|
Geger Gowa Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 23 Agustus 2026
Drama besar
pelengseran bupati terjadi di Gowa, Sulawesi Selatan. Pekan
lalu DPRD setempat secara bulat memakzulkan Bupati Sitti Husniah Talenrang.
Saya sebut drama karena tiga unsur ada di dalamnya: kekuasaan, uang, dan seks.
Intinya:
bupati dituduh berselingkuh dengan Basri Kajang, konsultan pemenangannya saat
maju jadi calon bupati Gowa.
Ditambah
tuduhan lain: pencabutan beasiswa S-3 seorang warga dan korupsi baju seragam
siswa dengan anggaran Rp 15 miliar.
Yang dua
terakhir tidak menonjol. Soal perselingkuhanlah yang paling dramatis. DPRD
sampai membentuk pansus, panitia khusus, untuk menyelidiki perselingkuhan itu.
Banyak saksi
dihadirkan di sidang-sidang Pansus. Mereka adalah para pejabat di bidang
protokol di Pemkab Gowa. Merekalah yang tahu ke mana saja bupati Husniah, di
hotel mana saja menginap, dan di mana pula Basri. Mereka yang memesan hotel,
mengatur perjalanan, dan mendampingi bupati.
Sidang-sidang
pansus itu terbuka. Direkam. Videonya diunggah ke YouTube. Diputar pula video
adegan ketika yang disebut Basri bersama Husniah. Suami Husniah juga bersaksi
di pansus. Semuanya diceritakan secara gamblang menurut versi saksi.
Saat
menyaksikan video-video kesaksian itu saya sempat terkecoh. Saya pikir sang
suami masih berstatus suami seperti dinarasikan. Ternyata, saat bersaksi itu
statusnya sudah duda. Mereka sudah bercerai Juni lalu.
Sang duda
mengaku tidak tahu kalau ada sidang-sidang perceraian di pengadilan. Tahu-tahu
dapat kiriman surat putusan yang mengabulkan perceraian. Itu versi saksi.
Bupati sendiri
akhirnya hadir di sidang babak akhir pleno DPRD. Acaranya sudah pada tingkat
membahas laporan hasil pansus. Di situ bupati diminta pendapatnyi: menerima
atau menolak putusan pansus yang menyatakan telah terjadi dugaan pelanggaran
etika dan perbuatan tercela. Lalu Pansus Hak Angket DPRD Gowa merekomendasikan
pemberhentian Husniah sebagai bupati Gowa lewat aturan hukum yang berlaku.
Dalam pidato
tanggapan itu bupati Husniah tidak menyatakan menerima atau menolak. Dia lebih
banyak mengkritik DPRD yang merusak martabat pribadinyi dan bukan kebijakannyi.
Di tengah
pidato dia juga memutar rekaman suara anaknyi yang sedang kuliah di Semarang
sebagai bukti betapa martabat pribadinyi telah dihancurkan.
DPRD Gowa
akhirnya membuat keputusan memakzulkan bupati Husniah.
Tentu Husniah
tidak otomatis berhenti sebagai bupati. Yang berhak memberhentikan adalah
menteri dalam negeri. Itulah sebabnya DPRD hanya bisa mengusulkan pemakzulan
itu ke Kementerian dalam negeri.
Setelah putusan
itu tersiar luas di medsos ternyata muncul perlawanan hukum. Basri Kajang pergi
ke Makassar untuk melaporkan pribadi-pribadi anggota pansus ke polisi di sana:
pencemaran nama baik. Juga melaporkan saksi-saksi sebagai telah memberikan kesaksian
palsu. Basri juga mempersoalkan sidang-sidang pansus: kenapa sidangnya terbuka
dan hasilnya diunggah ke YouTube.
"Saya
terpaksa datang ke Makassar untuk melaporkan mereka ke polisi," ujarnya.
Laporan itu sudah ia masukkan ke Polda Sulsel. Rabu lalu. Basri didampingi
pengacaranya: Jasri Jack. Juga ditemani sahabat karibnya: Zulfikar Yunus.
Ternyata sudah
lama Basri lebih banyak tinggal di Balikpapan. Yakni sejak istrinya pindah ke
Kaltim menjabat direktur pascasarjana di salah satu universitas swasta di
Balikpapan. Di Balikpapan pula mereka bercerai. Dua tahun lalu. Kini tiga anak
mereka ikut sang ibu.
Meski sudah
bercerai, Basri, asal Sulsel, tetap tinggal di Balikpapan. Punya rumah sendiri.
Rumahnya tidak jauh dari rumah mantan istrinya sehingga masih merasa dekat
dengan tiga anaknya.
Ketika pansus
bersidang dan videonya diunggah ke YouTube, anak-anak Basri sampai ada yang
berhenti sekolah: tidak tahan malu di-bully teman-temannya.
"Laki-laki
yang di video itu bukan bapakmu," ujar Basri kepada anaknya seperti
dikutipkan ke saya. "Bapak tidak berselingkuh dengan Bu Bupati Gowa,"
ujar Basri.
Kenapa Basri
tidak hadir saat persoalannya masih di pansus? Ia berpendapat pansus itu proses
politik. Ia merasa tidak ada hubungan dengan persoalan politik.
Akhirnya
Zulfikar –pernah berada di tim ahli militer Dr Salim Said– menjemput Basri ke
Balikpapan. Zulfikar, budayawan dan penulis banyak buku, mengajak Basri pulang
ke Makassar. Basri tinggal serumah dengan Zulfikar karena rumah Basri di sana
sudah diberikan ke istri sebagai gono-gini. Lalu mengadu ke polisi.
Basri alumnus
Universitas Negeri Makassar. Zulfikar alumnus UIN Makassar. Keduanya aktivis
sejak mahasiswa.
Waktu Syahrul
Yasin Limpo mencalonkan diri sebagai gubernur Sulsel, Basri Kajang sebagai
konsultan politiknya. Waktu itu Basri masih tergabung dengan Lingkaran Survei
Indonesia-nya Denny JA.
Setelah Limpo
berhasil jadi gubernur, Basri memisahkan diri dari LSI. Ia berdiri sendiri
sebagai konsultan politik independen. Basri banyak dipakai calon bupati dan
wali kota. Sudah puluhan yang berhasil di pilkada.
Suatu saat
Basri dihubungi Fadil Imran, seorang jenderal polisi. Adik sang jenderal, Sitti
Husniah akan maju sebagai calon anggota DPRD Gowa. Basri diminta jadi konsultan
politiknyi. Berhasil. Pun ketika Husniah akan mencalonkan diri sebagai bupati
Gowa. Berhasil lagi.
Kini persoalan
di Gowa sangat riuh. Perang YouTube luar biasa hebatnya. Sudah merembet ke
persoalan pidana. Saling mengadukan.
Perdebatan juga
sangat luas: ini urusan pribadi atau urusan publik. Ahli-ahli hukum di
Universitas Hasanuddin Makassar punya pendapat masing-masing.
Basri sendiri
akan tetap tinggal di Makassar sampai proses hukum yang ia adukan tuntas.
"Anne mi Toto bura'neku. Saya akan jalani prosesnya," katanya.
Drama Gowa ini
menjadi serial yang panjang. Itu bisa menjadi penambah kesibukan Anda di tengah
drama kupas bawang. Kita perlu lebih banyak lagi drama agar lupa persoalan
bangsa yang sebenarnya. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/964359/geger-gowa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar