Senin, 24 Agustus 2026

 

Mengapa Pengembangan Jaringan Gas PGN Jalan di Tempat

Ghoida Rahmah :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 23 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Sambungan jaringan gas rumah tangga baru menyentuh sekitar 800 ribu pelanggan.

 

·      PGN sudah membangun jaringan pipa di 74 kabupaten dan kota di Indonesia.

 

·      Pembangunan jaringan gas terhambat kendala biaya investasi hingga masalah geografis.

 

MUHAMMAD Hafiz nyaris lupa kapan terakhir kali membeli elpiji dalam tabung. Sejak 2021, pria 34 tahun itu memakai jaringan gas atau jargas rumah tangga untuk kebutuhan keluarganya di Grand Depok City, Depok, Jawa Barat.

 

Pada awalnya Hafiz mendapat informasi dari ketua rukun tetangga dan rukun warga bahwa PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) tengah menawarkan penyambungan jargas ke rumah-rumah warga. “Tawarannya menarik karena instalasi pipa hingga sambungan ke kompor gratis,” katanya pada Rabu, 19 Agustus 2026.

 

Semenjak jaringan itu tersambung, Hafiz tak lagi memakai elpiji dalam tabung. Dia cukup membayar biaya pemakaian gas bulanan Rp 120-150 ribu. Pengeluaran itu, menurut dia, lebih ringan dibanding biaya penggunaan Bright Gas dalam tabung 12 kilogram seharga Rp 210-240 ribu.

 

Selain harganya murah, sambungan gas melalui pipa membuat urusan dapur jauh lebih praktis. Untuk menghidupkan atau mematikan aliran gas, Hafiz cukup memutar keran pada meteran. Dia tak perlu lagi membeli dan mengangkat tabung dari warung atau minimarket. Ruang penyimpanan di dapur juga lebih lega karena keluarga Hafiz tak perlu menaruh tabung utama atau tabung cadangan di sana.

 

Selama lima tahun menjadi pelanggan jargas, Hafiz mengaku tak banyak menemukan gangguan. Memang, dia mengungkapkan, aliran gas pernah terhenti, tapi hanya sebentar. Menurut informasi yang ia terima saat itu, PGN sedang mengadakan pemeliharaan jaringan pipa utama. “Konsumsi tercatat melalui meteran, tagihan muncul setiap bulan, dan pembayarannya dapat dilakukan melalui aplikasi PGN,” tuturnya.

 

Depok adalah salah satu kota yang lebih dulu menikmati layanan jaringan gas rumah tangga. Di sana pemerintah membangun 4.000 sambungan pada 2010. Jaringan kemudian diperluas pada 2019 dengan tambahan 6.230 sambungan rumah tangga. Perluasan jargas mencakup kawasan padat penduduk seperti Kelurahan Beji, Kemiri Muka, Pondok Cina, Kukusan, Depok, dan Depok Jaya. Saat ini Depok memiliki 10 ribu sambungan jargas rumah tangga.

 

Pengembangan infrastruktur jargas di Indonesia sebenarnya telah dimulai pada 1974. PGN pertama kali mengalirkan gas ke pelanggan rumah tangga di Cirebon, Jawa Barat, sebelum kemudian merambah kota-kota lain yang memiliki sumber gas atau berada dekat dengan jaringan pipa gas alam.

 

Pada 2009, pemerintah memperbanyak pembangunan jargas menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Program itu dirancang untuk membawa gas bumi domestik yang selama ini banyak dinikmati industri. Sampai tahun lalu, pemerintah telah membangun 800 ribu sambungan gas rumah tangga.

 

Upaya mempercepat penetrasi jargas diperkuat Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2019. Aturan itu menjadikan pengembangan jargas bagian dari strategi diversifikasi sekaligus penguatan ketahanan energi.

 

Kini pemerintah menargetkan 5,5 juta rumah terhubung dengan jargas pada 2030. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung mengatakan, jika target ini tercapai, impor elpiji bisa berkurang 550 ribu ton per tahun dan ada penghematan anggaran subsidi Rp 5,6 triliun setahun. “Penyaluran gas diprioritaskan untuk kebutuhan domestik, dilakukan dengan integrasi pipa gas di berbagai wilayah,” ujar Yuliot.

 

Untuk mengatasi ketertinggalan itu, pemerintah kembali menggelontorkan anggaran. Dalam pagu Kementerian Energi tahun ini, pemerintah mengalokasikan Rp 4,8 triliun untuk program tambahan 1 juta sambungan jargas. Pembangunannya menggunakan skema kontrak tahun jamak dan menjadi bagian dari akselerasi 1 juta sambungan pada periode 2026-2028.

 

Infrastruktur tulang punggung jaringan pipa pun terus bertambah. Data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi menyebutkan, per Mei 2026, Indonesia memiliki 22.821 kilometer jaringan pipa gas bumi. Pipa sepanjang 5.370,14 kilometer merupakan jalur transmisi, 6.573,52 kilometer pipa distribusi, serta 10.877,13 kilometer pipa kepentingan sendiri dan jargas.

 

Dalam tujuh tahun, jaringan pipa gas nasional telah bertambah dari 13.764 kilometer pada 2018 menjadi 22.818 kilometer pada 2025. Namun upaya memperpanjang pipa utama tak otomatis membuat penetrasi jargas lebih mudah.

 

Pengamat energi dari Institut Teknologi Bandung, Yuli Setyo Indartono, menilai jargas sejatinya merupakan pilihan ideal untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga ataupun industri. Model serupa telah lama digunakan di banyak negara. “Persoalannya, pembangunan jaringan pipa di Indonesia butuh investasi besar,” katanya.

 

Salah satu kendalanya, Yuli menambahkan, adalah kondisi geografis. Wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan membuat sumber gas, jaringan transmisi, dan pusat-pusat permintaan tidak berada dalam satu bentang yang mudah terhubung dengan pipa. Tantangan bahkan belum selesai ketika pipa transmisi telah tersedia. Untuk mencapai konsumen, masih dibutuhkan jaringan distribusi yang bercabang agar gas bisa masuk ke kawasan permukiman.

 

Managing Partner PPIE Investment Moshe Rizal mengatakan setiap meter tambahan sambungan membutuhkan biaya. Pipa mesti melewati jalan, permukiman, dan beragam utilitas yang lebih dulu tertanam. “Perizinan, kepadatan bangunan, topografi, hingga jumlah pelanggan dalam satu kawasan ikut menentukan apakah sebuah jaringan layak dibangun atau tidak,” tutur Moshe, yang juga menjabat Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional.

 

Kemampuan APBN membiayai ekspansi jaringan gas juga terbatas. Setelah bertahun-tahun bertumpu pada duit negara, pada 2022, pemerintah menyiapkan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha atau KPBU. Batam dan Palembang dipilih sebagai lokasi proyek percontohan. Harapannya, modal swasta dapat mempercepat pembangunan jargas dalam skala yang lebih besar.

 

Menurut Moshe, jargas tak serta-merta menjadi proyek yang menggiurkan bagi pemodal. Sebab, dia menjelaskan, tingkat keekonomian jargas sebagai infrastruktur dasar publik cenderung rendah. Kondisi itu membuat pengembangannya sulit diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, terutama di luar Jawa. “Ini seperti jalan tol, seharusnya pemerintah yang berinvestasi dengan APBN dan tidak bisa berharap kepada investor,” ujarnya.

 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia tak menampik informasi bahwa tingkat pemanfaatan jargas rumah tangga masih relatif kecil. Padahal, menurut dia, penyaluran gas bumi langsung melalui pipa lebih hemat dan efisien ketimbang elpiji dalam tabung. “Karena itu, pemerintah berupaya mempercepat pembangunan infrastruktur yang menghubungkan sumber-sumber gas dengan pusat konsumsi,” katanya.

 

Salah satu mata rantai pentingnya adalah pipa transmisi Cirebon-Semarang atau Cisem. Ruas Cisem II sepanjang 245 kilometer, yang membentang dari Batang di Jawa Tengah hingga Kandang Haur Timur di Indramayu, Jawa Barat, mulai beroperasi penuh pada Juni 2026. Pemerintah kini membangun pipa Dumai-Sei Mangkei di Sumatera, juga menyiapkan koneksi lain seperti Semarang-Solo dan Cirebon-Bandung.

 

Meski jargas terus diperluas, jumlah rumah tangga yang telah menikmati gas pipa masih jauh dari ambisi pemerintah. Sekretaris Perusahaan PGN Fajriyah Usman mengatakan hingga kini perseroan melayani 822.561 pelanggan jargas rumah tangga di 74 kota dan kabupaten di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Jumlah tersebut baru sekitar 15 persen jika dibandingkan dengan target pemerintah sebanyak 5,5 juta sambungan pada 2030.

 

Dalam upaya pengembangan sambungan jargas rumah tangga, Fajriyah menuturkan, PGN tak bisa begitu saja membuka sambungan baru di setiap daerah. Perseroan harus lebih dulu menghitung kesiapan pasokan gas dan infrastruktur, kebutuhan calon pelanggan, minat masyarakat, hingga keekonomian proyek di tiap wilayah.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/pengembangan-jaringan-gas-pgn-elpiji-2283367

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar