Senin, 24 Agustus 2026

 

Ancang-ancang Jokowi Menuju 2029

Bagja Hidayat :  Wakil Pemimpin Redaksi Tempo

TEMPO MINGGUAN, 23 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Joko Widodo memberikan wawancara eksklusif kepada Tempo Ketika hubungannya dengan Presiden Prabowo Subianto mulai renggang.

 

·      Pesannya cukup menohok karena Prabowo mengundangnya lagi dalam perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

 

·      Dalam politik Indonesia, duduk berdampingan, tertawa bersama tak bisa menjadi kesimpulan keadaan baik-baik saja.

 

TAK ada mantan presiden yang paling sering dibicarakan setelah pensiun selain Joko Widodo. Rekaman percakapan yang dirangkum Drone Emprit atau Sintesa, lembaga pemantau media sosial, mencatat nama Jokowi disebut 500 ribu hingga 1 juta kali per bulan. Susilo Bambang Yudhoyono atau Megawati Soekarnoputri masih dibicarakan, tapi jumlah percakapannya jauh dari jumlah mention terhadap Jokowi.

 

Bukan saja karena Jokowi menjadi presiden di era media sosial dan digital, media massa juga aktif meliputnya dalam pelbagai perkara: kontroversi ijazah sarjana kehutanan Universitas Gadjah Mada, kabar ia mengalami sakit misterius, dan faktor anaknya yang menjadi wakil presiden. Yudhoyono dan Megawati tak terlalu aktif di media sosial. Yudhoyono muncul di akun mendiang istrinya ketika sedang melukis, Megawati tampil ketika berpidato sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

 

Nama Jokowi hanya tergeser oleh penyebutan Prabowo Subianto, presiden sekarang, memasuki 2025. Namun, sebagai mantan presiden yang populer, Jokowi masih dipercakapkan publik bahkan ketika mereka membicarakan Prabowo. Isu matahari kembar, bayang-bayang politik, hingga peran anak Jokowi merupakan topik-topik yang menyebut nama keduanya.

 

Majalah Tempo memuat gambar Jokowi pada sampul sebanyak empat kali sejak November 2024, sebulan setelah ia pensiun dari jabatan presiden dua periode sepanjang 2014-2024. Meski tak nangkring di gambar sampul, hampir semua liputan utama menyebut namanya. Pengaruh dan kelindan politiknya masih terlalu kuat di pemerintahan Prabowo yang mempertahankan sejumlah menteri era Jokowi di kabinetnya.

 

Sampul terakhir majalah Tempo bergambar Jokowi adalah edisi 21 Juni 2026. Ia digambarkan berpunggung-punggung dengan Prabowo di bawah judul “Panas-Dingin Prabowo-Jokowi”. Ceritanya tentang hubungan mereka yang mulai renggang. Prabowo mulai mengurangi peran Gibran Rakabuming Raka dan membatasi persilangan citra dengan Jokowi yang dianggap sebagai perusak konstitusi.

 

Saat menyusun edisi itu, para wartawan Tempo mendapat banyak informasi tentang bagaimana Jokowi sulit bertemu dengan Prabowo. Padahal, seperti pengakuannya, Jokowi hendak melaporkan hasil reportasenya ke banyak daerah menyangkut proyek-proyek prioritas pemerintah, seperti makan bergizi gratis dan koperasi merah putih. Jokowi mencatat banyak keluhan publik terhadap dua proyek tersebut.

 

Tak seperti liputan-liputan Jokowi dalam topik lain, para narasumber untuk topik keretakan dengan Prabowo mudah dihubungi. Orang-orang dekat Jokowi, politikus yang berkomunikasi dengannya, secara terbuka memberikan informasi tentang keduanya. Ada nuansa orang dekat Jokowi ingin publik mengetahui relasinya dengan Prabowo sekarang.

 

Jokowi pada waktu itu belum merespons permintaan wawancara Tempo. Di media sosial, warganet berdebat soal siapa yang meminta dan mengundang wawancara. Padahal menjadi kewajiban etik dan prosedural bagi media memberikan ruang klarifikasi dan konfirmasi bagi siapa saja yang disebut dalam berita.

 

Karena itu, kami selalu berkirim surat kepada siapa saja yang akan diliput. Wartawan Tempo bahkan khatam soal metode triangulasi: dalam jurnalisme cover both side saja tidak cukup dalam upaya mencari kebenaran faktual. Hanya, sensor kadang datang dari narasumber yang mengabaikan upaya permintaan klarifikasi dan konfirmasi.

 

Ajudan Jokowi baru menghubungi wartawan Tempo setelah edisi “Panas-Dingin” itu terbit. Ia mengundang penulis liputan itu datang ke rumahnya untuk penjajakan pada 22 Juli 2026. Jokowi menyambutTempo, media yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan publiknya selama menjabat presiden, dengan semringah. Ia seorang politikus yang paham bagaimana berhadapan dengan media.

 

Setelah dua jam berdiskusi, kami makin paham bahwa Jokowi adalah manusia politik, yang pikiran dan gesturnya selalu memiliki pesan dan simbol tertentu. Ia tak mudah terpancing dengan memberikan reaksi berlebihan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang menohok. Ia tak cepat merespons pertanyaan memancing yang menuntut opini terhadap orang lain atau situasi tertentu.

 

Berhadapan dengan politikus semacam Jokowi, kita perlu mengetahui konteks untuk memahami pesan tersembunyi dalam pernyataan dan bahasa tubuh yang tampak di permukaan. Senyum dan tawa tak selalu berarti bergembira. ●

 

Sumber :    https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-ancang-ancang-jokowi-22834180

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar