|
Pencarian dan Refleksi tentang Negara Madani Izzatur Rahman Pradiatma : Peneliti di CDCC, alumnus Fakultas Dirasat Islamiyah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mantan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah Cabang Ciputat. |
MEDIA INDONESIA, 16 September 2026
|
ISTILAH madani yang mulai mengemuka di kalangan
cendekiawan muslim pada abad ke-20 bukanlah sebuah istilah yang sama sekali
baru. Istilah itu sejatinya telah dikenal sejak lama. Salah satu contohnya
dapat ditemukan dalam Muqaddimah karya Ibn Khaldun melalui ungkapan al-insaan
madaniyyun bi al-thab‘i, yang menunjukkan bahwa manusia secara kodrati
merupakan makhluk yang hidup bermasyarakat dan tidak dapat memenuhi seluruh
kebutuhannya secara individual. Dalam konteks pemikiran Ibn Khaldun, istilah madani
di situ berkaitan dengan pengertian ‘umraan, yang memiliki makna kehidupan.
Gagasan tersebut, menurut penulis, memiliki kemiripan dengan pernyataan
Aristoteles yang masyhur, the human is a political animal, yang menegaskan
bahwa manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang hidup dalam kehidupan
sosial dan politik. Pada akhir Agustus 2026, di Jakarta
diselenggarakan sebuah pertemuan para cendekiawan muslim Malaysia-Indonesia.
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari agenda tahunan yang diinisiasi Prof
M Din Syamsuddin selaku Chairman Center for Dialogue and Cooperation among
Civilizations (CDCC) dan Dato’ Seri Anwar Ibrahim selaku perdana menteri
Malaysia, yang kemudian mengamanahkan pelaksanaannya kepada Menteri Agama
Malaysia Zulkifli bin Hasan. Dengan berangkat dari pertemuan tersebut, penulis
akan mengkaji gagasan dan hasil pemikiran yang dihasilkan para cendekiawan
muslim Malaysia-Indonesia dalam forum tersebut. Kajian ini juga diarahkan
untuk melihat bagaimana gagasan madani berkembang dan dikonstruksikan di
kalangan cendekiawan muslim Malaysia-Indonesia, sekaligus merefleksikan apa
yang menjadi tujuan atau goals dari kegiatan tersebut. FESTIVAL ISTIQLAL, MALAYSIA MADANI, DAN
PARAMADINA Kalau kita boleh flashback ke 1995, Masjid
Istiqlal mengadakan sebuah festival besar yang menghadirkan tokoh-tokoh
muslim tingkat nasional dan mancanegara, salah satu yang hadir ialah Anwar
Ibrahim sosok aktivis Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), sebuah organisasi
kepemudaan muslim. Pada kesempatan tersebut, Anwar Ibrahim
memberikan sebuah pidato yang pada isi pidatonya memopulerkan sebuah gagasan
yang kita kenal dengan nama madani. Selain Anwar, Nurcholish Madjid
memopulerkan gagasan masyarakat madani pada 1980-an. Gagasan masyarakat madani atau negara madani
kemudian menjadi tagline kampanye yang pada akhirnya menjadi sebuah visi
pemerintahan Anwar Ibrahim yang dikenal dengan Malaysia Madani yang merupakan
akronim dari 'kemapanan, kesejahteraan, daya cipta, hormat, keyakinan, dan
ihsan'. Menariknya, menurut John L Esposito dalam
tulisannya yang dimuat di majalah Frontier dengan judul 'Anwar Ibrahim:
Reformist Islam and the Ethics of Governance in a Postcolonial State' (25
Desember 2026, hlm 57), penggunaan istilah madani oleh Anwar Ibrahim bukan
sekadar slogan teknokratis ataupun artefak budaya, melainkan juga sebuah
proyek normatif. Bagi Anwar, konsep madani berupaya menempatkan Islam bukan
sebagai instrumen kontrol negara, melainkan sebagai sumber pertimbangan etis
dalam penyelenggaraan pemerintahan dan perumusan kebijakan publik. Di Indonesia, gagasan madani yang juga
dikembangkan sosok sahabat karib Anwar Ibrahim yang merupakan sosok
cendekiawan muslim Indonesia, Nurcholish Madjid atau yang akrab dipanggil Cak
Nur. Ia mentransformasikan gagasan madani ke bentuk institusi pendidikan yang
saat ini kita kenal dengan nama Universitas Paramadina. Paramadina awalnya
ialah sebuah klub kajian agama Paramadina yang kemudian berkembang menjadi
Yayasan Wakaf dan Universitas Paramadina. Pandangan Cak Nur tentang masyarakat madani atau
civil society itulah yang menginspirasi penamaan Paramadina. Nama
'paramadina' dapat dibentuk dengan dua cara: (1) dari kata par (Lat: setara,
serasi, atau sejiwa) dan madina (Ar: kota/peradaban). Menariknya, kampus itu
membuka sebuah program studi Islam madani. NEGARA MADANI DAN CITA-CITA KEBANGKITAN PERADABAN
ISLAM MELAYU Indonesia dan Malaysia memiliki sejarah dan
kebudayaan yang relatif sama. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan istilah
'negara serumpun' begitu melekat pada kedua negara tersebut. Menariknya,
hubungan di antara dua negeri serumpun itu tidak selalu berjalan dalam
kondisi yang sama; terkadang berlangsung baik, tetapi pada kesempatan lain
juga diwarnai berbagai persoalan. Meskipun demikian, berbagai upaya terus
dilakukan untuk mempererat dan memperbaiki hubungan di antara kedua negara. Forum Madani Malindo menjadi salah satu wadah
yang mempertemukan para cendekiawan muslim Malaysia dan Indonesia sebagai
bagian dari upaya tersebut. Forum itu merupakan salah satu program kerja
Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM), sebuah institusi yang berada di
bawah Jabatan Perdana Menteri Malaysia, serta Center for Dialogue and
Cooperation among Civilizations (CDCC) sebagai mitra utama yang mewakili
cendekiawan muslim Indonesia. Hal yang menarik dari forum itu ialah sebagian
pesertanya merupakan cendekiawan yang sekaligus pernah atau sedang memangku
jabatan strategis dalam pemerintahan, seperti menteri, anggota DPR, hingga
mantan wakil presiden. Kehadiran mereka menunjukkan forum itu tidak hanya
mempertemukan kalangan akademisi dan intelektual, tetapi juga menghadirkan
tokoh-tokoh yang memiliki pengalaman langsung dalam proses pengambilan
kebijakan dan penyelenggaraan pemerintahan. Madani Malindo hadir sebagai ruang untuk mendiskusikan
berbagai problematika yang dihadapi umat Islam di Malaysia dan Indonesia.
Forum itu juga menjadi wadah untuk membahas konsep madani sebagai sebuah
gagasan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, sekaligus melihat
relevansinya dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan kontemporer. Dalam suatu kesempatan, Din Syamsuddin mengajak
para peserta untuk bersama-sama membangun sebuah negara atau masyarakat yang
berbasis madani. Dari gagasan tersebut, muncul tagline 'Negara madani
cita-cita bersama'. Din juga menyeru agar Indonesia dan Malaysia dapat
bahu-membahu menjalankan tugas keumatan untuk membangun sebuah peradaban baru
yang lahir dari Asia Tenggara dan berasaskan nilai-nilai keislaman. Baginya,
Timur Tengah dan belahan dunia Islam lainnya yang pada masa lalu pernah
menjadi pusat peradaban Islam telah menyelesaikan tugas historis mereka. Oleh
karena itu, menurutnya, sudah saatnya masyarakat muslim Malaysia dan
Indonesia mengambil peran dalam membangun dan melanjutkan peradaban Islam
dari kawasan Asia Tenggara. Pandangan tersebut menarik mengingat Asia
Tenggara sering kali ditempatkan hanya sebagai wilayah periferal dalam
sejarah peradaban Islam. Padahal, Malaysia dan Indonesia memiliki populasi
muslim yang besar serta sejarah panjang perkembangan Islam yang dapat
ditelusuri melalui berbagai pusat kekuasaan dan peradaban, seperti Samudra
Pasai, Demak, Malaka, Aceh, Mataram Islam, dan berbagai kerajaan Islam
lainnya. Pusat-pusat peradaban tersebut telah meninggalkan beragam warisan,
baik dalam bentuk fisik maupun nonfisik, seperti tradisi intelektual,
kebudayaan, pendidikan, dan kehidupan sosial-keagamaan. Dengan demikian, Asia
Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia, memiliki modal sejarah dan
kebudayaan yang kuat untuk turut memainkan peran penting dalam perkembangan
peradaban Islam. Namun, di tengah cita-cita besar tersebut, muncul
pertanyaan: apakah cita-cita mulia untuk membangun negara madani dan
melahirkan kebangkitan peradaban Islam dari Asia Tenggara tersebut dapat
direalisasikan dalam kondisi Malaysia dan Indonesia saat ini? AKANKAH GAGASAN INI MENJADI SEBUAH KENYATAAN? Mungkin kita bisa meniru pengalaman Anwar Ibrahim
yang menjadikan gagasan madani hadir di ruang nyata. Namun, apakah gagasan
yang sudah berpuluh-puluh tahun dibahas dan dikaji itu pada akhirnya bisa
mewujudkan Malaysia dan Indonesia sebagai episentrum peradaban Islam di Asia,
bahkan dunia? Cita-cita mendirikan peradaban Islam memang
menjadi sebuah cita-cita keumatan. Sebagaimana kita ketahui bersama, umat ini
sedang dalam keterpurukan. Terlebih, kondisi dunia yang sedang tidak jelas
dan multipolar ini mengakibatkan banyaknya peperangan dan ketidakstabilan
dari berbagai sektor yang ada. Karena itu, bukan sebuah kemustahilan akan
muncul sebuah harapan besar untuk mendirikan sebuah peradaban islami atau
peradaban yang madani yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Madinah
yang dianggap sebagai masyarakat yang ideal. Karena itu, beberapa negara muslim mulai
mengampanyekan diri sebagai negara yang akan membangkitkan peradaban baru
yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman atau peradaban yang membawa slogan
Islam. Contoh saja Iran, Turki, bahkan Saudi, seolah-olah berlomba-lomba
sebagai bagian dari bangsa yang akan membawa kejayaan Islam. Perlu bagi kita untuk melihat pengalaman Hizbut
Tahrir yang dari berdirinya hingga saat ini ingin mendirikan sebuah dawlah
islamiyah yang bersatu di bawah khalifah yang sesuai dengan manhaj kenabian.
Begitu juga dengan Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) yang membawa slogan
dawlah islamiyah dengan cara-cara kekerasan dan niradab, seolah-olah dengan
cara tersebut Islam akan bangkit menjadi sebuah peradaban besar yang mampu
melawan hegemoni musuh. Namun, kedua pengalaman tersebut hingga saat ini
terbukti gagal. Yang satu hanya bersuara lantang dengan menggelar pawai atau
penyebaran selebaran dan narasi, yang satunya terlihat aplikatif, tetapi
caranya tidak sesuai dan bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan
kemanusiaan. Dengan demikian, dalam hal ini, penting bagi
kalangan cendekiawan muslim dan pemangku pemerintahan harus berpikir keras
dan bekerja sama bagaimana mewujudkan cita-cita mulia itu. Tentu, bagi
penulis, pemaknaan memadanikan negara di sini bukanlah bermakna pendirian
sebuah negara Islam, melainkan menjadikan sebuah negara atau masyarakat yang
beradab, berilmu, berbudaya, bekerja sama, dan toleran yang merupakan bagian
dari nilai-nilai Islam yang diharapkan mampu menjadi sebuah peradaban Islam
yang besar. Negara madani sebagai sebuah cita-cita pada
akhirnya diharapkan mampu mendirikan sebuah tamadun, peradaban yang
benar-benar beradab, haruslah merangkul semua kalangan. Karena mendirikan
peradaban yang madani memang betul-betul hadir untuk semua kalangan, hal
tersebut juga perlu dukungan dari berbagai kalangan tanpa memandang agama,
suku, partai politik, bahkan profesi. Karena cita-cita yang besar harus hadir
untuk semua kalangan, cita-cita itu bukanlah cita-cita yang terkesan politis
yang hanya memihak atau merangkul satu golongan ataupun hanya berputar pada
tataran teologis dan filosofis yang pada akhirnya akan membawa gagasan itu ke
jebakan utopis. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/933843/pencarian-dan-refleksi-tentang-negara-madani
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar