Selasa, 14 Juli 2026

 

Makna Kata 'Mania' yang Berubah

Agus Widiey  :  Sastrawan asal Sumenep, Madura dan mahasiswa Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

TEMPO MINGGUAN, 12 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Kata 'mania' lebih sering diasosiasikan dengan dunia psikologi dan gangguan kejiwaan.

 

·      KBBI mengklasifikasikan kata 'mania' sebagai istilah psikologi dengan makna gangguan jiwa dengan ciri gejala kemarahan, kegelisahan, kekalutan, atau kebingungan yang berlebih-lebihan.

 

·      Belakangan ini ada perubahan makna cukup menarik ketika kata yang mulanya terasa klinis justru berubah menjadi label komunitas.

 

LAGU “Kicau Mania” yang meluncur pada 22 Januari 2026 menjadi salah satu lagu yang ramai didengarkan hingga pertengahan tahun ini. Lagu yang dipopulerkan Ndarboy Genk bersama Banditoz Yaow 86 itu dibuat sebagai bentuk penghormatan bagi komunitas pencinta burung berkicau.

 

Hari-hari ini, lagu “Kicau Mania” berseliweran di media sosial dan kerap digunakan sebagai suara latar dalam berbagai konten video. Lagu tersebut terdengar di ruang kelas, jalanan, hingga acara perpisahan sekolah. Anak-anak ataupun orang dewasa ikut menikmati dan mengikuti pola gerakannya.

 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lema kicaumania diartikan sebagai “sebutan untuk penggemar burung kicau”. Definisi tersebut bersifat netral dan berorientasi pada hobi belaka. Meski begitu, sebenarnya kata mania lebih sering diasosiasikan dengan dunia psikologi dan gangguan kejiwaan.

 

KBBI mengklasifikasikan mania sebagai istilah psikologi yang bermakna gangguan jiwa dengan ciri gejala kemarahan, kegelisahan, kekalutan, atau kebingungan yang berlebih-lebihan, seperti pada istilah dipsomania dan kleptomania. Karena itu, ada perubahan makna yang cukup menarik ketika kata yang mulanya terasa klinis justru berubah menjadi label komunitas.

 

Secara historis, kata mania berasal dari bahasa Yunani kuno, manía, yang berarti kegilaan atau keadaan kehilangan kendali batin. Bahasa Latin menyerapnya hampir tanpa perubahan bentuk, lalu membawanya masuk ke bahasa-bahasa Eropa modern sebelum diserap ke bahasa Indonesia melalui jalur ilmiah dan psikiatri.

 

Dalam dunia medis modern, kata mania digunakan untuk menggambarkan dorongan emosi yang berlebihan. Namun bahasa tidak selalu berjalan lurus mengikuti sejarah asal katanya. Ketika masuk ke ruang sosial, makna mania perlahan mengalami pelunakan, bahkan berubah menjadi simbol fanatisme yang terdengar biasa dalam percakapan sehari-hari.

 

Menurut saya, perubahan makna seperti ini menunjukkan bahwa bahasa sebenarnya lebih dekat dengan kebiasaan sosial daripada ketertiban kamus. Orang menggunakan kata berdasarkan suasana yang mereka rasakan, bukan semata-mata berdasarkan riwayat makna yang tercatat dalam buku bahasa. Karena itu, kata mania yang mulanya terasa asing dan berat kini justru terdengar lebih cair dalam musik, olahraga, bahkan politik.

 

Perubahan makna tersebut tampak dalam berbagai istilah populer, seperti Jakmania, Slank Mania, dan “Kicau Mania”. Dalam praktik sosial, kata mania tidak lagi dipahami sebagai gangguan mental, tapi penanda kebersamaan dan loyalitas kelompok. Artinya, bahasa bekerja seperti atribut suporter yang ditempelkan pada sebuah nama, lalu segera melahirkan rasa memiliki yang emosional dan kolektif.

 

Barangkali karena masyarakat lebih mudah mengingat bunyinya yang terasa kompak daripada memikirkan sejarah psikologis yang ikut terbawa di belakang kata tersebut.

 

Komunitas semacam Prabowo Mania 08 (relawan pendukung utama Presiden Prabowo Subianto, yang dipimpin Immanuel Ebenezer) memperjelas bagaimana istilah dari dunia psikologi dapat berubah menjadi alat untuk memperkenalkan calon presiden.

 

Pergeseran dari Jokowi Mania menuju kelompok lain menunjukkan bahwa bahasa politik jarang benar-benar netral. Kata yang sama dapat dipindahkan ke panggung berbeda tanpa kehilangan daya tariknya. Dalam situasi seperti itu, mania bukan lagi gejala, melainkan semacam identitas emosional yang praktis digunakan untuk membangun kedekatan dengan massa.

 

Dalam acara Indonesia Lawyers Club, pengamat politik Rocky Gerung pernah mempertahankan makna mania sebagaimana asalnya, yakni kekacauan pikiran yang hebat, kegilaan, penyakit jiwa, atau keinginan yang berlebihan dan tidak masuk akal.

 

Pernyataan itu dilontarkan dalam pembahasan perubahan nama kelompok relawan dari Jokowi Mania menjadi Prabowo Mania 08. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa jarang berjalan lurus.

 

Apalagi ketika para politikus menghendaki kata mania tidak sesuai dengan definisi yang diberikan KBBI. Dari yang bermakna gangguan jiwa yang ditandai dengan gejala kemarahan, kegelisahan, kekalutan, atau kebingungan yang berlebihan hendak diubah menjadi tanda loyalitas.

 

Maka tidak mengherankan jika mania akhirnya mudah pindah ke mana-mana. Yang mulanya hadir di ruang psikiatri, lalu masuk ke ruang istana, kini masuk ke ruang penjara. Tapi entah apakah mereka yang memberi nama (Jokowi Mania dan Prabowo Mania 08) itu menyadari dan tetap menyematkannya? Oh, sungguh megalomania! ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/arti-kata-kicau-mania-2275119

 

1 komentar: