keterbatasan bahasa itu ternyata tidak membuat Dear You terhenti di pasar lokal. Film berbiaya rendah dengan pemain yang mayoritas belum dikenal itu malah jadi film terlaris kedua di China tahun ini.

 

Kantor berita Associated Press, Rabu (26/8/2026), mencatat, hingga Agustus, pendapatan film itu mencapai 269 juta yuan atau sekitar Rp 700 miliar. Setelah di China, film itu juga sudah diputar di Singapura, Malaysia, Australia, dan Thailand. Menurut rencana, film itu akan masuk ke bioskop Amerika Serikat bulan depan.

 

Keberhasilan Dear You dianggap sebagai bagian dari gelombang ekspor budaya China yang lebih luas. Akan tetapi, perjalanan film ini menarik karena yang dibawa ke luar negeri bukan cerita yang sengaja dibuat seragam agar mudah diterima semua orang. Film ini justru membawa bahasa daerah, sejarah migrasi, dan kisah kehidupan sebuah komunitas.

 

Di situlah kisah Dear You bermula. Film garapan Lan Hongchun ini berlatar komunitas imigran Teochew di Bangkok, Thailand. Ceritanya mengikuti seorang pemuda yang mencari kakeknya, Deng Musheng. Berbekal alamat lama pada surat pengiriman uang, ia menelusuri keberadaan laki-laki yang meninggalkan istri dan anak-anaknya di China itu. Sang kakek pergi untuk mencari pekerjaan di Thailand, tetapi tidak pernah kembali.

 

Pencarian itu kemudian membuka sejarah migrasi warga China ke Asia Tenggara yang telah berlangsung selama berabad-abad. Banyak migran berasal dari Guangdong dan Fujian. Mereka meninggalkan kampung halaman untuk bekerja dan membangun kehidupan baru di berbagai wilayah Asia Tenggara.

 

Film itu menghidupkan sejarah melalui benda yang sederhana, seperti qiaopi atau surat yang dikirim perantau bersama uang dan kabar untuk keluarga di kampung halaman. Karena banyak pekerja tidak dapat menulis aksara Mandarin, mereka mengandalkan juru tulis.

 

Sathien Tuntipaiboontana (74), warga Bangkok, merasa terhubung dengan adegan mengenai para juru tulis. Ia bercerita, ayahnya pernah meninggalkan keluarga di China untuk mencari pekerjaan di Bangkok. ”Ayah saya lalu menikah lagi dan tidak pernah kembali, tetapi keluarganya tetap mengirimkan uang kepada kerabat di China,” ujarnya.

 

Pengalaman serupa membuat Thitikorn Phanprayoon tertarik menonton film tersebut. Warga Thailand keturunan China generasi ketiga itu mengenali bahasa Teochew yang dipakai sehari-hari di rumah. ”Rasanya seperti duduk di rumah sendiri dan melihat keluarga saya akting di layar,” ujarnya.

 

Pengalaman kedua penonton itu menunjukkan mengapa bahasa lokal dapat memiliki arti lebih besar daripada sekadar alat komunikasi. Bagi diaspora, sebuah bahasa dapat menjadi penanda keluarga, tempat asal, dan ingatan antargenerasi. Itu yang membuat mereka merasa dekat dengan filmnya.

 

Namun, menurut kajian Guru Besar dan Profesor Terhormat di School of Communication Simon Fraser University, Kanada, Dal Yong Jin, tentang Korean Wave yang diterbitkan International Journal of Communication pada 2023, ada konsep transnational proximity yang memperluas gagasan tentang cultural proximity.

 

Penonton tidak hanya merasa dekat dengan budaya yang mirip dengan budaya mereka sendiri. Mereka juga dapat merasa dekat dengan cerita dari masyarakat lain ketika menemukan pengalaman sosial yang serupa.

 

Kesamaan masalah

 

Oleh karena itu, sebuah film tidak harus menggunakan bahasa penonton atau menggambarkan kehidupan mereka untuk terasa relevan. Persoalan keluarga, perpisahan, kesenjangan sosial, pencarian penghidupan, atau hubungan antargenerasi dapat menciptakan kedekatan meskipun latar budayanya berbeda.

 

Dear You punya banyak unsur semacam ini. Sejarah migrasi Teochew jadi pengalaman yang spesifik. Namun, cerita tentang seorang anak yang ingin memahami keputusan kakeknya, keluarga yang terpisah karena pekerjaan, dan orang yang meninggalkan rumah demi mencari kehidupan lebih baik merupakan pengalaman yang jauh lebih luas.

 

Pola ini juga terlihat dalam perjalanan film Parasite dari Korea Selatan. Film karya Bong Joon Ho itu memakai bahasa Korea dan berangkat dari kehidupan sosial di Seoul. Namun, ceritanya tentang dua keluarga dengan kondisi ekonomi yang berbeda dapat dipahami penonton di banyak negara.

 

Kajian tentang Korean Wave menempatkan keberhasilan Parasite dalam konteks itu. Film nasional dapat memperoleh resonansi transnasional ketika persoalan yang diangkatnya memiliki makna bagi masyarakat di luar negara asalnya.

 

India juga punya banyak film yang memakai bahasa lokal, seperti Tamil, Telugu, Malayalam, Kannada, dan Bengali. Film-film berbahasa lokal jadi makin dikenal, salah satunya berkat perkembangan platform streaming yang bisa menembus batasan bahasa.

 

Majalah Time, 28 Februari 2024, menyebutkan, streaming dan penggunaan teks membuat penonton semakin terbiasa menonton film dari industri regional. Film seperti RRR dan Pushpa kemudian dapat keluar dari pasar bahasa asalnya dan menjangkau penonton lebih luas.

 

Perubahan teknologi distribusi menjadi penting karena bahasa pada dasarnya tetap merupakan batasan. Penonton tidak mungkin memahami dialog Teochew tanpa bantuan penerjemahan. Akan tetapi, teks terjemahan memungkinkan batas itu dilewati tanpa mengharuskan film mengubah bahasa aslinya.

 

UNESCO Institute for Statistics dalam kajiannya tentang keberagaman industri film menempatkan bahasa sebagai salah satu unsur penting keberagaman sinema. Film bukan hanya produk hiburan dan ekonomi, melainkan juga membawa identitas, nilai, serta makna budaya dari masyarakat tempat film itu dibuat.

 

Dengan demikian, teks terjemahan tidak harus berarti menghilangkan identitas lokal. Ia dapat menjadi jembatan yang memungkinkan identitas itu diperkenalkan kepada penonton yang berbeda bahasa. Ini penting bagi Dear You.

 

Jika bahasa Teochew diganti seluruhnya dengan Mandarin, sebagian pengalaman sosial yang ingin dibangun film itu akan berubah. Dialek tersebut membuat hubungan antartokoh, komunitas perantau, dan suasana keluarga terasa berada di lingkungan yang memang jadi latar ceritanya.

 

Lan Hongchun, kepada harian People’s Daily, mengatakan, gagasan film itu berangkat dari cerita yang didengarnya dari neneknya mengenai orang-orang yang bermigrasi ke Bangkok. Kisah keluarga itu kemudian berkembang jadi cerita menarik dan disambut juga di Singapura dan Malaysia. Film itu menyentuh masyarakat yang memiliki hubungan sejarah dengan migrasi dari China selatan.

 

Belinda He, asisten profesor studi sinema dan media Asia Timur di University of Illinois Urbana-Champaign, AS, menuturkan, Dear You juga sejalan dengan upaya China untuk menceritakan kisah China dengan baik. Film itu membawa tema persahabatan, tradisi, keluarga, peran ibu, dan ikatan kekerabatan.

 

Pemerintah China kemudian ikut mempromosikan film itu menjelang peredarannya di luar negeri. Namun, kemampuan film itu menemukan penonton tidak hanya bergantung pada promosi.

 

Ada pertemuan antara cerita lokal, pengalaman yang dapat dikenali lintas budaya, teknologi penerjemahan, dan jalur distribusi yang semakin terbuka. Perjalanan Dear You memperlihatkan bagaimana sebuah cerita dapat bergerak semakin jauh tanpa harus melepaskan bahasa yang menjadi bagian dari identitasnya. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/dear-you-membawa-bahasa-lokal-ke-layar-global?open_from=Internasional_Page  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar