|
Vaksin Lintas Generasi Tjandra Yoga Aditama : Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Adjunct
Professor Griffith University Australia, serta mantan Direktur Penyakit
Menular WHO Asia Tenggara. |
MEDIA INDONESIA, 17 September 2026
|
KITA ketahui bersama bahwa program vaksinasi
adalah salah satu modalitas terbaik untuk mewujudkan kesehatan masyarakat di
negara-negara dunia, tentu termasuk negara kita. WHO pada 2024 menyebutkan
bahwa program vaksinasi di dunia telah berhasil menyelamatkan setidaknya 154
juta jiwa sejak 1974. Artinya, setiap menit ada enam kehidupan yang dapat
diselamatkan karena mendapat vaksinasi. Vaksin melindungi kita terhadap setidaknya 30
penyakit infeksi yang mengancam jiwa, seperti campak, difteria, pertusis,
polio, rotavirus, dan influenza. Bahkan, pada 2025 WHO menyatakan, dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, jumlah itu terus meningkat, termasuk vaksin
malaria, HPV (human papiloma virus), dengue, RSV (respiratory syncitial
virus), Ebola, dan Mpox yang di kita masih dikenal dengan nama cacar monyet. Sejauh ini kita memang melihat bahwa pemberian
vaksin akan melindungi seseorang yang mendapat vaksinasi. Sebenarnya
dampaknya bukan hanya pada individu. Jauh lebih luas dari itu, vaksin bekerja
lintas generasi. Vaksinasi tak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga
terhadap berbagai aspek kehidupan. Berikut akan disampaikan analisis tentang
dampak vaksin pada lintas generasi ini. Pada April 2026, atau beberapa bulan yang lalu,
International Vaccine Institute (IVI) mengeluarkan publikasi yang
menyampaikan dua hal penting. Pertama, vaksinasi awal memang diberikan pada
masa anak-anak, tetapi dampak perlindungannya akan terbawa sampai dewasa
(tentu dapat dengan kegiatan seperti booster dan atau vaksinasi ulangan),
juga akan berdampak pada status kesehatan keluarga dan masyarakat. Kedua, keberhasilan program vaksinasi tidak hanya
terbatas pada seseorang terproteksi untuk tidak terkena penyakit.
Keberhasilan program vaksinasi juga perlu dilihat dengan wujud nyata seperti
cerianya anak-anak bersekolah, atau berkurangnya kunjungan ke klinik dan
rumah sakit dengan penyakit yang dapat dicegah lewat imunisasi (PD3I), juga
berjalannya kehidupan dengan baik tanpa kekhawatiran berlebihan terhadap
penyakit-penyakit yang dapat dikendalikan dengan vaksinasi. 5 MASA KEHIDUPAN WHO menyebutkan setidaknya ada lima masa
kehidupan di mana vaksin bekerja melindungi kesehatan. Jadi memang lintas
generasi. Pertama, pada bayi dan anak kecil, di mana sistem imunologinya
masih sedang berkembang sehingga mereka masih cukup rentan tertular berbagai
penyakit infeksi. Pada bayi dan anak sampai berumur 2 tahun, vaksin akan
melindunginya terhadap penyakit seperti difteri, hepatitis B, campak, polio,
pertusis, rotavirus, rubela, dan tetanus. Kemudian, masa yang kedua ialah pada anak yang
lebih besar, remaja, dan dewasa muda. Pada mereka mungkin diperlukan
vaksinasi booster untuk memelihara imunitas, misalnya untuk difteri,
pertusis, dan tetanus. Beberapa penyakit yang dapat dicegah pada masa ini
antara lain HPV dan meningitis. Masa kehidupan ketiga ialah pada kaum dewasa,
termasuk yang umurnya terus bertambah sampai ke lanjut usia. Pada lansia,
misalnya, maka daya tahan tubuhnya sudah mulai menurun sehingga lebih rentan
tertular penyakit infeksi juga. Beberapa vaksin yang diberikan pada kelompok
ini misalnya vaksin influenza dan pneumonia. WHO menyebutkan masa kehidupan keempat yang
dilindungi dengan vaksinasi ialah masa kehamilan. Tentu di sini yang akan
dilindungi ialah sang ibu dan bayi yang dikandungnya. Bukan tidak mungkin
pada pemberian vaksin tertentu, ibu akan dapat menyalurkan kekebalan ke bayi
yang dikandungnya. Kemudian, yang kelima ialah pemberian vaksinasi
dengan target tertentu pada daerah yang tinggi prevalensi. Contohnya
vaksinasi dengue, malaria, atau demam kuning. Vaksinasi khusus juga dapat
diberikan kepada daerah yang sedang mengalami wabah, seperti vaksinasi Ebola,
Mpox, dan kolera. Secara umum WHO juga menyatakan bahwa dampak
vaksinasi lebih luas daripada perlindungan pada orang per orang. Vaksinasi
disebut akan memperkuat sistem kesehatan secara keseluruhan, mengurangi beban
pelayanan kesehatan di klinik dan rumah sakit, serta berperan penting pada
stabilitas negara melalui produktivitas warga yang sehat tanpa tertular
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. TERKENDALINYA PENYAKIT MENULAR Laman Minggu Imunisasi Sedunia (World
Immunization Week) 2026 menulis bahwa keberhasilan program vaksinasi membuat
terkendalinya berbagai penyakit menular, dan bahkan sebagian sudah
dieradikasi. Kita tahu bahwa penyakit cacar sudah hilang dari muka bumi
karena vaksinasi. Polio juga tinggal hanya terjadi di beberapa negara berkat
vaksinasi, serta peran penting vaksin pada pengendalian pandemi covid-19 yang
lalu. Disebutkan juga bahwa di belakang seseorang yang mendapat vaksinasi,
sebenarnya ada suatu sistem dan rentetan sumber daya manusia yang
memungkinkan itu terjadi. Ini termasuk petugas kesehatan, para kader di
lapangan, puskesmas, peneliti vaksin, pemerintah di berbagai tingkatan,
lingkungan sekolah, dll. Di atas segalanya, yang juga amat penting ialah
bagaimana komunikasi dibangun dengan masyarakat serta pasien dan keluarganya,
pun terbangunnya kepercayaan publik. Walaupun ada keberhasilan di dunia dan Indonesia,
harus diakui masih banyak tantangan yang perlu dihadapi. Unicef menyatakan
bahwa di tahun 2024 ada sekitar 20 juta anak yang tidak menyelesaikan
vaksinasi secara lengkap. Untuk di negara kita, laman WHO Indonesia pada
April 2026 menuliskan bahwa WHO mendukung pelaksanaan survei cakupan
imunisasi Indonesia 2025 di 38 provinsi, yang hasilnya menunjukkan hanya
56,4% anak usia 12–23 bulan telah mendapatkan imunisasi lengkap. Artinya,
sisanya belum lengkap. Dituliskan juga bahwa ketimpangan antardaerah sangat
mencolok, dengan cakupan lebih dari 95% di Sulawesi Utara, tapi hanya 3,6% di
Aceh. VACCINE HESISTANCY Tentu ada berbagai faktor yang menyebabkan belum
optimalnya cakupan vaksinasi. Salah satunya, harus diakui memang ada sebagian
pihak yang meragukan atau bahkan menolak vaksinasi. Ini yang disebut sebagai
vaccine hesistancy. Pada dasarnya ini terjadi karena kesalahan informasi yang
diterima, dan kalau berkepanjangan bahkan menyebabkan keengganan atau tidak
mau menerima bukti ilmiah yang nyata tentang manfaat besar vaksinasi bagi
kesehatan. Dalam mengatasi vaccine hesistancy, ada peran
penting media untuk memberitakan hal yang benar sesuai data ilmiah yang
valid. Juga tentu ada peran penting para dokter dan petugas kesehatan untuk
memberi penjelasan kepada pasien dan keluarga, serta penyuluhan kepada
masyarakat luas. Selain itu, perlu peran penting pemerintah di berbagai
tingkatan serta tokoh masyarakat untuk memberi literasi pentingnya vaksinasi
bagi kesehatan anak bangsa, di mana pun berada. Semoga program vaksinasi di negara kita dan dunia
dapat terus digalakkan, dan tantangan yang dihadapi akan dapat diatasi dengan
baik. Ditegaskan kembali bahwa vaksinasi adalah program yang melindungi kita
semua, lintas generasi, lintas negara. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/934299/vaksin-lintas-generasi
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar