https://www.tempo.co/kolom/gagalnya-ekonomi-komando-prabowo-2269055
|
Problemnya Adalah
Prabowo Editorial 1
: Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026
|
· Presiden Prabowo dikabarkan mencari
calon Menteri Keuangan yang baru untuk memulihkan kepercayaan pasar. · Nilai tukar rupiah dan indeks harga
saham gabungan belum stabil meski disuntik pelbagai kebijakan temporer. · Masalah utama ekonomi Indonesia bukan
sosok Menteri Keuangan, tapi proyek boros pemerintah. SIAPA
pun Menteri Keuangan-nya, ekonomi Indonesia akan terus tertekan. Problem
utama ekonomi Indonesia bukanlah siapa yang menjadi Menteri Keuangan,
melainkan kebijakan fiskal Presiden yang sembrono. Gejolak geopolitik akibat
perang Iran versus Amerika Serikat-Israel hanya menambah parah apa yang sudah
rusak di dalam negeri. Karena
itu, perbincangan Presiden Prabowo Subianto terhadap sejumlah calon Menteri
Keuangan dalam beberapa hari terakhir tak menggoyahkan ketidakyakinan pelaku
pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga
Saham Gabungan memang sempat naik sedikit—meski hanya dua hari. Ini
disebabkan oleh keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga dan imbal hasil
obligasi pada 9 Juni 2026. Kebijakan-kebijakan
temporer itu hanya menyentuh efek samping. Ibarat orang sakit, Indonesia
mengidap kanker stadium IV yang penanganannya bukan lagi mengobati gejala,
melainkan memotong sel mematikan itu. Kanker ekonomi Indonesia adalah proyek
prioritas Presiden Prabowo yang boros tapi tak memberi dampak signifikan pada
ekonomi. Selain itu, sentralisasi kekuasaan di banyak segi dan intervensi
politik ke dalam mekanisme pasar. Proyek
makan bergizi gratis, koperasi desa merah putih, dan belanja alat pertahanan
menghabiskan 19 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Tiga pos
belanja itu tak secara langsung menggerakkan ekonomi. Akibatnya, defisit
melonjak mendekati 3 persen dari produk domestik bruto, batas maksimal yang
dibolehkan konstitusi. Ekonomi lesu. Pemecatan massal terjadi di mana-mana
akibat industri kelimpungan menutup biaya produksi, sementara daya beli
masyarakat melemah. Seperti
kata Chatib Basri, mantan Menteri Keuangan yang dipanggil Prabowo, tugas
Menteri Keuangan sederhana: naikkan penerimaan, berutang, atau pangkas
belanja. Sejak Prabowo memerintah, pendapatan pajak tak kunjung mencapai
target akibat ekonomi lesu. Maka menaikkan tarif pajak ditentang publik
karena akan makin memberatkan beban industri dan rumah tangga. Berutang
juga tak mudah. Proyek boros membuat calon pembeli surat berharga negara
menjauh karena tak yakin terhadap prospek ekonomi Indonesia. Pemerintah
sampai mengiming-imingi mereka dengan imbal hasil besar. Akibatnya, kalaupun
berhasil menggaet utang, biayanya juga tak kecil. Ujungnya, berutang pun jadi
beban anggaran publik. Maka
tersisa opsi terakhir, yakni memangkas belanja besar, terutama tiga proyek
prioritas Prabowo itu plus subsidi bahan bakar minyak. Konflik Timur Tengah
membuat harga minyak naik melebihi asumsi APBN 2026. Ditambah kurs rupiah
yang melemah, biaya impor dan subsidi bahan bakar lebih mahal berlipat-lipat
dibanding sebelumnya. Jika subsidi dipotong, ruang fiskal untuk menggerakkan
ekonomi menjadi lebih leluasa. Lesu
akibat kantong yang cekak, pemerintah mengambil langkah koreksi. Mereka
misalnya mengurangi biaya proyek makan bergizi gratis dari Rp 335 triliun
menjadi Rp 268 triliun. Biaya dan jumlah gerai koperasi merah putih dipangkas
50 persen. Ada pula inisiatif untuk membatalkan monopoli ekspor oleh
Danantara dan keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga. Upaya
koreksi itu bagaimanapun tak secara fundamental memperbaiki remuknya ekonomi
Indonesia akibat kapitalisme negara ala Prabowo melalui monopoli dan
intervensi politik. Logika Prabowo menjalankan ekonomi bertentangan dengan
logika pasar yang menginginkan stabilitas, kepastian, dan transparansi. Maka
pemulihan ekonomi Indonesia bukan bergantung pada siapa Menteri Keuangan,
melainkan seberapa cepat Prabowo menyadari kekeliruannya dalam membangun
ekonomi. Pemerintah
harus secepatnya mengoreksi kekeliruan. Militerisasi pengelolaan hutan lewat
Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan harus segera dikoreksi. Praktik
sungsang seperti pemaksaan penempatan devisa hasil ekspor yang mengganggu
arus kas perusahaan harus dihentikan. Bank sentral tak boleh diganggu dan
monopoli bisnis oleh Danantara tak boleh dibiarkan. Hukuman pasar terhadap
Indonesia hari-hari ini membuktikan ekonomi komando ala Prabowo gagal
bekerja. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/gagalnya-ekonomi-komando-prabowo-2269055 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar