|
Bagaimana Merencanakan Pembangunan
Rumah di Gang Sempit Savero Aristia Wienanto : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 29 Agustus 2026
|
· Arsitek Yu Sing memberikan tip dan trik
pembangunan rumah di lahan sempit, termasuk di dalam gang. · Menurut dia, kehebatan dan keindahan
desain arsitektur akan kalah dengan keindahan ciptaan Tuhan, yaitu pohon. · Bila anggaran kurang, sejak awal
direncanakan rumahnya sebagai rumah tumbuh. GANG
sempit tak selalu menjadi batas bagi sebuah rumah untuk tampil estetik. Di
antara jalan selebar tubuh dan deretan permukiman padat, arsitek justru
dituntut mencari cara agar ruang tetap nyaman, terang, dan memiliki karakter.
Keterbatasan lahan memaksa setiap meter persegi dipikirkan dengan cermat,
dari tata letak ruang, bukaan, ventilasi, hingga pemilihan material. Rumah di
gang sempit tak harus identik dengan ruang pengap dan gelap. Untuk
mendapatkan hunian yang nyaman sekaligus estetik, persoalannya bukan
semata-mata soal luas bangunan. Perhitungan desain, kondisi tapak, material,
hingga anggaran menjadi bagian yang saling berkaitan. Arsitek
Yu Sing telah menghadapi persoalan serupa jauh sebelum rumah-rumah mungil di
gang menjadi perbincangan. Pada 2012, ia membangun Rumah Uway di Bandung,
Jawa Barat, dengan luas hanya 2 x 24 meter persegi. Pada tahun dan wilayah
yang sama, Yu Sing juga mengerjakan sebuah rumah seluas 34,5 meter persegi
yang berdampingan dengan Warung Sitinggil seluas 67,4 meter persegi. Bagi Yu
Sing, pendiri Studio Akanoma yang dikenal berfokus pada arsitektur berkelanjutan
dan rumah murah, lahan yang terbatas bukan alasan untuk mengabaikan kualitas
ruang. Justru dari keterbatasan itulah kebutuhan penghuni, kondisi iklim,
fungsi setiap ruang, serta hubungan rumah dengan lingkungan sekitar harus
dirumuskan sejak awal. Dalam
percakapan dengan Tempo, ia membagikan sejumlah pertimbangan untuk membangun
rumah estetik di gang sempit, dari pencahayaan dan ventilasi alami hingga
cara menyiasati ruang, material, serta anggaran. Berikut
petikan wawancaranya: Apa yang
membuat sebuah rumah menjadi estetik? Estetika
ini sebetulnya bukan standar pasti dan sangat relatif. Namun saya setuju dan
menganut standar estetika yang disampaikan Romo Mangunwijaya bahwa keindahan
adalah pancaran dari kebenaran. Kalau benar, pasti indah. Benar dalam hal ini
banyak aspeknya, misalnya sesuai/adaptif iklim, tata ruang rumah sehat,
penggunaan material sesuai dengan spesifikasinya, struktur rumahnya adaptif
gempa dan rapi, proporsi sesuai dengan fungsinya, sistem sanitasi dan air
bersih yang baik, dll. Tanpa acuan kebenaran, sering kali estetika yang
disebut banyak orang sifatnya hanya tempelan, tidak substantif, dibuat-buat,
atau hanya bersifat sementara, lalu setelah beberapa bulan atau tahun tidak
terlihat indah lagi. Unsur
apa yang paling penting dalam arsitektur rumah estetik? Apa pun
kehebatan desain arsitektur, keindahannya akan kalah dengan keindahan ciptaan
Tuhan, yaitu pohon. Pohon akan membuat lingkungan menjadi indah, teduh,
segar, ekosistem lebih kompleks, air tanah terjaga, dll. Tanam pohon: cara
paling ampuh untuk meningkatkan keindahan rumah dan sekaligus punya banyak
tambahan manfaat positif. Apa hal
utama yang harus dipertimbangkan dalam membangun rumah estetik? Paling
utama standar rumah sehat dulu. Untuk konteks Indonesia, pencahayaan dan
ventilasi alami di semua ruangan, termasuk kamar mandi. Justru kamar mandi
itu ruang yang paling lembap, berarti paling membutuhkan ventilasi dan
pencahayaan yang baik agar tetap sehat. Bagaimana
jika dibangun di lahan sempit? Walaupun
lahannya kecil, tetap diperlukan ruang terbuka agar ventilasi dan pencahayaan
bisa lancar. Ruangan yang nyaman tidak bergantung pada ukurannya yang lebih
besar, tapi pada pengalaman ruangnya. Penempatan ruang-ruang terbuka membuat
kualitas ruang meningkat lebih baik daripada ruangan besar tapi pengap.
Kadang kala kami menyisakan hanya 30 sentimeter di samping lahan, menjadi
taman kering dalam rumah, agar rumah tidak menempel dengan tetangga dan
ventilasi pencahayaan lancar. Pada ruang terbuka, penting juga menanam pohon
sesuai dengan besar kecilnya ruang terbuka. Baik pohon rambat, perdu, ataupun
pohon besar yang akarnya tunggang atau tidak merusak bangunan. Bagaimana
cara mendapatkan suhu ideal? Insulasi
atau desain penahan panas matahari pada atap atau dinding juga penting agar
rumah bisa lebih teduh. Ventilasi termasuk memikirkan bagaimana udara panas
yang masuk atau ada di dalam rumah bisa dibuang keluar dan udara dingin bisa
leluasa masuk. Karena itu, diperlukan ventilasi silang–dengan dua atau lebih
bukaan pada sisi dinding berbeda. Bagaimana
dengan penyesuaian desain ruangan? Pada
lahan terbatas, ukuran ruangan juga harus didesain seefisien mungkin dengan
proporsi ruang yang tepat. Misal ruang tidur kecil saja karena fungsi
utamanya hanya untuk tidur. Misalnya ukuran kamar anak bisa dibuat hanya 1,2
m x 2-3 m. Ini juga berhubungan dengan penyesuaian barang-barang yang lebih
sedikit/seperlunya. Bahkan mungkin juga kamar anak didesain bertumpuk seperti
hotel kapsul. Ukuran ruang-ruang yang kecil, seperti kamar tidur dan kamar
mandi, memberikan kesempatan ruang keluarga multifungsi menjadi cukup besar.
Kalau lebih dari satu lantai, lebar tangga tidak perlu 1 meter, minimal 60
sentimeter saja sudah cukup. Sebagai
arsitek, kesulitan apa saja yang paling sering Anda temui dalam membangun
rumah mini di gang sempit tapi harus tetap estetik? Paling
sulit sebetulnya keterbatasan anggaran. Kalau anggaran cukup besar, desain
terbuka dengan banyak kemungkinan eksplorasi. Desain lebih mudah bila
anggaran lebih besar. Sering kali pada lahan sempit, justru anggarannya pun
kurang. Sedangkan kerelaan pemilik untuk beradaptasi dengan rumah kecil
sering kali belum sinkron. Anda
dikenal sebagai arsitek yang mengedepankan konsep ramah lingkungan. Apa
gagasan utama yang Anda tawarkan? Paling
utama adalah rumah sehat dengan syarat minimal ventilasi dan pencahayaan
alami. AC hanya sebagai pilihan, bukan yang utama. Walaupun terpaksa pakai,
nyalanya hanya sebentar. Lebih
banyak pohon akan lebih baik karena pohon dapat menurunkan suhu lingkungan
atau minimal mengurangi penyimpanan panas pada semua material perkerasan pada
halaman, dinding, atau atap bangunan. Penanaman pohon lebih berdampak pada
penurunan suhu lingkungan daripada bangunan hijau. Bila
kondisi tanah memungkinkan, sumur resapan sangat diperlukan untuk mengurangi
banjir. Bahkan lebih baik lagi kalau rumah berupa panggung. Lantai dasar
rumah tidak menempel tanah. Kolong rumah dibiarkan kosong, material tanah
sangat baik menyerap kelembapan untuk mengatasi iklim tropis lembap. Bila
kolong rumah bersih/kosong dengan tinggi minimal 60 cm, tidak akan jadi
sarang binatang dan bisa dibersihkan bila perlu. Bisa juga sekeliling kolong
rumah ditutup loster/kawat galvanis agar binatang liar tidak masuk. Material
yang awet juga penting, apalagi kalau bisa menggunakan banyak material lokal. Bagaimana
tip memperhitungkan bujet untuk membangun rumah estetik di dalam gang? Anggaran
ini yang paling sulit. Namun prinsipnya jangan percaya harga yang jauh di
bawah harga pasar. Patokannya adalah luas rumah dikali harga pasar per meter
persegi. Bila harganya terlalu rendah di bawah harga pasar, pasti banyak yang
dikorbankan, misalnya kualitas, keawetan, sampai desain yang membuat rumah
pengap dan tidak sehat. Tip lain, bila anggaran kurang, sejak awal
direncanakan rumahnya sebagai rumah tumbuh. Anggaplah tahap awal hanya
membangun 1-2 kamar kos sudah cukup, lalu nanti bisa bertumbuh. Kalau
direncanakan sejak awal, desainnya bisa dipikirkan agar, ketika tumbuh, tidak
banyak bongkaran atas apa yang dibangun lebih dulu. Bagaimana
dengan waktu pengerjaan? Waktu
pengerjaan sangat bergantung pada sistem bangunan konvensional atau
pracetak/prefabrikasi ataupun penyediaan anggaran. Makin banyak tukang yang
mengerjakan, makin cepat, tapi risiko kebocoran anggaran juga makin besar.
Tukang sedikit bisa lebih lama, tapi anggaran bisa lebih efisien. ● Sumber : https://www.tempo.co/teroka/filosofi-dan-perhitungan-harga-pembangunan-rumah-dalam-gang--2284380 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar