|
IKN Kapan Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 25 Oktober 2026
Saya ikut
memperingati ultah kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Yang saya
lakukan: bermalam di IKN. Baru kali ini saya bermalam di Nusantara, ibu kota
baru Indonesia.
Karena tiba di
IKN sudah isya yang saya cari pertama adalah tempat makan malam.
"Tidak ke
hotel dulu?" tanya sahabat yang menemani saya.
"Kalau
langsung ke hotel takutnya malas cari makan di luar. Kita kan pernah makan di
hotel itu. Kita coba yang lain," jawab saya.
Sahabat itu
tahu: ada satu restoran di IKN: Kampung Kecil. Yang kalau di Jakarta atau
Surabaya dikenal dengan arsitektur bambunya.
Sambil
cari-cari lokasinya kami melihat-lihat IKN di waktu malam. Sepi. Jauh lebih
sepi dibanding siang hari yang juga masih sepi.
IKN di waktu
malam terasa lebih nyaman: debu akibat banyaknya proyek tidak menganggu hidung.
Matahari juga sudah lama tenggelam: tidak tersiksa panasnya IKN yang sangat
menyengat.
Kami melewati
Istana Garuda. Di malam hari tidak tampak kemegahannya. Lampu penerangannya
tidak sampai membuat pilar-pilar depan istana terlihat berwibawa. Yang tampak
nyata di waktu malam adalah bagian sayap Garudanya –tapi juga tidak jelas bahwa
itu sayap garuda.
Sayap itu
ditaburi lampu hias warna putih yang nyalanya tampak seperti jala putih.
Rasanya perlu pemikiran baru di sistem pencahayaan istana itu. Kelak. Kalau
sudah akan ditempati. Mungkin pakai lampu sorot, dengan desain tertentu, bisa
terlihat lebih cocok.
Di seberang
Istana ada pemandangan malam yang mencolok: tampak seperti tugu Monas.
Menjulang tegak. Warna putih. Sistem pencahayaannya bagus sekali. Berhasil
membuatnya menonjol –lebih menyita perhatian malam dari pada Istana.
"Itu
apa?" tanya saya.
Sudah sekian
kali ke IKN rasanya saya belum pernah melihatnya. Bahkan saat saya ke Istana
beberapa bulan lalu benda itu seperti belum ada.
"Itu tiang
bendera," ujar sahabat.
Oh... tiang
bendera. Besar dan tinggi. "Sudah lama ada," katanya. "Kalau di
siang hari memang tidak menonjol. Tenggelam oleh kemegahan Istana,"
tambahnya.
"Kalau
yang itu apa?" tanya saya sambil menunjuk cahaya seperti sayap burung
hantu terbelah.
"Itu
gedung baru Bank Indonesia," katanya. Saya tidak bisa membayangkan kalau
siang bentuknya seperti apa. Kelak, keesokan harinya, saya baru tahu: bagus,
tapi secara arsitektural tidak bisa ditonjolkan sebagai salah satu ikon IKN.
Secara tidak
sengaja malam itu kami lewat depan Istana Wakil Presiden. Juga remang-remang.
Kalau tidak mendekat ke pintu gerbangnya tulisan Istana Wakil Presiden di
dinding tembok luar itu tidak terbaca. Mungkin memang sengaja didesain seperti
itu: agar lebih elegan.
Istananya
sendiri berada jauh tinggi di atas bukit sana. Ada jalan mobil yang meliuk
naik. Ada juga tangga untuk yang pejalan kaki: 200 anak tangga.
Dari Istana itu
wapres bisa melihat ke bawah, ke perumahan para menteri di lembah sebelahnya.
Dari teras istananya wapres bisa melihat langsung ke lembah: siapa menteri yang
sudah meninggalkan rumah untuk ke kantor masing-masing.
Saya lihat
perumahan menteri itu sudah siap dihuni –kapan-kapan.
Yang malam
tampak tetap megah adalah gedung-gedung tinggi kompleks Kemenko. Semua menko
berkantor di satu kompleks dekat Istana. Mungkin jumlah gedungnya kini tidak
cukup lagi karena Kemenkonya sudah bertambah satu. Atau yang ada itu
dibagi-bagi secukupnya.
Akhirnya kami
sampai di restoran –di atas bukit kecil di pinggir jalan raya. Kami pilih meja
outdoor sambil lihat pemandangan luar. Ada delapan meja di terasnya: hanya satu
yang kosong. Kami ke yang kosong itu.
Kami memesan
banyak makanan: patin kuah asam, soto betawi, nila asam manis, perkedel jagung,
tahu isi, karedok, dan dua lagi yang masih ingat rasanya tapi lupa namanya.
Di seberang
resto itu berdiri sembilan atau sepuluh tower. Itulah apartemen untuk pegawai
yang sudah pindah ke IKN. Sudah ada yang tinggal di situ tapi belum banyak. Di
lokasi lain ada lagi kompleks apartemen dengan sejumlah tower seperti itu. Juga
baru sedikit yang berpenghuni.
Yang memenuhi
restoran malam itu adalah mereka yang menghuni apartemen itu. Meski
masing-masing tower ada kantinnya, mereka perlu cari variasi makanan resto.
Persis di
sebelah Kampung Kecil terlihat ada hotel: Qubikal. Ada resto juga di lobinya.
Inilah hotel yang tarifnya lebih terjangkau. "Kamar-kamar hotelnya terbuat
dari kontainer yang ditumpuk-tumpuk," ujar sahabat.
Selesai makan
saya mampir ke Qubikal. Ingin lihat-lihat dari luarnya. Sama sekali tidak
terlihat kalau itu kontainer yang ditumpuk.
Yang kini
sedang dibangun di IKN adalah gedung Mahkamah Agung dan gedung DPR-MPR. Juga
masih ada pekerjaan penyelesaian jalan tol dari bandara Balikpapan ke IKN.
Berbagai proyek
masih dikerjakan –dengan irama yang lebih pelan-pelan. Jadi, salah kalau ada
yang menggambarkan IKN mangkrak.
Kesimpulan
saya: IKN tetap akan jadi IKN. Kapan-kapan. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/975423/ikn-kapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar