|
Networking Rebahan Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 25 Agustus 2026
Saya seperti
jadi tertuduh di ”muktamar” Gondang, dekat Pacet (Lihat Disway kemarin: Bintang
Perusuh). Padahal awalnya saya hanya ingin sedikit merendah: ”Di DIC Farm ini
tidak ada barang mahal. Meja panjang ini misalnya, terbuat dari jenis kayu yang
kalau dijual pun tidak ada yang beli”.
"Kayu
apa?" tanya seorang ”Perusuh” Disway.
"Kayu ini
dulu waktu di pondok dipakai untuk bantal para santri. Kayu randu".
"Oh, ini
yang membuat pohon randu kian langka," ujar perusuh itu.
Di DIC Farm
dulunya memang tumbuh beberapa kayu randu. Di pinggir-pinggir batas tanah.
Sejak saya mulai menengok lahan ini di masa Covid-19, pohon randunya tinggal
dua batang. Dua-duanya besar. Tinggi. Daunnya sudah meranggas tua. Di sebelah
barat pohon itu terhampar sawah. Berarti penyinaran matahari pagi untuk padinya
kurang sempurna. Terhalang pohon. Ditebang.
Yang menebang
bingung: kayunya dibuang ke mana. Tidak laku dijual. Tidak bisa pula untuk kayu
bakar. Lalu saya putuskan untuk dijadikan meja. Dianggap nyeleneh: meja dari
kayu randu.
Tentu
ketebalannya saya buat 20 cm. Agar tidak ”molet” seperti "perusuh"
yang malas bangun pagi. Lalu permukaannya disapu dengan api yang disemprotkan
dari tabung api. Diberi warna kayu. Bentuk mejanya tidak harus persis segi
empat. Pinggirannya tidak harus lurus: ikut lekukan pohon saja. Itulah meja
utama yang dipakai bermuktamar perusuh kemarin itu.
Meja randu itu
ditaruh di kolong ”rumah Manado”: rumah kayu yang dulu didatangkan dari
Tomohon. Bawah untuk muktamar, atas untuk tidur "perusuh" wanita.
Tidak semuanya.
Ada yang membawa kemah pramuka. Empat orang. Mereka pasang kemah di lapangan
basket mini di sebelah rumah Manado. "Lebih nyaman dari tahun lalu. Tidak
ada hujan. Lokasi ini sudah begitu banyak berubah. Lebih cantik," ujarnyi
di depan tendanyi.
Saya pun minta
maaf telah membuat pohon randu kian langka. Nama orang yang menuduh saya itu
Anda sudah tahu: Sumhaji. Ia kelahiran Konawe, Sulawesi, tapi asal-usulnya dari
Batu, Malang. Ayahnya menjadi transmigran di masa nan silam.
Sumhaji
benar-benar merasakan kian sulit mencari kapuk dari pohon randu. Untuk apa?
"Saya ini eksporter kapuk randu. Ekspor sampai Eropa," ujar Sumhaji.
Dulu, pohon
randu banyak ditanam di pinggir-pinggir jalan. "Ketika jalan jalan
dilebarkan habislah pohon randu," katanya. Kini Sumhaji mencari kapuk
randu sampai ke Sumbawa.
Di Eropa kapuk
randu juga untuk bantal. Atau kasur. Tidak ada guling di sana. Guling tidak
dikenal di budaya barat. Guling lahir di zaman Belanda menjajah Indonesia.
Mereka datang tanpa istri. Malam-malam tidak ada yang dipeluk. Dibuatlah
guling. Sejak itu guling punya terjemahan dalam bahasa Inggris: Dutch wife –itu
terjemahan unik yang bisa dipercaya: ngawurnya.
Bantal dari
kapuk randu pun kini kian langka. Digantikan poliester atau bulu angsa.
"Di Eropa bantal dari kapuk randu naik daun lagi. Yakni sejak ada gerakan
menyayangi binatang," ujar Sumhaji.
Saya sendiri
sudah lupa kapan terakhir pakai bantal kapuk randu. Kenangan saya pada bantal
kapuk adalah kenangan buruk: banyak kutunya. Kutu busuk pula. Maka pekerjaan
tambahan sebagai anak-anak adalah mencari kutu yang bersarang di pojok-pojok
bantal: di jahitannya. Di situ pula kutu busuk bertelur dan beranak sehingga
sangat sulit memberantasnya. Saya lupa kenapa belakangan kutu busuk seperti
tiba-tiba lenyap di jagat bantal nusantara.
Tanpa muktamar
ini saya tetap akan mengira sudah tidak ada lagi orang yang cari penghidupan
dari kapuk randu. Ternyata masih jadi bisnis yang mengasilkan dolar.
Sumhaji pun
saya ajak podcast bersama Sasa di Dismorning Minggu pagi lalu. Di situ Sumhaji
berani menyebut diri sebagai ”profesor kapuk”. Ia memang ahli di bidang kapuk
randu. "Di musim panas kapuk randu terasa lebih dingin. Di musim dingin
terasa lebih hangat", katanya.
Di masa kecil
tidak ada istilah beli bantal. Bantal bisa dibuat sendiri: pakai kain sarung
yang sudah diafkir. Sudah sobek sana-sini. Lalu diisi kapuk yang diambil dari
pohon. Setiap mencari kapuk randu selalu dapat bonus: biji randu. Warnanya
hitam. Sekecil butiran kedelai. Digoreng tanpa minyak. Saya masih ingat rasanya
tapi sudah agak-agak lupa namanya. Klentheng?
Selain Sumhaji
ada lagi perusuh yang saya ajak ngobrol panjang: Ahmad Reza Ropi. Nama tambahan
Ropi itu dari saya: agar saya ingat Reza yang perusuh ini adalah Reza yang
menemukan bisnis berkat bertemu direktur rumah sakit.
Sang direktur
lagi berpikir bagaimana agar rumah sakit yang ia pimpin tidak didominasi aroma
obat. Agar pasien tidak jenuh dengan aroma itu. Sang direktur terkesan setiap
lewat dekat toko Roti O hidungnya terasa nyaman: menghirup aroma roti yang
harum enak.
Reza langsung
seperti dapat ilham: ”Bisa, Pak," jawabnya.
Dari situlah
Reza menciptakan roti aroma kopi. Roti Kopi –Ropi. Jadilah Ropi merk roti
buatannya. Kebetulan sang istri adalah cucu pembuat roti di zaman Belanda. Dia
masih menyimpan resepnya.
Kini Reza sudah
mempunyai 130 outlet Ropi di 130 rumah sakit tipe C. Ia tidak masuk RS kelas
atas karena mereka punya cara sendiri menghilangkan aroma obat di rumah
sakitnya.
Ke muktamar
Reza membawa beberapa contoh Ropi. Ditaruh di depan saya. Dalam sekejap saya
sudah tidak sempat merasakan enak-tidaknya. Reza tidak membawa banyak Ropi
karena roti resmi muktamar ini adalah Dea (Disway 26 Oktober 2025: Garis
Kemampuan).
Begitulah
serunya. Di muktamar ini saya pun melihat: waktu kosong lebih penting dari
waktu ada acara. Karena itu acara-acara dibuat singkat-singkat: agar waktu
kosong lebih banyak. Saya lihat mereka aktif saling networking di waktu kosong.
Tidak ada yang hanya rebahan. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/964698/networking-rebahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar