|
KETIKA ESAI MEMBAWA INSPIRASI - Membaca
Denny JA Sebagai Seorang Master Narudin Pituin : Seorang
sastrawan, penerjemah, dan kritikus sastra berkebangsaan Indonesia yang lahir
pada 15 Oktober 1982. |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 25 Agustus 2026
|
Bukanlah
suatu kemustahilan apabila tulisan ini dimulai dengan sebuah pertanyaan
serius: apakah kualitas esai Denny JA yang belakangan banyak beredar sudah
sekelas master? Pertanyaan
itu mudah dijawab dengan pujian. Tetapi pujian bukanlah kritik sastra.
Kekaguman baru bernilai apabila kita mampu menjelaskan mengapa sesuatu memang
layak dikagumi. Seorang
master bukan sekadar orang yang mampu menulis dengan baik. Ia telah lama
bergulat dengan bahasa sehingga teknik tidak lagi tampak sebagai teknik. Pada
tingkat itu, bentuk dan isi menyatu. Pengetahuan dan perasaan tidak lagi
berebut ruang. Gagasan berat terasa ringan, tetapi meninggalkan gema panjang. Di
sanalah saya hendak meletakkan esai-esai Denny JA: bukan pada kesempurnaan
setiap karya, melainkan pada kematangan bentuk yang telah menemukan sidik
jarinya. -000- Dalam
Structuralist Poetics (1977), Jonathan Culler berbicara mengenai literary
competence: kemampuan memahami konvensi yang memungkinkan sebuah teks bekerja
dan diterima sebagai karya sastra. Dalam
konteks lebih luas, esai yang kuat setidaknya memerlukan tiga lapisan:
kompetensi bahasa, kompetensi sastra, dan kekuatan gagasan yang menghidupkan
keduanya. Kompetensi
bahasa membuat penulis mampu mengatakan sesuatu secara jernih. Kompetensi
sastra memberi daya hidup. Kekuatan gagasan memberi alasan mengapa tulisan
itu perlu dikenang. Ketiga
lapisan tersebut semakin terlihat dalam esai-esai Denny JA belakangan ini. Ia
tidak sekadar menyampaikan gagasan kepada pembaca. Ia berusaha membangun
pengalaman membaca. Semiotika
memberikan pintu masuk lainnya. Ferdinand de Saussure mengajarkan bahwa tanda
bekerja melalui hubungan antara signifier dan signified, antara penanda dan
petanda. Dalam
esai, bahasa membawa pembaca menuju gagasan, pengalaman, ingatan, dan emosi
yang lebih luas daripada sekadar rangkaian kata yang tercetak pada halaman. Esai
matang karena itu tidak berhenti pada apa yang dikatakan. Ia juga hidup
melalui bagaimana sesuatu dikatakan dan bagaimana pembaca mengalami perkataan
tersebut. Justru
pada wilayah “bagaimana” inilah kekhasan Denny JA semakin terlihat, tumbuh
dari kebiasaan panjang mempertemukan bahasa publik dengan sensibilitas
seorang penulis sastra. -000- Perhatikan
bagaimana esainya sering dimulai. Bukan dengan definisi, statistik, atau
deretan teori. Ia acap kali membuka sebuah pintu kecil menuju kehidupan
seorang manusia. Contoh
yang sangat jelas tampak dalam esai “Kalimantan Menangis Ketika Pohon Menjadi
Api dan Langit Menjadi Abu.” Esai
itu tidak langsung berbicara mengenai angka karhutla. Ia dimulai dengan
seorang anak di Kalimantan yang memandang keluar jendela ketika langit
kehilangan warna birunya. Ibunya
menutup jendela rapat-rapat. Namun asap tetap mencari celah. Sang anak
bertanya mengapa matahari memerah, seolah ikut terbakar bersama pepohonan. Di
luar rumah, orang-orang mengejar api dengan selang dan doa. Di dalam rumah,
sebuah keluarga menunggu sesuatu yang tak dapat mereka beli: udara bersih. Baru
setelah emosi pembaca terbangun, esai bergerak kepada pengertian karhutla,
penyebab kebakaran, kerentanan ekologis, tanggung jawab manusia, dan
persoalan kebijakan publik. Di
sini teknik Denny JA tampak sangat konkret: tragedi ekologis yang besar
terlebih dahulu dipersempit menjadi pengalaman satu keluarga dan satu
pertanyaan seorang anak. Kita
mula-mula diajak merasakan. Baru kemudian kita diajak memikirkan. Pergerakan
dari hati menuju kepala inilah salah satu kekuatan penting teknik esai Denny
JA. Sesudah
pembukaan naratif, kamera intelektualnya perlahan menjauh. Kisah seorang
manusia berkembang menjadi persoalan masyarakat, lalu menjadi persoalan
bangsa dan bahkan dunia. Persoalan
memperoleh data. Data memperoleh konteks sejarah. Konteks nasional
dipertemukan dengan pengalaman global. Kemudian hadir buku, penelitian, pemikir,
atau pengalaman negara lain. Sebuah
kisah kecil tiba-tiba memiliki cakrawala luas. Yang personal menjadi sosial.
Yang sosial menjadi politik. Yang politik kemudian menjelma menjadi
pertanyaan filosofis. Di
tangan penulis yang matang, perluasan itu tidak terasa sebagai perpindahan
bab. Pembaca seolah dibawa berjalan semakin jauh tanpa kehilangan rumah
tempat berangkat. -000- Struktur
seperti ini tidak lahir dalam semalam. Ia biasanya muncul setelah penulis
cukup lama mengalami kegagalan bahasa dan menemukan sendiri batas-batas dari
setiap teknik. Terlalu
akademis membuat tulisan berjarak. Terlalu sentimental membuat gagasan
kehilangan tulang. Terlalu penuh data membuat manusia menghilang di balik
angka dan tabel. Pengalaman
kemudian mengajarkan sesuatu yang tidak selalu diajarkan teori: kapan harus
berbicara, kapan menjelaskan, dan kapan membiarkan sebuah kalimat berhenti
serta bergema sendiri. Esai-esai
Denny JA belakangan memperlihatkan kesadaran tersebut. Paragrafnya cenderung
ramping. Kalimatnya relatif pendek. Ruang putih bahkan memperoleh fungsi
dalam pengalaman membaca. Pembaca
diberi kesempatan bernapas. Namun di balik kesederhanaan permukaan itu
terdapat arsitektur kompleks berupa narasi, data, referensi, perbandingan,
argumentasi, dan refleksi. Sederhana
di permukaan, tetapi berlapis di kedalaman. Bukankah salah satu tanda
kematangan justru kemampuan seorang penulis membuat sesuatu yang rumit terasa
sederhana? -000- Contoh
kedua tampak dalam esai yang bertolak dari film Ikiru karya Akira Kurosawa,
sebuah kisah mengenai manusia yang baru menyadari hidup ketika kematian
mendekat. Denny
JA tidak berhenti pada sinopsis film. Tokoh Kanji Watanabe dijadikan pintu
masuk menuju pertanyaan yang lebih besar: untuk apa sebenarnya seseorang
menjalani hidup? Watanabe
adalah birokrat yang mengetahui hidupnya segera berakhir. Pada saat itulah ia
menyadari bahwa puluhan tahun bekerja belum tentu berarti puluhan tahun
benar-benar hidup. Ia
akhirnya menemukan makna bukan dalam jabatan, kekuasaan, atau prestise,
melainkan dalam tindakan sederhana: memperjuangkan sebuah taman bermain bagi
masyarakat kecil. Dari
satu film Jepang, esai bergerak menuju persoalan universal tentang usia,
warisan kehidupan, power of giving, pelayanan, dan keberanian menambahkan
gelora pada sisa waktu. Di
sinilah tampak teknik lain Denny JA: karya seni tidak diperlakukan sebagai
objek ulasan, tetapi sebagai cermin untuk membaca kehidupan pembacanya
sendiri. Film
selesai di layar. Tetapi pertanyaannya berpindah ke dalam diri pembaca: jika
waktu kita terbatas, apakah hidup yang dijalani sekarang sungguh-sungguh
berarti? Teknik
seperti ini penting karena gagasan filosofis yang abstrak tidak disampaikan
sebagai khotbah. Ia dihadirkan melalui cerita manusia yang sudah terlebih
dahulu menyentuh emosi. Dua
contoh itu memperlihatkan pola yang sama. Kebakaran hutan dimulai dari
seorang anak. Pertanyaan tentang hidup dimulai dari seorang birokrat yang
menunggu kematian. Denny
JA tidak memulai dari teori besar. Ia memulai dari manusia, lalu perlahan
membawa manusia itu menuju persoalan yang jauh lebih besar daripada dirinya. -000- Di
sinilah pengalaman Denny JA sebagai penggagas puisi esai terasa meninggalkan
jejak. Puisi esai sejak awal mencoba mempertemukan fakta dengan kekuatan
imajinasi. Jejak
poetika itu terasa dalam esai-esainya. Bukan berarti esainya berubah menjadi
puisi. Yang terjadi lebih subtil: sensibilitas sastra memasuki wilayah
argumentasi publik. Fakta
tidak dibiarkan menjadi angka yang dingin. Namun emosi juga tidak dibiarkan
berjalan sendirian tanpa pengujian oleh fakta dan pengetahuan yang relevan. Narasi
membuka hati. Data menguji narasi. Referensi memperluas perspektif.
Argumentasi memberi arah. Refleksi akhirnya mengembalikan keseluruhan
perjalanan tersebut kepada kehidupan manusia. Pada
titik terbaiknya, esai Denny JA bekerja menggunakan dua energi sekaligus:
ketepatan seorang analis dan kepekaan seorang pencerita terhadap pengalaman
manusia. Otak
tidak diminta mengalah kepada hati. Hati juga tidak diminta tunduk kepada
statistik. Keduanya dipertemukan dan diajak duduk pada meja yang sama. -000- Bagian
tengah esainya biasanya menjadi arena perluasan intelektual. Di sana hadir
penelitian, teori, ucapan tokoh, peristiwa sejarah, kebijakan publik, dan
berbagai perbandingan antarnegara. Namun
referensi terbaik dalam esai bukanlah referensi yang dipamerkan. Ia adalah
bacaan yang telah dicerna sehingga pembaca memperoleh pengetahuan tanpa
merasa sedang berkuliah. Dalam
esai-esai Denny JA yang berhasil, referensi mempunyai fungsi seperti jendela.
Ia tidak meminta kita memandang bingkai, melainkan dunia luas yang terbentang
di belakangnya. Di
sinilah terlihat perbedaan antara tulisan yang sekadar penuh bacaan dengan
tulisan yang telah mengolah bacaan menjadi perspektif dan menghubungkannya
dengan kehidupan konkret. Pengetahuan
berhenti menjadi pajangan intelektual. Ia berubah menjadi alat untuk memahami
persoalan yang sebelumnya tampak sederhana, tetapi ternyata memiliki akar dan
konsekuensi luas. -000- Lalu
datanglah bagian akhir. Dalam psikologi memori dikenal kecenderungan primacy
dan recency: manusia sering memberikan bobot khusus kepada awal dan akhir
pengalaman. Seorang
penulis berpengalaman secara intuitif memahami pentingnya kedua wilayah
tersebut. Denny JA tampaknya sadar bahwa pembukaan mengundang pembaca,
sedangkan penutupan menentukan gema. Jika
pembukaan esainya mengajak kita memasuki persoalan melalui kisah, bagian
akhir biasanya membawa persoalan besar tersebut kembali kepada manusia dan
kehidupan sehari-hari. Ia
tidak puas jika pembaca hanya pulang membawa data. Ia ingin pembaca pulang
membawa pertanyaan, kegelisahan, harapan, atau kesadaran baru tentang
kehidupan. Kadang
hanya satu kalimat sederhana yang diam-diam mengikuti pembaca setelah layar
telepon ditutup dan hiruk-pikuk dunia kembali mengambil perhatian kita. Pada
saat seperti itulah esai berhenti menjadi informasi. Ia berubah menjadi
pengalaman, dan pengalaman memiliki umur yang sering kali jauh lebih panjang
daripada data. -000- Dalam
tradisi esai dunia, kita mengenal sejumlah penulis yang mampu mempertemukan
kekuatan sastra dengan persoalan publik tanpa mengorbankan salah satu di
antaranya. James
Baldwin menulis tentang ras, identitas, agama, dan Amerika dengan bahasa
personal sekaligus politis dalam Notes of a Native Son dan The Fire Next
Time. Pengalaman
individual pada Baldwin menjadi pintu menuju luka sosial yang lebih besar.
Yang intim tidak mengecilkan politik, tetapi justru membuat politik mempunyai
wajah manusia. Susan
Sontag mengambil jalan berbeda. Dalam Illness as Metaphor dan Regarding the
Pain of Others, ia memasuki penyakit, perang, fotografi, kebudayaan, dan
penderitaan melalui ketajaman konseptual. Denny
JA tentu bukan Baldwin. Ia juga bukan Sontag. Dan ia tidak perlu menjadi
keduanya untuk menemukan kedudukannya sendiri dalam tradisi penulisan esai. Perbandingan
tersebut berguna bukan untuk menyamakan pencapaian, melainkan melihat sebuah
tradisi: esai terbaik sering lahir ketika kekuatan sastra bertemu kehidupan
dan persoalan publik. Pada
Baldwin, pertemuan itu menyala melalui ras dan identitas. Pada Sontag, ia
bergerak melalui kritik kebudayaan, representasi, penderitaan, dan
pertarungan gagasan. Pada
Denny JA, pola khasnya bergerak dari kisah manusia menuju data, dari data
menuju persoalan sosial, kemudian dari persoalan sosial kembali kepada
manusia. Di
situlah sidik jarinya mulai tampak. Kita dapat mengenali sebuah esai Denny JA
bahkan sebelum nama penulisnya kembali disebut pada bagian akhir tulisan. -000- Namun
seorang master bukanlah penulis yang telah selesai. Justru sebaliknya. Ia
telah menemukan suaranya, tetapi tetap mempunyai keberanian untuk mengubah
dan mempertanyakannya. Sebab
musuh terbesar penulis yang telah mempunyai gaya bukan lagi ketidakmampuan.
Musuh terbesarnya justru gaya sendiri ketika keberhasilan perlahan berubah
menjadi formula. Pola
yang berhasil dapat menggoda penulis mengulang keberhasilan sama: kisah,
data, referensi, refleksi, lalu sebuah penutup yang sengaja dirancang untuk
menyentuh pembaca. Karena
itu tantangan berikutnya bagi Denny JA bukan menemukan bentuk. Bentuk
tersebut tampaknya sudah ditemukan dan semakin mudah dikenali oleh pembacanya
sendiri. Tantangannya
ialah terus mengejutkan bentuk tersebut agar tidak membeku menjadi kebiasaan.
Seorang master harus sesekali berani meninggalkan jalan yang membuatnya
dikenal banyak orang. Kematangan
bukanlah titik ketika seorang penulis berhenti belajar. Ia justru dimulai
ketika keberhasilan masa lalu tidak lagi cukup untuk memuaskan kegelisahan
kreatifnya. -000- Jika
dibaca melalui semiotika Peircean, sebagaimana saya kembangkan pula dalam
Sintesemiotik: Teori dan Praktik (2023), esai matang membangun proses
interpretasi yang berlapis. Kata
melahirkan tanda. Tanda membuka konteks. Konteks membangun argumentasi.
Argumentasi kemudian menggerakkan pembaca untuk menafsirkan kembali kenyataan
yang sebelumnya dianggap sudah dipahami. Dua
contoh tadi menunjukkan mekanisme tersebut. Anak di tengah asap bukan sekadar
tokoh. Watanabe bukan sekadar tokoh film. Keduanya menjadi tanda yang
berkembang. Anak
itu membuka konteks karhutla, ekologi, dan kebijakan. Watanabe membuka
konteks usia, makna, pelayanan, dan keterbatasan waktu yang dimiliki setiap
manusia. Di
sanalah esai memperoleh kekuatannya. Ia bukan lagi sekadar pertarungan
gagasan melawan gagasan ataupun fakta melawan fakta dalam ruang intelektual
yang tertutup. Ia
menjadi perjumpaan antara kebenaran faktual, kebenaran intelektual, dan
kebenaran pengalaman manusia, tiga wilayah yang tidak selalu mudah
dipertemukan dalam satu tulisan. Dan
barangkali di sanalah kita menemukan jawaban atas pertanyaan yang sejak awal
mengiringi tulisan ini: apakah kualitas esai Denny JA sudah sekelas master? Saya
menjawab: ya. Bukan karena setiap esainya sempurna. Tidak ada master yang
setiap karyanya sempurna, dan kesempurnaan bukanlah ukuran yang masuk akal. Ia
sekelas master karena telah menemukan bentuk yang dapat dikenali sebagai
miliknya sendiri, sekaligus memiliki perangkat intelektual untuk membawa
bentuk tersebut memasuki beragam persoalan. Ada
narasi yang mengundang emosi, data yang menjaga kaki berpijak pada kenyataan,
referensi yang membuka cakrawala, serta argumentasi yang membawa pembaca
untuk berpikir. Kemudian
datang penutup yang mengembalikan semuanya kepada manusia. Sebab sebanyak apa
pun teori dikutip, pada akhirnya tulisan hanya hidup apabila manusia
menemukan dirinya di sana. Mungkin
itulah ukuran paling sederhana bagi seorang penulis matang. Kita membaca
kalimat pertama karena ingin mengetahui kisah, lalu bertahan karena ingin
memahami dunia. Tetapi
ketika sampai pada kalimat terakhir, kita menemukan sesuatu yang ternyata
jauh lebih dekat daripada seluruh teori, data, sejarah, dan persoalan besar
tersebut. Kita
menemukan diri kita sendiri. ● REFERENSI Culler,
Jonathan. 1977. Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics and the
Study of Literature. London: Routledge & Kegan Paul. Narudin.
2023. Sintesemiotik: Teori dan Praktik. Batam: MirNov. Saussure,
Ferdinand de. 1974. Course in General Linguistics. London: Fontana/Collins. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar