Minggu, 23 Agustus 2026

 

Queer dalam Mambang Nasionalisme

Martin Lukito Sinaga :  Pengajar teologi. Menulis sejarah dan pemikiran agama dalam Masyarakat.

TEMPO MINGGUAN, 23 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Kategori banci tidak hanya menunjuk orientasi seksual tertentu, tapi juga menjadi ungkapan untuk menstigma siapa saja yang dianggap tak normal.

 

·      Queer telah berkembang menjadi queer study di kampus-kampus universitas dunia.

 

·      Kita telah menyaksikan ideologi bisa melahirkan killing fields di berbagai negeri.

 

DALAM buku Queering Indonesia: Gender, Sexuality and the Discursive Construction of National Identity in Indonesia (LKiS, 2004), Moh. Yasir Alimi menunjukkan kaitan yang kuat antara kebangsaan dan seksualitas. Nasionalisme Indonesia telah menjadikan heteroseksual sebagai sesuatu yang alami: hanya ada laki-laki dan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan.

 

Lagu perjuangan karya Ismail Marzuki seperti “Ibu Pertiwi” membakar semangat untuk menyelamatkan Ibu, yang adalah bangsa itu sendiri. Ibu itu tampak sebagai sosok feminin yang rapuh yang perlu dilindungi oleh sang pahlawan. Dalam “Sepasang Mata Bola”, karyanya yang lain, sang pahlawan maskulin bersinar sebagai perwira rela.

 

Di era Orde Baru, ada Dharma Wanita, yang hierarkinya tergantung karier suami. Di sini gender perempuan dan laki-laki seolah-olah ditetapkan oleh negara: jangan sampai lupa kodratmu sebagai ibu dan tirulah Bapak Pembangunan itu dalam kariermu. Yang gagal ikut dalam identitas seksual bangsa sedemikian, catat Yasir Alimi, akan dinamai banci.

 

Kategori banci tidak hanya menunjuk orientasi seksual tertentu, tapi juga menjadi ungkapan untuk menstigma siapa saja yang dianggap tak normal. Kampus-kampus yang tak ikut berdemonstrasi dikirimi kutang dan lipstik pertanda banci. Para remaja yang sedang bersitegang akan memaki “banci lu!”, ungkapan yang lebih mengusik ketimbang “pengecut”.

 

Kini, setelah 81 tahun merdeka, kita membaca Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2025 yang menyatakan penyebaran budaya lesbian, gay, bisexual, transgender, and queer atau LGBTQ sebagai ancaman nonmiliter terhadap bangsa. Dalam peraturan itu disebutkan bahwa doktrin pertahanan negara digali dari nilai perjuangan bangsa dan pengalaman masa lalu.

 

Namun apakah queer mengancam? Queer telah berkembang menjadi queer study di kampus-kampus universitas dunia, yang menggali dan mendalami beragam isu seksualitas, memperjuangkan kemanusiaan yang lebih adil dan inklusif, sambil mengembangkan sikap self-criticism atas perjuangan keadilan gender itu sendiri.

 

Berasal dari kata Jerman, quer, yang artinya melintang, janggal, atau unik, studi queer berpusat pada kebinekaan gender dan seksualitas, yang secara faktual memang ada. Ferdiansyah Thajib, orang Indonesia yang kini menjadi dosen di Universität Erlangen, Jerman, baru saja menerbitkan hasil riset tentang queer di Indonesia, yang antara lain menceritakan kehidupan seorang transpuan warga Aceh bernama Maya.

 

Dalam artikel berjudul “Enduring Otherwise: Muslim Queer and Trans Worldmaking in Indonesia”, Ferdiansyah mengisahkan Maya yang karena tak kuat diolok-olok terpaksa meninggalkan Aceh untuk merantau ke Malaysia. Di negeri jiran, ia dihadapkan pada pilihan pekerjaan yang terbatas. Lalu ia balik ke Aceh dan bekerja di salon. Berkali-kali ia didatangi polisi moral, dipaksa berpakaian laki-laki. Ia hanya berani keluar dari salon pada saat hari gelap. Walau kerap dirundung, ia mencoba bertahan dan mengharapkan perubahan nasib.

 

Studi queer kini makin serius dan tak terabaikan karena memeriksa kaitan ideologi modern dengan konsekuensinya atas tubuh manusia. Kita telah menyaksikan bagaimana ideologi bisa melahirkan “killing fields” di berbagai negeri, seperti Kamboja, juga Indonesia. Maka studi politik masa kini tak bisa dilepaskan dari studi feminis dan queer, karena seperti dicatat Jason Blakely (Interpreting Modern Political Life, 2024), “... poses fundamental questions about the intersection of ideology as cultural and the human body”.

 

Pemikir queer seperti Judith Butler menunjukkan bahkan kemunculan makhluk cerdas dan sadar seperti manusia tak mungkin terjadi tanpa interaksi tubuh, “it’s only on the condition that a body is already exposed to something other than itself, something by which it can be affected, that it becomes possible for a sentient self to emerge”. Tubuh yang sepanjang hayat terus memantaskan diri agar cocok dengan norma seksual yang ada, itulah yang memunculkan orientasi seksual.

 

Ini seperti mencari kostum karnaval yang cocok, agar bisa ditunjukkannya ke publik. Namun, dalam proses mencocokkan lalu menampilkan diri, repetitive performativity, dalam kostum itu, muncul kesulitan, juga resistansi, dan tentunya keberagaman. Seperti inilah juga menurut Butler kemunculan keberagaman seksualitas manusia.

 

Kita jadi mengerti kemeriahan Parade Kebanggaan setiap tahun pada bulan Juni di kota-kota besar dunia. Komunitas queer memampangkan diri sebagai warga setara, bersukacita dalam karnaval dengan slogan “we are here, get used to it!”. Di kota-kota di Indonesia, parade seperti ini belum terjadi.

 

Bagaimanapun, ada semacam parade senyap yang ditampilkan sejawat saya, (almarhum) Stephen Suleeman. Kalau kita berjalan dari alun-alun Dam Square di Kota Amsterdam, melewati Raadhuisstraat menuju Westermarkt, akan ada sejumlah ubin bertulisan “Walk of Pride”, yang salah satunya bertorehkan nama Stephen. Tak jauh dari ubin itu ada pula tegel lain bertulisan nama Shinta Ratri, pendiri pesantren waria Al-Fatah Kotagede, Yogyakarta.

 

Pada Juli 2026, ubin perunggu dengan nama Stephen itu dibuat. Di sana tertulis: “Seorang teolog dan pendeta yang meyakini bahwa Tuhan merangkul keberagaman gender dan seksualitas”.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/queer-lgbt-nasionalisme-2283343

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar