|
KALIMANTAN MENANGIS KETIKA POHON MENJADI API DAN LANGIT MENJADI ABU Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 23 Agustus 2026
|
Pada
suatu malam Agustus 2026, seorang anak di Kalimantan memandang keluar
jendela. Matahari belum tenggelam, tetapi langit telah kehilangan warna
birunya. Ibunya
menutup jendela rapat-rapat. Namun asap selalu menemukan celah, masuk
perlahan seperti tamu gelap yang tak pernah diundang ke dalam rumah. Sang
anak bertanya mengapa matahari memerah, seolah ikut terbakar bersama
pohon-pohon di kejauhan. Ibunya mungkin tak mempunyai jawaban yang sederhana. Di
luar, orang mengejar api dengan selang dan doa. Di dalam rumah, sebuah
keluarga menunggu sesuatu yang tak dapat mereka beli: udara bersih. Jauh
di balik kabut, kehidupan yang dibentuk alam selama ratusan bahkan ribuan
tahun sedang kehilangan bentuknya, menjadi arang, lalu terbang sebagai abu. Pohon
menjadi api. Langit menjadi abu. Di antara keduanya, Kalimantan seperti
sedang menangis tanpa suara, sementara manusia mulai menghitung harga
kehancurannya. -000- Tangisan
Kalimantan bukan sekadar metafora puitis. Ia adalah jerit alam yang menjelma
asap, menyusup ke paru-paru, lalu mengetuk kesadaran manusia. Di
balik kabut asap, angka-angka mulai berbicara dingin: menghitung hutan yang
hilang, kehidupan yang terusir, dan kerugian yang tak seluruhnya dapat dibeli
kembali. Kebakaran
Kalimantan 2026 bukan satu api raksasa. Ia lahir dari banyak karhutla ketika
cuaca, manusia, dan kerentanan ekologis bertemu pada waktu yang sama. Pada
20 Agustus 2026, BNPB mencatat 1.487 hotspot di Kalimantan. Sebanyak 767
berada di Kalimantan Tengah dan 560 lainnya di Kalimantan Barat. Hotspot
bukan luas kebakaran. Satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik panas,
sementara satu titik yang tertangkap satelit tetap memerlukan verifikasi di
lapangan. Namun
lonjakan titik panas adalah alarm. Lanskap sedang rapuh, ketika kekeringan
mengubah daun, ranting, semak, dan lahan terbuka menjadi bahan bakar. Pada
gambut yang kehilangan air, api bahkan dapat menyusup ke bawah tanah. Di
permukaan tampak mati, sementara bara diam-diam mencari jalan untuk hidup
kembali. Tetapi
cuaca bukan terdakwa tunggal. Dalam sejumlah kejadian yang diselidiki,
aktivitas manusia diduga menjadi sumber awal api yang kemudian merembet lebih
jauh. Kapolri
menyatakan sejumlah orang diamankan, sebagian diduga terkait pembukaan lahan
dengan cara bakar di pinggir konsesi, sebagian lainnya membuka kebun di gambut. Istilah
“bencana alam” karena itu terlalu sederhana. Alam menyediakan kekeringan,
manusia dapat menyediakan percikan, sedangkan tata kelola menentukan apakah
percikan menjadi bencana. Kalimantan
pernah membaca cerita serupa. Kebakaran besar terjadi pada 1982–1983, kembali
pada 1997–1998, kemudian menjadi krisis asap luar biasa pada 2015. Pada
2015, El Niño dan aktivitas manusia ikut membakar sekitar 2,6 juta hektare
lahan Indonesia, menciptakan salah satu krisis asap terburuk dalam sejarah
modern. Mengapa
tragedi serupa terus kembali? Salah satu jawabannya menyakitkan karena
sederhana: bagi sebagian pelaku, api murah, sedangkan pencegahan terasa lebih
mahal. Keuntungan
datang sekarang. Tagihannya dikirim kepada masyarakat melalui asap, penyakit,
kehilangan karbon, kerusakan habitat, banjir, serta kehidupan yang semakin
rapuh. Ilmu
ekonomi menyebutnya externality. Karhutla bukan sekadar persoalan api,
melainkan juga insentif ekonomi, institusi, penegakan hukum, dan cara manusia
menghargai alam. -000- Satu
juta hektare dalam esai ini bukan luas kebakaran Kalimantan 2026. Ia adalah
skenario pembanding untuk membayangkan akibat jika api terus membesar. Satu
juta hektare sama dengan sepuluh ribu kilometer persegi. Tetapi angka sebesar
itu tetap terlalu kecil untuk menggambarkan seluruh kehidupan yang berada di
dalamnya. Ketika
hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon. Fungi, serangga, burung,
mamalia, mikroba, kesuburan tanah, penyimpan air, dan cadangan karbon ikut
terluka. Yang
musnah bukan sekadar makhluk individual. Hubungan antarmakhluk ikut rusak.
Burung kehilangan pohon buah, sementara pohon kehilangan penyebar biji dan
kesempatan beregenerasi. Biodiversitas
bukan sekadar daftar spesies. Ia adalah jaringan hubungan yang memungkinkan
kehidupan saling menopang, berkembang, dan mempertahankan keberadaannya dari
generasi ke generasi. Bank
Dunia mencatat kebakaran Indonesia 2015 membakar sekitar 2,6 juta hektare dan
menimbulkan kerugian ekonomi sekitar Rp221 triliun bagi Indonesia ketika itu. Jika
dibagi sederhana, kerugiannya sekitar Rp85 juta setiap hektare dalam nilai
2015. Maka satu juta hektare menghasilkan orde kerugian sekitar Rp85 triliun. Namun
Rp85 triliun bukan harga hutan. Ia hanyalah bagian kerusakan yang berhasil
diterjemahkan manusia ke dalam bahasa uang dan perhitungan ekonomi. Ilmu
ekonomi lingkungan mengenal sesuatu yang lebih dalam daripada harga:
irreversibility, kerusakan yang tidak sepenuhnya dapat dikembalikan kepada
keadaan sebelumnya. Gedung
dapat dibangun kembali. Jalan dapat diperbaiki. Pohon dapat ditanam. Tetapi
ketika spesies terakhir punah, tidak ada anggaran mampu menghidupkannya
kembali. Sebuah
pohon berusia tiga ratus tahun dapat diganti dengan bibit. Namun bibit itu
tidak membawa kembali tiga abad kehidupan yang telah tumbuh bersamanya. Akuntansi
mampu menghitung kayu. Ekologi mengingat waktu. -000- Dunia
pernah menyaksikan api yang jauh lebih luas. Namun membandingkan luas saja
menyesatkan karena setiap ekosistem memiliki biodiversitas, kandungan karbon,
dan kemampuan pemulihan berbeda. Pada
2016, Fort McMurray di Kanada terbakar. Sekitar delapan puluh delapan ribu
orang mengungsi. Setelah api padam, Kanada meninjau sistem pencegahan dan
evakuasinya. Pelajaran
bagi Indonesia bukan meniru Kanada, melainkan kesediaannya belajar. Tragedi
dapat menjadi penderitaan sia-sia atau harga mahal menuju sistem yang lebih
dewasa. Dua
buku memperluas pelajaran itu. Fire Weather karya John Vaillant menunjukkan
perubahan iklim sedang menciptakan kondisi ketika api menjadi semakin mudah
membesar. Sementara
The Big Burn karya Timothy Egan menunjukkan bagaimana kebakaran Amerika 1910
ikut mendorong penguatan institusi kehutanan dan konservasi setelah tragedi
berlalu. Keduanya
bertemu pada satu pelajaran: kebakaran terbesar bukan ketika api mengalahkan
manusia, tetapi ketika setelah api padam, manusia tetap menolak belajar. -000- Ketika
membaca angka Rp85 triliun, mula-mula saya melihat statistik. Kemudian saya
teringat kembali wajah-wajah manusia di balik tragedi asap Indonesia
sebelumnya. Pada
2015, pemerintah mencatat 19 orang meninggal terkait bencana asap. Lebih dari
setengah juta kasus infeksi saluran pernapasan akut tercatat sepanjang musim
tersebut. Ada
satu gambar dari Kalimantan Tengah pada Oktober 2015 yang sulit dilupakan.
Seorang kakak berusia tiga belas tahun menggendong adiknya yang masih bayi. Bayi
tujuh bulan itu menderita infeksi saluran pernapasan. Desa Sei Ahass di
Kabupaten Kapuas diselimuti kabut tebal, sementara sekolah-sekolah terpaksa
ditutup. Saya
membayangkan orang tuanya. Seperti setiap ayah dan ibu, mungkin mereka hanya
menginginkan sesuatu yang sederhana: anaknya bernapas, tidur, bangun, lalu
tumbuh dewasa. Namun
pada musim asap, bahkan bernapas dapat menjadi kemewahan. Sebuah keluarga
tidak perlu tinggal dekat api untuk menjadi korban kebakaran hutan. Asap
berjalan ratusan kilometer. Ia melewati batas kabupaten dan negara,
menyelinap melalui celah jendela, kemudian mencari paru-paru manusia yang
paling rapuh. Kita
tidak mengetahui nasib akhir bayi itu. Karena itu, kita tak boleh menciptakan
tragedi yang tidak pernah dilaporkan atau mengatakan bahwa ia meninggal. Tetapi
kita tahu sembilan belas keluarga benar-benar kehilangan seseorang, sementara
ratusan ribu keluarga lain menjalani malam bersama penyakit akibat asap yang
menyelimuti mereka. “Sembilan
belas kematian” berarti sembilan belas kursi kosong di meja makan. “Lima
ratus ribu kasus” berarti ratusan ribu malam ketika keluarga hidup dalam
kecemasan. Itulah
paradoks statistik. Angka diperlukan untuk mengetahui skala penderitaan,
tetapi ketika angka terlalu besar, penderitaan justru dapat kehilangan wajah
manusianya sendiri. Karena
itu kita membutuhkan dua bahasa: bahasa angka agar kebijakan menjadi
rasional, dan bahasa manusia agar hati kita tidak menjadi kebal. -000- Ada
kontra argumen yang patut dihormati. Api memang bagian alami beberapa
ekosistem, dan manusia telah menggunakan pembakaran untuk mengelola lahan
selama ribuan tahun. Beberapa
hutan boreal dan savana berevolusi bersama api. Pembakaran terkendali bahkan
dapat menjadi instrumen ekologis apabila dilakukan dengan ilmu dan pengawasan
memadai. Tetapi
hutan hujan tropis lembap Kalimantan berbeda. Kebakaran besar berulang bukan
proses ekologis yang diperlukan untuk mempertahankan fungsi dan biodiversitas
hutan tersebut. Kontra
argumen berikutnya lebih sulit. Pembangunan memerlukan lahan. Perkebunan,
pertanian, tambang, dan infrastruktur menciptakan pekerjaan, ekspor,
penerimaan negara, serta kesejahteraan masyarakat. Romantisisme
lingkungan yang mengabaikan kemiskinan masyarakat sekitar hutan sama tidak
adilnya dengan pembangunan yang menganggap hutan sekadar lahan tanpa nilai
ekologis. Namun
pilihan kita bukan hutan atau kemakmuran. Pilihan sebenarnya adalah
pembangunan cerdas atau pembangunan yang menyembunyikan sebagian biayanya
kepada generasi berikutnya. Jika
keuntungan privat dinikmati hari ini, sementara kesehatan, karbon, banjir,
asap, dan biodiversitas dibayar publik, harga pasar hanya menceritakan
sebagian kebenaran. Pembangunan
berkelanjutan bukan menolak pertumbuhan. Ia hanya meminta satu kejujuran:
jangan menyebut sesuatu keuntungan sebelum seluruh kerugiannya ikut dihitung. -000- Karena
itu, untuk sebagian kekayaan alam, pencegahan bukan sekadar lebih murah
daripada pemadaman. Ia adalah satu-satunya pilihan yang masih benar-benar
rasional. Helikopter,
water bombing, dan penegakan hukum diperlukan. Tetapi semuanya datang setelah
kegagalan sebelumnya melahirkan api dan memberinya ruang untuk tumbuh semakin
besar. Pertahanan
sesungguhnya dimulai sebelum asap terlihat: gambut tetap basah, konsesi
diawasi, masyarakat diberi insentif tanpa bakar, dan titik panas segera
ditangani. Karbon,
air, biodiversitas, dan jasa ekosistem harus memperoleh tempat nyata dalam
keputusan pembangunan agar menjaga hutan menjadi pilihan ekonomi yang
rasional. Namun
ekonomi bukan alasan terakhir menyelamatkan hutan. Ada kehidupan yang layak
dipertahankan bukan karena menghasilkan uang, tetapi karena kita tak berhak
memusnahkannya. -000- Kalimantan
2026 belum menjadi Kalimantan 1997. Justru karena belum sebesar itu,
kesempatan mencegah sejarah berulang masih berada di tangan kita hari ini. Setiap
kebakaran jutaan hektare pernah bermula sebagai api kecil. Setiap langit
kelabu bermula dari asap tipis yang suatu hari dianggap belum
mengkhawatirkan. Itulah
jebakan sejarah. Kita menunggu masalah menjadi besar agar layak ditangani,
padahal ketika membesar, sebagian kerusakannya tidak lagi dapat dibalik. Ukuran
keberhasilan bukan berapa banyak helikopter diterbangkan setelah kebakaran.
Ukuran sesungguhnya adalah berapa banyak api yang tidak pernah memperoleh
kesempatan menjadi besar. Kemenangan
terbaik melawan bencana sering tidak menjadi berita. Hanya ada hutan yang
tetap berdiri, langit tetap biru, dan anak-anak yang tetap bernapas. -000- Kalimantan
bukan gudang kayu. Ia adalah perpustakaan evolusi yang ditulis alam selama
jutaan tahun, jauh sebelum manusia mengenal negara, pasar, perusahaan, dan
uang. Setiap
pohon adalah halaman. Setiap spesies adalah kalimat. Setiap sungai, burung,
serangga, dan mikroorganisme menjadi bagian cerita panjang tentang kehidupan. Di
dalamnya tersimpan gen, obat yang mungkin belum ditemukan, hubungan ekologis,
serta bab-bab kehidupan yang bahkan belum sempat dibaca ilmu pengetahuan. Membakar
hutan karena kita belum mengetahui seluruh nilainya sama seperti membakar
perpustakaan karena kita belum selesai membaca buku-buku yang tersimpan di
dalamnya. Alam
tidak selalu menyimpan salinan. Ada spesies yang hanya hidup di satu tempat.
Ketika makhluk terakhir menghilang, sebuah cerita evolusi berakhir selamanya. Kita
dapat menciptakan kecerdasan buatan, menjelajah angkasa, dan membaca kode
genetik. Tetapi kita belum mampu memanggil kembali spesies yang benar-benar
telah punah. Di
sanalah teknologi perlu belajar rendah hati: tidak semua yang mampu kita
rusak akan mampu kita ciptakan kembali setelah ia hilang dari bumi. -000- Suatu
hari asap Agustus 2026 akan menghilang. Hujan turun, langit kembali biru,
berita berganti, kamera pergi, dan manusia kembali kepada kesibukannya. Tetapi
hutan mempunyai jam berbeda. Sesuatu yang musnah dalam beberapa jam mungkin
memerlukan seratus tahun, bahkan lebih, untuk mendekati kehidupan sebelumnya. Satu
korek api hanya membutuhkan sedetik untuk menyala. Sebuah hutan membutuhkan
berabad-abad untuk menjadi dirinya sendiri dan membangun jaringan kehidupan
di dalamnya. Menyelamatkan
hutan karena itu bukan hanya agenda lingkungan. Ia adalah perjanjian moral
kita dengan manusia yang hari ini bahkan belum dilahirkan. Mereka
tidak hadir dalam rapat, tidak mempunyai suara dalam pemilu, bahkan belum
mempunyai nama. Tetapi merekalah yang kelak mewarisi keputusan kita hari ini. Jika
mereka mengetahui kita memiliki data, ilmu, teknologi, serta pengalaman
bencana sebelumnya, mungkin pertanyaan mereka hanya satu: mengapa kalian
tidak mencegahnya? -000- Malam
kembali turun di Kalimantan. Saya membayangkan anak di depan jendela itu,
masih memandang matahari merah yang samar-samar terlihat di balik kabut. Ia
tidak mengenal externality atau irreversibility. Ia tidak mengetahui berapa
triliun kerugian ekonomi atau berapa ton karbon dilepaskan ke udara. Ia
hanya mengetahui sesuatu yang sederhana: udara membuatnya sulit bernapas,
ibunya menutup jendela, dan langit yang seharusnya biru telah berubah menjadi
abu. Kadang
seorang anak memahami inti bencana sebelum orang dewasa selesai
memperdebatkan angka: dunia seperti apa yang hendak kita tinggalkan setelah
kita pergi? Kita
boleh menghitung satu juta hektare sebagai kerugian sekitar Rp85 triliun.
Tetapi jangan menyangka uang mampu membeli kembali kehidupan dan waktu yang
hilang bersamanya. Kepada
anak di balik jendela itu dan manusia yang belum dilahirkan, kita mempunyai
utang moral: meninggalkan bumi yang masih layak mereka cintai. Sebab
alam bukan warisan yang bebas kita habiskan. Ia adalah titipan dari masa lalu
yang suatu hari harus kita serahkan kepada masa depan. Manusia
dapat menanam kembali pohon. Tetapi manusia tidak pernah dapat menanam
kembali waktu yang telah berubah menjadi abu. ● REFERENSI Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Laporan Harian Kebakaran Hutan dan
Lahan, 20 Agustus 2026. Jakarta: BNPB, 2026. Timothy
Egan. The Big Burn: Teddy Roosevelt and the Fire that Saved America. Boston:
Houghton Mifflin Harcourt, 2009. John
Vaillant. Fire Weather: A True Story from a Hotter World. New York: Alfred A.
Knopf, 2023. World
Bank. The Cost of Fire: An Economic Analysis of Indonesia’s 2015 Fire Crisis.
Jakarta: World Bank Group, 2016. World
Bank & Kementerian Kesehatan RI. Estimasi Biaya Kesehatan Musim Asap 2015
di Sumatera dan Kalimantan. Jakarta: World Bank Indonesia, 2016. Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Data Karhutla Historis Indonesia
1982–2015. Jakarta: KLHK, 2016. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar