|
Makna Kata 'Mania'
yang Berubah Agus Widiey :
Sastrawan asal Sumenep, Madura dan mahasiswa
Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. |
TEMPO MINGGUAN, 12
Juli 2026
|
· Kata 'mania' lebih sering diasosiasikan
dengan dunia psikologi dan gangguan kejiwaan. · KBBI mengklasifikasikan kata 'mania'
sebagai istilah psikologi dengan makna gangguan jiwa dengan ciri gejala
kemarahan, kegelisahan, kekalutan, atau kebingungan yang berlebih-lebihan. · Belakangan ini ada perubahan makna
cukup menarik ketika kata yang mulanya terasa klinis justru berubah menjadi
label komunitas. LAGU
“Kicau Mania” yang meluncur pada 22 Januari 2026 menjadi salah satu lagu yang
ramai didengarkan hingga pertengahan tahun ini. Lagu yang dipopulerkan
Ndarboy Genk bersama Banditoz Yaow 86 itu dibuat sebagai bentuk penghormatan
bagi komunitas pencinta burung berkicau. Hari-hari
ini, lagu “Kicau Mania” berseliweran di media sosial dan kerap digunakan
sebagai suara latar dalam berbagai konten video. Lagu tersebut terdengar di ruang
kelas, jalanan, hingga acara perpisahan sekolah. Anak-anak ataupun orang
dewasa ikut menikmati dan mengikuti pola gerakannya. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lema kicaumania diartikan sebagai
“sebutan untuk penggemar burung kicau”. Definisi tersebut bersifat netral dan
berorientasi pada hobi belaka. Meski begitu, sebenarnya kata mania lebih
sering diasosiasikan dengan dunia psikologi dan gangguan kejiwaan. KBBI
mengklasifikasikan mania sebagai istilah psikologi yang bermakna gangguan
jiwa dengan ciri gejala kemarahan, kegelisahan, kekalutan, atau kebingungan
yang berlebih-lebihan, seperti pada istilah dipsomania dan kleptomania.
Karena itu, ada perubahan makna yang cukup menarik ketika kata yang mulanya
terasa klinis justru berubah menjadi label komunitas. Secara
historis, kata mania berasal dari bahasa Yunani kuno, manía, yang berarti
kegilaan atau keadaan kehilangan kendali batin. Bahasa Latin menyerapnya
hampir tanpa perubahan bentuk, lalu membawanya masuk ke bahasa-bahasa Eropa
modern sebelum diserap ke bahasa Indonesia melalui jalur ilmiah dan
psikiatri. Dalam
dunia medis modern, kata mania digunakan untuk menggambarkan dorongan emosi
yang berlebihan. Namun bahasa tidak selalu berjalan lurus mengikuti sejarah
asal katanya. Ketika masuk ke ruang sosial, makna mania perlahan mengalami
pelunakan, bahkan berubah menjadi simbol fanatisme yang terdengar biasa dalam
percakapan sehari-hari. Menurut
saya, perubahan makna seperti ini menunjukkan bahwa bahasa sebenarnya lebih
dekat dengan kebiasaan sosial daripada ketertiban kamus. Orang menggunakan
kata berdasarkan suasana yang mereka rasakan, bukan semata-mata berdasarkan
riwayat makna yang tercatat dalam buku bahasa. Karena itu, kata mania yang
mulanya terasa asing dan berat kini justru terdengar lebih cair dalam musik,
olahraga, bahkan politik. Perubahan
makna tersebut tampak dalam berbagai istilah populer, seperti Jakmania, Slank
Mania, dan “Kicau Mania”. Dalam praktik sosial, kata mania tidak lagi
dipahami sebagai gangguan mental, tapi penanda kebersamaan dan loyalitas
kelompok. Artinya, bahasa bekerja seperti atribut suporter yang ditempelkan
pada sebuah nama, lalu segera melahirkan rasa memiliki yang emosional dan
kolektif. Barangkali
karena masyarakat lebih mudah mengingat bunyinya yang terasa kompak daripada
memikirkan sejarah psikologis yang ikut terbawa di belakang kata tersebut. Komunitas
semacam Prabowo Mania 08 (relawan pendukung utama Presiden Prabowo Subianto,
yang dipimpin Immanuel Ebenezer) memperjelas bagaimana istilah dari dunia
psikologi dapat berubah menjadi alat untuk memperkenalkan calon presiden. Pergeseran
dari Jokowi Mania menuju kelompok lain menunjukkan bahwa bahasa politik
jarang benar-benar netral. Kata yang sama dapat dipindahkan ke panggung
berbeda tanpa kehilangan daya tariknya. Dalam situasi seperti itu, mania
bukan lagi gejala, melainkan semacam identitas emosional yang praktis
digunakan untuk membangun kedekatan dengan massa. Dalam
acara Indonesia Lawyers Club, pengamat politik Rocky Gerung pernah
mempertahankan makna mania sebagaimana asalnya, yakni kekacauan pikiran yang
hebat, kegilaan, penyakit jiwa, atau keinginan yang berlebihan dan tidak
masuk akal. Pernyataan
itu dilontarkan dalam pembahasan perubahan nama kelompok relawan dari Jokowi
Mania menjadi Prabowo Mania 08. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa jarang
berjalan lurus. Apalagi
ketika para politikus menghendaki kata mania tidak sesuai dengan definisi
yang diberikan KBBI. Dari yang bermakna gangguan jiwa yang ditandai dengan
gejala kemarahan, kegelisahan, kekalutan, atau kebingungan yang berlebihan
hendak diubah menjadi tanda loyalitas. Maka
tidak mengherankan jika mania akhirnya mudah pindah ke mana-mana. Yang
mulanya hadir di ruang psikiatri, lalu masuk ke ruang istana, kini masuk ke
ruang penjara. Tapi entah apakah mereka yang memberi nama (Jokowi Mania dan
Prabowo Mania 08) itu menyadari dan tetap menyematkannya? Oh, sungguh
megalomania! ● Sumber : https://www.tempo.co/kolom/arti-kata-kicau-mania-2275119 |
toko service laptop
BalasHapustoko service laptop