|
URI URI Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 01 Agustus 2026
Anda sudah tahu: pemimpin yang baik adalah yang bisa mengajak rakyatnya ikut membangun.
Ups...tidak
sepenuhnya begitu. Itu terlalu lambat. Pemimpin bisa tidak sabar. Apalagi kalau
bergegas menginginkan hasil: yang bisa dipakai modal untuk merebut periode
kedua.
Ada istilah
lama yang saya hampir lupa: partisipasi. Itu salah satu mantra Orde Baru. Kata partisipasi
sangat populer sampai ke desa --sering diplesetkan jadi partisisapi.
Sama populernya dengan kata ”proyek”. Ayah saya termasuk yang bisa mengucapkan
”partisipasi” dan ”proyek” tapi tidak tahu arti kedua kata itu.
Suatu saat
ayah, tidak lulus SD, memanggil saya untuk duduk dekat di sebelahnya.
"Dakelan," katanya lirih memanggil nama saya, "kok orang-orang
sering ngomong 'proyek', itu artinya apa?" ujar ayah dalam bahasa Jawa
setengah berbisik.
"Gak usah
dipikir pak," jawab saya. "Yang penting bapak kan rajin partisisapi"
tambah saya.
Maka ketika di
Dismoring Rabu lalu saya usul agar proyek
Universitas Republik Indonesia dicangkokkan ke universitas ternama yang
sudah ada itu dalam rangka membangun partisipasi itu. Agar tidak semua program
bersifat top down.
Ide membangun
URI pastilah baik. Agar terbentuk calon pemimpin yang siap pakai. Pemimpin
harus disiapkan. Bukan datang begitu saja. Bukan karena takdir atau wangsit.
Kalau benar ide
URI terinspirasi dari ENA-nya Prancis (Lihat Disway 27 Juli 2026: Abu Putih),
universitas yang ada tidak perlu merasa akan dapat saingan baru. URI tidak
menerima lulusan SMA. Mahasiswa URI setidaknya sudah S-1. Bisa saja S-2 bahkan
S-3. Bisa juga yang sudah berstatus pejabat pusat maupun daerah. Atau eksekutif
di perusahaan swasta maupun BUMN. Bisa juga yang sudah berdinas di militer.
Yang penting
lulus tes masuk. Seleksinya ketat. Yang dicari adalah bibit unggul calon
pemimpin siap pakai. Pemimpin di segala tingkatan.
Maka hasil URI
sudah pasti tidak untuk dipakai senjata merebut periode kedua. URI lebih punya
peluang untuk dipakai percontohan membangun lewat partisipasi.
Gubernur
URI-lah yang merumuskan target yang harus dicapai program itu. Termasuk
merumuskan ”kurikulum” untuk mencapai target.
Setelah itu
adakan tender terbuka. Peserta tender adalah lembaga pendidikan tinggi yang
sudah ada. Baik PTNBH maupun swasta. Termasuk IPDN dan Akademi Militer.
Dalam dokumen
tender disertakan target capaian dan besarnya anggaran yang akan diberikan oleh
negara. Kalau tidak ada lembaga pendidikan tinggi yang ikut tender barulah
pemerintah melaksanakan sendiri.
Tender serupa
juga bisa dilaksanakan kalau pemerintah tertarik untuk membuat universitas riset. Tentukan riset apa saja yang
dianggap prioritas untuk kemajuan bangsa ke depan. Targetnya seperti apa. Biaya
yang disiapkan APBN berapa. Maka akan terwujud cepat keinginan untuk memiliki
universitas riset.
Sekarang ini
prioritas universitas adalah "sebanyak-banyaknya dapat mahasiswa
baru". Terutama sejak pemerintah mengurangi anggaran. Mau tidak mau
universitas mengandalkan pendapatan dari mahsiswa. Mulailah PTNBH jadi semacam
"vacum cleaner": menyedot sebanyak mungkin calon mahasiswa.
Akibatnya: perguruan tinggi swasta menjerit-jerit.
Maka keinginan
untuk memiliki universitas riset pun kian jauh.
Saya sendiri
sulit menilai mana yang lebih prioritas: universitas
riset atau Universitas Republik Indonesia --yang singkatannya bisa saja
sama. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/960304/uri-uri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar