Senin, 24 Oktober 2016

Pendidikan dan Pekerjaan

Pendidikan dan Pekerjaan

Dodi Mantra ;   Ketua Umum Aliansi Pemuda Pekerja Indonesia (APPI);
Dosen Hubungan Internasional Universitas Paramadina
                                                      KOMPAS, 20 Oktober 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Semakin tinggi pendidikan, semakin baik kondisi pekerjaan. Peluang karier pun kian terbuka luas dengan tingkat pendapatan yang semakin tinggi. Muaranya, kehidupan masyarakat pun akan semakin sejahtera.

Demikian bingkai pemahaman linier yang mengakar dan terus diyakini secara luas di negeri ini. Pendidikan diyakini membawa pengaruh langsung terhadap pekerjaan dan tentunya peningkatan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat. Tak heran, ketika sebuah permasalahan lama yang tak kunjung usai tersingkap kembali, narasi kekhawatiran dan keterancaman segera membungkusnya.

Tepat di halaman depan harian Kompas (4/10), diungkap sebuah permasalahan dalam wujud rendahnya tingkat pendidikan dari sebagian besar tenaga kerja di Indonesia. Betapa tidak, 42,9 persen dari masyarakat di negeri ini kenyataannya hanya mampu mengecap jenjang pendidikan tertinggi di tingkat sekolah dasar (SD). Sebuah permasalahan yang semakin suram, seiring fakta tingginya jumlah siswa SD yang tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP), serta yang putus di bangku SD, yakni sebanyak 1.014.079 orang pada tahun 2015/2016.

Dengan segera, bingkai pemahaman linier yang sama mengemas arah dari fakta permasalahan ini. Dampak dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat ini, diarahkan langsung pada ancaman permasalahan buruknya mutu angkatan kerja di masa depan. Betapa makna dan arti penting pendidikan di sini bahwa ia tidaklah dapat dipisahkan dari pekerjaan. Semakin jelas pula bingkai pemahaman yang selama ini melandasi arah pembangunan pendidikan di Indonesia, di mana pekerjaan selalu menjadi tujuan dan muaranya yang paling utama.

Pendidikan selalu diletakkan sebagai variabel bebas yang dinamikanya berpengaruh langsung terhadap pekerjaan sebagai variabel yang terikat. Bahkan, tidak jarang pengaruh pendidikan ditarik lagi lebih jauh, hingga menjangkau perubahan pada struktur perekonomian masyarakat.

Benarkah demikian kenyataannya? Benarkah pendidikan yang menentukan kondisi dari pekerjaan dan pada gilirannya membentuk struktur perekonomian masyarakat? Ataukah sebaliknya? Di mana justru struktur perekonomian—dengan corak pekerjaan dominan yang berlangsung di dalamnya—yang menentukan dan mendikte arah dari pembangunan pendidikan di Indonesia selama ini?

Keterampilan rendah: upah murah

Adalah fakta bahwa struktur perekonomian Indonesia hingga hari ini masih didominasi oleh aktivitas produksi dengan tingkat keterampilan rendah dan upah murah sebagai penopang utamanya. Sebuah fakta yang tecermin dengan sangat jelas dari kontribusi besar sektor industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini. Sebuah sektor yang didominasi oleh klasifikasi industri padat kerja tidak terampil dan yang berbasis sumber daya alam.

Diperkuat fakta besarnya persentase masyarakat yang bekerja di sektor informal, tak bisa dimungkiri bahwa sejatinya jenis pekerjaan dengan tingkat keterampilan rendah dan upah murah adalah yang secara luas menggerakkan perekonomian negeri ini. Kelompok tenaga kerja tidak terampil dengan tingkat upah murah adalah yang paling dibutuhkan dalam kondisi struktur perekonomian yang seperti ini. Jenis pekerjaan yang tidaklah mensyaratkan tingkat pendidikan yang tinggi bagi masyarakat untuk mendapatkannya.

Alhasil, permasalahan rendahnya tingkat pendidikan yang terjadi di masyarakat tersebut lebih sebagai konsekuensi dari corak aktivitas ekonomi berbasis keterampilan rendah dan upah murah, yang hingga kini terus dominan berlangsung di Indonesia. Sebagai manifestasinya, tidak sedikit dari masyarakat yang memutuskan tidak melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi, lebih dikarenakan ketiadaan peluang peningkatan jenis pekerjaan bagi mereka. Tidak sedikit pula dari masyarakat yang memiliki pola pikir, ”untuk apa melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi jika pada akhirnya hanya menjadi buruh kasar”.

Pekerja terampil dan upah murah

Perluasan akses terhadap pendidikan dengan demikian tidak secara langsung bermuara pada peningkatan partisipasi pendidikan masyarakat. Bahkan paradoks rendahnya tingkat pendidikan masyarakat ini terjadi di sebuah negara dengan jumlah perguruan tinggi yang sangat banyak. Hingga Oktober 2016, tercatat jumlah perguruan tinggi di Indonesia sebanyak 4.420 perguruan tinggi. Jumlah yang bahkan lebih banyak dibandingkan dengan yang tersebar di semua negara Eropa.

Terjawab sudah, bukanlah dinamika pendidikan yang mendorong perbaikan kondisi pekerjaan dan struktur perekonomian. Justru corak dominan dari struktur perekonomian negeri inilah yang membentuk dan menentukan arah serta dinamika di sektor pendidikan di negeri ini.

Situasi serupa tampak pula berlangsung pada nasib pekerja terampil dengan tingkat pendidikan yang relatif tinggi. Corak dominan struktur perekonomian yang sama adalah yang menjadi penggeraknya.

Posisi perekonomian Indonesia dalam jejaring produksi global—yang didominasi oleh aktivitas pengalihan produksi (alih daya) dari perusahaan-perusahaan asing, maraknya perusahaan-perusahaan sub- kontraktror yang memasok kebutuhan rantai produksi global—membawa pengaruh besar terhadap kondisi dan arah perkembangan pendidikan di masyarakat. Kerja-kerja teknis dalam produksi komponen, perakitan, dan barang jadi dengan nilai tambah rendah adalah yang dominan menyusun aktivitas ekonomi sebuah negara pada posisi ini.

Kondisi dan arah perkembangan pendidikan di Indonesia pun tampak jelas digerakkan selaras dengan kebutuhan corak kerja tersebut. Perluasan dan penekanan pada program pendidikan teknis, mulai dari sekolah kejuruan hingga perguruan tinggi, adalah wujud nyatanya. Kurikulum dirancang sedemikian rupa untuk dapat menghasilkan lulusan yang siap pakai, dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja.

Sekalipun tenaga kerja dalam kelompok ini tergolong terampil dan berpendidikan relatif tinggi, tak ada jaminan bahwa tingkat upah mereka juga tinggi. Hal ini tidak terlepas dari posisi perekonomian Indonesia dalam jejaring produksi global, yang sebagian besar aktivitasnya bertumpu pada pengalihan produksi dari perusahaan asing, di mana tingkat upah murah adalah daya tarik utama pengalihan aktivitas produksi tersebut ke Indonesia.

Buruh immaterial

Adalah kegaliban di negeri ini, di mana standar upah pekerja terampil—dengan latar belakang pendidikan yang relatif tinggi—masih jauh di bawah standar internasional pekerja dengan kompetensi dan jenis pekerjaan yang sama.

Sampai titik ini, semakin terang bagaimana kondisi dan perkembangan pendidikan di Indonesia sejatinya diabdikan dan digerakkan oleh kebutuhan dan corak dominan dari struktur perekonomian yang selama ini berlangsung. Tecermin lebih terang lagi melalui dinamika pendidikan yang tampak bergerak mengikuti transformasi yang terjadi di dalam struktur perekonomian.

Dapat disaksikan selama satu dekade terakhir, sebuah pergeseran mendasar terjadi dalam corak aktivitas produksi di Indonesia. Transformasi materialitas alat produksi, dalam wujud perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, telah mendorong perubahan corak aktivitas produksi dan tentunya corak kerja yang berlangsung di masyarakat. Sebagai manifestasinya, kandungan material tak lagi menjadi penyusun utama dari nilai suatu produk. Sebaliknya, lebih banyak ditentukan oleh kandungan dalam bentuk yang nonmaterial, dalam rupa-rupa wujudnya mulai dari informasi, komunikasi, pengetahuan, hingga afeksi.

Generasi pekerja baru pun lahir, terutama di kota-kota besar di Indonesia. Lapisan pekerja yang bergeliat tidak dalam memproduksi barang material, tetapi produk dan kandungan yang bersifat immaterial. Mereka adalah buruh immaterial. Buruh yang tidak hanya memiliki keterampilan dan tingkat pendidikan yang relatif tinggi, juga kompetensi yang spesifik dan daya kreativitas yang tinggi.

Berbasis pengerahan pengetahuan, kreativitas, dedikasi, hingga emosi, mereka bekerja dengan penuh gairah untuk menghasilkan produk immaterial atau konten nonmateri dari suatu produk. Tersebar di berbagai industri, terutama industri kreatif dan media, keberadaan buruh immaterial kian hari kian meluas di masyarakat. Kendati demikian, nasib mereka kenyataannya tidaklah lebih baik daripada kelompok pekerja industri (material), baik yang terampil maupun tidak terampil.

Bahkan, lebih parah lagi, selain tingkat upah yang tetap murah, corak kerja dalam kategori ini ditandai oleh aktivitas produksi berbasis kegemaran dan hasrat. Alhasil, ruang kerja pun melebur dengan ruang kehidupan. Waktu kerja merangsek ke dalam tiap detik waktu hidup dan relasi sosial. Sayangnya, sedari kerja dilandasi oleh mobilisasi kegemaran, buruh dalam kategori ini tetap saja menikmati pekerjaan mereka. Bahkan mengabdikan kehidupan untuk pekerjaan mereka sekalipun dibayar dengan upah yang rendah dan dengan jam kerja yang sangat padat menyusup ke dalam kehidupan.

Lagi-lagi, kecenderungan corak produksi ini membawa perubahan pada dinamika perkembangan pendidikan di Indonesia. Pertumbuhan pesat jumlah program studi ilmu komunikasi dengan berbagai turunan spesialisasinya, seiring dengan minat masyarakat yang semakin besar atas program ini, adalah buktinya yang sangat nyata. Demikianlah, kondisi dan arah perkembangan pendidikan di Indonesia yang diperbudak dan digerakkan untuk pemenuhan pasokan tenaga kerja yang selaras dengan kebutuhan dari struktur industri dalam coraknya yang kental dan lekat dengan permasalahan.

Bingkai sempit neksus pendidikan dan pekerjaan harus segera ditinggalkan. Pendidikan, sejatinya, memiliki kekuatan dan cita-cita yang lebih besar ketimbang hanya diabdikan sebagai wadah produksi dan reproduksi tenaga kerja semata.