|
Rekat-Retak
Prabowo-Jokowi Redaktur Editorial
1 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 23
Agustus 2026
|
· Jokowi mengklaim mulai sulit
berkomunikasi dengan Presiden Prabowo Subianto. · Anaknya, Wakil Presiden Gibran
Rakabuming Raka, bahkan pernah dijauhkan dari kursi Presiden dalam rapat
kabinet. · Keretakan keduanya tak hanya bermanfaat
untuk saling mengerem kekuasaan, tapi juga bisa dimanfaatkan masyarakat sipil
untuk berkonsolidasi. DALAM
hal manuver politik, Joko Widodo lihai memilih waktu. Ia selalu menghitung
kapan sebuah pesan disampaikan kepada publik. Jokowi memberikan jadwal
wawancara khusus kepada majalah ini pada 11 Agustus 2026, sebulan setelah
Presiden Prabowo Subianto menyebut pers yang kritis sebagai “Londo ireng”,
cap pengkhianat di era kolonial. Gestur
itu cukup efektif membawa pesan bagi Prabowo. Mengklaim berbulan-bulan
kesulitan berkomunikasi dengan Prabowo, Jokowi mendapat kursi tepat di
sebelah Presiden dalam perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2026 di Istana
Negara. Jokowi dan anaknya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, mengapit
Prabowo di pusat keriaan itu. Gibran untuk sementara tak lagi dijauhkan dari
kursi Presiden seperti dalam sidang kabinet sebulan sebelumnya. Sebagai
politikus yang berhasrat punya tangan dalam kekuasaan, Jokowi ingin anaknya
kembali berpasangan dengan Prabowo dalam pemilihan presiden 2029. Sementara
itu, Prabowo menjauhi Gibran antara lain karena citra buruk Jokowi sebagai
perusak konstitusi ketika memaksakan anaknya ikut Pemilihan Umum 2024 yang
melanggar undang-undang. Prabowo juga jarang melibatkan Gibran dalam
pengambilan keputusan-keputusan penting, bahkan tak memberinya anggaran cukup
untuk menjalankan tugas sebagai wakil presiden. Jika
persekutuan Jokowi-Prabowo berlanjut, politik Indonesia akan kembali berlumur
cara-cara kotor menggapai kekuasaan. Sebagai penguasa, Prabowo bisa melakukan
apa yang pernah dilakukan Jokowi, yakni mengerahkan sumber daya negara untuk
menang dalam pemilu. Sebaliknya, popularitas Jokowi di kalangan kelas
menengah-bawah bisa menutup longsornya elektabilitas Prabowo akibat
kebijakan-kebijakannya yang serampangan. Maka
keretakan Jokowi dengan Prabowo semestinya akan menyuguhkan kompetisi yang
lebih natural. Berpisahnya Jokowi dari Prabowo juga akan menjadi rem bagi
langkah berandalan pemerintah. Dengan kekuatan militer dan hampir semua
partai berada di belakangnya, Prabowo praktis tak mendengarkan suara publik.
Kritik masyarakat sipil ia balas dengan agitasi permusuhan. Keretakan
itu juga dapat memecah sumber daya dalam pemilu mendatang. Sudah menjadi
rahasia umum, calon presiden inkumben memiliki akses pada fasilitas negara
yang dapat dipakai sebagai alat pemenangan. Jokowi, dengan pengaruh yang tak
kecil, bisa mengimbangi dominasi itu. Partai politik yang selama ini mencari
posisi aman dengan membebek Prabowo bisa ia goda untuk berpindah haluan. Tapi
Jokowi tak punya genetika politik adiluhung. Kalkulasi politiknya semata
hitung-hitungan kekuasaan. Jalan politiknya bukan untuk berpihak pada
demokrasi, keadilan, dan kemaslahatan publik. Manuver politiknya melalui
gerilya ke basis massa pemilih dan menggandeng asosiasi pemerintahan desa,
sebagai salah satu contoh, semata bertujuan membawa Partai Solidaritas
Indonesia, partai yang dipimpin Kaesang Pangarep, putra bungsunya, mendapat
cukup suara untuk masuk ke Dewan Perwakilan Rakyat. Para kepala desa kini
masygul akibat pemerintahan Prabowo mengalihkan dana desa untuk membangun
koperasi merah putih. Masyarakat
sipil bisa mengambil peluang keretakan keduanya untuk berkonsolidasi. Dalam
waktu yang panjang, kelompok ini nyaris kehabisan energi mengimbangi
kebijakan Prabowo yang eksesif dan merugikan publik, di tengah gempuran
intimidasi dan kriminalisasi. Indonesia
tentu terlalu besar untuk dipasrahkan hanya kepada dua tokoh politik.
Kerusakan yang diakibatkan Jokowi dan Prabowo dalam lebih dari sepuluh tahun
terakhir telah membuat tatanan politik dan ekonomi Republik ambyar. Derajat
kerusakan itu bisa diminimalkan dengan membiarkan kontestasi yang sehat
berjalan antar-keduanya. Keretakan elite diharapkan bisa melahirkan checks
and balances. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/hubungan-politik-jokowi-prabowo-2283389 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar