|
Cara Amerika Mencekik Iran lewat
Sanksi Ekonomi Terbaru Sita Planasari : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 28 Agustus 2026
|
· Setelah hampir enam bulan perang,
Amerika Serikat mengubah cara untuk menekan Iran dengan mendeklarasikan
Economic D-Day. · Tujuan sanksi itu adalah memutuskan
setiap jalur ekonomi dan membuat Iran terisolasi. · Dosen hubungan internasional UGM
melihat sanksi ekonomi Amerika kali ini tidak akan efektif karena sejumlah
faktor. MSETELAH
hampir enam bulan perang, Amerika Serikat mengubah cara untuk menekan Iran.
Kegagalan mencapai dua sasaran awal—mengubah rezim di Teheran dan
menghentikan pengayaan uranium—Washington kini mengandalkan tekanan ekonomi
melalui kampanye yang disebut “Economic D-Day”. Istilah tersebut dipinjam
dari operasi pendaratan besar-besaran pasukan Sekutu di Normandia pada Perang
Dunia II. Perubahan
strategi ini dilakukan ketika pemerintahan Presiden Donald Trump menghadapi
tekanan dari dua arah sekaligus. Persenjataan mulai menjadi persoalan bagi
perang yang berkepanjangan, sementara dukungan di dalam negeri tidak cukup
kokoh untuk mengabaikan konsekuensi politik menjelang pemilihan paruh waktu
pada November 2026. Menteri
Keuangan Scott Bessent pada Senin, 24 Agustus 2026, mengumumkan sanksi
ekonomi itu, yang secara resmi bernama “Operation Economic Outcast”. Menurut
Bessent, kampanye tersebut menargetkan para mitra dagang Iran agar tidak
menjalin kerja sama ekonomi di berbagai sektor. “Tujuan kami adalah
memutuskan setiap jalur ekonomi yang menopang rezim tirani ini sampai Teheran
terisolasi,” kata Bessent seperti dikutip dari Al Jazeera. Bessent
menegaskan, setiap aktor negara ataupun non-negara harus menentukan sikap
berpihak terhadap Amerika atau Iran agar terhindar dari sanksi sekunder
Washington. Selain itu, dia sesumbar bahwa tidak ada satu pun entitas yang
kebal terhadap sanksi Amerika. Pernyataan
senada disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Melalui akun
resminya di media sosial, ia mengatakan strategi baru ini akan menjadi
“operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara
mana pun!”. Trump mengklaim telah mengaktifkan semua kewenangan federal yang
selama ini dihindari presiden-presiden Amerika terdahulu untuk memutus akses
Iran terhadap uang tunai dan menekan kemampuan ekonominya. Kampanye
tekanan ekonomi diambil setelah perang melawan Iran tidak membuahkan hasil.
Meski serangannya telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan
beberapa pejabat tinggi lain, secara umum, Amerika gagal mencapai tujuan
strategis mereka. Upaya penyelesaian perang melalui jalur diplomasi juga tak
berhasil. Kantor
Pengendalian Aset Asing (Office of Foreign Assets Control) di bawah
Kementerian Keuangan Amerika Serikat menetapkan sanksi atas lima aset dan
berbagai aktivitas terbaru Iran berdasarkan Perintah Eksekutif (Executive
Order) nomor yang ditandatangani Trump 13902 pada 10 Januari 2020. Sanksi itu
meliputi aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran, hingga
menargetkan 60 entitas yang berbasis di Hong Kong, Cina, Malaysia, Uni Emirat
Arab, serta Singapura. Perbedaan
Economic D-Day dengan Sanksi Sebelumnya Peneliti
senior Center for International Policy, Negar Mortazavi, mengatakan
Washington kembali menggunakan tekanan ekonomi lantaran kekuatan militer
telah gagal memberikan kemenangan cepat yang diharapkan. “Deklarasi ‘Economic
D-Day’ menggarisbawahi kegagalan perang sejauh ini untuk memaksa Iran
menyerah atau mencapai tujuan politik Washington,” kata Mortazavi dikutip
dari Al Jazeera. Dosen
hubungan internasional Universitas Gadjah Mada, Rochdi Mohan Nazala, juga
melihat kondisi yang sama. Secara substansial, operasi militer Amerika untuk
menekan Iran mengalami stagnasi. Selama 26 malam berturut-turut Komando Pusat
Amerika tidak mengkonfirmasi adanya serangan di wilayah Iran. Ketika hampir
80 persen persediaan sistem pertahanan rudal (THAAD) telah terpakai, dukungan
publik terhadap kampanye militer mulai terkikis. Tujuan perang Amerika pun
terus dipersempit sejak Februari. Rochdi
menjelaskan, perbedaan utama antara sanksi Amerika sebelumnya dan kebijakan
“pencekikan ekonomi” Iran terletak pada sasaran yang ditargetkan. Alih-alih
menargetkan obyek vital perekonomian Iran, kini Amerika justru menyasar pihak
ketiga yang melakukan kerja sama ekonomi dengan Teheran. “Perbedaannya
terletak pada sasaran, bukan intensitas. Sebab, hampir semua target bernilai
tinggi Iran telah lama dikenai sanksi. Kini tekanan dialihkan kepada pihak
ketiga,” kata Rochdi kepada Tempo, Rabu, 26 Agustus 2026. Bagaimana
Sanksi Diterapkan? Menurut
Rochdi, mekanisme penerapan sanksi Amerika untuk Iran bertumpu pada empat
instrumen. Pertama, menetapkan aset dan aktivitas ekonomi yang menjadi
sasaran sanksi. Kedua, menetapkan pihak yang dikenai pembekuan aset. Yang
ketiga adalah menerapkan sanksi sekunder, yang menjadi inti kebijakan sanksi
terbaru. “Sementara itu, sanksi primer melarang transaksi terkait dengan Iran
yang melibatkan warga Amerika Serikat atau memiliki kaitan yurisdiksional
dengan Amerika. Sanksi sekunder menjangkau pihak non-Amerika Serikat atas
bisnis yang seluruhnya dilakukan di tempat lain,” kata Rochdi. Ia
mengilustrasikan sebuah perusahaan di Dubai atau Mumbai dapat diputus dari
akses keuangan yang melibatkan dolar Amerika karena dianggap berhubungan
dengan Iran. Di sini, instrumen keempat bisa berlaku, yakni pencabutan
lisensi umum. “Inilah yang dalam kerangka Henry Farrell dan Abraham Newman
(2019) disebut efek titik cekik atau chokepoint effect,” kata Rochdi Instrumen-instrumen
itu bisa dilakukan tanpa melibatkan negara lain, tapi melalui pemangkasan
kanal masyarakat sipil. “Perlu dicatat, pengumuman kebijakan Economic Outcast
tidak menyebutkan satu pun target negara sekunder secara spesifik sehingga
menjaga fleksibilitas pemerintah untuk meningkatkan tekanan dari waktu ke waktu,”
ujar Rochdi. Dampaknya
terhadap Kondisi Ekonomi Iran Ekonomi
Iran masih bertahan, tapi terus memburuk. Seperti dilaporkan The National,
nilai tukar rial Iran merosot ke level terendah sekitar 2,02 juta per dolar
Amerika pada Senin, 24 Agustus 2026. Angka tersebut menunjukkan pelemahan
signifikan dibanding pada awal maret, tak lama setelah meletusnya perang
Iran-Amerika ketika 1 dolar bernilai sekitar 1,35 juta rial. Gubernur
Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan ekspor minyak Iran terhenti
dan akses terhadap cadangan devisa makin terbatas akibat sanksi Amerika yang
membatasi akses terhadap aset serta sistem keuangan internasional. “Tidak
diragukan lagi bahwa kami menghadapi pembatasan ekspor minyak,” kata Hemmati
di televisi pemerintah, pekan lalu. Alih-alih
tunduk pada ancaman, Iran justru menggembar-gemborkan kemampuannya membalas
dengan dampak yang menyakitkan. Mereka memperingatkan akan adanya serangan
yang lebih luas terhadap negara-negara produsen minyak di kawasan serta
negara-negara Eropa. “Kami
sudah lama bermain catur.... Kami juga telah belajar bermain poker,” ujar
juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, kepada wartawan
pada 24 Agustus 2026 seperti dilansir dari CNN. “Kini, selama beberapa waktu,
kami memainkan kombinasi dari keduanya,” kata Baghaei. Akankah
Sanksi Amerika Berhasil? Rochdi
menilai penerapan sanksi terbaru bisa berdampak terhadap hubungan Amerika
dengan pihak ketiga (negara yang dikenai sanksi) karena dapat mengacaukan
sistem keuangan global. Selain itu, terdapat risiko struktural jangka panjang
bagi hegemoni dolar. Arsitektur sanksi sekunder yang ekspansif justru bisa
secara tak sengaja mendorong lebih banyak perdagangan ke kanal finansial
non-dolar, di luar jangkauan Amerika. Dia
menilai kampanye sanksi ekonomi Amerika kali ini tidak akan efektif karena
sejumlah faktor. Pertama, kilang-kilang minyak di Cina masih menyerap 90
persen pasokan minyak Iran, sementara bank-bank tidak dijadikan sasaran
sanksi. Kedua, Iran memiliki pengalaman panjang dalam mengalihkan transaksi
melalui jalur alternatif untuk menghindari sanksi ekonomi. Lebih
lanjut, tekanan yang diberlakukan Amerika dan sekutunya selama 47 tahun belum
berhasil menggulingkan rezim ataupun mengubah kebijakan strategis Teheran
secara signifikan. Adapun yang terakhir dan paling krusial, kampanye ekonomi
itu tidak memiliki strategi deeskalasi, mengenai kondisi yang dapat
mengakhiri sanksi, khususnya terkait dengan program nuklir. “Karena
tujuan yang dinyatakan adalah isolasi, hal ini bukanlah sebuah terma yang
dapat dinegosiasikan. Risiko yang harus diantisipasi adalah terjadinya
eskalasi horizontal,” kata Rochdi. ● Sumber : https://www.tempo.co/internasional/sanski-ekonomi-as-untuk-iran-economic-d-day-2284227 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar