|
Mualaf atau Bukan Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah TEMPO dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 01 Agustus 2026
|
Saya menulis
"Esposito bukan Muslim". Lalu datang sebuah pesan WhatsApp yang
membuat saya harus memeriksa ulang tulisan sendiri. Setiap penulis yang baik mesti
bersedia memperbaiki tulisannya ketika fakta baru datang. Kemarin saya
menulis obituari John L. Esposito. Dalam tulisan itu saya menyebut dengan
tegas bahwa "Esposito bukan Muslim." Tulisan itu sudah terbit dan
dibaca banyak orang. Ada fakta baru. Malam harinya, satu
pesan WhatsApp masuk dari KH Mukhlisin Sa'ad. Bersama pesan itu terkirim
sebuah tangkapan layar. Isinya mengejutkan. Beredar kabar, dari Maroko hingga
Malaysia, bahwa John L. Esposito telah mengucapkan syahadat sebelum wafatnya
di hadapan Hamza Yusuf dan Jean, istri Esposito. Di bawah tangkapan layar itu ditulis
pesan singkat: "Mungkin antum bisa memberikan informasi ini kepada
Ahmadie Thaha, syukran." Di bawahnya ada tambahan penjelasan sumber
informasi. "Informasi ini saya dapat dari WA Prof Wan Daud dari group
Naquib Al Attas, syukran." Saya masih belum dapat memastikn
apakah Hamza Yusuf sendiri atau istri Esposito pernah mengonfirmasi
pernyataan tersebut. Juga belum menemukan informasi mengenai rincian prosesi
penguburannya. Saya pun membaca ulang tulisan saya.
Maka, kalau kabar itu benar, saya berkewajiban memperbaiki tulisan saya dan
meminta maaf kepada para pembaca. Tetapi kalau kabar itu belum dapat
dipastikan, saya juga tidak boleh mengubah dugaan menjadi fakta. Di sinilah seorang penulis diuji. Saya
kemudian mencoba menelusuri kembali berbagai sumber yang tersedia. Di
antaranya, saya menemukan laporan bahwa Imam Abdul Malik Mujahid, sahabat
dekat Esposito, mengumumkan kewafatannya setelah berbicara dengan istri Esposito,
mengenai waktu dan sebab wafatnya. Sampai tulisan ini selesai saya susun,
saya belum menemukan pernyataan resmi dari Georgetown University, keluarga
John Esposito, maupun kolega terdekatnya yang dapat memastikan bahwa beliau
mengucapkan syahadat sebelum wafat. Sebaliknya, saya juga belum menemukan
bantahan resmi yang secara tegas menyatakan bahwa kabar itu pasti tidak
benar. Artinya, ada dua arus informasi yang
berjalan bersamaan. Yang satu menyebarkan kabar keislaman Esposito melalui
jejaring tokoh-tokoh Muslim. Yang lain hanya memberitakan wafatnya tanpa
menyebut sedikit pun adanya perpindahan agama. Karena itu saya memilih bersikap
hati-hati. Saya tentu bergembira bila suatu hari nanti kabar itu terbukti
benar. Tetapi kegembiraan tidak boleh menggantikan verifikasi. Saya jadi bertanya, mengapa banyak
kaum Muslim berharap Esposito wafat sebagai Muslim? Karena selama hidupnya ia
telah memperlakukan Islam dengan keadilan yang jarang diberikan banyak
sarjana Barat. Harapan itu adalah ungkapan cinta. Tetapi cinta tidak boleh
menggantikan fakta. Menariknya lagi, ketika saya membaca
ulang berbagai obituari tentang John Esposito, perhatian saya justru tertuju
pada sesuatu yang jauh lebih penting daripada perdebatan mengenai status
agamanya. Muslim Network TV memberi judul
obituarinya: "John Esposito, who let a billion Muslims speak for
themselves." John Esposito adalah orang yang membiarkan satu miliar
Muslim berbicara dengan suara mereka sendiri. Kalimat itu menurut saya merangkum
seluruh perjalanan intelektualnya. Selama lebih dari lima puluh tahun
Esposito berusaha mengubah cara Barat memandang Islam. Ketika banyak orang menjelaskan Islam
melalui lensa konflik, ancaman keamanan, atau benturan peradaban, Esposito
memilih mendengar umat Islam menjelaskan dirinya sendiri. Ia menolak menjadikan hampir dua
miliar Muslim sebagai satu kategori yang seragam. Ia mengingatkan bahwa
masyarakat Muslim hanya dapat dipahami melalui sejarah, budaya, pengalaman
sosial, dan aspirasi mereka sendiri, bukan melalui prasangka yang dibangun
dari luar. Karena itu ia tidak hanya menulis
buku. Ia mendirikan Center for Muslim-Christian Understanding di Georgetown
University. Inilah yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kajian
Islam dan dialog lintas agama paling berpengaruh di dunia. Ia juga mendirikan Bridge Initiative
(Prakarsa Jembatan), sebuah proyek penelitian yang hingga kini menjadi salah
satu rujukan utama dalam mendokumentasikan Islamofobia di Amerika Utara dan
Eropa. Ia memimpin penyusunan sejumlah karya
referensi yang menjadi fondasi studi Islam modern, antara lain The Oxford
Encyclopedia of the Modern Islamic World, The Oxford Dictionary of Islam, The
Oxford History of Islam, dan The Oxford Encyclopedia of the Islamic World. Bersama Dalia Mogahed, Esposito
menulis Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think. Buku itu
lahir dari survei Gallup terhadap puluhan ribu responden Muslim di berbagai
negara. Pesannya sederhana tetapi
revolusioner: kalau ingin mengetahui apa yang dipikirkan umat Islam, tanyakan
kepada mereka, bukan kepada stereotip yang berkembang di media. Karena sikap akademiknya itulah
Esposito dihormati di dunia Islam. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim
mengenangnya bukan sekadar sebagai seorang sarjana, tetapi sebagai sahabat
yang telah dikenalnya lebih dari lima puluh tahun. Anwar menyebut Esposito sebagai orang
yang membangun jembatan ketika banyak orang memilih membangun tembok. Council on American-Islamic Relations
(CAIR) juga menyampaikan belasungkawa resmi. Organisasi itu menyebut Esposito
sebagai seorang akademisi luar biasa, sahabat yang penuh empati, dan suara
yang konsisten membela kebebasan beragama, kerja sama lintas iman, dan
martabat setiap manusia. Imam Abdul Malik Mujahid mengenang
sisi lain Esposito. Menurutnya, di balik puluhan buku dan reputasi
internasionalnya, Esposito tetap orang yang mudah dihubungi. Esposito selalu mengangkat telepon
ketika imam, aktivis, mahasiswa, atau siapa pun membutuhkan nasihat. Baginya,
membangun hubungan antarmanusia sama pentingnya dengan menulis buku. Tidak mengherankan bila kepergiannya
disambut duka dari begitu banyak tokoh dan lembaga Muslim. Justru karena kedekatan itulah, saya
memahami mengapa kabar tentang kemungkinan beliau mengucapkan syahadat begitu
cepat menyebar dan begitu mudah dipercaya. Harapan sering berjalan lebih cepat
daripada verifikasi. Namun sebagai penulis, saya harus membedakan keduanya. Sampai hari ini saya belum memiliki
dasar yang cukup untuk menulis bahwa John Esposito wafat sebagai seorang
Muslim alias mualaf. Tetapi saya juga tidak memiliki dasar
untuk mengejek atau mengabaikan informasi yang datang melalui jaringan
tokoh-tokoh Muslim yang kredibel. Informasi itu layak dicatat dan ditelusuri,
bukan langsung diterima, juga bukan langsung ditolak. Kalau suatu hari nanti muncul bukti
primer yang dapat diverifikasi bahwa John Esposito benar mengucapkan syahadat
sebelum wafatnya, tulisan perlu diperbaiki secara terbuka. Itu bukan aib.
Justru itulah kewajiban seorang penulis. Sementara itu, ada satu hal yang sudah
pasti dan tidak bergantung pada jawaban atas pertanyaan di judul tulisan ini. Selama lebih dari setengah abad John
L. Esposito menggunakan ilmu pengetahuan untuk melawan prasangka terhadap
Islam. Ia mengajarkan Barat agar memahami umat Islam berdasarkan fakta,
sejarah, dan pengalaman mereka sendiri, bukan berdasarkan rasa takut. Warisan intelektual itulah yang
membuat namanya dihormati oleh begitu banyak umat Islam di berbagai negara. John Esposito mengingatkan kita bahwa
Allah dapat menghadirkan pembela-pembela keadilan dari luar komunitas kita
sendiri. Mereka mungkin tidak berada di dalam barisan kita, tetapi keberanian
mereka membantu mengurangi prasangka dan membuka jalan dialog. Dalam Al-Qur'an, Allah memang
menunjukkan bahwa tidak semua pembela agama adalah orang yang berasal dari
komunitas yang sama. Misalnya, Raja Najasyi memberikan perlindungan kepada
kaum Muslim yang hijrah ke Habasyah. Salman al-Farisi mencari kebenaran dari
satu guru ke guru lain sebelum masuk Islam. Bahkan dalam sejarah Islam, banyak
orientalis non-Muslim menghasilkan edisi manuskrip Arab yang hingga kini
menjadi rujukan para ulama dan peneliti Muslim, meski pandangan mereka
terhadap Islam tidak selalu sama. Pelajarannya sederhana: kita
menghargai jasa seseorang tanpa harus memastikan surga atau nerakanya. Soal
amal akhirnya adalah urusan Allah. Tugas kita adalah berlaku adil terhadap
fakta dan berterima kasih atas kebaikan yang nyata. Itu justru lebih dekat
dengan adab ilmiah dan adab keagamaan. Status agamanya pada akhir hayat
adalah persoalan yang hanya dapat dipastikan dengan bukti yang sahih. Tetapi jasa intelektualnya dalam
membangun saling pengertian antara Barat dan dunia Islam sudah menjadi bagian
dari sejarah yang tidak dapat dihapus. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar