|
Ancang-ancang
Jokowi Menuju 2029 Bagja Hidayat : Wakil Pemimpin Redaksi Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 23 Agustus 2026
|
· Joko Widodo memberikan wawancara
eksklusif kepada Tempo Ketika hubungannya dengan Presiden Prabowo Subianto
mulai renggang. · Pesannya cukup menohok karena Prabowo
mengundangnya lagi dalam perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. · Dalam politik Indonesia, duduk
berdampingan, tertawa bersama tak bisa menjadi kesimpulan keadaan baik-baik
saja. TAK ada
mantan presiden yang paling sering dibicarakan setelah pensiun selain Joko
Widodo. Rekaman percakapan yang dirangkum Drone Emprit atau Sintesa, lembaga
pemantau media sosial, mencatat nama Jokowi disebut 500 ribu hingga 1 juta
kali per bulan. Susilo Bambang Yudhoyono atau Megawati Soekarnoputri masih
dibicarakan, tapi jumlah percakapannya jauh dari jumlah mention terhadap
Jokowi. Bukan
saja karena Jokowi menjadi presiden di era media sosial dan digital, media
massa juga aktif meliputnya dalam pelbagai perkara: kontroversi ijazah
sarjana kehutanan Universitas Gadjah Mada, kabar ia mengalami sakit
misterius, dan faktor anaknya yang menjadi wakil presiden. Yudhoyono dan
Megawati tak terlalu aktif di media sosial. Yudhoyono muncul di akun mendiang
istrinya ketika sedang melukis, Megawati tampil ketika berpidato sebagai
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Nama
Jokowi hanya tergeser oleh penyebutan Prabowo Subianto, presiden sekarang,
memasuki 2025. Namun, sebagai mantan presiden yang populer, Jokowi masih
dipercakapkan publik bahkan ketika mereka membicarakan Prabowo. Isu matahari
kembar, bayang-bayang politik, hingga peran anak Jokowi merupakan topik-topik
yang menyebut nama keduanya. Majalah
Tempo memuat gambar Jokowi pada sampul sebanyak empat kali sejak November
2024, sebulan setelah ia pensiun dari jabatan presiden dua periode sepanjang
2014-2024. Meski tak nangkring di gambar sampul, hampir semua liputan utama
menyebut namanya. Pengaruh dan kelindan politiknya masih terlalu kuat di
pemerintahan Prabowo yang mempertahankan sejumlah menteri era Jokowi di
kabinetnya. Sampul
terakhir majalah Tempo bergambar Jokowi adalah edisi 21 Juni 2026. Ia
digambarkan berpunggung-punggung dengan Prabowo di bawah judul “Panas-Dingin
Prabowo-Jokowi”. Ceritanya tentang hubungan mereka yang mulai renggang.
Prabowo mulai mengurangi peran Gibran Rakabuming Raka dan membatasi
persilangan citra dengan Jokowi yang dianggap sebagai perusak konstitusi. Saat
menyusun edisi itu, para wartawan Tempo mendapat banyak informasi tentang
bagaimana Jokowi sulit bertemu dengan Prabowo. Padahal, seperti pengakuannya,
Jokowi hendak melaporkan hasil reportasenya ke banyak daerah menyangkut
proyek-proyek prioritas pemerintah, seperti makan bergizi gratis dan koperasi
merah putih. Jokowi mencatat banyak keluhan publik terhadap dua proyek
tersebut. Tak
seperti liputan-liputan Jokowi dalam topik lain, para narasumber untuk topik
keretakan dengan Prabowo mudah dihubungi. Orang-orang dekat Jokowi, politikus
yang berkomunikasi dengannya, secara terbuka memberikan informasi tentang
keduanya. Ada nuansa orang dekat Jokowi ingin publik mengetahui relasinya
dengan Prabowo sekarang. Jokowi
pada waktu itu belum merespons permintaan wawancara Tempo. Di media sosial,
warganet berdebat soal siapa yang meminta dan mengundang wawancara. Padahal
menjadi kewajiban etik dan prosedural bagi media memberikan ruang klarifikasi
dan konfirmasi bagi siapa saja yang disebut dalam berita. Karena
itu, kami selalu berkirim surat kepada siapa saja yang akan diliput. Wartawan
Tempo bahkan khatam soal metode triangulasi: dalam jurnalisme cover both side
saja tidak cukup dalam upaya mencari kebenaran faktual. Hanya, sensor kadang
datang dari narasumber yang mengabaikan upaya permintaan klarifikasi dan
konfirmasi. Ajudan
Jokowi baru menghubungi wartawan Tempo setelah edisi “Panas-Dingin” itu
terbit. Ia mengundang penulis liputan itu datang ke rumahnya untuk penjajakan
pada 22 Juli 2026. Jokowi menyambutTempo, media yang kritis terhadap
kebijakan-kebijakan publiknya selama menjabat presiden, dengan semringah. Ia
seorang politikus yang paham bagaimana berhadapan dengan media. Setelah
dua jam berdiskusi, kami makin paham bahwa Jokowi adalah manusia politik,
yang pikiran dan gesturnya selalu memiliki pesan dan simbol tertentu. Ia tak
mudah terpancing dengan memberikan reaksi berlebihan terhadap
pertanyaan-pertanyaan yang menohok. Ia tak cepat merespons pertanyaan
memancing yang menuntut opini terhadap orang lain atau situasi tertentu. Berhadapan
dengan politikus semacam Jokowi, kita perlu mengetahui konteks untuk memahami
pesan tersembunyi dalam pernyataan dan bahasa tubuh yang tampak di permukaan.
Senyum dan tawa tak selalu berarti bergembira. ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-ancang-ancang-jokowi-22834180 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar