Sabtu, 29 Agustus 2026

 

Cara Amerika Mencekik Iran lewat Sanksi Ekonomi Terbaru

Sita Planasari :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  28 Agustus 2026

 

 

 

·      Setelah hampir enam bulan perang, Amerika Serikat mengubah cara untuk menekan Iran dengan mendeklarasikan Economic D-Day.

 

·      Tujuan sanksi itu adalah memutuskan setiap jalur ekonomi dan membuat Iran terisolasi.

 

·      Dosen hubungan internasional UGM melihat sanksi ekonomi Amerika kali ini tidak akan efektif karena sejumlah faktor.

 

MSETELAH hampir enam bulan perang, Amerika Serikat mengubah cara untuk menekan Iran. Kegagalan mencapai dua sasaran awal—mengubah rezim di Teheran dan menghentikan pengayaan uranium—Washington kini mengandalkan tekanan ekonomi melalui kampanye yang disebut “Economic D-Day”. Istilah tersebut dipinjam dari operasi pendaratan besar-besaran pasukan Sekutu di Normandia pada Perang Dunia II.

 

Perubahan strategi ini dilakukan ketika pemerintahan Presiden Donald Trump menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus. Persenjataan mulai menjadi persoalan bagi perang yang berkepanjangan, sementara dukungan di dalam negeri tidak cukup kokoh untuk mengabaikan konsekuensi politik menjelang pemilihan paruh waktu pada November 2026.

 

Menteri Keuangan Scott Bessent pada Senin, 24 Agustus 2026, mengumumkan sanksi ekonomi itu, yang secara resmi bernama “Operation Economic Outcast”. Menurut Bessent, kampanye tersebut menargetkan para mitra dagang Iran agar tidak menjalin kerja sama ekonomi di berbagai sektor. “Tujuan kami adalah memutuskan setiap jalur ekonomi yang menopang rezim tirani ini sampai Teheran terisolasi,” kata Bessent seperti dikutip dari Al Jazeera.

 

Bessent menegaskan, setiap aktor negara ataupun non-negara harus menentukan sikap berpihak terhadap Amerika atau Iran agar terhindar dari sanksi sekunder Washington. Selain itu, dia sesumbar bahwa tidak ada satu pun entitas yang kebal terhadap sanksi Amerika.

 

Pernyataan senada disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Melalui akun resminya di media sosial, ia mengatakan strategi baru ini akan menjadi “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun!”. Trump mengklaim telah mengaktifkan semua kewenangan federal yang selama ini dihindari presiden-presiden Amerika terdahulu untuk memutus akses Iran terhadap uang tunai dan menekan kemampuan ekonominya.

 

Kampanye tekanan ekonomi diambil setelah perang melawan Iran tidak membuahkan hasil. Meski serangannya telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan beberapa pejabat tinggi lain, secara umum, Amerika gagal mencapai tujuan strategis mereka. Upaya penyelesaian perang melalui jalur diplomasi juga tak berhasil.

 

Kantor Pengendalian Aset Asing (Office of Foreign Assets Control) di bawah Kementerian Keuangan Amerika Serikat menetapkan sanksi atas lima aset dan berbagai aktivitas terbaru Iran berdasarkan Perintah Eksekutif (Executive Order) nomor yang ditandatangani Trump 13902 pada 10 Januari 2020. Sanksi itu meliputi aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran, hingga menargetkan 60 entitas yang berbasis di Hong Kong, Cina, Malaysia, Uni Emirat Arab, serta Singapura.

 

Perbedaan Economic D-Day dengan Sanksi Sebelumnya

 

Peneliti senior Center for International Policy, Negar Mortazavi, mengatakan Washington kembali menggunakan tekanan ekonomi lantaran kekuatan militer telah gagal memberikan kemenangan cepat yang diharapkan. “Deklarasi ‘Economic D-Day’ menggarisbawahi kegagalan perang sejauh ini untuk memaksa Iran menyerah atau mencapai tujuan politik Washington,” kata Mortazavi dikutip dari Al Jazeera.

 

Dosen hubungan internasional Universitas Gadjah Mada, Rochdi Mohan Nazala, juga melihat kondisi yang sama. Secara substansial, operasi militer Amerika untuk menekan Iran mengalami stagnasi. Selama 26 malam berturut-turut Komando Pusat Amerika tidak mengkonfirmasi adanya serangan di wilayah Iran. Ketika hampir 80 persen persediaan sistem pertahanan rudal (THAAD) telah terpakai, dukungan publik terhadap kampanye militer mulai terkikis. Tujuan perang Amerika pun terus dipersempit sejak Februari.

 

Rochdi menjelaskan, perbedaan utama antara sanksi Amerika sebelumnya dan kebijakan “pencekikan ekonomi” Iran terletak pada sasaran yang ditargetkan. Alih-alih menargetkan obyek vital perekonomian Iran, kini Amerika justru menyasar pihak ketiga yang melakukan kerja sama ekonomi dengan Teheran.

 

“Perbedaannya terletak pada sasaran, bukan intensitas. Sebab, hampir semua target bernilai tinggi Iran telah lama dikenai sanksi. Kini tekanan dialihkan kepada pihak ketiga,” kata Rochdi kepada Tempo, Rabu, 26 Agustus 2026.

 

Bagaimana Sanksi Diterapkan?

 

Menurut Rochdi, mekanisme penerapan sanksi Amerika untuk Iran bertumpu pada empat instrumen. Pertama, menetapkan aset dan aktivitas ekonomi yang menjadi sasaran sanksi. Kedua, menetapkan pihak yang dikenai pembekuan aset. Yang ketiga adalah menerapkan sanksi sekunder, yang menjadi inti kebijakan sanksi terbaru. “Sementara itu, sanksi primer melarang transaksi terkait dengan Iran yang melibatkan warga Amerika Serikat atau memiliki kaitan yurisdiksional dengan Amerika. Sanksi sekunder menjangkau pihak non-Amerika Serikat atas bisnis yang seluruhnya dilakukan di tempat lain,” kata Rochdi.

 

Ia mengilustrasikan sebuah perusahaan di Dubai atau Mumbai dapat diputus dari akses keuangan yang melibatkan dolar Amerika karena dianggap berhubungan dengan Iran. Di sini, instrumen keempat bisa berlaku, yakni pencabutan lisensi umum. “Inilah yang dalam kerangka Henry Farrell dan Abraham Newman (2019) disebut efek titik cekik atau chokepoint effect,” kata Rochdi

 

Instrumen-instrumen itu bisa dilakukan tanpa melibatkan negara lain, tapi melalui pemangkasan kanal masyarakat sipil. “Perlu dicatat, pengumuman kebijakan Economic Outcast tidak menyebutkan satu pun target negara sekunder secara spesifik sehingga menjaga fleksibilitas pemerintah untuk meningkatkan tekanan dari waktu ke waktu,” ujar Rochdi.

 

Dampaknya terhadap Kondisi Ekonomi Iran

 

Ekonomi Iran masih bertahan, tapi terus memburuk. Seperti dilaporkan The National, nilai tukar rial Iran merosot ke level terendah sekitar 2,02 juta per dolar Amerika pada Senin, 24 Agustus 2026. Angka tersebut menunjukkan pelemahan signifikan dibanding pada awal maret, tak lama setelah meletusnya perang Iran-Amerika ketika 1 dolar bernilai sekitar 1,35 juta rial.

 

Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan ekspor minyak Iran terhenti dan akses terhadap cadangan devisa makin terbatas akibat sanksi Amerika yang membatasi akses terhadap aset serta sistem keuangan internasional. “Tidak diragukan lagi bahwa kami menghadapi pembatasan ekspor minyak,” kata Hemmati di televisi pemerintah, pekan lalu.

 

Alih-alih tunduk pada ancaman, Iran justru menggembar-gemborkan kemampuannya membalas dengan dampak yang menyakitkan. Mereka memperingatkan akan adanya serangan yang lebih luas terhadap negara-negara produsen minyak di kawasan serta negara-negara Eropa.

 

“Kami sudah lama bermain catur.... Kami juga telah belajar bermain poker,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, kepada wartawan pada 24 Agustus 2026 seperti dilansir dari CNN. “Kini, selama beberapa waktu, kami memainkan kombinasi dari keduanya,” kata Baghaei.

 

Akankah Sanksi Amerika Berhasil?

 

Rochdi menilai penerapan sanksi terbaru bisa berdampak terhadap hubungan Amerika dengan pihak ketiga (negara yang dikenai sanksi) karena dapat mengacaukan sistem keuangan global. Selain itu, terdapat risiko struktural jangka panjang bagi hegemoni dolar. Arsitektur sanksi sekunder yang ekspansif justru bisa secara tak sengaja mendorong lebih banyak perdagangan ke kanal finansial non-dolar, di luar jangkauan Amerika.

 

Dia menilai kampanye sanksi ekonomi Amerika kali ini tidak akan efektif karena sejumlah faktor. Pertama, kilang-kilang minyak di Cina masih menyerap 90 persen pasokan minyak Iran, sementara bank-bank tidak dijadikan sasaran sanksi. Kedua, Iran memiliki pengalaman panjang dalam mengalihkan transaksi melalui jalur alternatif untuk menghindari sanksi ekonomi.

 

Lebih lanjut, tekanan yang diberlakukan Amerika dan sekutunya selama 47 tahun belum berhasil menggulingkan rezim ataupun mengubah kebijakan strategis Teheran secara signifikan. Adapun yang terakhir dan paling krusial, kampanye ekonomi itu tidak memiliki strategi deeskalasi, mengenai kondisi yang dapat mengakhiri sanksi, khususnya terkait dengan program nuklir.

 

“Karena tujuan yang dinyatakan adalah isolasi, hal ini bukanlah sebuah terma yang dapat dinegosiasikan. Risiko yang harus diantisipasi adalah terjadinya eskalasi horizontal,” kata Rochdi. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/internasional/sanski-ekonomi-as-untuk-iran-economic-d-day-2284227

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar