Rabu, 26 Oktober 2016

Politik Kebangsaan Gerakan Mahasiswa

Politik Kebangsaan Gerakan Mahasiswa
Halili ;   Dosen Politik Universitas Negeri Yogyakarta; Peneliti di Setara Institut
                                                      KOMPAS, 22 Oktober 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam satu dekade terakhir, kesadaran publik kerap dilambungkan dengan mimpi Indonesia Emas 2045. Dinyatakan, pada usia seabad republik itu kita akan memanen buah dari musim yang sedang berpihak pada kita: bonus demografi.

Dalam konteks itu, kita harus merefleksikan gerakan mahasiswa di kampus-kampus. Mereka merupakan laskar Indonesia muda yang sangat kita harapkan. Sayangnya, secara internal mereka dihadapkan pada persoalan akut. Padahal secara eksternal, mereka dihadapkan pada situasi bangsa yang berada ancaman penjajahan modern yang masif dan mulai merasuk dalam detak jantung kehidupan berbangsa dan bernegara. Patut dicatat, kolonialisme baru akan bagi kita Secara makro, bangsa besar hampir selalu berpijak pada tiga modal; modal ekonomi (economic capital), modal sosial (social capital), dan modal manusia (human capital).

Modal ekonomi dan modal sosial kita berada dalam ancaman sangat serius yang diakibatkan oleh penetrasi fundamentalisme pasar global yang menguasai industri strategis kita serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang membuat kita lebih sering duduk pasif sebagai konsumen.

Satu modal mahapenting yang mesti kita terus pertahankan dan kita jadikan medium untuk ”merebut” dua modal lainnya adalah modal manusia. Modal manusia yang fitrah dan ”siap cetak” selalu dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita. Generasi manusia adalah generasi patah tumbuh hilang berganti. Artinya, selalu ada modal hakiki bagi bangsa ini untuk merebut zaman. Persoalannya hanya terletak pada bagaimana kita mencetak manusia Indonesia itu sendiri.

Mahasiswa dan gerakan mahasiswa, sebagai simpul dinamika dan transformasi kaum muda kelas menengah, mesti berada dalam kesadaran tersebut. Dengan demikian, gerakan politik yang mereka lakukan mestinya bukan semata-mata gerakan partikular dan partisan berkaitan dengan politik kekuasaan menjelang pemilu, pilpres, pilkada, dan hajatan elektoral lainnya.

Narasi dan orientasi gerakan mereka haruslah politik kebangsaan, yang melampaui afiliasi pada partai politik yang kerap mereka jadikan patron.

Persoalan internal

Secara internal, gerakan mahasiswa mengalami persoalannya sendiri. Dari pengalaman mendampingi, pengamatan, dan kontemplasi yang penulis lakukan, secara inward looking banyak persoalan yang dihadapi gerakan mahasiswa.

Pertama,lemahnya basis material gerakan. Untuk mendorong dan mengisi aktivitas gerakan, mahasiswa diniscayakan memiliki basis material yang kuat. Keberpihakannya jelas. Intelektualitasnya mumpuni. Sensitivitasnya tinggi untuk menyentuh persoalan-persoalan riil masyarakat. Kualitas demikian hanya mungkin dicapai dalam sistem dan kultur pendidikan yang sehat, yang memberikan ruang bagi kebebasan nalar dan pikiran serta galvanisasi mentalitas mahasiswa.

Di samping itu, musuh bersama gerakan mahasiswa juga semakin absurd. Mahasiswa kesulitan mendefinisikan mana yang harus diposisikan sebagai musuh bersama gerakan mahasiswa. Hal ini berdampak pada berlangsungnya fragmentasi gerakan, yang dalam beberapa kasus berbenturan satu sama lain. Satu fragmen gerakan menghajar obyek perlawanan tertentu, sementara fragmen lainnya menempel erat pada obyek tersebut.

Dalam banyak kasus, gerakan mahasiswa tidak aware mengapa sebuah obyek dilawan. Gerakan berlangsung sporadis karena gagalnya memaknai gerakan dan mendefinisikan ”musuh” yang harus dilawan. Dan karena ”tidak mau susah”, akhirnya aktivis mahasiswa terjebak pada aktivitas seremonial. Mereka di kampus ataupun di luar kampus sering kali hanya berperan sebagai event organizer dalam banyak rutinitas aktivitas.

Kedua,rendahnya kesadaran kelas. Mahasiswa merupakan kelas terdidik. Mahasiswa merupakan kelas menengah yang potensial untuk melakukan perubahan tertentu di dalam masyarakat. Banyak contoh yang telah didedahkan oleh gerakan mahasiswa pada masa yang lalu untuk memberikan bakti tertentu bagi masyarakat berbangsa dan bernegara, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.

Beberapa di antaranya sudah dicatat dalam sejarah perjalanan bangsa. Perhimpunan Indonesia, pada tahun 1922, yang dimotori oleh Hatta muda di Belanda, bergerak mewujudkan visi kemerdekaan Indonesia dalam cara pandang mahasiswa. Tahun 1970, gerakan mahasiswa yang dimotori waktu itu oleh Wilopo bergerak untuk melawan praktik korupsi pemerintahan Orde Baru, yang kemudian membentuk Gerakan Anti Korupsi.

Tahun 1974, gerakan mahasiswa, yang dimotori Hariman Siregar, Adnan Buyung Nasution, dan kawan-kawan, juga turun ke jalan untuk melawan liberalisasi dan menolak kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Gerakan ini kemudian meletuskan Tragedi Malari. Satu dasawarsa lebih yang lalu, gerakan mahasiswa juga turun ke jalan-jalan dan melawan otoritarianisme Orde Baru dan akhirnya berhasil memaksa Soeharto lengser keprabon.

Kini, mahasiswa mengalami persoalan kesadaran kelas. Gerakan mahasiswa mengalami pelemahan (weakening)karena mereka sendiri gagal menunjukkan tingginya kesadaran bahwa mereka adalah motor yang bisa menggenerasi perubahan di tengah-tengah masyarakat. Mahasiswa gagal mengartikulasikan spirit perubahan dalam diri mereka sendiri.

Ketiga,dampaknya, terjadi perapuhan ideologis gerakan mahasiswa. Idealisme gerakan mahasiswa mengalami penurunan dan terjun bebas. Terjadi deideologisasi gerakan. Gerakan mahasiswa tidak banyak dipandang sebagai gerakan perlawanan dan gerakan perubahan, tetapi lebih banyak mewujud sebagai labeling identitas simbolik dan aktivitas ”daripada tidak”.

Keempat,penetrasi arus hedonisme dan konsumerisme. Tren hedonis dan konsumeris secara masif menggerogoti gerakan mahasiswa. Ada kecenderungan, mahasiswa tidak kuat melawan arus ”gaya” yang menempel bersama modernisasi ini. Perilaku konsumeris sangat jamak kita lihat. Kita bisa renungkan perbandingan konsumsi mahasiswa untuk buku dengan konsumsi mereka untuk pulsa.

Revitalisasi gerakan

Melihat dua tantangan tersebut, eksternal dan internal, gerakan mahasiswa harus melakukan revitalisasi melalui dua langkah utama. Pertama, battle of values (pertarungan nilai). Ke dalam, mahasiswa harus mendefinisikan ulang identitas dirinya, mengontemplasikan peran-perannya, dan melakukan gerakan absorbsi atas komponen-komponen negatif mahasiswa. Oleh karena itu, basis material mahasiswa harus diperkuat. Mahasiswa harus menjadi iron stock kepemimpinan nasional. Mahasiswa harus mengoptimalisasi diri menjadi—meminjam Antonio Gramsci—intelektual organik.

Kedua,reaktualisasi gerakan mahasiswa. Mereka harus menata ulang keberpihakannya, pada kepentingan masyarakat berbangsa dan bernegara. Jangan membayangkan bahwa musuh gerakan mahasiswa adalah penjajahan konvensional sebagaimana dibayangkan oleh Perhimpunan Indonesia yang digagas oleh Bung Hatta muda. Kapitalisme yang harus dilawan juga bukan kapitalisme simbolik yang dibayangkan oleh mahasiswa pada periode 1970-an. Otoritarianisme yang dihadapi saat ini bukan otoritarianisme kasatmata yang ditampilkan oleh Orde Baru melainkan built-in authoritarianism yang sistemik dan tak teraba.

Akhirnya, gerakan mahasiswa di sini kini harus meneguhkan relevansinya. Mereka mesti berkontribusi bagi liberasi bangsa. Gerakan sosial mereka harus menjadi bagian dari gerakan kolektif untuk tegaknya harkat dan martabat bangsa. Merekalah salah satu yang akan menentukan apakah mimpi Indonesia Emas 2045 akan nyata atau hampa.