Senin, 24 Oktober 2016

Negara Dirgantara

Negara Dirgantara

Aprinus Salam ;   Kepala Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada
                                                      KOMPAS, 18 Oktober 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sistem dan instrumentasi kelautan (maritim), kenyataannya, hanya cocok untuk mengatasi persoalan dan hubungan antarpulau (dalam zona regionalnya), tetapi tidak untuk mengatasi sejumlah masalah nasional.
Kini zaman telah berubah sehingga sistem dan instrumentasi udara jauh lebih cocok untuk mengatasi negara yang terdiri atas ribuan pulau dan tersebar sedemikian rupa. Kita pun harus mengakui bahwa dalam praktiknya, sistem dan instrumentasi udaralah yang kita pakai, dengan pertimbangan efisiensi, efektivitas, dan kecepatan.

Dulu, hingga abad ke-19, teknologi dan sistem laut merupakan andalan utama. Kerajaan-kerajaan di Nusantara sebagian besar berbasis kelautan (kemaritiman). Hubungan-hubungan yang jauh diselesaikan lewat laut. Sejumlah ”peperangan” sebagian besar juga terjadi di laut sebelum akhirnya menguasai daratan. Sistem dan instrumentasi darat tentu tetap menjadi bagian penting karena kenyataannya kita hidup di darat.

Historisitas ini menyebabkan kita menjadi bangsa laut atau bangsa daratan. Dalamhubungan-hubungan antarpulau, sistem, nilai, dan tradisi laut masih dipertahankan. Sebagian lain membangun masyarakatnya berbasis daratan, atau dikenal sebagai bangsa agraris. Dulu, rumah-rumah menghadap laut atau sungai di satu pihak, dan di dalam hutan di pihak lain.

Negara pinggiran

Ketika Nusantara masih menguasai laut hingga abad ke-13 (ada yang mengatakan hingga abad ke-9), Nusantara termasuk salah satu negara pusat. Akan tetapi, ketika di laut anak bangsa Nusantara mulai kalah, dan terpaksa menjadi bagian dunia kapitalisme, Nusantara menjadi negara pinggiran. Hingga hari ini, kalau kita berusaha kembali menjadi negara maritim, dalam persaingan perkembangan teknologi laut, kita tetap menjadi negara pinggiran.

Kini, penduduk Nusantara yang terus bertambah itu hidup di daratan sebagai pilihan utama, bukan laut. Memang sebagian besar hidup di pantai. Sebagian besar kota-kota penting di Indonesia adalah kota pantai, tetapi tetap saja sebagian besar hidupnya habis dan berbasis di daratan.

Bahkan, ke mana pun orang kota pantai itu pergi, pilihan utamanya adalah sistem dan instrumentasi udara, dan sebagian yang lain sistem dan instrumentasi darat. Sistem dan instrumentasi laut memang masih dipakai, tetapi itu pilihan ”alternatif”, atau pilihan bagi mereka yang belum atau tidak mampu mengakses sistem dan instrumentasi udara atau darat.

Laut memang masih menjadi sumber ekonomi yang penting, dalam pengertian harfiah. Namun, itu bukan berarti kita perlu mempertahankan dan membangun ulang negara maritim. Teknologi dan sistem kemaritiman memang masih perlu terus dikembangkan untuk mengatasi sejumlah masalah kelautan yang demikian luas, yang di atas kertas merupakan tiga perempat dari luasNusantara.

Beberapa kelebihan

Hal signifikan yang mengubah sistem dunia adalah sistem dan instrumentasi udara. Kenyataan pula, bagian itu negara ini paling lemah. Padahal, begitu banyak solusi dalam mengatasi masalah, dan beberapa hal yang mempertimbangkan efektivitas, efisiensi, dan waktu (kecepatan), maka pilihan terhadap sistem dan instrumentasi udara menjadi pilihan utama.

Kita juga tak bisa membayangkan banyak pekerjaan nasional yang harus dikerjakan yang berjarak jauh, antarpulau, dengan mengandalkan sistem dan instrumentasi laut. Untuk pengamanan laut, dibutuhkan kemampuan untuk menguasai sistem dan instrumentasi laut. Namun, penguasaan udara tidak kalah efektifnya, baik dari segi kecepatan maupun jangkauan, dalam mengatasi beberapa masalah keamanan laut tersebut.

Memang, sistem dan instrumentasi udara relatif lebih mahal dibandingkan laut dan darat. Akan tetapi, pengelolaan teknokrasi dan ekonomi yang efektif dan berbagai subsidi yang dimungkinkan untuk konsentrasi pengembangan negara udara (bisa juga negara dirgantara) adalah suatu hal yang sangat perlu dipertimbangkan.

Paradigma kemaritiman

Kita pernah bangga menjadi bangsa pelaut, negara maritim, dan sebagainya. Akan tetapi, terbukti kita terpinggirkan karena ketidakmampuan dan kekalahan dalam mengembangkan teknologi laut.

Jika ke depan kita berhasil (kembali) mengembangkan teknologi maritim, kekuatan, sistem, dan instrumentasi udara negara luar kembali mengalahkan kita. Juga meminggirkan kita dari sistem dunia yang secara keseluruhan banyak diatasi sistem dan instrumentasi udara.

Di samping hidup di darat, maka di darat jauh lebih mudah mengoordinasi udara yang terhubung langsung dan terbuka. Kalau kita pergi ke mana pun di Nusantara (Indonesia) ini, kita memang menyeberangi lautan, tetapi tujuannya adalah darat.

Dalam kaitan ini, laut tidak lebih sebagai jalan, tetapi udara juga bisa menjadi jalan. Jangkauan udara, di samping lebih cepat, juga dengan mudah memetakan sumber daya laut. Dibandingkan dengan darat dan laut, udara tetap yang paling luas.

Tidak ada alasan yang penting untuk kembali membangun negara—apalagi budaya—kemaritiman. Memang, sebagian besar masyarakat Indonesia yang tinggal di pantai masih mengandalkan laut. Akan tetapi, itu relevansinya untuk masyarakat yang bersangkutan. Sementara bagi sebagian besar yang lain, mereka yang berbasis kota dan daratan justru selama ini sebenarnya telah mengandalkan udara.

Sayangnya, budaya keudaraan tenggelam dalam paradigma kemaritiman. Kini sudah waktunya menguasai sistem dan instrumentasi udara, sekaligus budaya udara (dirgantara). Kita tahu, salah satu lambang negara kita yang terpenting adalah Burung Garuda, simbol keudaraan, bukan kelautan.