|
Seberapa
Aman Tabung CNG untuk Gas Rumah Tangga Han Revanda Putra
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 23 Agustus 2026
|
· Uji coba CNG dalam kemasan tabung
berlangsung di lingkungan Lemigas. · Pindad dan Pertamina telah
menandatangani perjanjian riset bersama soal pengembangan CNG. · Pakar menyebut Belum ada negara yang
memakai CNG untuk rumah tangga karena risiko keamanan. KANTIN
Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi atau Lemigas di Cipulir, Jakarta
Selatan, pada Kamis, 20 Agustus 2026, tampak lengang. Hanya ada empat
pengunjung yang berbincang di sebuah meja. Dari sepuluh gerai yang menjajakan
makanan dan minuman, separuhnya sudah tutup. Sisanya sedang dibereskan
pengelolanya. Gerai-gerai
ini akan menjadi tempat uji coba pemakaian tabung gas alam terkompresi atau
compressed natural gas (CNG). Pemerintah merancang program CNG Merah Putih,
yaitu CNG yang dikemas dalam tabung dan akan menggantikan elpiji bersubsidi.
Saat ini Lemigas tengah menjalankan uji coba tahap ketiga. Rifai,
pedagang makanan khas Madura di kantin Lemigas, mengaku belum mendengar
rencana pemerintah menguji pemakaian CNG di tempatnya berdagang. Sehari-hari
memakai elpiji 3 kilogram atau gas bersubsidi, dia masih menunggu pengumuman
pemerintah. “Kalau memudahkan, kami dukung,” ujar pedagang yang mangkal di
kantin Lemigas sejak 1980-an itu. CNG
adalah bahan bakar yang berasal dari gas bumi. Gas ini didominasi unsur
metana yang dipampatkan pada tekanan 200-250 bar. Karakteristik ini
membedakan CNG dengan elpiji yang terdiri atas unsur propana dan butana
dengan tekanan hanya 5-8 bar. Pengembangan
CNG Merah Putih untuk rumah tangga mengemuka sejak Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral Bahlil Lahadalia menghadiri rapat terbatas dengan Presiden
Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada 27 April 2026. Bahlil
mengatakan program ini bertujuan mengurangi impor elpiji yang terganggu
lantaran konflik di Timur Tengah. “Di era geopolitik yang tidak menentu, kita
harus mencari formulasi untuk mencapai survival mode,” katanya. Pada
2025, angka konsumsi elpiji nasional tercatat sekitar 9,24 juta ton atau 25
ribu metrik ton per hari dengan produksi dalam negeri hanya 1,6 juta ton.
Untuk menutup kekurangan, pemerintah mengimpor elpiji hingga 7,49 juta ton
atau sekitar 80,58 persen dari total kebutuhan. Adapun gas alam relatif
melimpah di Indonesia dengan produksi sekitar 5.600 billion British thermal
units per day pada 2025. Alasan
lain adalah penghematan beban subsidi. Dalam dokumen presentasi Menteri
Energi bertajuk “Pemanfaatan CNG untuk Konversi LPG 3 Kilogram” bertarikh 27
April 2026 yang diperoleh Tempo, elpiji disebut memerlukan subsidi Rp 41.100
untuk memperoleh harga jual konsumen Rp 20.400 per tabung. Sedangkan CNG
hanya memerlukan subsidi Rp 28.913 termasuk biaya sewa tabung untuk
mendapatkan harga yang sama. CNG
sebenarnya bukan barang baru di Indonesia. Banyak pelaku bisnis di sektor
perhotelan, restoran, dan katering serta industri kecil yang telah memakai
bahan bakar ini. Mereka menggunakan tabung berukuran 40 kilogram dengan
penanganan khusus. Sejumlah kendaraan umum, dari taksi, bajaj, hingga bus
kota, pun sudah mulai memakai bahan bakar gas secara terbatas. Namun belum
ada satu pun negara yang memakai tabung CNG untuk rumah tangga. Skema
distribusi CNG melalui tabung ke rumah tangga menuai polemik. Managing
Partner PPIE Investment Moshe Rizal menyatakan ia tak menganjurkan skema
distribusi CNG melalui tabung. Sebab, dia menjelaskan, tekanan CNG yang jauh
lebih tinggi ketimbang elpiji akan menimbulkan risiko keamanan. Terlebih jika
distribusi tabung ditangani orang awam. “Belum ada negara yang memakai CNG
untuk rumah tangga karena risiko keamanannya sangat tinggi,” tutur Moshe,
yang juga menjabat Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas
Nasional, pada Senin, 17 Agustus 2026. Karena
itu, Moshe mengungkapkan, biaya tambahan yang cukup tinggi diperlukan jika
pemerintah berkukuh memakai CNG dengan skema tabung. Biaya itu mencakup harga
tabung tipe 4 berbahan dasar komposit atau serat karbon yang jauh lebih mahal
ketimbang tabung elpiji. Pemakaian tabung, dia menambahkan, juga memerlukan
penyesuaian katup silinder atau valve untuk mengurangi tekanan. Saran
serupa datang dari para pengusaha di sektor energi, yang sebenarnya mendukung
pemanfaatan gas bumi domestik. Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral,
dan Batubara Indonesia Anggawira, yang mengaku terlibat dalam pembahasan CNG
sejak awal tahun ini, mengatakan telah menyampaikan usul agar pengembangan
gas ini bukan semata-mata pertukaran tabung seperti dalam penggunaan elpiji.
“Aspirasi kami, pengembangan lebih diarahkan pada model jaringan gas komunal
atau berbasis kluster,” katanya. Thomas
Nurhakim, Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Liquefied dan Compressed
Natural Gas Indonesia, mengatakan telah menyampaikan kekhawatiran soal
pemakaian tabung melalui audiensi dengan Kementerian Energi. Kalaupun
program ini harus menggunakan tabung, dia menyebutkan persiapannya harus
ekstra hati-hati agar sesuai dengan standar internasional. “Kami sebetulnya
menyarankan sistem hibrida dengan pemipaan berbasis kluster,” ujar pemegang
paten perangkat penyimpan CNG itu. Sejauh
ini belum ada penjelasan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tentang
alasan mereka memilih skema CNG tabung. Tempo telah mengirim surat berisi
daftar pertanyaan ke kantor Kementerian di Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor
18, Jakarta Pusat, pada Rabu, 19 Agustus 2026. Tapi hingga Jumat, 21 Agustus,
belum ada jawaban. Pesan dan panggilan telepon ke nomor WhatsApp Direktur
Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman juga tak berbalas. Namun
Laode pernah menyebutkan skema distribusi tabung CNG akan mengikuti pola
distribusi elpiji yang sudah ada. Artinya, ada fungsi agen dan pangkalan yang
bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero). “Pola yang dijalankan untuk CNG
salah satu bentuknya persis seperti pola distribusi elpiji,” kata Laode di
kantornya pada akhir Juni 2026. ●●● MESKIPUN
gas bumi melimpah, program CNG Merah Putih ternyata tak serta-merta menghilangkan
impor. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral Laode Sulaeman mengatakan calon badan usaha masih harus
mengimpor tabung tipe 4 dengan minimal pesanan 100 ribu unit dari Cina. Impor
masih diperlukan karena teknologi pembuatan tabung berbahan dasar komposit
atau serat karbon belum ada di Indonesia. Laode
memastikan tabung itu telah mulai masuk ke dalam negeri dan menjalani
beberapa tahap uji coba di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi. Lembaga
itu menjalankan pengujian hidrostatis untuk memastikan kekuatan tabung
menahan tekanan. Menurut dia, uji coba juga akan dilakukan di usaha mikro,
kecil, dan menengah, seperti kantin di lingkungan Lemigas. “Sambil kami
evaluasi,” ujarnya di Jakarta International Convention Center, Jakarta Pusat,
pada Rabu, 19 Agustus 2026. Selanjutnya,
Laode menambahkan, tabung akan diproduksi di dalam negeri oleh badan usaha
yang ditunjuk pemerintah. Belakangan diketahui badan usaha itu adalah PT
Pindad (Persero) dengan target produksi 10-30 ribu unit pada tahap awal.
Adapun Pindad berpengalaman memproduksi tabung elpiji berukuran 3 kilogram;
5,5 kilogram; dan 12 kilogram bersubsidi serta converter kit untuk PT
Pertamina. Dokumen
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan komponen tabung berupa
silinder dan casing dari Cina serta katup penurun tekanan otomatis
didatangkan dari Jerman. Adapun semua tabung, menurut dokumen itu, dirakit di
Cina. Ketahanan tabung disebut mampu menoleransi tekanan hingga 650 bar. Menurut
dokumen itu, pengadaan tabung ditargetkan selesai pada tahun ini. Proses itu
dimulai dengan molding atau pembuatan cetakan pada April-Juni, dilanjutkan
dengan proses fabrikasi pada Juni-Oktober dan kontrol kualitas pada
September-Oktober. Adapun pengiriman dan distribusi lokal ditargetkan
berlangsung masing-masing pada Oktober dan Oktober-Desember tahun ini. Meskipun
gagasan CNG Merah Putih baru mengemuka pada April 2026, Pindad dan Pertamina
telah menandatangani perjanjian riset bersama (joint study agreement) di
Bandung pada 6 Januari 2026. Kerja sama itu mencakup pengkajian teknis dan
desain, standardisasi dan regulasi, serta ekonomi dan pasar. Perjanjian
ini bertujuan mengkaji potensi, teknologi, keamanan, dan penetapan harga
dalam pengembangan produksi tabung serta fasilitas pengisian gas alam, baik
CNG, liquefied natural gas (LNG), maupun adsorbed natural gas. “Harapan kami
dapat bekerja sama mendesain dan memproduksi secara massal untuk kebutuhan
rumah tangga,” tutur Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dalam
keterangan tertulis. Persoalan
dalam pengadaan tabung adalah harganya yang mahal. Di aplikasi platform
e-commerce, tabung CNG tipe 4 beragam spesifikasi ditawarkan di atas Rp 10
juta per unit. Dalam dokumen Kementerian Energi tercatat asumsi harga tabung
Rp 12 juta per unit. Adapun tabung elpiji, yang berbahan dasar baja, umumnya
hanya dibanderol Rp 150-200 ribu per unit. Anggota
Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi energi, Mohammad Eddy
Dwiyanto Soeparno, mengatakan, selain menelaah aspek keamanan, pemerintah
harus mengkaji investasi yang diperlukan untuk pengadaan tabung. Nilai
investasi itu, kata dia, seharusnya tidak boleh lebih besar dari biaya impor
elpiji. “Itulah yang menentukan untung atau rugi konversi elpiji ke CNG,”
ujarnya pada Selasa, 18 Agustus 2026. Tempo
telah berupaya meminta tanggapan Raka Siwi Triaspambudy, Corporate
Communication Officer Pindad. Dia meminta Tempo bersurat ke alamat surat
elektronik Pindad. Tempo sudah mengirim e-mail beserta lampiran pertanyaan
untuk Direktur Utama Pindad Sigit Puji Santoso. Namun hingga Jumat, 21
Agustus 2026, surat itu belum terjawab. Permintaan tanggapan kepada Kepala
Lemigas Muhammad Iksan Kiat juga tak kunjung berbalas. Sedangkan
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan
perseroan selalu mendukung program pemerintah baik melalui program
Kementerian Energi maupun lainnya. “Pertamina menyalurkan energi ke seluruh
masyarakat yang dilakukan secara terintegrasi di proses bisnis Pertamina,”
tuturnya pada Kamis, 20 Agustus. Yang
jelas, banyak warga yang menanti realisasi CNG Merah Putih. Salah satunya Sri
Dalwanto, warga Santren, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang pernah mengikuti
sosialisasi CNG beberapa waktu lalu. Dia mengaku akan berlangganan jaringan
gas berbasis CNG. Dengan
ongkos Rp 150 ribu per bulan atau hampir sama dengan biaya yang dia keluarkan
ketika memakai elpiji, warga Santren yang juga membuka usaha katering itu
kini ayem lantaran tak perlu antre ketika terjadi gangguan pasokan elpiji.
“Gasnya enggak pakai ngesos, enggak bocor saat dipasang,” katanya saat
ditemui Tempo pada Kamis, 20 Agustus 2026. Sejak
mengaliri Kecamatan Depok di Jawa Barat dan Kabupaten Sleman di Yogyakarta
pada Desember 2023, pengklusteran CNG PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN)
telah menjangkau sekitar 4.550 sambungan rumah. Area Head PGN Semarang
Sugianto Eko Cahyono menjelaskan, gas CNG bersumber dari lapangan gas di
Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Gas itu dikompresi ke dalam tabung dan
diangkut menggunakan truk ke stasiun pengatur tekanan milik PGN di Sleman. Setelah
tekanan diturunkan, gas mengalir melalui pipa-pipa bawah tanah di sekitar
jaringan gas rumah tangga kluster di Sleman hingga ke tempat-tempat pelanggan
dengan radius 5-6 kilometer. Ihwal rencana pengembangan CNG menggunakan
tabung, Sugianto mengatakan masih berfokus mengembangkan jaringan gas kluster
CNG ke wilayah lain. “Kalau itu baru wacana di luar kami. Kami menunggu
arahan lanjut pemerintah,” ujarnya pada Kamis, 20 Agustus. Dosen
dan peneliti dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi
Bandung, Yuli Setyo Indartono, menyarankan penggunaan sistem kluster atau
mikrokluster untuk distribusi CNG. Alih-alih dikemas dalam tabung bertekanan
tinggi, dia menjelaskan, gas lebih baik mengalir dari stasiun induk atau
cabang melalui pipa. Ketika
sampai ke rumah tangga, tekanan gas sudah jauh berkurang. “Alihkan subsidi
pemerintah untuk membangun sistem kluster atau mikrokluster, beban subsidi
akan berkurang dan sistem akan lebih berkelanjutan,” tuturnya pada Rabu, 19
Agustus 2026. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/subsidi-elpiji-lemigas-keamanan-cng-merah-putih-2283372 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar