|
Mengapa
Pengembangan Jaringan Gas PGN Jalan di Tempat Ghoida Rahmah
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 23 Agustus 2026
|
· Sambungan jaringan gas rumah tangga
baru menyentuh sekitar 800 ribu pelanggan. · PGN sudah membangun jaringan pipa di 74
kabupaten dan kota di Indonesia. · Pembangunan jaringan gas terhambat
kendala biaya investasi hingga masalah geografis. MUHAMMAD
Hafiz nyaris lupa kapan terakhir kali membeli elpiji dalam tabung. Sejak
2021, pria 34 tahun itu memakai jaringan gas atau jargas rumah tangga untuk
kebutuhan keluarganya di Grand Depok City, Depok, Jawa Barat. Pada
awalnya Hafiz mendapat informasi dari ketua rukun tetangga dan rukun warga
bahwa PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) tengah menawarkan penyambungan
jargas ke rumah-rumah warga. “Tawarannya menarik karena instalasi pipa hingga
sambungan ke kompor gratis,” katanya pada Rabu, 19 Agustus 2026. Semenjak
jaringan itu tersambung, Hafiz tak lagi memakai elpiji dalam tabung. Dia
cukup membayar biaya pemakaian gas bulanan Rp 120-150 ribu. Pengeluaran itu,
menurut dia, lebih ringan dibanding biaya penggunaan Bright Gas dalam tabung
12 kilogram seharga Rp 210-240 ribu. Selain
harganya murah, sambungan gas melalui pipa membuat urusan dapur jauh lebih
praktis. Untuk menghidupkan atau mematikan aliran gas, Hafiz cukup memutar
keran pada meteran. Dia tak perlu lagi membeli dan mengangkat tabung dari
warung atau minimarket. Ruang penyimpanan di dapur juga lebih lega karena
keluarga Hafiz tak perlu menaruh tabung utama atau tabung cadangan di sana. Selama
lima tahun menjadi pelanggan jargas, Hafiz mengaku tak banyak menemukan
gangguan. Memang, dia mengungkapkan, aliran gas pernah terhenti, tapi hanya
sebentar. Menurut informasi yang ia terima saat itu, PGN sedang mengadakan
pemeliharaan jaringan pipa utama. “Konsumsi tercatat melalui meteran, tagihan
muncul setiap bulan, dan pembayarannya dapat dilakukan melalui aplikasi PGN,”
tuturnya. Depok
adalah salah satu kota yang lebih dulu menikmati layanan jaringan gas rumah
tangga. Di sana pemerintah membangun 4.000 sambungan pada 2010. Jaringan
kemudian diperluas pada 2019 dengan tambahan 6.230 sambungan rumah tangga.
Perluasan jargas mencakup kawasan padat penduduk seperti Kelurahan Beji,
Kemiri Muka, Pondok Cina, Kukusan, Depok, dan Depok Jaya. Saat ini Depok
memiliki 10 ribu sambungan jargas rumah tangga. Pengembangan
infrastruktur jargas di Indonesia sebenarnya telah dimulai pada 1974. PGN
pertama kali mengalirkan gas ke pelanggan rumah tangga di Cirebon, Jawa
Barat, sebelum kemudian merambah kota-kota lain yang memiliki sumber gas atau
berada dekat dengan jaringan pipa gas alam. Pada
2009, pemerintah memperbanyak pembangunan jargas menggunakan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara. Program itu dirancang untuk membawa gas bumi
domestik yang selama ini banyak dinikmati industri. Sampai tahun lalu,
pemerintah telah membangun 800 ribu sambungan gas rumah tangga. Upaya
mempercepat penetrasi jargas diperkuat Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2019.
Aturan itu menjadikan pengembangan jargas bagian dari strategi diversifikasi
sekaligus penguatan ketahanan energi. Kini
pemerintah menargetkan 5,5 juta rumah terhubung dengan jargas pada 2030.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung mengatakan, jika
target ini tercapai, impor elpiji bisa berkurang 550 ribu ton per tahun dan
ada penghematan anggaran subsidi Rp 5,6 triliun setahun. “Penyaluran gas
diprioritaskan untuk kebutuhan domestik, dilakukan dengan integrasi pipa gas
di berbagai wilayah,” ujar Yuliot. Untuk
mengatasi ketertinggalan itu, pemerintah kembali menggelontorkan anggaran.
Dalam pagu Kementerian Energi tahun ini, pemerintah mengalokasikan Rp 4,8
triliun untuk program tambahan 1 juta sambungan jargas. Pembangunannya
menggunakan skema kontrak tahun jamak dan menjadi bagian dari akselerasi 1
juta sambungan pada periode 2026-2028. Infrastruktur
tulang punggung jaringan pipa pun terus bertambah. Data Badan Pengatur Hilir
Minyak dan Gas Bumi menyebutkan, per Mei 2026, Indonesia memiliki 22.821
kilometer jaringan pipa gas bumi. Pipa sepanjang 5.370,14 kilometer merupakan
jalur transmisi, 6.573,52 kilometer pipa distribusi, serta 10.877,13
kilometer pipa kepentingan sendiri dan jargas. Dalam
tujuh tahun, jaringan pipa gas nasional telah bertambah dari 13.764 kilometer
pada 2018 menjadi 22.818 kilometer pada 2025. Namun upaya memperpanjang pipa
utama tak otomatis membuat penetrasi jargas lebih mudah. Pengamat
energi dari Institut Teknologi Bandung, Yuli Setyo Indartono, menilai jargas sejatinya
merupakan pilihan ideal untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga ataupun
industri. Model serupa telah lama digunakan di banyak negara. “Persoalannya,
pembangunan jaringan pipa di Indonesia butuh investasi besar,” katanya. Salah
satu kendalanya, Yuli menambahkan, adalah kondisi geografis. Wilayah
Indonesia yang berbentuk kepulauan membuat sumber gas, jaringan transmisi,
dan pusat-pusat permintaan tidak berada dalam satu bentang yang mudah
terhubung dengan pipa. Tantangan bahkan belum selesai ketika pipa transmisi
telah tersedia. Untuk mencapai konsumen, masih dibutuhkan jaringan distribusi
yang bercabang agar gas bisa masuk ke kawasan permukiman. Managing
Partner PPIE Investment Moshe Rizal mengatakan setiap meter tambahan
sambungan membutuhkan biaya. Pipa mesti melewati jalan, permukiman, dan
beragam utilitas yang lebih dulu tertanam. “Perizinan, kepadatan bangunan,
topografi, hingga jumlah pelanggan dalam satu kawasan ikut menentukan apakah
sebuah jaringan layak dibangun atau tidak,” tutur Moshe, yang juga menjabat
Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional. Kemampuan
APBN membiayai ekspansi jaringan gas juga terbatas. Setelah bertahun-tahun
bertumpu pada duit negara, pada 2022, pemerintah menyiapkan skema kerja sama
pemerintah dengan badan usaha atau KPBU. Batam dan Palembang dipilih sebagai
lokasi proyek percontohan. Harapannya, modal swasta dapat mempercepat
pembangunan jargas dalam skala yang lebih besar. Menurut
Moshe, jargas tak serta-merta menjadi proyek yang menggiurkan bagi pemodal.
Sebab, dia menjelaskan, tingkat keekonomian jargas sebagai infrastruktur
dasar publik cenderung rendah. Kondisi itu membuat pengembangannya sulit
diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, terutama di luar Jawa. “Ini seperti
jalan tol, seharusnya pemerintah yang berinvestasi dengan APBN dan tidak bisa
berharap kepada investor,” ujarnya. Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia tak menampik informasi bahwa
tingkat pemanfaatan jargas rumah tangga masih relatif kecil. Padahal, menurut
dia, penyaluran gas bumi langsung melalui pipa lebih hemat dan efisien
ketimbang elpiji dalam tabung. “Karena itu, pemerintah berupaya mempercepat
pembangunan infrastruktur yang menghubungkan sumber-sumber gas dengan pusat
konsumsi,” katanya. Salah
satu mata rantai pentingnya adalah pipa transmisi Cirebon-Semarang atau
Cisem. Ruas Cisem II sepanjang 245 kilometer, yang membentang dari Batang di
Jawa Tengah hingga Kandang Haur Timur di Indramayu, Jawa Barat, mulai
beroperasi penuh pada Juni 2026. Pemerintah kini membangun pipa Dumai-Sei
Mangkei di Sumatera, juga menyiapkan koneksi lain seperti Semarang-Solo dan
Cirebon-Bandung. Meski
jargas terus diperluas, jumlah rumah tangga yang telah menikmati gas pipa
masih jauh dari ambisi pemerintah. Sekretaris Perusahaan PGN Fajriyah Usman
mengatakan hingga kini perseroan melayani 822.561 pelanggan jargas rumah
tangga di 74 kota dan kabupaten di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,
hingga Papua. Jumlah tersebut baru sekitar 15 persen jika dibandingkan dengan
target pemerintah sebanyak 5,5 juta sambungan pada 2030. Dalam
upaya pengembangan sambungan jargas rumah tangga, Fajriyah menuturkan, PGN
tak bisa begitu saja membuka sambungan baru di setiap daerah. Perseroan harus
lebih dulu menghitung kesiapan pasokan gas dan infrastruktur, kebutuhan calon
pelanggan, minat masyarakat, hingga keekonomian proyek di tiap wilayah. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/pengembangan-jaringan-gas-pgn-elpiji-2283367 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar