|
Dilema
Konversi Elpiji Redaktur Editorial 4 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 23 Agustus 2026
|
· Pemakaian CNG Merah Putih perlu melalui
uji keamanan berlapis dan transparan sebelum digunakan massal. · Efisiensi anggaran tidak boleh
mengorbankan keselamatan jutaan rumah tangga. · Ada opsi mengalirkan energi lewat
jaringan gas bumi yang sudah teruji dapat diandalkan di banyak negara. KEINGINAN
pemerintah mengganti elpiji 3 kilogram dengan gas alam terkompresi (CNG)
menjadi kabar baik sekaligus mencemaskan karena tak ada transparansi. CNG
lebih murah dan bahan bakunya tersedia melimpah di dalam negeri. Sedangkan
elpiji, meski lebih praktis, bahan bakunya harus diimpor. Konversi
elpiji ke CNG merupakan bagian dari program kemandirian energi untuk menekan
impor bahan baku energi hingga Rp 563 triliun per tahun. Target konversi
paling lambat dipenuhi akhir tahun ini. Artinya, tahun depan jutaan dapur
penduduk Indonesia akan sepenuhnya memakai tabung CNG. Penerapan
yang buru-buru ini yang mencemaskan. Secara matematika, konversi elpiji ke
CNG memang bisa menghemat devisa. Tahun lalu, misalnya, angka konsumsi elpiji
nasional sebanyak 9,24 juta ton. Produksi propana dan butana—bahan baku
elpiji—di dalam negeri hanya sekitar 1,6 juta ton. Impor bahan baku elpiji
80,6 persen setiap tahun membuat anggaran negara boncos. Masalahnya,
tabung gas alam yang dikompres punya tingkat bahaya lebih besar. CNG disimpan
pada tekanan 200-250 bar, sementara elpiji rumah tangga 5-10 bar. Perbedaan
tekanan ini menuntut standar teknologi yang tinggi untuk tabung, katup,
regulator, instalasi, penyimpanan, hingga prosedur penanganan ketika terjadi
ledakan. Risikonya
tidak kecil. Kegagalan tabung atau sistem penurunan tekanan bisa menyebabkan
pelepasan energi yang besar. Kebocoran gas metana juga membutuhkan penanganan
khusus karena sifatnya yang lebih ringan daripada udara. Dalam ruangan dengan
ventilasi buruk, gas yang terakumulasi meningkatkan risiko kebakaran atau
ledakan. Karena
itu, di luar soal hitung-hitungan penghematan, publik perlu mengetahui secara
utuh hasil pengujian CNG sebelum pemerintah memaksakannya di dapur-dapur
rumah kita. Sejauh ini pengujian telah dilakukan tiga kali oleh Balai Besar
Pengujian Minyak dan Gas Bumi, lembaga riset Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral. Lalu ada uji paparan panas sekitar 850 derajat Celsius di Cina.
Hasil-hasil pengujian itu belum dibuka ke publik dan diuji ulang oleh lembaga
independen. Pada
tahap awal, pemerintah menunjuk PT Pindad (Persero) memproduksi hingga 30
ribu tabung. Tabung dan pelindungnya didatangkan dari Cina, sementara katup
penurun tekanan otomatis diimpor dari Jerman. Lagi-lagi semua pengadaan ini
tak dibuka secara terang. Sebetulnya,
ketimbang langsung memakai CNG karena tergiur harga murah dan gimik stop
impor, pemerintah bisa memakai jaringan gas bumi yang sudah ada. Hingga 2024,
jaringan gas yang dibangun PT Pertamina Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk
telah mencapai sekitar 943 ribu sambungan: sekitar 703 ribu dibiayai Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara serta 240 ribu melalui skema non-APBN.
Pemerintah juga menyiapkan Rp 5,2 triliun untuk pembangunan jaringan gas pada
2027. Jaringan
gas memang membutuhkan nilai investasi awal yang besar, terutama untuk
membangun jaringan pipa di negara kepulauan seperti Indonesia. Namun
pembangunan jaringan gas menjadi kebijakan yang terstruktur dalam penyediaan
energi rumah tangga. Program baru konversi CNG juga sama-sama membutuhkan
biaya tak sedikit karena memerlukan uji kelayakan secara menyeluruh.
Penghematan tak berarti apa-apa jika keselamatan tak didahulukan. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/konversi-elpiji-cng-merah-putih-2283374 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar