Rabu, 26 Oktober 2016

Bob Dylan

Bob Dylan
Bre Redana ;   Wartawan Senior Kompas
                                                      KOMPAS, 23 Oktober 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Penerima anugerah Nobel bidang sastra tahun ini adalah Bob Dylan. Ketika mengumumkan keputusannya, selain menyatakan bahwa memilih Dylan bukanlah keputusan sulit, pihak akademi pemberi hadiah berharap mereka tidak akan dikritik. Sampai saat ini dari berbagai kantor berita belum terdengar satu patah kata dari pelantun lagu "Blowin' in the Wind" itu mengenai anugerah yang diterimanya.

Jangan-jangan, kritik diam-diam datang dari Dylan sendiri. Kalau Anda mengikuti perjalanan dia, menonton filmnya, melihat pertunjukannya, membaca wawancara-wawancaranya, kita akan kenal pandangan Dylan: ilusi dan kepentingan berbagai pihak termasuk medialah yang membuat dirinya seperti pemberontak, tukang protes, sosok antikemapanan, dan lain-lain.

Setiap orang, kata dia, memiliki bakat sendiri-sendiri. Tidak dengan sendirinya yang berbakat gitar lebih baik dari yang berbakat bikin kue atau menggergaji pohon. Ia mulai main gitar umur sepuluh tahun. Mungkin ada bakat lain pada dirinya, namun belum ditemukannya.

Ketika namanya meroket tahun 1960-an, dikenal dengan rambut ikal tak beraturan, jins belel, sepatu boots, kacamata hitam, media selalu menanyakan apa yang membuatnya menulis lagu ini lagu itu. Lirik-lirik yang ditulisnya itulah yang sekarang membawanya menjadi penerima Nobel Sastra. Ia dianggap "telah menciptakan ekspresi puitis baru dalam tradisi besar lagu Amerika".

Saya menulis dengan alasan seperti saya menulis lagu sebelumnya, kata Dylan. Alasan saya menulis lagu sebelumnya sama dengan alasan menulis lagu yang sebelumnya lagi, sebelumnya lagi, dan seterusnya. Dengan kata lain, ada orang yang melakukan sesuatu yang disukainya secara terus-menerus, dan itu tidak selalu memerlukan alasan.

Hanya saja, Dylan berada di bawah sorotan media. Media membutuhkan alasan. Wawancara dibatasi tema, subyek, pokok persoalan. Lalu pewawancara berhadapan dengan sosok yang diwawancarainya. Banyak pewawancara payah, hanya berfungsi seperti ember: menampung apa yang dimuntahkan pihak yang diwawancarainya.

Siapakah yang masih mencoba merefleksikan, bahwa ketika kita berhadapan dengan orang lain, yang bertemu adalah ego dengan ego? Apalagi, kalau kita melihat dari pemikiran Buddhisme, bahwa ego itu pun bukan sebuah entitas, melainkan suatu proses yang terus bergerak bersama waktu? Bagaimana sebuah wawancara sanggup mengungkap psyche seseorang? Untuk kepentingan praktis media hal itu mustahil terjadi, namun seberapa jauh keterbatasan tersebut disadari banyak orang?

Dylan pernah mendefinisikan diri dengan ungkapan penyair Prancis Arthur Rimbaud: "I is another" (Aku adalah si lain). Dalam suatu buku dilukiskan bagaimana reaksi Dylan ketika membaca surat kabar yang menulis mengenai dirinya: Tuhan, saya gembira ini bukan saya. Pada konser di Newport Folk Festival, tahun 2003, ia mengenakan wig dan jenggot palsu. Ketika orang menanyakan alasannya, dia menjawab: adakah itu saya yang Anda lihat di sana?

Tak heran jika untuk penghargaan dari lembaga bergengsi pemberi anugerah Nobel ini pun belum keluar sepatah kata dari Dylan. Ia bukan sosok dari generasi dunia televisi dan digital zaman ini, yang mudah mengumbar komentar dan selalu berisik menyatakan baik rasa syukur maupun benci. Dirinya, kalau kita ingat lagu "Red River Shore" adalah a stranger in a strange land (si asing di tanah asing).

Saya tak yakin tidak ada yang mengkritik keputusan akademi pemberi anugerah Nobel. Tidak adakah penulis puisi yang lebih baik dari Dylan, lelaki maupun perempuan, kulit putih atau kulit hitam atau warna kulit apa saja?

Jangan tanya seperti itu. Saya adalah fans dia. Gara-gara dia dulu saya sempat pengin jadi troubadour. Dylan pantas menerima anugerah apa saja. Ia adalah a stranger in a strange land, pengembara di jalan sunyi yang tak henti mempertanyakan diri sendiri: sebuah jalan yang dibutuhkan terlebih di zaman yang gaduh di mana banyak orang merasa paling benar sendiri, paling suci sendiri, sambil mencap orang lain sesuka hati.