|
MENDENGAR JOKOWI DI BOCOR ALUS POLITIK TEMPO Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
ORBIT INDONESIA, 28 Agustus 2026
|
Suatu
hari, kekuasaan berakhir. Pintu istana menutup. Pasukan kehormatan berhenti
memberi hormat. Tetapi seorang mantan presiden masih terbangun membawa
ingatan jutaan manusia. Telepon
masih berdering. Tokoh masih datang. Pendapatnya masih dicari. Pertanyaannya
berubah: setelah tak lagi berkuasa, untuk apakah seluruh pengaruh itu digunakan? Pertanyaan
itu muncul kembali ketika saya mendengar percakapan panjang Joko Widodo
dengan tim Bocor Alus Politik Tempo di rumahnya di Solo. Saya
tidak terutama mendengar seorang mantan presiden membela masa lalunya. Saya
mendengar seseorang yang sedang mencari bentuk baru pengabdian setelah
kekuasaan formal selesai. -000- Ada
begitu banyak isu dalam wawancara itu. Ada Gibran, Iriana, Prabowo, PSI, IKN,
demokrasi, ijazah, ekonomi, sampai tudingan mengenai dinasti politik. Namun
di balik keramaian isu tersebut, saya menangkap tiga gagasan yang lebih
mendasar. Ketiganya berbicara mengenai rakyat, pengabdian, dan etika setelah
kekuasaan. Pertama,
politik harus mendekat kepada realitas kehidupan rakyat. Ini
mungkin gagasan Jokowi yang paling konsisten. Ia mengatakan bahwa kekuasaan
yang baik adalah kekuasaan yang dekat dan terus mendekat kepada kehidupan
sehari-hari masyarakat. Kalimat
itu sederhana. Tetapi justru kesederhanaannya menjelaskan sesuatu yang sering
hilang dalam politik modern: manusia dapat menghilang di balik angka dan
institusi. Politik
akhirnya terlalu sering menjadi percakapan elite tentang koalisi, jabatan,
elektabilitas, strategi komunikasi, kekuasaan, dan siapa memperoleh apa
setelah sebuah pemilihan. Padahal
bagi seorang ibu yang harga berasnya naik, politik adalah isi dompet. Bagi
seorang petani, politik adalah pupuk, harga panen, dan hujan. Bagi
penganggur muda, politik bukan perdebatan ideologi di televisi. Politik
adalah pertanyaan sederhana: bulan depan, adakah pekerjaan yang dapat
memberinya kehidupan bermartabat? Karena
itu Jokowi berbicara tentang turun ke daerah, bertemu masyarakat, pemuka
agama, tokoh adat, serta membangun struktur politik sampai tingkat desa. Ia
membayangkan PSI menjadi partai anak muda, orang kampung, keluarga Indonesia.
Politik, dalam imajinasinya, harus mempunyai kaki yang berjalan sampai
halaman rumah rakyat. Saya
membaca gagasan ini melampaui PSI. Ia merupakan sebuah ukuran sederhana untuk
menguji kekuasaan: apakah keputusan negara benar-benar terasa dalam kehidupan
orang biasa? -000- Kedua,
Jokowi sudah meninggalkan Istana, tetapi belum ingin meninggalkan pengabdian
politik. Ia
mengatakannya tanpa berputar-putar. Jokowi akan terus berpolitik. Alasannya,
ia masih ingin memberikan kontribusi, meskipun menurut istilahnya sendiri
hanya “sedikit”. Kata
“sedikit” itu menarik perhatian saya. Sebab kontribusi mantan presiden hampir
tidak pernah benar-benar sedikit. Satu kalimatnya saja dapat menjadi berita
nasional. Jokowi
kini memilih PSI sebagai salah satu ruang pengabdian. Ia ingin membantu
partai itu berkembang, membangun struktur, memperbesar pengenalan, dan
menembus parlemen. Ia
bahkan berbicara dengan bahasa seorang peneliti survei. Pengenalan partai
dihitung. Pengenalan logo dihitung. Perjalanan daerah juga akan diukur efek
elektoralnya. Tetapi
di balik kalkulasi itu terdapat pertanyaan lebih filosofis: apakah
berakhirnya jabatan harus berarti berakhirnya kemampuan seseorang untuk
berbuat bagi negaranya? Jawaban
Jokowi tampaknya tidak. Kekuasaan mempunyai tanggal kedaluwarsa. Pengabdian
tidak harus memilikinya. Seseorang dapat kehilangan jabatan tanpa kehilangan
alasan untuk bekerja. Namun
ada syarat moral penting. Pengaruh seorang mantan presiden seharusnya
memperkuat demokrasi, bukan menciptakan pusat kekuasaan tandingan terhadap
pemerintahan yang sedang berkuasa. -000- Ketiga,
terhadap Prabowo, Jokowi memilih mendukung sambil menjaga jarak. Jokowi
menyebut hubungan mereka “baik-baik saja”. Namun ia juga mengakui bahwa
keduanya sudah lama tidak melakukan percakapan empat mata secara intensif. Ia
tidak menampilkan dirinya sebagai mentor yang terus memberikan instruksi.
Sebaliknya, ia berulang kali menegaskan bahwa pemerintahan merupakan wilayah
Presiden Prabowo. Pergantian
menteri adalah hak prerogatif presiden. Perbedaan prioritas merupakan
kewajaran. Kekurangan program pemerintah harus dievaluasi, dikoreksi,
kemudian diperbaiki. Bahkan
kepada putranya sendiri, Gibran, pesannya jelas: ojo kemajuan. Jangan terlalu maju. Jangan mendahului
presiden. Jangan merasa mempunyai kewenangan yang tidak dimiliki. Di
sini Jokowi menyentuh sebuah etika penting dalam transisi kekuasaan. Mantan
presiden boleh memiliki pengalaman, tetapi presiden baru harus memiliki ruang
untuk memimpin. Jokowi
menginginkan continuity. Namun keberlanjutan tidak berarti Prabowo
harus menjadi salinan Jokowi. Sebuah estafet hanya bekerja ketika tongkat
benar-benar berpindah tangan. -000- Mendengar
Jokowi, saya teringat Barack Obama. Pada November 2020, Obama diwawancarai
Scott Pelley untuk program 60 Minutes CBS di Washington, D.C. Wawancara
berlangsung setelah Joe Biden memenangkan pemilu. Amerika sedang terbelah,
sementara Donald Trump belum menerima hasil pemilihan yang mengakhiri masa
pemerintahannya. Lokasinya
simbolis, National Portrait Gallery. Obama berbicara dekat potret Abraham
Lincoln, presiden yang memimpin Amerika ketika persatuan bangsanya sendiri
hampir runtuh. Obama
berbicara tentang Trump, George Floyd, polarisasi, keluarganya, demokrasi,
serta memoarnya, A Promised Land. Tetapi satu gagasannya terasa paling
relevan untuk Jokowi. Seorang
presiden, kata Obama, hanyalah penghuni sementara sebuah jabatan. Ketika
waktunya selesai, kepentingan negara harus mengalahkan ego dan kekecewaan
pribadi. Obama
bahkan pernah meninggalkan pesan bagi penerusnya bahwa instrumen demokrasi
harus diwariskan setidaknya sekuat ketika seorang presiden pertama kali
menerimanya. Di
sinilah Obama dan Jokowi bertemu. Keduanya meninggalkan kekuasaan formal
dengan pengaruh politik, jaringan, popularitas, dan warisan yang belum
selesai diperdebatkan. Tetapi
pilihan mereka berbeda. Obama relatif menjaga jarak dari politik elektoral
sehari-hari. Jokowi secara eksplisit menyatakan masih ingin terus aktif dalam
kehidupan politik. Perbedaan
itu tidak otomatis membuat satu jalan lebih luhur. Ia justru memperlihatkan
bahwa demokrasi menyediakan beragam model kehidupan setelah kekuasaan. Pertanyaan
moralnya sama: bagaimana seorang mantan presiden menggunakan pengaruh tanpa
membuat presiden yang sedang berkuasa hidup di bawah bayang-bayang
pendahulunya? -000- Pertanyaan
itu terasa personal bagi saya karena saya pernah membicarakannya langsung
dengan Jokowi menjelang akhir masa pemerintahannya. Saya dipanggil datang ke
Istana. Kami
berbicara berdua. Salah satu hal yang memenuhi pikiran saya justru bukan masa
kekuasaannya, melainkan apa yang akan dilakukannya setelah kekuasaan
berakhir. Saya
sampaikan kepadanya bahwa ketika meninggalkan jabatan pada Oktober 2024,
Jokowi masih berusia 63 tahun. Itu terlalu muda untuk sekadar menjadi
penonton. Terlebih
ia meninggalkan Istana dengan modal sosial yang tidak biasa. Survei nasional
LSI Denny JA menjelang akhir pemerintahannya mencatat kepuasan sebesar 80,8
persen. Survei
itu dilakukan pada 26 September sampai 3 Oktober 2024 terhadap 1.200
responden, dengan margin of error sekitar 2,9 persen. Angka
itu penting bukan karena seorang pemimpin harus mengejar popularitas.
Popularitas tinggi menjadi berarti apabila kepercayaan tersebut kemudian
diubah menjadi manfaat sosial. Saya
mengatakan kepadanya, sayang sekali apabila setelah meninggalkan Istana,
modal kepercayaan sebesar itu hanya disimpan sebagai kenangan tentang masa
lalu. Mencapai
approval rating sekitar 81 persen setelah sepuluh tahun memerintah bukan
perkara mudah. Biasanya kekuasaan panjang justru menghasilkan kelelahan dan
kekecewaan. Karena
itu saya ikut menyarankan: carilah bentuk baru. Tidak perlu menjadi kekuasaan
kedua. Tidak perlu pula mencampuri pemerintahan penerus. Tetapi
pengalaman, jaringan, kepercayaan publik, dan pengetahuan yang dikumpulkan
selama puluhan tahun tetap dapat dikonversi menjadi sesuatu yang bermanfaat
bagi Indonesia. Kini,
ketika mendengar Jokowi mengatakan ingin terus berpolitik untuk memberikan
kontribusi walaupun “sedikit”, saya teringat kembali percakapan kami di
Istana tersebut. Mungkin
pertanyaan terbesar setelah kekuasaan memang bukan bagaimana mempertahankan
pengaruh. Pertanyaannya adalah bagaimana mengubah pengaruh menjadi pengabdian
tanpa kembali diperbudak kekuasaan. Tentu
apapun jawaban Jokowi dalam wawancara itu, selalu ada pihak yang dapat
melihatnya secara kritis. Misalnya, melihat PSI di bawah Kaesang, promosi
cepat Gibran, dan pengaruh Jokowi sebagai upaya membangun jejaring dinasti,
bukan pengabdian. Kritik
ini tentu tidak dapat diselesaikan dengan bantahan. Ia hanya dapat dijawab
oleh pilihan konkret Jokowi berikutnya: apakah pengaruhnya memperbesar
politik agar lebih mendekat pada realitas politik rakyat. -000- Dua
buku membantu saya melihat persoalan ini dengan perspektif lebih panjang. Buku
pertama sangat tepat judulnya: Life After Power: Seven Presidents and
Their Search for Purpose Beyond the White House, karya Jared Cohen, Simon
& Schuster, 2024. Cohen
mempelajari tujuh mantan presiden Amerika dan menemukan sesuatu yang
manusiawi: setelah meninggalkan kekuasaan terbesar, mereka tetap harus
menjawab pertanyaan mengenai tujuan hidup berikutnya. Thomas
Jefferson membantu membangun University of Virginia. John Quincy Adams
kembali ke Kongres dan menjadi suara penting gerakan antiperbudakan. William
Howard Taft menjadi Ketua Mahkamah Agung. Herbert
Hoover menjalankan misi kemanusiaan. Jimmy Carter mengubah status mantan
presiden menjadi platform perdamaian dan kemanusiaan. George W. Bush justru
menjauh dari politik. Pesan
Cohen sangat relevan bagi Jokowi. Tidak terdapat satu resep tunggal mengenai
kehidupan setelah kekuasaan. Yang menentukan adalah tujuan penggunaan sisa
pengaruh tersebut. Mantan
presiden bahkan dapat menghasilkan babak kehidupan yang sama bermaknanya
dengan masa kekuasaannya, apabila ia menemukan kembali tujuan yang melampaui
dirinya sendiri. -000- Buku
kedua adalah The Presidents Club: Inside the World’s Most Exclusive
Fraternity, karya Nancy Gibbs dan Michael Duffy, Simon & Schuster,
2012. Buku
ini membongkar hubungan tersembunyi antara presiden dan para pendahulunya.
Mereka bersaing untuk sejarah, tetapi sekaligus memahami beban kekuasaan yang
tidak dipahami orang lain. Harry
Truman meminta bantuan Herbert Hoover. John Kennedy mencari nasihat Dwight
Eisenhower setelah kegagalan Bay of Pigs. Rivalitas dapat berubah menjadi
kerja sama. George
H.W. Bush dan Bill Clinton bahkan kemudian bekerja bersama menggalang bantuan
kemanusiaan. Mantan rival dapat menemukan persaudaraan setelah kompetisi
politik selesai. Gibbs
dan Duffy menyebut dunia itu dibentuk oleh tiga unsur: kerja sama, kompetisi,
dan penghiburan. Mantan presiden tetap menjadi aktor sejarah setelah
meninggalkan kantor. Tetapi
justru karena pengaruhnya masih besar, hubungan itu membutuhkan
kebijaksanaan. Mantan presiden dapat menjadi penasihat berharga, tetapi juga
berpotensi menjadi bayangan mengganggu. Buku
ini memberi pelajaran penting bagi hubungan Jokowi dan Prabowo: kedekatan
tidak selalu berarti intervensi, sementara jarak tidak selalu berarti
permusuhan. -000- Saya
kembali kepada satu kalimat Jokowi: kekuasaan yang baik harus dekat dan
mendekat kepada realitas kehidupan rakyat sehari-hari. Bagi
saya, kalimat itu juga dapat digunakan untuk menilai perjalanan Jokowi
sendiri setelah meninggalkan Istana dan memilih tetap berada dalam kehidupan
politik. Jika
PSI membuat politik semakin dekat kepada rakyat, kontribusi itu bermakna.
Jika pengalaman Jokowi memperkaya demokrasi, kehidupan setelah kekuasaan
memperoleh alasan moralnya. Tetapi
sejarah akan menilai lebih keras apabila pengaruh tersebut akhirnya hanya
memperpanjang kekuasaan keluarga atau menciptakan matahari kedua di luar
pemerintahan resmi. Pada
akhirnya, jabatan hanyalah satu episode. Bahkan sepuluh tahun menjadi
presiden tetap merupakan bagian kecil dari keseluruhan perjalanan seorang
manusia. Yang
jauh lebih panjang adalah gema setelahnya: institusi yang ditinggalkan,
manusia yang dibantu, teladan yang diwariskan, serta ingatan yang menetap
dalam masyarakat. Jokowi
kini memasuki babak itu. Ia tidak lagi mempunyai Istana, tetapi masih
mempunyai sesuatu yang mungkin lebih menentukan: pilihan mengenai warisannya
sendiri. Pada
akhirnya, warisan seorang presiden tidak hanya ditentukan oleh berapa lama ia
berkuasa, tetapi oleh untuk siapa pengaruhnya digunakan setelah kekuasaan itu
berakhir. ● REFERENSI Jared
Cohen. Life After Power: Seven Presidents and Their Search for Purpose Beyond
the White House. Simon & Schuster, 2024. Nancy
Gibbs dan Michael Duffy. The Presidents Club: Inside the World’s Most
Exclusive Fraternity. Simon & Schuster, 2012. Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/AcWTvMakAt/denny-ja-mendengar-jokowi-di-bocor-alus-politik-tempo
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar