|
Purbaya DJuamputh Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 16 September 2026
Budaya kita
ternyata sudah setara dengan Amerika: memberhentikan seseorang cukup lewat
telepon. Sangat efisien: Anda diberhentikan. Titik. Tidak perlu ada alasan yang
bisa didengar oleh yang diberhentikan. Itu sepenuhnya otoritas yang
memberhentikan.
Pakai cara apa
pun toh hasilnya sama: diberhentikan. Lebih baik cepat diberitahu daripada
kepikiran berlama-lama.
Misalkan Senin
siang kemarin itu. Bisa saja dengan cara yang lebih ”manusiawi”. Menkeu Purbaya
Yudhi Sadewa diberi kesempatan dulu untuk menyelesaikan paparan di pleno DPD.
Secarik memo
berisi pesan telepon dari mensesneg itu cukup diberikan ke pimpinan sidang.
Setelah membaca isinya pimpinan sidang minta agar Purbaya mempersingkat
paparan.
Setelah paparan
selesai barulah pimpinan sidang menyerahkan memo itu ke Purbaya. Isinya bukan
pemberitahuan bahwa Purbaya diberhentikan tapi agar menkeu segera ke istana.
Paparan pun
dipersingkat. Sidang ditutup. Purbaya bergegas ke istana: 30 menit bisa sampai
di istana. Di situ Purbaya menemui mensesneg. Tidak akan makan waktu lama. Bisa
hanya lima menit. Bisa langsung to the point: Presiden memutuskan mengangkat
menteri keuangan yang baru menggantikan Anda. Cukup begitu. Lalu SK
pemberhentian diserahkan.
Rasanya, biar
pun pakai cara itu tidak akan menghambat penggantian. Paling hanya tertunda
satu jam. Kesannya akan jauh lebih baik dari yang terjadi Senin lalu (baca
komentar pilihan dari perusuh Disway Agus Soeryonegoro di bawah tulisan ini).
Tapi memang
”kesan” hanyalah sebuah basa-basi. Bangsa ini sudah terlalu gawat dalam
berbasa-basi. Salam di awal pidato saja misalnya sampai tujuh macam. Bahkan
sejak Presiden Prabowo menjadi delapan macam --ada salam ala Kristen dan ada
salam ala Katolik. Semoga saja tidak ada tuntutan yang sama untuk membedakan
salam Islam NU dan Muhammadiyah.
Tentu ini
sebuah paradoks: dalam memberi salam begitu penuh basa-basi. Tapi dalam
memberhentikan orang lewat telepon. Tidak ada yang salah. Masih lebih sopan
dibanding beberapa laki-laki yang menceraikan istri lewat WA.
Kalau misalkan
yang diberhentikan dengan cara itu adalah saya, saya pun bisa menerima. Saya
anggap sama dengan diberhentikan dengan cara penuh basa-basi.
Purbaya mungkin
juga punya perasaan yang sama. Purbaya kan lama tinggal di Amerika. Sudah biasa
melihat kejadian seperti itu. Buktinya tidak ada reaksi yang berlebihan atas
pemberhentiannya. Purbaya justru bisa menjadi menteri keuangan yang sebenarnya
setelah diberhentikan: sangat pelit bicara.
Yang menarik
justru sebuah akun fanbase Purbaya yang viral di medsos. Singkat. Abu-abu.
Sulit ditafsirkan arahnya. Tapi ada kandungan lucunya yang menjadi gaya khas
Purbaya selama menjadi menteri.
Sore itu akun
fanbase itu posting wajah tersenyum Purbaya dalam baju batik dan celana
hitamnya. Tanpa pidato. Tanpa ucapan kata-kata. Hanya ada teks tiga kata dalam
captionnya: "Sudah siap belum?"
Ketika ada
netizen yang bertanya apakah Purbaya sudah siap memberikan kejutan, reaksinya
juga sulit ditafsirkan. Akun itu hanya menjawab dengan enam huruf: hehehe.
Satu-satunya
yang bisa ditafsirkan adalah suara background musik di balik medsos itu: lagu
Wasap Mamen dari penyanyi Djuamputh dan Andi Mbendol.
Lagu itu memang
lagi hype belakangan ini --meski saya sendiri baru tahu setelah dijadikan
ilustrasi postingan Purbaya. Saya pun tidak tahu siapa DJuamputh dan Andi
Mbendol.
DJuamput sangat
mirip dengan bunyi sumpah serapahnya Arek Suroboyo. Mbendol juga dekat dengan
istilah Jawa ”mbendol mburi”: kelihatannya gampang di awal ternyata penuh
persoalan di bagian akhirnya.
Nama asli Andi
Mbendol adalah Rizky Andi Putra. Anak Yogyakarta ini memang kreatif. Lagu
ciptaannya banyak, umumnya remix koplo Jawa. Misalnya Tresno Tekane Mati, Ayang
Ayang, Minggato, Lalekno Aku, dan Maturnuwun.
Dari background
lagu Wasap Mamen tidak bisa diterjemahkan apa maksudnya. Ups... Ada. Sedikit.
Saya cari teks lagu DJuamput itu: "Jane pengen sambat karo kancaku, tak
rewangi mburuh nganti raono wektu”.
Artinya dalam.
Anda sudah tahu: "Sebenarnya ingin curhat kepada temanku, saya belain
menjadi buruh sampai tidak punya waktu".
Teks berikutnya
dari lagu itu: "Wes rausah kakean protes, maju terus”. Artinya: Sudahlah
tidak perlu terlalu banyak protes, maju terus".
Kalau itu
cermin sikap pribadi Purbaya, maka berarti Purbaya sudah bisa menerima
pemberhentiannnya itu. Tapi apa makna ”maju terus”. Tidak ada yang tahu.
Kemunculan
kedua Purbaya terjadi keesokan harinya: di acara serah terima jabatan. Purbaya
tidak mau membacakan teks pidato yang sudah disiapkan --tapi itu sudah jadi
kebiasaan lamanya: tidak bermakna apa-apa. Ia hanya pidato singkat mengucapkan
terima kasih. Selebihnya diserahkan sepenuhnya kepada menkeu yang baru: Prof Dr
Suahasil yang selama ini menjadi wakilnya.
Meski tidak
tahu arahnya postingan satu-satunya fanbase Purbaya "sudah siap
belum?" itu disambut hangat. Hanya dalam beberapa jam sudah dibaca oleh 4
juta orang. Yang berkomentar pun hampir 20.000 orang. Itu mencerminkan daya
tarik Purbaya.
Di mata publik Purbaya
tetaplah orang yang jujur, bisa dipercaya, bersih, tidak korupsi dan tidak
hedon. Pun istri dan keluarganya. Maka tidak ada aib apa-apa yang harus dipikul
Purbaya meski pun ia diberhentikan mendadak.
Apalagi kalau
penyebab pencopotan itu ternyata bukan pertumbuhan ekonomi dan bukan pula
Danantara: melainkan karena kalah adu kuat dengan dua dirjennya: dirjen pajak
dan dirjen bea cukai. Kalau itu yang terjadi lepas siapa yang salah-benar,
Purbaya kian dapat nama. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/968651/purbaya-djuamputh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar