|
Benarkah
CNG Merah Putih Lebih Murah dari Subsidi Elpiji Caesar Akbar :
Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 23 Agustus 2026
|
· Anggaran subsidi elpiji terus
membengkak setiap tahun karena masih harus diimpor. · Pemerintah menghitung nilai subsidi CNG
dalam tabung 30 persen di bawah subsidi elpiji. · Pada tahap awal, pemerintah
merencanakan tabung dan casing untuk kemasan CNG dibuat di Cina. HAMPIR
saban tahun pemerintah mengerek anggaran subsidi energi. Dalam dua tahun
terakhir, kenaikannya cukup besar. Rata-rata realisasi subsidi energi pada
2022-2025 mencapai Rp 174,7 triliun per tahun. Tahun ini, pemerintah
memperkirakan nilainya menembus Rp 227,3 triliun. Pada
2027, kebutuhan subsidi energi kembali meningkat. “Subsidi energi tahun depan
Rp 272,95 triliun,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam
konferensi pers nota keuangan serta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara 2027 pada Jumat, 14 Agustus 2026. Subsidi
elpiji dalam tabung 3 kilogram menyumbang lebih dari separuh kenaikan anggaran
subsidi energi. Nilainya naik dari Rp 90,4 triliun tahun ini menjadi Rp 114,1
triliun pada 2027. Penyalurannya pun belum sepenuhnya tepat sasaran. Pemerintah,
dalam Buku II Nota Keuangan RAPBN 2027, menyebutkan elpiji 3 kilogram masih
didistribusikan secara terbuka. Data masyarakat yang berhak menerima subsidi
juga masih perlu diperbaiki dan diperbarui secara berkala. Belakangan,
gagasan mencari pengganti elpiji mengemuka, dari pengolahan batu bara menjadi
gas dimetil eter atau DME hingga yang teranyar, penggunaan gas alam
terkompresi atau compressed natural gas (CNG). Pada Mei
2026, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral menyiapkan peta jalan konversi atau peralihan penggunaan elpiji
ke CNG yang dikemas dalam tabung. Program bernama CNG Merah Putih itu
digadang-gadang bisa mengurangi ketergantungan pada impor elpiji yang selama
ini memperbesar beban subsidi. Direktur
Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi Laode Sulaeman mengatakan konversi
elpiji menuju CNG mendesak dilakukan karena angka konsumsi elpiji terus
meningkat. Kondisi tersebut membuat beban subsidi dan aliran devisa untuk
impor elpiji makin besar setiap tahun. “Seiring dengan pertumbuhan penduduk,
kita akan terus menambah impor elpiji kalau tidak bisa kita konversikan ke
sumber yang lain,” ujarnya di Jakarta pada 5 Mei 2026. Pemerintah
memperkirakan konversi tersebut dapat menghemat subsidi energi hingga 30
persen. Laode menyebut keselamatan dan kemudahan penggunaan sebagai dua hal penting
yang harus disiapkan. Sistem yang dikembangkan, dia menjelaskan, harus plug
and play atau ringkas, termasuk penggunaan valve dan converter penyalur gas
dalam tabung sehingga masyarakat tidak perlu mengganti kompor. Dokumen
Kementerian Energi juga memuat perbandingan nilai subsidi antara elpiji 3
kilogram dan CNG. Untuk elpiji, pemerintah menggunakan asumsi harga Rp 20.500
per kilogram. Dari harga tersebut, subsidi dihitung Rp 13.700 per kilogram
sehingga harga setelah subsidi menjadi Rp 6.800 per kilogram. Dengan basis
hitungan satu tabung berisi 3 kilogram, harga elpiji sebelum subsidi menjadi
Rp 61.500. Nilai subsidinya Rp 41.100 dan harga yang dibayar konsumen Rp
20.400. Untuk
CNG, pemerintah menggunakan basis energi yang setara dengan satu tabung
elpiji 3 kilogram, yakni 3,699 meter kubik. Harga gas CNG dihitung Rp 6.843
per meter kubik sehingga biaya gasnya mencapai Rp 25.313. Pemerintah
menggunakan asumsi harga tabung CNG tipe 4 Rp 12 juta dan usia pakai 20
tahun. Tabung disediakan melalui skema sewa. Biaya sewa tabung, logistik,
distribusi, dan pajak ditetapkan Rp 24 ribu sehingga harga sebelum disubsidi
menjadi Rp 49.313. Agar
harga yang dibayar konsumen tetap Rp 20.400, subsidi CNG yang dibutuhkan Rp
28.913. Dibanding subsidi elpiji yang sebesar Rp 41.100 per tabung,
pemerintah menghitung ada penurunan jumlah subsidi sekitar 30 persen. Dalam
rancangan program CNG Merah Putih, pemerintah merencanakan tabung dan casing
pelindungnya dibuat di Cina pada tahap awal. Valve atau katup penurun tekanan
otomatis berasal dari Jerman. Namun pemerintah menyiapkan PT Pindad (Persero)
untuk membuat tabung CNG pada tahap berikutnya. Pada
Juli 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan
pemerintah akan menggandeng Pindad untuk membuat tabung CNG 3 kilogram.
Pindad telah berpengalaman memproduksi tabung elpiji kemasan 3 kilogram; 5,5
kilogram; dan 12 kilogram serta converter kit. Tempo
meminta tanggapan melalui surat serta pesan kepada Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral ihwal rencana pengembangan CNG Merah Putih seperti yang
tercantum dalam dokumen itu. Namun hingga Jumat, 21 Agustus 2026, belum ada
tanggapan. Perkembangan
proyek CNG disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi
Laode Sulaeman saat ditemui Tempo di sela-sela acara Geothermal Convention
& Exhibition di Jakarta International Convention Center pada Rabu, 19
Agustus 2026. Pemerintah, dia menerangkan, masih menyelesaikan proses di hulu
dan hilir serta pendataan masyarakat calon penerima barang bersubsidi itu. Menurut
Laode, uji coba dilakukan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi atau
Lemigas dengan pelibatan pengusaha kecil-menengah. Ihwal melonjaknya anggaran
subsidi energi dalam RAPBN 2027 di tengah rencana konversi elpiji ke CNG,
Laode mengatakan hal itu akan dibahas kemudian. Perihal
potensi penurunan jumlah subsidi, Direktur Eksekutif Center of Reform on
Economics Indonesia Mohamad Faisal mengatakan beban APBN bisa jadi berkurang.
Namun, dia menambahkan, skema yang ditawarkan pemerintah justru memindahkan
sebagian beban negara kepada badan usaha. “Beban subsidi APBN turun, tapi ada
tambahan beban biaya yang mesti ditanggung badan usaha, yaitu pengadaan
tabung,” tutur Faisal. Dalam
skema tersebut, badan usaha harus lebih dulu mengeluarkan biaya untuk
pengadaan tabung. Biaya itu kemudian ditutup secara bertahap melalui
pembayaran sewa dari konsumen hingga mencapai titik impas. Sedangkan konsumen
tidak perlu membeli tabung, tapi membayar biaya sewa. Karena
itu, Faisal menilai skema tersebut perlu diuji lebih dulu. Menurut dia, titik
kritisnya bukan hanya pada kemampuan badan usaha mitra program ini, yang
menanggung biaya pengadaan tabung, melainkan juga pada penerapan sistem sewa
di masyarakat dan jalannya distribusi. Kepala
Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Institute for Development
of Economics and Finance Abra Talattov mempertanyakan hitungan penghematan 30
persen yang dibuat pemerintah. Menurut dia, pemerintah perlu memperjelas
apakah penghematan itu berlaku sampai tingkat konsumen atau hanya didasari
harga gas. Persoalan
lain adalah tabung CNG yang harganya jauh lebih mahal dibanding tabung
elpiji. Menurut Abra, dalam skema sewa, konsumen tidak lagi menanggung biaya
pembelian tabung. Namun pengadaan dan pemeliharaannya menjadi tanggung jawab
badan usaha dan membutuhkan investasi besar. “Apakah beban itu dibiayai APBN
atau badan usaha, termasuk pengadaan dan pemeliharaan tabung?” katanya. Menurut
Abra, pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan pasokan gas bumi untuk
CNG. Sebab, tingkat produksi gas bumi terus menurun, sementara kebutuhan
industri domestik masih besar. Karena itu, dia berpendapat, pemerintah perlu
memastikan pasokan gas yang berkelanjutan untuk program CNG agar harga energi
tersebut tetap kompetitif terhadap elpiji. Di atas
persoalan biaya dan pasokan itu, Abra melihat ada masalah yang lebih
mendasar, yakni mekanisme subsidi. Menurut dia, subsidi perlu segera
dialihkan dari barang kepada penerima manfaat. CNG seharusnya menjadi pilihan
bagi masyarakat, bukan kewajiban, sementara subsidi diberikan kepada mereka
yang memang berhak. “Mekanisme subsidinya harus segera diubah dari barang ke
orang,” ujarnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/cng-merah-putih-elpiji-subsidi-energi-2283369 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar