Sabtu, 29 Agustus 2026

 

Melihat Jejak Perjalanan Sastra dalam Era Ledakan Komik 1950-1970

Nikson Sinaga :  Wartawan Kompas.

KOMPAS, 26 Agustus 2026

 

 

                                                           

Orang-orang membaca komik di bus, terminal, sekolah, hingga kedai kopi, seperti ledakan media sosial hari ini. Ada pula upaya sensor dari penguasa lewat opterma.

 

Pada 1979, wartawan Kompas Arswendo Atmowiloto menggambarkan dengan baik kehidupan kota yang sangat menggandrungi komik. Orang-orang membacanya di bus, kereta, terminal, sekolah, hingga kedai kopi. Sastra menjadi hiburan utama masyarakat. Posisinya seperti ledakan media sosial hari ini. Ada pula upaya sensor dari penguasa dengan opterma, operasi tertib remaja.

 

Arsip Harian Kompas merekam suasana kehidupan sastra pada era demam komik itu dalam cerita berseri atau serial. Seri pertama mengangkat topik ”Komik Itu Baik” yang dimuat dalam lima tulisan yang terbit pada 10-15 Agustus 1979.

 

Pada bulan berikutnya, Arswendo mengulas kiprah tiga komikus ternama, yakni Abdulsalam dari Yogyakarta, Zam Nuldyn, dan Taguan Hardjo dari Medan. Arswendo menyajikannya dalam tiga tulisan berjudul ”Tiga yang Berharga” yang tayang pada 3-5 September 1979.

 

”Dalam kelahiran dan perkembangan komik Indonesia, ada tiga nama yang berharga. Ketiga komikus ini membuktikan bahwa komik bisa hadir tanpa darah, sadisme, dan porno,” kata Arswendo dalam ulasannya.

 

Arswendo menggambarkan, perkembangan sastra di Indonesia tidak lepas dari apa yang dia sebut sebagai penyakit rakyat. Cerita-cerita di komik lekat dengan rok mini dan kekerasan. Komik-komik jenis itu laku keras di pasaran.

 

Di tengah suasana itu, sejumlah penulis membuktikan topik yang lebih mendidik tetap bisa menghibur dan diterima masyarakat. Perkembangan komik jenis ini antara lahir dari komik terbitan Medan yang disebut sebagai komik Medan. Penulisnya tak hanya dari Medan, tapi dari beberapa kota. Pada masa itu, tiga kota penerbit paling besar adalah Jakarta, Bandung, dan Medan.

 

Ledakan komik Medan muncul di era 1958-1964. Komik Medan punya ciri khas dibandingkan komik yang terbit di kota lain. Sebelum terbit dalam buku komik, cerita komik Medan diterbitkan berseri di koran harian dalam rubrik cergam atau cerita bergambar.

 

Salah satu koran yang paling getol menerbitkan cergam adalah harian Waspada. Pimpinan Waspada, Mohammad Said, membuka ruang lebar bagi komik. ”Peran Waspada dalam perkembangan komik nasional sangat besar sekali. Waspada memanjakan komikus dan memberi mereka kemungkinan yang sangat luas,” kata Arswendo.

 

Koran-koran terbitan Medan menjadi filter pertama cergam sebelum diterbitkan sebagai komik. Hal ini yang membuat cerita komik Medan tak bisa betele-tele karena harus terbit di surat kabar dengan ruang yang terbatas.

 

Namun, jumlah halaman komik Medan tetap lebih banyak dari komik lain, bahasanya lebih terpelihara, dan variasi cerita lebih beragam. Topik-topik yang diangkat mencerminkan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

 

Komunikasi timbal balik antara masyarakat pembaca dan komikusnya membuat komik Medan terus berbenah dan menjadi lebih baik. Berbeda dengan komik lain yang sebagian besar langsung terbit tanpa interaksi dari pembaca koran. Reaksi pembaca memberi pengaruh pada komik yang tengah disusun.

 

Dari budaya menulis cergam di koran, penulis-penulis komik Medan lahir. Mereka mengolah segala jenis humor, sejarah, petualangan, perjuangan, cerita ilmiah, hingga kisah detektif.

 

Komik Medan dengan cepat menguasai pasar komik nasional, tidak hanya di Medan, tetapi juga di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Cerita yang aktual, sebagaimana karakter konten di surat kabar, membuat komik Medan mudah diterima. Komik Medan juga memberikan cerita lebih beragam, selain roman picisan, cerita berdarah, dan pornografi yang menguasai topik komik saat itu.

 

Komik Medan antara lain melahirkan penulis hebat Taguan Hardjo. Taguan lahir di Suriname pada 6 November 1935. Dia pulang ke Tanah Air dalam program repatriasi yang dilaksanakan Presiden Sukarno pada 1953.

 

Taguan memberi warna baru dalam dunia komik saat itu. Dia menyebut bahwa komik jangan sampai merusak. Komik harus mengambil posisi sebagai pendidik, seperti guru.

 

”Bahan komik selalu sensasi. Kalau tidak awas, komik akan merongrong pendidikan. Ini bisa dihindarkan kalau setiap pelukis komik mau sepakat untuk menyadari sedikit banyak tugas seorang guru dan mau bersikap sebagai pendidik,” kata Taguan.

 

Nama Taguan melejit setelah menulis cergam berseri yang terbit di Waspada dengan judul ”Mentjari Musang Berdjanggut”, cerita rakyat yang diolah kembali. Ceritanya meledak dan menarik perhatian publik. Ketika dibukukan pada 1958, cetakan pertama laku 10.000 eksemplar. Cetakan kedua dan ketiga 50.000 eksemplar semuanya ludes.

 

Komik diterbitkan oleh penerbit Harris di Medan. Harris bersaing ketat dengan penerbit Melodie asal Bandung. Mereka sampai perang harga. Komik Medan dijual Rp 9 per eksemplar, lebih murah dari komik karya RA Kosasih atau S Ardisoma dari penerbit Melodie seharga Rp 11 yang saat itu merajai pasar.

 

Taguan pun akhirnya merajalela pada periode 1957 sampai 1964. Dia disejajarkan dengan para sastrawan Indonesia yang tersohor. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah komik berjudul Batas Firdaus terbitan 1963.

 

Taguan mengisahkan pergolakan batin seorang ayah dan anak gadisnya di sebuah pulau terpencil. Mereka manusia terakhir yang tersisa setelah perang nuklir yang memusnahkan dunia. Komik itu sangat relevan dengan perlombaan senjata nuklir di era Perang Dingin antara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur oleh Uni Soviet.           

 

Penulis lain dari Medan, Zam Nuldyn, juga meramaikan khazanah sastra Indonesia saat itu. Zam dikenal karena gambar komiknya yang riil, baik awan, udara, maupun bayang-bayang. ”Pada komik berjudul 2000 Tahun Danau Toba, Zam menjadikannya sebagai pameran kecermatan, ketekunan setiap milimeter dari kertas yang dikuasainya,” demikian Arswendo menggambarkan Zam.

 

Zam memilih kisah sejarah, legenda, dan cerita masyarakat lokal sehingga dia perlu ketelitian lebih untuk memastikan akurasi ceritanya. Cerita dan gambar komik dibuat berdasarkan fakta sejarah, mulai dari pakaian, adat-istiadat, hingga alam. Dia dikenal karena menggambar dengan sapuan pena, bukan kuas seperti yang lazim.

 

Zam yang lahir pada 1923 di Pajak Ikan Lama, Labuhan Deli, Sumatera Timur (sekarang menjadi kawasan Medan Marelan), hidup dari menggambar semata. ”Pada zaman perang kemerdekaan, di desa hanya saya yang bisa menggambar Bung Karno dan Bung Hatta. Gambar dibeli oleh pedagang China yang banyak duit untuk menggantikan gambar Chiang Kai-Shek (pemimpin militer dan politik Tiongkok),” kata Zam kepada Arswendo.

 

Kisah-kisah perjuangan juga diangkat penulis komik dari Yogyakarta, Abdulsalam. Komik pertamanya berjudul Kisah Pendudukan Jogja pada 19 Desember 1948 meledak di pasaran. Komik ini juga dimuat dalam cerita berseri di harian Kedaulatan Rakyat selama 30 kali.

 

Demam komik akhirnya meluas ke beberapa daerah, khususnya di era 1950 sampai 1970-an. Komik juga menjadi alat perjuangan dan media menyampaikan kritik sosial. Di sisi lain, cerita tentang pornografi dan sadisme juga berkembang pesat.

 

Ini dijadikan alasan oleh penguasa untuk melakukan sensor. Akhirnya, komik yang akan diterbitkan harus mendapat izin dari kepolisian. Razia pun dilakukan dengan operasi tertib remaja (opterma).

 

Komik sempat mati saat gejolak sosial politik melanda Tanah Air pada peristiwa Gerakan 30 September 1965. Komik lahir kembali pada 1970-an. Namun, komik yang meriah menjadi suram. Komik dijajakan di kios-kios dengan hati-hati dan waswas. Tak ada ledakan baru. Penerbit lebih memilih jalan yang benar-benar aman. ”Saat-saat yang kalem, terlalu kalem?” demikian Arswendo menggambarkan akhir demam komik.  

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/melihat-jejak-perjalanan-sastra-dalam-era-ledakan-komik-1950-1970?open_from=Pendidikan_&_Kebudayaan_Page  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar