|
La Hua Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 28 Agustus 2026
Ada semacam
ayat baru menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dibuka Presiden Prabowo
kemarin.
Bunyi ''ayat''
itu: "la miftaha wa la yahya".
Bagi orang NU
maknanya jelas: ada pihak yang tidak ingin Miftah dan Yahya terpilih lagi.
"La" dalam bahasa Arab berarti ''tidak''. "Wa" artinya
"dan". Tidak Kiai Miftah (Akhyar) dan tidak Kiai Yahya (Staquf).
Dua tokoh itu
memang berkonflik sangat tajam dua tahun terakhir. Sampai ada ketua umum
tandingan.
Semua konflik
itu ingin diselesaikan lewat Muktamar di Pondok Pesantren "Bintang
Sembilan" Tambak Beras, Jombang. Tapi Gus Yahya masih ingin jadi ketua
umum lagi. Pendukungnya masih kuat.
Kiai Miftah
juga masih dijagokan untuk kembali menjadi rais am, pemimpin tertinggi dalam
struktur NU. Tokoh seperti Gus Ipul –Saifullah Yusuf, sekjen PBNU yang juga
menteri sosial kabinet Prabowo– terlihat ingin memasangkan Kiai Miftah dengan
Gus Kikin: sebagai Rais Am dan Ketua Umum.
Gus Ipul harus
berjuang keras agar Gus Kikin, pengusaha migas yang kemudian jadi kiai Pondok
Tebuireng, bisa terpilih.
Gus Ipul punya
cara yang sangat pragmatis. Mantan ketua umum Gerakan Pemuda Ansor –underbow
militan NU– itu sudah sangat berpengalaman "bertempur" di pemilihan
apa pun. Termasuk tiga kali di Pilgub Jatim –dua kali menang, sekali kalah.
Ia banyak
belajar dari kekalahannya lawan Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim. Ia
tidak ingin kalah lagi di pemilihan rais am dan ketua umum PBNU. Ia jadi
lokomotif tim sukses pasangan Kiai Miftah dan Gus Kikin.
Tapi ada tim
lain yang juga punya lokomotif yang menderu keras: tim Nusron Wahid, juga
mantan ketua umum GP Ansor yang kini menteri Agraria di kabinet Presiden
Prabowo. Nusron menginginkan Kiai Zulfa dari Banten sebagai ketua umum.
Masih ada satu
lokomotif besar lainnya: Muhaimin Iskandar. Ia ketua umum Partai Kebangkitan
Bangsa. Ia mantan ketua umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia-nya NU yang
kini menjabat menteri koordinator dalam kabinet Presiden Prabowo. Ia
menginginkan KH Yusuf Chudlori sebagai ketua umum NU.
Rasanya Prabowo
bisa tepuk jidad kalau tiga-tiganya minta restunya.
Tiga jagoan
itulah yang sebenarnya sedang bertempur di dalam selimut. Tiga-tiganya jagoan
dalam memenangkan persaingan dalam berbagai muktamar. Cara-cara apa pun bisa
di-copy untuk diterapkan di Muktamar ke-35 sekarang ini. Termasuk cara
karantina.
Tiga tim dari
tiga lokomotif itu sampai punya gerakan "jemput bola". Mereka saling
menjemput peserta muktamar di bandara. Mereka saling menyediakan angkutan
gratis. Bukan dibawa ke Jombang tapi ke tempat persinggahan misterius di suatu
tempat. Ada yang menyebut mereka itu disekap. Setidaknya dikarantina.
Pokoknya mereka
dikumpulkan sampai berhasil diyakinkan untuk mau memilih calon yang diinginkan.
Setelah berhasil, peserta itu masih harus dijaga, diawasi, diintip, dibuntuti:
jangan sampai berkhianat.
"Sebenarnya
yang membuat ruwet muktamar ini ya hanya tiga orang itu. Mereka dalangnya. Dari
muktamar ke muktamar," ujar seorang Gus muda tamatan luar negeri yang
bersikap netral.
Demikian juga
tokoh NU yang juga kiai terkemuka, putra salah satu pendiri NU, Kiai Asep
Saifuddin Chalim. Kiai Asep sampai marah besar melihat praktik perebutan
pemilik suara menjelang muktamar ini.
"Sudah
sangat memalukan," ujar pengasuh pesantren Amanatul Ummah di Pacet,
Mojokerto yang terkenal itu. Kiai Asep sendiri menginginkan agar kiai besar
dari Ploso Kediri sebagai rais am yang baru nanti: KH Nurul Huda Djazuli.
Seorang kiai
muda lainnya mencatat "inilah muktamar dengan tingkat intervensi terparah
kedua setelah muktamar Cipasung".
Agak beda.
Intervensi di
Cipasung, Tasikmalaya, saat itu karena pemerintahan Presiden Soeharto tidak
menginginkan Gus Dur terpilih sebagai ketua umum. Tapi pemilik suara di
muktamar Cipasung luar biasa dalam menjaga martabat NU. Mereka tidak berhasil
dibeli. Tidak mampu dipecah belah. Tidak takut ditekan. Gus Dur tetap terpilih.
Saya hadir di
muktamar Cipasung sebagai direktur utama Bank Nusuma –milik NU. Gus Dur adalah
komisaris utama. Kiai Ma'ruf Amin sebagai komisaris. Posisi saya sebagai
peninjau.
Kini begitu
banyak yang merindukan situasi independen muktamar Cipasung. Banyak yang
berharap para pemilik suara di Muktamar NU kali ini punya martabat seperti di
muktamar Cipasung. Tidak terbeli. Tidak takut. Tidak terpengaruh.
Menghadapi
banyaknya godaan saat ini sampai ada yang usul: agar pemilihan ketua umum tidak
lagi lewat pemilihan langsung. Diganti seperti ini: setiap cabang memasukkan
lima calon. Setelah nama-nama terkumpul dilihatlah siapa sembilan nama yang
mendapat suara terbanyak. Sembilan nama itu diserahkan ke Ahlul Halli wal 'Aqdi
(Ahwa). Ahwa-lah yang memilih salah satunya sebagai ketua umum. Tidak harus
yang dapat suara terbanyak.
Ketika tiba
saatnya pemilihan ketua umum Ahwa memang sudah terbentuk. Bahkan rais am yang
baru sudah terpilih. Ahwa dan rais am baru menentukan ketua umum yang baru.
Soal sistem
pemilihan Ahwa NU sudah ''matang'': sudah tiga kali muktamar pakai cara baru
itu. Setiap cabang dan wilayah mengirim sembilan nama calon. Sembilan nama yang
memperoleh suara terbanyak menjadi Ahwa. Lalu Ahwa bersidang untuk memilih rais
am.
Di muktamar
Lampung yang lalu, yang memperoleh suara terbanyak tidak terpilih. Itu karena
KH Dimyati Rais (503 suara) menyatakan tidak bersedia menjadi rais am.
Peraih suara
terbanyak kedua pun tidak bersedia. Maka peraih suara terbanyak ketiga ditanya:
bersedia atau tidak. Yang ditanya tidak menjawab ''iya" tidak juga
menjawab "tidak". Itu ditafsirkan sebagai bersedia: KH Miftakhul
Akhyar dari Surabaya.
Cara itu akan
dilakukan lagi di muktamar kali ini. Jadwal pemilihan Ahwa itu Sabtu besok.
Minggu lusa giliran pemilihan ketua umum: entah masih dengan cara lama atau
sudah dengan cara baru. Tergantung hasil sidang pembahasan tata tertib yang
jadwalnya berlangsung Jumat hari ini.
Maka inilah
hari Jumat gawat bagi Muktamar NU Tambakberas. Mereka bisa saling gegeran untuk
menggolkan konsep tata tertib masing-masing. Atau ternyata mereka ger-geran
menertawakan cara-cara tidak terpuji yang terjadi. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/965210/la-hua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar