Sabtu, 29 Agustus 2026

 

Klarifikasi Budi Arie dan Reaksi Elite Politik soal Isu Percepatan Pemilu

Nino Citra Anugrahanto dkk :  Wartawan Kompas.

KOMPAS, 26 Agustus 2026

 

 

                                                           

Budi Arie menyebut wacana percepatan pemilu hanya analisis pribadi. Pernyataan di dekat Jokowi itu menuai reaksi keras koalisi yang menegaskan negara berkonstitusi.

 

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Projo, Budi Arie Setiadi, menegaskan, pernyataannya soal potensi percepatan penyelenggaraan pemilu merupakan pandangan pribadinya. Kegelisahan masyarakat akhir-akhir ini menjadi pemicunya mengutarakan pemikiran tersebut. Dia mengharapkan gagasannya sekaligus mampu didudukkan sebagai pengingat bagi pemerintah atas ekspektasi tinggi masyarakat.

 

Video yang merekam pernyataan Budi Arie itu marak beredar di media sosial sejak Senin (24/8/2026) malam. Dalam video itu, ia menyampaikan pandangannya saat duduk persis di sebelah Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

 

Isi pernyataan Budi Arie meliputi kekhawatiran pribadinya jika penyelenggaraan pemilu terjadi lebih cepat dari jadwal yang seharusnya diadakan pada 2029. Dugaan itu berangkat dari pembacaannya atas kondisi publik yang tidak puas akan kondisi pemerintahan dan ekonomi akhir-akhir ini.

 

Budi Arie mengungkapkan, pernyataan itu disampaikannya saat acara silaturahmi antara Jokowi dan sukarelawan pendukungnya, Senin lalu, di Jakarta. Sebenarnya, sebut dia, acara pertemuan itu diadakan secara tertutup. Bahkan, tidak ada sukarelawan yang diperkenankan untuk merekam isi pembahasan yang kebanyakan mengenai isu sensitif dan berpotensi menimbulkan perdebatan publik.

 

”Saya minta maaf kalau ada pihak-pihak yang tidak berkenan dengan pernyataan saya. Itu, kan, analisis dan pernyataan yang sifatnya pribadi,” kata Budi Arie di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

 

Sebelum mengeluarkan pernyataan itu, Budi Arie mengaku lebih dahulu mengumpulkan sederet kajian lembaga penelitian. Tak hanya itu, ia juga menyerap berbagai aspirasi masyarakat atas dinamika yang terjadi setidaknya dalam dua tahun terakhir. Segala temuan itu membuatnya berkesimpulan soal adanya anomali yang bisa saja menyebabkan gejolak politik.

 

Namun, sebut Budi Arie, prosedur demokrasi yang konstitusional mesti dikedepankan untuk menyikapi perkembangan dan dinamika itu. Ia pun tak mau apabila pemilu harus berlangsung lebih cepat. Ia menginginkan hajatan politik itu diadakan sesuai jadwal yang ditentukan.

 

”Tetapi, kan, kita juga harus mempersiapkan manakala ada hal-hal di luar dugaan kita. Kita tetap taat pada prosedur dan tata cara yang demokratis dan konstitusional,” kata Budi Arie.

 

Setelah pernyataan pribadinya viral, Budi Arie mengaku siap mempertanggungjawabkan sepenuhnya. Ia kembali menegaskan segala analisisnya bersifat pribadi.

 

Budi Arie tak mau jika pandangan personalnya itu dikait-kaitkan dengan Jokowi selaku patron bagi organisasi sukarelawan yang dipimpinnya. Sebaliknya, Jokowi justru menenangkan segenap sukarelawan yang mengutarakan keluh kesahnya atas kondisi terkini dengan menyebut bahwa kekhawatiran sukarelawan itu tidak akan terjadi.

 

”Teman-teman sukarelawan itu bicara lebih dari satu jam. Pak Jokowi cuma 5-10 menit saja bicara. Beliau menyimpulkan semua yang disampaikan teman-teman. Intinya, Pak Jokowi berpesan bahwa kita harus sama-sama menjaga persatuan, kesatuan, dan terus mendukung pemerintahan ini,” kata Budi Arie.

 

Budi Arie menghormati pendapat pihak-pihak lain atas pandangan pribadinya. Namun, ia menampik jika pernyataannya itu ditujukan untuk mengadu domba antara Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto. Alih-alih mengusik relasi kedua elite itu, pihaknya justru mengklaim sebagai kelompok yang paling tegas untuk menjaga hubungan keduanya.

 

Ungkapannya itu, sebut Budi Arie, malah menjadi bentuk perhatian atas tingginya ekspektasi masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Menurut dia, hal itu dibuktikan dari gelaran pemilu yang memenangkan Prabowo-Gibran berlangsung hanya satu putaran. Hasil itu menunjukkan keinginan masyarakat atas keberhasilan pemerintahan ini.

 

”Harapan yang tinggi dari rakyat ini harus kita pahami bahwa pengelola pemerintahan harus sungguh-sungguh mendengarkan rakyat dan mau bekerja di garis rakyat,” kata Budi Arie.

 

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Kawendra Lukistian menegaskan, pemerintahan Presiden Prabowo berjalan berdasarkan konstitusi dan mandat rakyat yang sah.

 

”Pemerintahan Presiden Prabowo berdiri di atas fondasi konstitusi dan mandat rakyat yang sah. Analogi ’patahan sejarah’ yang mempercepat usianya pemerintahan adalah bentuk analisis latar yang ahistoris,” ujar Kawendra.

 

Menurut Kawendra, pemerintahan tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan spekulasi mengenai perubahan politik yang mungkin terjadi. Ia menekankan bahwa Partai Gerindra akan tetap fokus mendampingi dan mengawal Presiden Prabowo dalam menjalankan pemerintahan.

 

”Kami di Gerindra fokus mengawal Presiden Prabowo bekerja keras dengan segala daya upayanya dan pasti akan terus membersamai beliau,” ujar Kawendra.

 

Sebelumnya, Juru Bicara Gerindra Sugiat Santoso mengatakan partainya belum membahas Pemilu 2029 dan saat ini masih berfokus pada program pemerintahan Presiden Prabowo. Gerindra juga menegaskan tidak terpengaruh oleh wacana percepatan pemilu yang disampaikan Budi Arie.

 

Kawendra kemudian menyinggung perjalanan politik yang menurutnya penuh dengan tantangan. Ia mengatakan, perjuangan untuk mendukung Prabowo bukan sesuatu yang baru dilakukan setelah berada di pemerintahan.

 

”Bukan baru sekarang, tetapi sejak dulu. Ya, sejak kalah berkali-kali dan tetap terus bangkit lagi!” kata Kawendra.

 

Kawendra pun menyampaikan pesan tentang pentingnya keyakinan dalam menghadapi ketidakpastian. ”Keyakinan itu bukan tentang tahu cuaca esok, tetapi tentang berdiri di tengah badai dengan jas hujan yang kau jahit sendiri,” ujarnya.

 

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tandjung mengaku kaget mendengarkan pernyataan Budi Arie, apalagi Jokowi berada di sampingnya. Sebab, Jokowi adalah seorang presiden dan Budi Arie juga pernah berada di kabinet serta pernah aktif di partai politik.

 

Lagi pula, lanjut Doli, semua pihak sama-sama mengetahui bahwa negara ini merupakan negara hukum. Salah satu hukum tertinggi itu adalah konstitusi, UUD 1945, yang mengatur masa kepemimpinan satu periode kepresidenan selama lima tahun.

 

”Jadi, kita agak kaget ada sekelas Pak Budi Arie, yang di samping Pak Jokowi, yang mengatakan bahwa pergantian pemerintahan itu tidak lima tahun gitu,” ujar Doli.

 

Tafsir politik

 

Beruntung, Doli menuturkan, Budi Arie segera mengklarifikasi pernyataannya. Sebab, jika tidak, pernyataan Budi Arie tersebut bisa ditafsir ke mana-mana.

 

”Tafsir politiknya bisa ke mana-mana; bisa bicara sampai tentang kudeta, gitu, ya. Bisa tentang soal adanya makar, bisa juga ditafsirkan adanya pengkhianatan terhadap konstitusi, dan seterusnya. Nah, saya khawatir, kalau tidak segera diklarifikasi, jangan salahkan juga kalau kemudian orang bisa menafsirkan sampai hal-hal yang sengeri itu,” ucap Doli.

 

Oleh karena itu, menurut Doli, jangan sampai nanti pernyataan Budi Arie menimbulkan kontraksi baru, sebab yang rugi justru seluruh anak bangsa. Apalagi, sekarang partai politik koalisi pemerintah tengah fokus memberikan dukungan penuh kepada pemerintahan.

 

”Jadi, kami punya tanggung jawab besar untuk menyukseskan pemerintahan ini. Dan untuk menyukseskan pemerintahan ini kita butuh soliditas, butuh dukungan semua pihak, baik masyarakat maupun elite-elite politik, termasuk Pak Jokowi. Dengan demikian, program ini bisa deliver sampai kepada masyarakat dan masyarakat, ya, kita bisa penuhi harapan-harapannya,” kata Doli.

 

Posisi Partai Golkar sampai hari ini tegak berdiri bersama pemerintahan Prabowo karena partai berkomitmen bahwa negara ini adalah negara hukum. Oleh karena itu, kalau ada pihak yang kemudian akan melakukan upaya pengkhianatan atau pelanggaran terhadap konstitusi, Partai Golkar berada di depan sebagai pembela konstitusi.

 

”Jadi, kalau nanti ingin ada agenda politik; apakah mau jadi calon presiden atau mau jadi calon wakil presiden, tunggu nanti saja tahun 2029 sesuai yang diatur dalam konstitusi kita,” tegas Doli.

 

Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi berpandangan, insting, asumsi, atau penilaian warga negara, termasuk Budi Arie, dalam mencermati kondisi politik bangsa adalah hak politik warga untuk bebas berbicara dan berpendapat di ruang demokrasi dalam pemerintahan Prabowo.

 

”Memprediksi kondisi berdasarkan insting politik tidaklah dilarang. Pak Budi Arie berusaha membangun opini publik juga boleh saja. Tetapi, negara tidak dikelola berdasarkan insting. Negara dikelola berdasarkan konstitusi, hukum, mandat rakyat, dan beberapa indikator kinerja secara obyektif dan transparan,” kata Viva.

 

Insting politik, menurut Viva, berbeda dengan fakta konstitusi. Spekulasi politik pun berbeda dengan realitas politik. ”Jangan setiap riak sosial dibaca sebagai patahan sejarah. Kritik harus dijawab dengan perbaikan kebijakan, bukan dengan spekulasi politik,” ucapnya.

 

Menurut PAN, lanjut Viva, tidaklah tepat berkesimpulan bahwa Indonesia sekarang sedang menuju situasi seperti 1998. Jika ada demonstrasi, keresahan ekonomi, atau ketidakpuasan publik, tidak otomatis berarti sedang berada di jalan menuju situasi seperti 1998.

 

Tahun 1998 pemerintahan mengalami penyakit komplikasi yang berat, di antaranya terjadi krisis finansial Asia, kontraksi ekonomi yang sangat dalam, inflasi tinggi, adanya tekanan sosial dan ketegangan politik, serta krisis kepercayaan terhadap pemerintahan.

 

Dalam pandangan PAN, sikap Presiden Prabowo yang terbuka terhadap kritik, tidak antikritik, dan meminta kritik adalah sikap bijaksana dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Kalau ada keresahan rakyat, pemerintah dipastikan mendengarkan. Jika ada persoalan ekonomi, pemerintah pasti memperbaiki. Pun, kalau ada ketidakpuasan publik, pemerintah pasti mengevaluasi.

 

”Tentu ada yang sedang menghitung tentang kemungkinan politik ke depan. Tetapi, pemerintah sedang menghitung bagaimana harga pangan terjangkau, lapangan kerja bertambah, kemiskinan berkurang, investasi bergerak, dan pembangunan berjalan,” ucap Viva.

 

Dalam negara demokrasi, perubahan kekuasaan bukan ditentukan oleh insting siapa pun. Perubahan kekuasaan ditentukan oleh konstitusi, hukum, dan kehendak rakyat melalui mekanisme demokrasi.

 

”Energi politik bangsa sebaiknya digunakan untuk membantu pemerintah memperbaiki keadaan, bukan untuk mempercepat spekulasi tentang pergantian kekuasaan,” tegas Viva. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/klarifikasi-budi-arie-dan-reaksi-elite-politik-soal-isu-percepatan-pemilu?open_from=Politik_&_Hukum_Page  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar